
Aisyah dan teman-temanya tengah makan siang di salah satu restoran ayam bakar yang baru dibuka. Lalu ketika tengah menunggu pesanan, Aisyah pamit ke toilet.
Selepas membuang hajatnya, Aisyah hendak kembali ke mejanya namun dirinya malah melihat siluet Alan tengah mengobrol dengan seseorang perempuan. Aisyah yang tak mempercayai penglihatannya, maju mendekat. Mereka duduk di saung lesehan di pinggir danau. Aisyah menyipitkan matanya dan terkejut ketika itu memang benar Alan. Tapi dengan siapa calon suaminya itu? Aisyah melihat wajah Kansha namun tidak merasa familier dengan wajahnya.
Aisyah terdiam berfikir, pernahkah dirinya bertemu dengan wajah itu? Hingga Aisyah berteriak kecil, dia ingat bahwa itu adalah Kansha, orang yang bersama dengan Alan ketika terdampar di pulau. Seketika Aisyah merasa kecewa.
Alan tidak memberitahunya bila ingin keluar dengan Kansha dan sejak kapan mereka bertemu kembali? Bukankah sudah 6 bulan mereka tak lagi berjumpa. Tapi ini, tiba-tiba Aisyah menjumpai mereka tengah makan siang bersama. Aisyah sektika merasa kalah.
Aisyah maju ingin menghampiri mereka, namun setelah beberapa langkah, dia mengurungkan niatnya. Tidak, dia tidak boleh menghampiri mereka dan marah-marah, yang ada Alan akan merasa ilfeel padanya terlebih ini adalah tempat umum. Lebih baik dia akan meminta penjelasan Alan di rumah.
Aisyah lalu menelfon seseorang. Tak lama, telfonnya diangkat.
“Halo, bi. Assalamu’alaikum.” Sapa Aisyah. Dia rupanya menelfon abinya.
Aisyah tersenyum ketika abi menjawab panggilannya, “Aisyah baik bi. Oh ya, Aisyah tidak jadi pulang besok hari, ada sesuatu yang harus Aisyah urus.”
“...”
“Baik, bi. Insyaallah. Terima kasih Abi. Assalamu’alaikum.”
Begitu panggilannya ditutup, Aisyah menatap figur Kansha. Dia tidak boleh pulang sebelum memantapkan posisinya di hati Alan. Karena Aisyah tahu, Kansha tidak hanya sekedar teman namun lebih dari itu. Dan Aisyah tak pernah berniat mengalah.
***
Kansha dan Alan tengah dalam perjalanan pulang. Sejak perdebatan mereka itu, Alan belum membuka suaranya lagi, membuat Kansha merasa bersalah. Dia merutuki tindakannya yang sok ikut campur terhadap hubungan Alan dan Aisyah. Bukan hanya melukai hatinya sendiri namun juga membuat dia dan Alan berdebat.
Maksud Kansha membahas rencana pernikahan itu adalah agar dirinya tak semakin berharap dan malah mematahkan perasaannya. Dia ingin kebebasan, mencintai Alan yang sudah memiliki calon istri, bukanlah tindakan yang baik. Dia tidak ingin menghancurkan hubungan orang lain. Terlebih, Aisyah jauh lebih sempurna dibanding dirinya. Lelaki hebat seperti Alan, haruslah berpasangan dengan wanita yang lembut hatinya seperti Aisyah. Laksana ombak menggelora akan selalu ditenangkan oleh angin semilir.
Kansha yang tidak ingin suasana canggung ini berlangsung langsung menghidupkan musik. Lagu Rihanna-umbrella mengalun.
Alan menoleh pada Kansha membuat Kansha takut, dia hendak mematikan musik namun suara Alan menyelanya, “Tidak usah dimatikan.” Katanya.
“Kamu tahu, aku pernah dengar berita kalau ada satu kota yang memutarkan lagu ini dan seketika hujan besar.” Kata Kansha.
Kansha diam menunggu reaksi Alan namun Alan tidak menjawab sama sekali. Kasnha menghembuskan nafas pelan.
Tes tes
Bukannya Alan yang merespon, melainkan langit yang memberi jawaban. Hujan turun begitu lebatnya. Alan menghentikan mobilnya dan menatap Kansha.
“Ucapanmu terkabul” Katanya.
Kansha mengelus tengkuknya, “Aku lupa, kalau omongan adalah do’a.” Kata Kansha.
"Tidak ada hal seperti itu, jangan mudah percaya." kata Alan.
"Aku tahu, itu hanyalah sekedar lagu yang bertujuan menghibur penikmatnya, bukan dijadikan sebagai hal mistis."
Alan tak menjawab, dia melajukan mobilnya kembali menembus kelebatan hujan. Tak lama, Alan berhenti di depan masjid.
“Kamu mau shalat?” tanya Kansha.
__ADS_1
Alan menoleh pada Kansha, “Kamu tunggu saja di mobil dan jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali.” Kansha mengangguk lalu Alan keluar dari mobil dan berlari kehujanan menuju masjid.
Kansha menoleh ke belakang jok mobil mencari payung, “Dia tidak punya payung apa?” gumam Kansha.
Kansha menunggu dengan jenuh, dia pengap di mobil sendiri jadi akhirnya dia memutuskan untuk turun. Dia singgah di sebuah bangunan kecil seperti aula yang berada dipinggir masjid. Dia memutuskan menunggu Alan disana.
Kansha berdiri menunggu Alan hingga suara seseorang wanita menegurnya.
“Assalamu’alaikum.” Sapanya.
Kansha menoleh ke sumber suara, nampak seorang wanita paruh baya yang memakai jilbab menjuntai dan gamis pink berenda. Wajahnya sungguh bersinar dan cantik. Kansha sangat terpesona.
“Mbak, kenapa melamun?” tegur wanita itu ketika kansha tak menjawab salamnya dan malah menatapnya.
Kansha terkesiap, “Oh, maaf saya bukan muslim, jadi tidak tahu harus menjawab apa.” Kata Kansha pelan.
Wanita itu terkejut dan merasa tak enak hati, “Maafkan saya.” Katanya tulus.
“Tidak apa-apa, wajar bila ibu tadi mengucap salam, saya sedang berada di sekitar masjid.” Ujar Kansha tersenyum maklum.
“Oh, iya saya Warni, saya ustadzah disini. kamu siapa namanya?” ucap Warni memperkernalkan diri.
“Saya Kansha, salam kenal ustadzah.” Balas Kansha. “Saya tahu arti ustadzah, artinya guru benar?” lanjutnya.
Warni mengangguk dengan senym tetap diwajahnya, “Kamu benar. Tapi apa sedang apa kamu disini?”
“Saya menunggu teman saya yang sedang menjalankan shalat.” Jawab Kansha.
“Masyaallah, kalian luar biasa, memiliki rasa toleransi tinggi antar umat beragama.” Puji Warni.
“Ibu sendiri sedang apa disini? Dan ini tempat apa? Kenapa banyak anak-anak berkumpul?” tanya Kansha penasaran.
“Oh ini namanya madrasah. Madrasah itu tempat kita biasanya menuntut ilmu, anak-anak ini belajar tentang agama Islam.” Jawab Warni dengan nada lembut.
“Ah, saya mengerti. Mereka luar biasa sejak kecil sudah diberi pengetahuan agama.” Puji Kansha.
“Sejak kecil, anak-anak memang harus diberi pelajaran agama yang mereka anut, agar apa? Agar anak-anak bisa mengenali Tuhannya dan mengenali jati dirinya. Makanya peran serta orang tua dan guru juga penting, anak-anak selalu mencontoh dari orang yang lebih tua.” Jelas Warni.
Kansha mengangguk setuju, “Saya setuju dengan ibu. Mereka anak-anak yang beruntung. Sejak kecil, saya tidak mengalami hal ini, saya belajar agama ketika usia saya SMP.” Katanya.
“Tapi kamu sudah mengenali diri kamu bukan? Siapa kamu, darimana kamu berasal, kamu sudah tahu?” tanya Warni.
Kansha menggeleng, “Tidak bu. Saya malah merasa kehilangan arah. Sejak saya bertemu dengan teman saya ini, saya merasa hidup saya sepertinya salah, bahwa ada sesuatu yang tidak benar selama ini. Dan saya merasa saya harus mencari tahu.” Ucap Kansha mengernyit.
Warni tersenyum mendengarnya, dia tahu apa yang tengah dialami oleh gadis muda seperti Kansha. Mungkinkah bahwa pintu hatinya tengah diketuk oleh Sang Pencipta?
“Kansha, mau dengar suatu kisah?” tawar Warni. Kansha mengangguk.
“Suatu hari, ada seorang perempuan yang non muslim. Dia merasa hidupnya sangat hancur, diusianya yang muda, dia harus kehilangan kedua orang tuanya. Dampak kematian orang tuanya, dia kehilangan seleluruh kekayaan keluarganya. Dia merasa hidup ini tidaklah adil, dan merasa marah pada Tuhan. Hingga dia memutuskan bunuh diri.”
“Bunuh diri?” pekik Kansha terkejut. Warni mengangguk.
__ADS_1
“Perempuan itu hendak mengakhiri hidupnya di jembatan yang tak jauh dari sini, namun ketika dia hendak melompat, ada seorang lelaki yang menarik tangannya dan membawanya kembali ke tanah. Perempuan itu marah dan merasa usahanya gagal. Dia murka pada lelaki yang membantunya. Tapi ucapan dari orang itu membuatnya terdiam.”
“Ucapan apa?”
“Apakah kamu merasa hidupmu akan berakhir begitu kamu bunuh diri? Tidak, hidupmu akan berlanjut meski kamu tiada, dengan jauh lebih sengsara dan mengerikan dari ini.kamu tidak percaya? Maka lompat saja, dan lihat sendiri.”
“Sejak saat itu, perempuan itu mencoba menata hidupnya kembali dengan bantuan lelaki itu, dan perempuan itu tiba-tiba merasa gundah, merasa bahwa hidupnya masih ada yang salah seperti kamu ini. Hingga lantunan ayat suci Al-Qur’an melegakan batinnya, saat itu juga dia memutuskan mu’alaf dan menikah dengan orang yang sudah menolongnya.” Tutup Warni mengakhiri ceritanya.
Kansha terpesona dan bertepuk tangan kecil, “Wah, kisah itu sungguh menarik dan romantis. Tapi siapakah wanita itu?” tanya kansha penasaran.
Warni tersenyum. “Wanita itu ada didepanmu sekarang.” Katanya.
***
Kansha terus memikirkan pertemuannya dengan Bu Warni, dia ternyata seorang non muslim pada awalnya lalu memutuskan memeluk agama Islam. Kansha semakin kagum padanya. Dia jadi bertanya-tanya, akankah dia bisa seperti itu juga?
“Kansha, apa ada yang salah?” tegur Alan ketika Kansha hanya diam.
Kansha menggeleng, “Akhirnya kamu mau berbicara juga. “ujarnya senang.
“Dari tadi aku juga berbicara. Jadi katakan kamu sedang memikirkan apa?” tanya Alan.
“Aku bertemu seorang malaikat.” Kata Kansha.
“Malaikat? Siapa ? bu Sari?”
“Itu malaikat yang lain. Sayapnya begitu indah, wajahnya cantik bersinar, suaranya halus dan luhur budinya.” Ucap Kansha terpesona.
“Siapa yang kamu bicarakan?” tanya Alan bingung.
Ketika Kansha hendak menjawab, dering telfon menyelanya. Dia melihat ponselnya dan nama Alfin terpampang dilayarnya.
“Siapa?” tanya Alan. Kansha tanpa kata menunjukkan ponselnya .
“Untuk apaa dia menelfonmu?” Kansha menggeleng. Dia menerima panggilan Alfin dan meloudspeakernya.
“Halo, Alfin?” sapa Kansha.
“Kansha!” rengek Alfin diseberang sana.
“Ada apa denganmu?” tanya Kansha menatap Alan.
“Kamu kenapa sih punya teman ular piton?”
“Ular piton? Siapa?” Kansha semakin bingung.
“Eh bukan, dia bukan lagi ular piton, dia harimau.” Ralat Alfin makin ngaco.
Kansha menatap Alan dan mengeryit bingung, Alan menghentikan mobilnya. Dan mengambil alih ponsel Kansha.
“Apa yang kamu mau bicarakan?” tanya Alan.
__ADS_1
Alfin yang diseberang telfon terkejut ketika mednegar suara kakakanya,
“Loh, Mas Alan? Mas Alan kok bisa sama Kansha?”