
Alfin kacau. Dia baru saja menyelesaikan shift malamnya selama tiga hari berturut-turut. Gara-gara rekannya ada yang mau menikah, dia harus rela bertukas shift.
Alfin dengan wajah lesu baru saja bangun tidur. Padahal ini sudah masuk pukul dua siang. Jadi untuk menyegarkan diri, Alfin menyempatkan pergi ke kafe untuk sekedar membeli kafein.
Alfin sampai di kafe Garbin. Kafe ini dekat dengan rumah sakit dan merupakan kafe favoritnya. Dia mengantri di belakang seorang wanita. Lalu ketika wanita itu sudah selesai, giliran Alfin memesan.
“Mbak, cappucino ice satu.” Kata Alfin.
Begitu kalimat itu selesai, Alfin tiba-tiba disembur.
Byur
Alfin terkesiap, matanya yang tadi sayu kini terbuka lebar. Tidak ada angin, tidak ada hujan apalagi pacar, dirinya tiba-tiba disembur oleh wanita yang tadi memesan didepannya. Manisnya kopi tercecap di lidahnya.
“Sorry.” Kata wanita itu yang tak lain Nana.
Alfin mengusap wajahnya kasar dan menatap kesal, “Kamu lagi? Kemarin kopi sekarang juga kopi. Kenapa sih saya selalu sial tiap ketemu kamu?!” sentak Alfin.
“Saya bilang saya minta maaf lagian tidak sengaja. Begitu denger suara kamu, saya jadi hilang kendali.” Kata Nana tanpa dosa.
“Apa?” ucap Alfin.
“Saya kesal liat muka kamu, gara-gara kamu saya hampir aja terlambat datang dan teman saya mau bunuh diri.” Ucap Nana kesal.
“Bunuh diri? Oh, jadi kamu temannya Kansha?” tanya Alfin. Nana mengangguk meski terkejut.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Hah, “Alfin mendesah pelan, “Bagaimana bisa gadis cantik nan baik hati seperti Kansha berteman dengan ular piton? Sulit dimengerti akal sehat.” Ucap Alfin dramatis.
“Apa? Ular piton? Siapa yang kamu bilang ular piton?” seru Nana tambah kesal.
“Siapa lagi?” ucap Alfin songong. “Sudahlah lupakan, malaikat rupawan seperti saya tidak bisa bergaul dengan makhluk jadi-jadian.” Lanjutnya lalu berbalik pergi.
Nana merasa kesal dan marah. Dia menghembuskan nafas kasar kemudian berteriak, “Hei!” teriaknya.
Alfin berbalik dan seketika tonjokkan manis mendarat di pipinya.
Bug
****
Alan dan Kansha sudah sampai di warung ayam bakar. Mereka turun dan segera masuk ke dalam. Kansha berdecak kagum, ini sih bukan 'warung' lagi tapi sudah seperti restoran. Tempatnya luas dengan kesan sunda yang kental.
Mereka duduk lesehan di pinggir danau, Kansha dengan takzim melihat ikan berbagai warna berenang kesana kemari. Suasananya sejuk dan nyaman.
“Aku baru tahu ada restoran seperti ini di Jakarta. Kufikir tanamannya palsu, tapi ternyata asli, aku seperti berada di Bogor.” Kata Kansha menoleh pada Alan.
“Aku juga baru datang pertama kali, tempatnya memang bagus dan nyaman. Cocok untuk makan bersama keluarga.” Timpal Alan.
__ADS_1
“Kufikir, kamu pernah kesini, kamu terlihat luwes. Bahkan tadi saat mencari tempat duduk, kamu tahu harus kemana.” Tukas Kansha.
“Aku diberitahu temanku yang pernah datang kesini untuk memilih tempat ini, ini spot yang paling bagus. Dan lagi, aku ingin mengalami pertama kalinya dengan orang lain.”
“Kamu memang GPS.” Kata Kansha. Alan tersenyum mendengarnya.
Lalu pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka. Kansha dengan semangat memilih menu.
Kansha berdiri dan menatap penuh semangat pada pelayan, “Ayam bakar original, harus dada tolong jangan pakai kulit dan dibakar dengan matang. Minumnya teh manis hangat dan satu lagi, jangan lupa tisu.” Kata Kansha.”Kamu bagaimana?” tanyanya pada Alan.
Ketika Alan hendak membuka mulutnya, Kansha langsung menyelanya, “Buat kamu, pesennya ayam bakar cabai ijo boleh paha atau dada, harus ada kulitnya, dan dibakar matang. Air minumnya—“ Kansha menoleh pada Alan.
“Teh manis hangat.” Imbuh Alan.
Kansha mengangguk, “Minumnya teh manis hangat.” Ulangnya. Pelayan yang mencatat hanya tersenyum simpul kemudian undur diri.
“Apa kamu selalu secerewet ini bila sedang memesan makanan?” tanya Alan.
“Tidak juga, tapi kalau kita sedang mencoba ayam bakar apalagi di restoran yang baru dibuka, maka harus ada uji coba. Satu, ayam bakar original, dua versi upgrade an nya.” Balas Kansha semangat.
“Lalu setelah itu?” tanya Alan.
“Setelah itu—apa?” tanya balik Kansha.
Alan tersenyum kecil, “Setelah itu silakan duduk dengan tenang dan jangan terus berdiri.” Sindirnya pada Kansha.
Kansha membuka mulutnya dan berdeham malu, dia pun segera kembali duduk. Alan yang melihatnya hanya terkekeh kecil.
***
“Nana, kenapa lama?” tanya Ruben begitu Nana masuk.
“Oh, tadi banyak yang antri.” Balas Nana bohong. Dia menyerahkan pesanan Ruben.
“Terima—tangan kamu kenapa?” tanya Ruben begitu ingin menerima pesanannya dan melihat tangan Nana yang memerah.
“O-oh, itu tadi ada sedikit kecelakaan kecil. “ jawab Nana ingin melepaskan tangannya namun Ruben mencegahnya.
“Tangan kamu harus diobati, tunggu sebentar.” Lalu Ruben melangkah ke dapur dan mengambil air es. Dia menaruhnya di baskom setelah itu membawanya ke ruang tamu.
“Kamu itu ceroboh sekali, tidak bisakah kamu pulang dengan keadaan utuh? Ada saja luka yang tertinggal.” Ucap Ruben. Dia memasukkan tangan Nana ke dalam baskom air. Rasa dingin menjalar pada tangan Nana.
Ruben terus memijat pelan tangan Nana yang memerah dan setelah didiamkan beberapa saat, Ruben mengambil handuk bersih dan mengusapkannya pada tangan Nana. Ruben begitu telaten mengobati Nana. Lama mereka dalam keterdiaman, dan selama itulah Nana menatap intens pada Ruben. Jantungnya berdebar karena dia berada begitu dekat dengan lelaki pujaannya.
Nana rasa, saran Kansha memang tepat. Berada satu atap dengan Ruben membuatnya merasa bahagia dan terlindungi.
***
Kansha dan Alan sudah selesai menghabiskan makanan mereka. Mereka kini tengah mengobrol ria.
__ADS_1
“Jadi, aku menginap di depan rumahnya, sambil terus mengawasinya. Hingga akhirnya dia muncul bersama koleganya sehabis pesta miras.” Cerita Kansha.
“Kamu sampai segitunya untuk mendapatkan berita?” tanya Alan terkejut.
“Harusnya sih tidak, tapi itu termasuk berita penting sangat sangat penting. Masyarakat harus tahu seperti apa wajah asli pemimpin mereka. Dana triliunan rupiah yang katanya untuk kesejahteraan rakyat malah dipakai untuk kesejahteraan perut dan nafsunya.” Balas Kansha.
Alan mengangguk setuju, “Benar juga katamu. Makanya aku selalu merasa kalau keberadaan media pers itu penting. Karena media pers lah yang mewakili rakyat, meski sedikit komersial tapi tetap saja beritanya bermanfaat. Apalagi sekarang kebebasan berpendapat sudah tidak dilarang.”
“Kamu tahu, tidak semua berita yang kamu lihat itu asli kenyataannya seperti itu.” Ucap Kansha.
Alan mengernyit tidak mengerti, “Maksud kamu?”
“Tidak semua media pers diberi kebebasan berekspresi. Adakalanya kita dibungkam oleh penguasa dan membeli berita kita.”
“Aku pernah mengalaminya. Suatu hari, aku sedang melakukan penyidikan soal suap dan pesta seks seseorang pejabat, aku juga tahu hal itu dari surat kaleng, awalnya aku tidak percaya tapi kemudian aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Pejabat itu membawa lima wanita sekaligus ke kediamannya. Pejabat itu tahu kalau aku mengetahui rahasianya, dan menawariku kesepakatan. Dia mau aku melupakan hal itu dan menawariku uang jutaan rupiah. Aku menolak tentu saja, tapi tidak disangka, rekan kerjaku tergiur dan akhirnya menjual berita itu. Jadi berita itu tidak pernah disiarkan.” Kata Kansha. Ingatan saat dirinya masih junior dalam dunia jurnalistik menari difikirannya. Dia tidak punya bekal atau pijakan yang kuat untuk melawan. Jadi hanya bisa mengalah.
“Tidak kusangka, ada cerita seperti itu.” Komentar Alan.
“Itu sebabnya, tidak ada gunanya berkoar-koar menyuarakan kebenaran bila kamu tidak punya uang. Kita harus jadi monster dahulu untuk melawan monster yang lainnya. Kita harus jadi air yang besar bila ingin memadamkan api.” Tambah Kansha.
Alan mengangguk setuju, lalu hening menyergap mereka. Hingga tak lama, Kansha memecah kesunyian lagi.
“Bagaimana hubunganmu dengan Aisyah?” celetuk Kansha.
Alan menoleh, “Hubungan apa maksudmu?”
“Rencana pernikahan kalian, mau kapan?” tanya Kansha.
Alan terdiam mendengar pertanyaan Kansha, lalu berkata ragu, “Aisyah masih menulis skripsinya.” Balas Alan.
“Jadi, kalau Aisyah selesai menulis skripsinya, kalian akan menikah?” tanya Kansha.
Alan membasahi bibirnya, “Sejujurnya, aku tidak tahu harus melakukan apa.”
“Apa maksudmu?” tanya Kansha tidak mengerti.
“Tidak ada, lupakan saja.” Elak Alan pada akhirnya.
Kansha mendesah, “Aisyah begitu baik dan cantik, cocok denganmu. Dia akan menjadi pasangan hebat untukmu. Jadi jangan menggantungnya terus menerus. Kalian sudah mau memutuskan menikah, hal baik harus segera dilaksanakan bukan?” ucap Kansha.
“Kansha, bisakah kita tidak usah bahas hal ini?” tanya Alan.
“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kamu akan menyesal bila menyia-nyiakan Aisyah jadi segeralah menikahinya.” Tukas Kansha.
“Maafkan aku, tapi ini urusanku dengan Aisyah, tidak ada hubungannya denganmu. Jadi tidak usah berkomentar apapun.” Kata Alan dingin.
“Aku tahu, aku bukannya ikut mencampuri urusan kalian. Itu urusan kalian dan aku tidak peduli sama sekali. Maksudku, Aisyah sudah menunggumu selama ini, disaat orang lain yakin kalau kamu meninggal saat itu bukankah hanya Aisyah yang tetap percaya? Harusnya disitu kamu tahu bahwa cintanya padamu begitu besar hingga dia tak ingin percaya apapun sebelum melihat kebenarannya.” Jelas Kansha.
“Kansha, sekali lagi aku bilang, jangan ikut campur dan kamu tidak punya hak berbicara apapun. Hentikan pembicaraan ini, kita tidak datang kesini untuk berdebat bukan?” ujar Alan dingin.
__ADS_1
Kansha mengalah melihat raut Alan yang berubah dingin dan tak bersahabat, “Baiklah, aku minta maaf sudah lancang.” Ucapnya.
Alan tak menanggapinya, dia lekas berdiri membuat Kansha ikut berdiri, “Kita pulang.” Ucap Alan.