
“Kansha Andara Williams, maukah kamu menikah denganku?”
Kansha terdiam. Dia menatap Ruben dengan gelisah. Belum lagi dengan sorakan para pengunjung lain, membuat bebannya kian bertambah. Kini Kansha dalam dilema besar.
Kansha menutup matanya erat bersiap mengatakan jawabannya. Dalam hati, dia meminta maaf pada Nana atas jawaban yang hendak dia berikan.
“Aku—menyukai Kak Ruben tapi tidak bisa menerima lamaran kakak.” Kata Kansha tegas.
Ruben mematung, cincin yang dia sodorkan jatuh selaras dengan tangannya yang mendadak lunglai. Apa maksud Kansha dalam pernyataannya, dia menyukainya tapi tidak bisa menerima lamaranya?
Ruben bangkit, dia menatap penuh terkejut sekaligus bingung.
“Apa maksud kamu?” tanya Ruben mencoba tenang.
“Pertama, ayo kita duduk dulu.” kata Kansha. Dia melirik para pengunjung yang sedari tadi berbisik atas pernyataannya barusan.
Setelah Ruben duduk, Kansha menjelaskan maksud pernyataannya tadi, “Maksud ku, aku menyukai kakak, tapi dalam artian sebagai seorang adik pada kakaknya. Aku tidak pernah memiliki gambaran untuk melihat kakak sebagai laki-laki. Jadi aku tidak bisa menerima lamaran kakak, karena aku hanya memiliki rasa suka terhadap kakakku bukan sebagai Ruben.” Jelas Kansha tidak enak.
Ruben menghembuskan nafas pelan, dia ditolak dalam arti kasar dan jelas.
“Tidak bisakah kamu mempertimbangkan terlebih dahulu? Aku akan menunggu selama yang kamu mau. Kamu belum memastikan dengan saksama bahwa rasa yang kamu miliki padaku benar-benar sebagai kakak laki-lakimu bukan sebagai Ruben .” Pinta Ruben.
Kansha menggeleng tegas, “Aku sudah memastikannya. Aku sama sekali tidak memiliki rasa itu. Dan kurasa aku memang bukan orang yang tepat untuk kakak.”
“Kansha, aku mohon. Berikan kakak sedikit waktu lagi untuk meluluhkan hatimu.” Mohon Ruben dengan menatap penuh harap.
Kansha kembali menggeleng tegas, “Maaafkan aku tapi tidak. Aku sungguh-sungguh hanya menganggap kakak sebagai kakakku saja, tak ada yang lain. Dan aku harap, kakak berhenti menyukaiku lagi.”
Ruben terdiam, kalimat terakhir Kansha bagaikan petir yang menyambar dadanya tanpa peringatan. Berhenti menyukai, dia bilang? Bahkan sampai matipun, Ruben hanya akan mencintai satu wanita, yaitu Kansha. Dirinya tak yakin akan berhenti mencintai Kansha.
“Dalam hidup aku, aku yakin kalau cinta hanya akan datang sekali. Dan cintaku sudah kulabuhkan padamu, jika kamu memintaku berhenti mencintaimu, itu sama saja dengan menyuruhku mati. Apa gunanya hidup bila tak ada cinta didalamnya.” Kata Ruben nanar.
“Kak, ada banyak cinta dalam hidup ini. bukan berarti aku meminta kakak berhenti cinta padaku, kakak akan kehilangan cinta selamanya. Masih ada cinta lain yang bahkan jauh lebih besar dibanding cinta yang kakak berikan padaku. Ada orang lain yang menunggu cinta kakak seiring nafasnya berhembus. Ada cinta orang lain yang menunggu kakak berbalik dan membalas cintanya. Bisakah kakak berhenti buta dan lihat sekeliling dengan baik-baik? Kenapa kakak harus mengejar cinta yang bahkan hanya fatamorgana bagi kakak sedangkan ada oase penuh air yang menunggu kakak dengan sabar?”
“Kamu menolak aku kali ini tapi bukan berarti aku akan menyerah. Aku akan membuat jatuh hati padaku dan melamarmu kembali.” kata Ruben bertekad.
Kansha mendesah kasar, dia memalingkan mukanya mencoba mengendalikan emosi yang hampir menguasainya. Tidakkah Ruben bisa mengerti yang dia katakan tadi? Dengan jelas dan gamblangnya dia tak akan pernah menyukai Ruben dan menerima lamarannya.
“Aku sudah dengan jelas mengatakan bahwa aku tak akan pernah dan bisa mencintai kakak. Dan bila kakak akan melamarku kembali, jawabanku masih sama. Aku menolak.” Tandas Kansha tegas. Dia menatap tajam pada manik Ruben, menyadarkannya bahwa keputusannya paten dan tak akan pernah berubah. Dia bersungguh-sungguh.
Ruben bergeming. Hatinya sudah bergemuruh hebat. Dia ditolak mentah-mentah oleh Kansha. Langitnya sudah runtuh. Kepercayaan dirinya meluruh tak bersisa.
“Dan kakak harus tahu, ada wanita lain yang menyukai kakak sama besarnya. Dia rela menjodohkan kakak dengan sahabatnya dan merelakan cintanya asal kakak bahagia.” Lanjut Kansha.
Ruben mendongak, matanya yang memerah menatap bingung pada omongan Kansha barusan.
“Aku tidak akan memberi tahu siapa itu karena kakak jelas mengerti siapa yang kumaksud. Yang jelas, dia sedang menunggu kakak dengan hati yang hancur.” Ucap Kansha menjawab tatapan penuh pertanyaan Ruben.
Melihat Ruben bergeming, Kansha memutuskan pergi. Membiarkan Ruben mencerna perkataannya. “Aku pergi. Terima kasih atas makan malamnya.” Pamit Kansha. Dia mengangguk sopan pada Ruben sebelum pergi.
Sepeninggal Kansha, Ruben melonggarkan dasinya dengan kasar kemudian meminum wine gila-gilaan.
***
__ADS_1
Kansha kini sedang di depan gedung apartement Nana. Dia masih di dalam mobil, menimbang-nimbang haruskah ia menghubungi Nana atau tidak. Dia memegang setir kemudi dengan gelisah. Pasalnya, sejak pagi, Nana tidak bisa dihubungi sama sekali membuat Kansha merasa khawatir dan gelisah.
“Haruskah aku mengatakan bahwa aku menolak kak Ruben dan memberitahukan bahwa ada seorang wanita yang mencintai kak Ruben? Tapi bagaimana kalau Nana malah salah paham dan menganggapku membuatnya terlihat menyedihkan?" gumam Kansha bingung.
Kemudian tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Alvaro yang membuatnya mendesah lega. Setelah mengirimkan balasan, Kansha kembali memusatkan perhatiannya pada permasalahan semula.
Dia tak mungkin datang ke apartement Nana, bagaimana kalau ia malah bertatap muka dengan Ruben? Mau ditaruh dimana mukanya nanti, belum dengan kecangggungan yang tercipta.
Dia melirik jendela dimana rumah Nana terletak. Lampunya mati.
Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, Kansha memutuskan tidak melakukan apapun saat ini. biarkan Nana tenang dahulu dan soal lamaran tadi, biarkan Nana yang tahu sendiri. Dia akan menemui Nana bila esok sudah tenang. Malam ini ia rasa sangat tidak memungkinkan. Berbekal keyakinan itu, Kansha menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya.
Ada satu hal yang harus dia lakukan saat ini, berbicara mengenai pesan yang dikirim Alvaro.
***
Nana meneguk wine dengan raut kosong. Ini sudah gelas ketiganya dan dia belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dia merasa frustasi dan hampa ketika Ruben akan melamar Kansha kembali dan menemukan tempat persembunyian dimana selama ini koleksi wine nya diamankan, membuat Nana makin hilang kendali. Pelariannya selalu sama, membutuhkan wine untuk membuatnya hilang waras sesaat.
Nana mengacak rambutnya kasar, air matanya menitik ketika dia berkhayal bahwa Kansha akan menerima lamaran Ruben dan mereka akan menikah dengan bahagia. Nana tahu, Kansha tidak bodoh, mana ada wanita yang mau menolak lelaki sempurna macam Ruben? Orang gila pun tahu bahwa Ruben sesempurna itu untuk dijadikan sebagai pendamping hidup.
Nana menangis tanpa suara di depan ranjangnya.
Ceklek
Di sisi lain, di pintu masuk, Ruben masuk ke rumah dengan sempoyongan. Penampilannya kacau. mata merah dan sayu, rambut acak-acakkan dengan kemeja yang dasinya sudah longgar. Dia masuk ke kamar Nana.
Nana yang tengah menutup matanya seketika tersentak bangun ketika pintu kamarnya dibuka dengan keras. Matanya menyipit ketika yang datang adalah Ruben. Hatinya makin teriris. Nana mulai berspekulasi apakah Ruben datang untuk memamerkan keberhasilan lamarannya padanya? Kalau iya, Ruben adalah lelaki terjahat yang pernah ia temui di semesta.
Tapi tunggu, kalau Ruben ingin memamerkan keberhasilannya, tapi mengapa penampilan Ruben kacau? dan bau alkohol tercium jelas di tubuhnya.
Ruben yang dipanggil namanya seketika mendongak. Matanya yang merah menatap tepat mata Nana membuat Nana gugup sekaligus bingung. Kemudian tanpa kata, Ruben mendekat dan mencengkeram bahu Nana memuat Nana terkesiap.
“Ada apa kak Ruben?” tanya Nana takut. Perasaan mabuknya sudah sirna.
“Katakan padaku bahwa apa yang dikatakan Kansha tidak benar. Katakan padaku bahwa kamu tidak mencintaiku.” Perkataan Ruben membuat Nana mematung. Dia menatap Ruben penuh keterkejutan.
“A-apa ma-maksud kakak?”
“Kansha menolakku dan mengatakan bahwa ada seorang wanita yang saking menyukaiku rela menjodohkannya dengan sahabatnya sendiri. Siapa lagi yang dia maksud kecuali kamu?”
Nana terkesiap, dia terdiam dengan sangat terkejut. Jadi Ruben sudah tahu rahasianya? Ruben tahu soal cinta rahasianya?
“Jelaskan padaku, Na.” Desis Ruben.
Nana tak menanggapinya, air matanya malah menetes lagi. Tatapannya masih kebawah. Ruben geram, dia makin mendekatkan tubuh Nana padanya kemudian mencengkeram pipi Nana membuat Nana mau tak mau menoleh.
“Jelaskan padaku, apa yang terjadi. Kamu mencintaiku? Itu kamu kan?”
“Kak Ruben, aku...aku..aku,” Nana terbata-bata. Dia tak tahu harus menjawab apa.
Ruben yang menatap Nana yang ketakutan, dia melepaskan cengkeramannya dan berbalik. Ruben tertawa kecil.
“Iya bagaimana bisa kamu mencintaiku. Aku hanya kakak bagimu kan?” ujar Ruben membuat kesimpulan sendiri.
__ADS_1
"Kita sudah saling mengenal selama 10 tahun, tidak mungkin kamu menyukaiku selama itu bukan? Aku saja yang konyol malah menganggap serius omongan Kansha. Dia melakukan itu hanya untuk alasan agar bisa menolakku. Hahaha aku terlalu bodoh dan konyol." lanjut Ruben tertawa.
Nana yang mendengar racauan Ruben mengepalkan tangannya. Jadi yang ada di fikiran Ruben adalah perasaannya merupakan candaan dan lelucon?
"Kata siapa tidak. Bertahun-tahun ini lelaki yang kukenal selain kakakku, adalah kakak. Pada siapa aku jatuh cinta selain kakak?" kata Nana nanar.
Ruben menghentikan tawanya. Dia berbalik dengan raut terkejut. Matanya menatap Nana yang masih menatap ke bawah.
"Maksud kamu?" tanya Ruben.
"Bukannya sudah jelas? Aku akhirnya mengutarakan rahasiaku selama ini. Sangat luar biasa hingga aku harap ini hanya mimpi." tukas Nana parau.
Ruben kembali mencengkeram bahu Nana, "Tatap aku, Na. Jelaskan apa yang kamu katakan tadi." desis Ruben. Nana masih tak mau menoleh.
"NANA!" bentak Ruben pada akhirnya.
Nana tersentak ketika Ruben membentaknya, dia menatap Ruben penuh luka. Air matanya sudah membasahi wajahnya.
"AKU MENCINTAI KAKAK, BUKANKAH SUDAH JELAS?!" teriak Nana.
"Harus ku jelaskan berapa kali lagi. akumencintai kakak. Harus kubuktikan dengan apa lagi?" lanjut Nana terisak pelan.
"Sejak kapan?" tanya Ruben pelan.
"Sejak sepuluh tahun lalu. Selama itu aku mencintai kakak. Aku jatuh hati pada pertama kali aku melihatmu. Tidakkah kamu merasakannya? Tidakkah sedikitpun kamu menyadarinya?" tanya balik Nana menatap sayu pada Ruben.
"Aku--" Ruben tak bisa menjawab. Bibirnya kelu.
"Aku bodoh sekali mengajukan pertanyaan itu." kata Nana tertawa pelan. "Jelas-jelas Kansha yang ada difikiran kakak. Jelas-jelas Kansha yang mengambil hati kakak. Kenapa aku malah mengajukan pertanyaan bodoh itu?"
"Nana, aku--"
"Jelas-jelas aku mencintai kakak, tapi kenapa kakak malah mencintai sahabatku sendiri? aku mengenal kakak lebih dulu dari Kansha tapi Kansha? dia semudah itu meluluhkan hati kakak? apa yang kurang dariku kak? apa yang tidak kupunyai dan Kansha punyai? JAWAB AKU!"
Ruben menghembuskan nafas kasar, "Aku tidak tahu bahwa kamu mencintaiku. Dan selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adikku sendiri. Almarhum kakakmu menitipkanmu padaku untuk kujaga."
Nana berdecih kasar, "Persetan dengan adik. Kakak saja yang memang tidak ingin mencintaiku. Ataukah sekarang kakak masih belum percaya padaku? Haruskah kubuktikan lagi? Apakah dengan aku yang akan memberikan harta berhargaku, kakak akan percaya?"
Tiba-tiba Nana mencium Ruben dengan kasar. Ruben memberontak dan menyentakkan tubuh Nana kasar.
"Kamu mabuk Na. Sadarlah!" kata Ruben.
"Mabuk? bukankah kakak juga mabuk? apakah kakak tidak penasaran dan ingin tahu apakah perasaanku pada kakak serius? Bukankah itu yang ingin kakak cari tahu? Aku akan memberikan semua yang kupunya agar kakak mau percaya!"
"Kamu benar-benar mabuk." kata Ruben. Dia hendak pergi namun teriakan Nana menghentikannya.
"Aku sudah membuat pengakuan dan kakak meninggalkanku begitu saja? kakak benar-benar brengsek! Apakah cintaku hanya candaan bagi kakak? kalau iya, kakak adalah lelaki paling sialan yang pernah kutemui!"
Ruben mengepalkan tangannya dengan keras. Dia menatap dingin pada Nana.
"Kamu ingin kakak tetap disini? mengetahui perasaanmu bukan?" kata Ruben dingin. Nana yang melihat Ruben mendekatinya seketika mengkerut ketakutan. Dia mundur perlahan.
"Kenapa mundur? kamu bilang kakak harus tahu perasaanmu bukan? kakak akan mencari tahu malam ini."
__ADS_1
Tiba-tiba Ruben mencium Nana dengan kasar. Dia menghempaskan Nana ke ranjang dengan tetap menciumnya. Nana berontak namun sudah tak miliki tenaga. Malam ini Ruben bertindak liar imbas perkataannya.