
Kansha mendesah pelan ketika orang tuanya menyatakan dengan nada tegas tak ingin menyetujui permintaan Kansha. Permintaan Kansha menurut mereka terlalu konyol dan gila.
Tapi Kansha punya alasannya dan dia harap orang tuanya mau mengerti.
12 jam sebelumnya...
“Kanaya, ingat kakak?”
Gadis kecil bernama Kanaya itu mengangguk. “Kak Kansha, kan? Aku senang sekali bertemu dengan kakak lagi.” Ujarnya bahagia.
Bu Marwah dan Alvaro mengernyit bingung bagaimana bisa Kansha dan Kanaya, yang ternyata merupakan salah satu anak di panti saling mengenal. Kemudian mengalirlah cerita bahwa Kansha hampir menyerempetnya dan kemudian membeli semua dagangannya. Mendengar itu Bu Marwah berterima kasih.
“Ibu, saya ingin bertanya. Kenapa anak-anak seperti Kanaya berjualan seperti ini? mereka tidak bersekolah?” tanya Kansha.
Bu Marwah yang mendengar pertanyaan Kansha bertukar pandang dengan Alvaro sebelum menatap Kanaya yang menunduk. Bu Marwah mendesah pelan, “Mereka memang seharusnya bersekolah namun karena permasalahan ini mereka menjadi putus sekolah karena sudah tidak ada yang ingin menjadi donatur lagi setelah kasus ini mencuat ke publik. Jadi terpaksalah saya dan anak-anak harus mencari biaya hidup sehari-hari dan uang untuk bekal nanti bilamana sewaktu-waktu kami benar-benar akan ditendang darisini.” Jelasnya dengan nada sedih kentara.
“Saya turut prihatin.” Kata Kansha sembari mengelus surai Kanaya pelan.
Bu Marwah tersenyum kecil, “Untungnya, di situasi sulit seperti ini, masih banyak orang baik yang mau membantu kami. Seperti Pak Alvaro dan timnya yang mau bersusah payah membantu kami memperjuangkan milik kami kemudian anak-anak panti juga mau ikut menanggung beban.”
“Jadi apa yang bisa dilakukan kalau-kalau tuntutan mereka berhasil?” tanya Kansha menatap Alvaro.
Alvaro mendesah, “Tak ada cara lain. Panti harus mau digusur dan anak-anak pindah ke tempat lain. Untungnya dalam klausa perjanjian, pihak mereka tak akan mengganti uang rugi atas bangunan panti selama tiga tahun ini.”
“Apa tak ada jalan lain? Bisakah tanah ini dibeli saja?”
Alvaro melotot kaget mendengar perkataan Kansha. “Harga tanah saat ini sedang mengalami kenaikan pesat, terhitung meningkat dua persen dari tahun lalu. Kalaupun ingin membelinya maka untuk sepetaknya harus menyiapkan uang seratus juta ditambah ini merupakan lokasi yang sangat strategis yang akan membuat harganya jauh lebih meroket dibanding lokasi lainnya.” Jelas Alvaro melirik Bu Marwah yang mengangguk dengan pelan.
“Kami mana ada punya uang sebanyak itu, Nak Kansha. Kalaupun ada, pasti untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah mereka.” Timpal Bu Marwah.
Kansha mengangguk membenarkan, membeli tanah memang tak mungkin. Tapi pasti ada cara lainnya bukan? Dan Kansha harus menemukannya. Kemudian, dia terfikirkan satu ide yang mungkin sedikit gila dan pasti membuatnya dan orang tuanya adu mulut.
“Saya punya ide, tapi ini sedikit gila sih dan aku tidak yakin apakah aku tidak akan mendapatkan pukulan nanti.” Ujar Kansha.
“Ide apa?” tanya Alvaro.
Kansha menatap Alvaro lamat-lamat, “Saya akan minta Williams Company mengalihkan kalian ke yayasan pendidikan mereka.”
Dan setelah itu, Kansha mengajukannya pada kedua orang tuanya yang akhirnya membuat dia dan Grace benar-benar adu mulut. Pasalnya mengalihkan tiga puluh anak ke yayasan pendidikan membutuhkan dana yang sangat besar. Mereka juga tidak punya beasiswa dan dewan yayasan juga belum tentu mengizinkan mereka.
“Tapi, ma, bayangkan anak sekecil mereka dibiarkan luntang-lantung dijalan. Mereka harus bekerja sekecil itu untuk mencari nasi. Dan aku yakin, aku akan sangat menyesal bila itu terjadi. Kita orang yang berada tapi kita bahkan tidak mau membantu.” Bujuk Kansha. Dia memegangi tangan ibunya mengikuti kemanapun Grace pergi.
Grace menoleh pada Kansha sembari mendesah pelan, ditaruhnya kembali gelas minumnya. “Mama bukannya tidak mau. tapi sangat sulit untuk menampung tiga puluh siswa tanpa beasiswa atau sponsor apapun. Dan meski yayasan itu milik Williams Company tapi kami juga memiliki sponsor dan pihak investor yang tergabung dalam dewan yayasan. Kita tidak bisa seenaknya, semuanya memiliki jalur koordinasi.” Jelas Grace.
“Aku tahu, tapi tidak bisakah mama mencoba membicarakannya dengan dewan-dewan itu? Aku yakin mereka juga memiliki hati. Ayolah ma,” bujuk Kansha lagi.
Grace terdiam sebentar, kemudian mengangguk. “Mama akan mencoba mengajukannya. Tapi bila itu tidak berhasil, kamu jangan salahkan mama.” Kansha mengangguk senang.
Flashback Off
***
Kansha melenguh, setelah pembicaraannya dengan mamanya, belum ada kabar lagi. Tadi Alvaro hanya mengabari bahwa sidang mediasi akan dilakukan siang ini. Kansha lega tidak lega, pasalnya kalau jalan mediasi tak berhasil maka semuanya akan diputuskan hukum.
Kansha mengurut pangkal hidungnya dan merebahkan tubuhnya di kursi kantornya. Dia memejamkan matanya. Dia juga merasa gelisah karena Nana masih tak bisa dihubungi. Dia juga tidak tahu bagaimana keadaan Ruben karena terakhir ia meninggalkannya, Ruben tampak terpukul.
Brak
Kansha terlonjak kaget ketika pintu ruangannya dibuka dengan keras. Kansha bangkit dengan jantung hampir copot dan menatap bingung pada Nana yang menatapnya dengan emosi.
“Nana.” Panggil Kansha mendekat.
“Jangan mendekat.” Kata Nana dingin membuat Kansha berhenti melangkah.
“Kamu baik-baik saja? Kamu nampak kacau. Dan mengapa jalanmu pincang begitu?” tanya Kansha khawatir. Nana datang dengan penampilan tak biasa. Rambutnya yang tak disisir dengan benar, wajah pucat dengan bekas air mata yang mengering dan jalannya yang terlihat aneh seperti terpincang-pincang.
“Apa maksudmu melakukan itu? Kamu menolak kak Ruben kemudian menyodorkanku padanya? Kamu mengatakan tentang perasaanku padanya? Apa maksudmu? Kamu membuatku terlihat menyedihkan, Kansha!” seru Nana dengan tatapan terluka. Air matanya kembali menetes.
Kansha tersentak, dia menatap Nana yang menatapnya dengan pandangan terluka membuat hatinya ikutan sakit. “Na, aku bisa menjelaskannya.” Kata Kansha.
“Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau sahabatku bernama Nana menyukai Kak Ruben dan merahasiakannya?” kata Nana dingin.
Kansha menggeleng cepat, “Bukan itu, Na. Aku tidak pernah mengungkapkan namamu sama sekali. Aku hanya mencoba meluruskan hubungan diantara kita. Dan agar Kak Ruben sadar kalau ada yang mencintainya jauh lebih besar selama ini. Aku hanya mencoba membantumu.”
“Membantu?” kata Nana tersenyum sinis, “Kamu mempermalukanku, Kansha! Kamu membuatku mengungkapkan rahasiaku selama ini. kamu membuatku hancur dalam semalam! Itu yang kamu sebut membantu?” teriak Nana marah.
“Kalau iya, kamu adalah sahabat paling baik yang pernah kupunya.” Lanjut Nana dengan nada tajam.
“Nana, bukan itu maksudku.” Kata Kansha mencoba menghampiri Nana.
__ADS_1
“Jangan mendekat.” Kata Nana. Kansha berhenti melangkah.
Nana menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Kansha dingin. Matanya memerah penuh luka tepat menghujam dada Kansha. “Untuk saat ini, jangan pernah menemuiku lagi. Aku benar-benar kecewa padamu.” Kata Nana dengan air mata mengalir. Setelah itu, Nana pergi meninggalkan Kansha.
Kansha yang melihat Nana pergi, segera mengejarnya. Nana yang tahu dikejar, berlari secepat ia bisa, tak dipedulikannya dengan selangkangannya yang sangat sakit.
Kansha mengejar Nana hingga ke lobi namun perkataan Seli menghentikan langkahnya.
“Kita harus rapat sekarang bu.”
“Sial.” Umpat Kansha ketika melihat Nana sudah tak terlihat lagi. Dia mengacak rambutnya frustasi.
***
Suasana sarapan di rumah Alandra Kenandra benar-benar dingin. Pasalnya sejak semalam, Alan hanya memasang wajah dingin dan tak banyak bicara. Ayah dan bunda bingung dan mencoba mengajak bicara Alan, namun Alan hanya bilang bahwa dia hanya kelelahan saja. Jadilah ayah dan bunda memakluminya. Sedangkan Alfin dan Aisyah yang tahu apa alasan dibalik Alan bersikap demikian hanya bisa terdiam.
“Aku sudah selesai.” Kata Alan. Dia pun pamit kembali ke kamar. Semua anggota keluarga saling melirik melihat kepergian Alan.
“Aku juga sudah selesai.” Kata Alfin. Dia membalikan alat makannya dan berlari ke atas menyusul Alan.
Sementara itu Aisyah yang masih duduk diam, tersenyum dalam hatinya.
Dikamar Alan, Alan tengah merebahkan diri di kasurnya dengan tangan terlipat keatas. Kemudian tak lama, suara ketukan pintu terdengar dan Alfin masuk. Dia langsung duduk di sofa kamar.
“Mas sakit?” tanya Alfin ketika melihat Alan hanya tiduran.
“Aku tidak sakit.” Balas Alan.
“Mas sakit, tapi bukan fisik melainkan hati. Kejadian semalam masih menghantui fikiran mas bukan?” tebak Alfin.
Alan hanya menanggapinya dengan membalikkan posisi rebahannya. Melihat itu, Alfin tersenyum kecil.
“Mas harusnya bisa jujur dengan diri mas sendiri. Kenapa bisa mas kesal dan terus kefikiran dengan kejadian itu sedangkan mas saja tak punya hubungan apapun dengan Kansha?”
“Aku hanya tidak percaya dengan penglihatanku saja.” Balas Alan pelan.
Malam sebelumnya...
Alan, Alfin dan Aisyah tengah makan malam di salah satu restoran prancis. Tujuan makan malam ini adalah merayakan penghargaan yang diterima Alan beberapa waktu lalu oleh BNPB. Ayah dan bunda tak ikut, karena harus menjenguk sanak saudara yang sakit. Jadilah hanya mereka bertiga.
Tanpa disadari, di restoran itu ada Ruben yang tengah melamar Kansha. Jadi begitu Alan, Alfin dan Aisyah masuk, mereka bisa melihat secara langsung kejadian ketika Ruben berlutut dengan menyodorkan cincin pada Kansha.
“Kita pulang.” Kata Alan tiba-tiba. Dia langsung pergi begitu saja.
“Eh mas!” panggil Alfin. Dia pun lekas menyusul Alan yang berjalan cepat keluar. Makan malam mereka pun batal.
Flashback Off
Alfin terkikik kecil ketika kilasan itu menari dibenaknya. Jadi mas nya ini cemburu toh, melihat Kansha yang dilamar oleh lelaki lain.
“Aku tahu mas cemburu, mas suka dengan Kansha bukan?”
Alan yang asik memejamkan mata seketika membuka matanya. Dia langsung duduk tegak dan menatap horor pada Alfin.
“Kenapa?” tanya Alfin bingung.
“Aku suka dengan Kansha?” tanya balik Alan menunjuk dirinya sendiri.
Alfin mengernyit aneh, “Kenapa mas malah bertanya balik. Harusnya mas tanya pada diri mas sendiri. Mas yang punya jawabannya.”
Alan termenung, entah kenapa pertanyaan Alfin jadi mengusiknya. Menyukai Kansha? Dia menyukainya? Benarkah? Pemikiran itu tak pernah terlintas dibenaknya sama sekali.
Alfin yang melihat Alan merenung tak jelas itu menghembuskan nafasnya. Alan rupanya masih belum tahu perasaannya pada Kansha. Dan Alfin ingin membantunya.
“Mas aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Mas jawab dengan jujur dan jangan ditutup-tutupi. Ikuti kata hati mas.” Kata Alfin.
Alan mengangguk.
“Pernahkah mas merasa jantung mas berdebar tak biasa di dekat Kansha? Seperti sakit jantung tapi bukan?” tanya Alfin serius. Badannya condong ke arah Alan.
Alan termenung kemudian mengangguk.
“Pernah?” pekik Alfin terkejut.
Alan kembali mengangguk. “Waktu itu, mas ingin mengabarkan Kansha mengenai penghargaan yang mas dapat, tapi tidak jadi. Setelah itu tiba-tiba bayangan Kansha yang tersenyum melintas begitu saja dan membuat jantung mas berdebar aneh.”
“Itu namanya sindrom jatuh cinta. Jantung kita seakan ingin meledak didekat orang yang kita sukai.” Timpal Alfin yakin.
Namun Alan menggeleng, “Tapi mas memeriksakannya ke dokter dan dokter mengatakan bahwa peredaran darah mas tidak terlalu lancar hingga menimbulkan sensasi jantung berdebar.”
__ADS_1
Alfin berdecak, “Mas, itu hal yang berbeda. Jatuh cinta itu tidak bisa dinalar oleh dunia medis sekalipun. Jatuh cinta adalah hal naluriah dan aneh, belum ada penjelasan pasti. Tapi hati kita punya jawaban paling konkret, dia tahu kemana harus berlabuh dan hanya bisa dinalar oleh perasaan kita sendiri.” Tukas Alfin.
“Begini saja, aku memiliki tes yang mudah. Mas jawab cepat pertanyaanku ya.” Lanjut Alfin.
“Musim panas atau musim hujan?”
“Musim panas.”
“Kopi atau teh?”
“Kopi.”
“Mentimun atau zukini?”
“Mentimun.”
“Kansha atau Aisyah?”
“Kansha.”
Alfin mengangguk puas. Sedangkan Alan terkejut. Dia melotot kaget pada Alfin.
“Tadi apa maksudnya?” tanyanya horor.
“Mas suka Kansha, simple.” Balas Alfin santai.
***
Siangnya, keluarga Alan mengantar Aisyah yang hendak kembali ke Maluku. Aisyah akan berada disana selama satu minggu sebelum nanti diwisuda. Aisyah bisa pulang dengan tenang, mengingat hubungan Alan dan Kansha yang akan merenggang. Aisyah juga yakin Alan tak akan bisa berbuat apapun dengan Kansha. Tentu saja.
“Aisyah pamit, ayah bunda. Terima kasih karena sudah menerima Aisyah tinggal di rumah kalian.” Kata Aisyah.
“Sama-sama, nak. Hati-hati ya, safe flight. Salam untuk abi. Kami semua menunggu kamu kembali nanti.” Kata bunda lembut sembari mengelus jilbab Aisyah dengan sayang.
Aisyah mengembangkan senyumnya, “Siap, bunda. Kalau begitu Aisyah pamit.” Kata Aisyah menatap semua orang tak terkecuali Alan.
Keluarga Alan melambaikan tangan begitu Aisyah masuk ke pintu penerbangan.
***
Ruben baru saja bangun dari tidurnya. Waktu menunjukkan pukul sebelas pagi. Ruben memegang kepalanya yang pusing. Dia sepertinya mabuk terlalu parah kemarin. Kemudian dia menyadari bahwa tubuhnya telanjang. Ruben terkejut setengah mati, dia kemudian menatap sekelilingnya, tak ada siapapun. Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam? Ruben mencoba mengingat-ingat.
Ruben terkesiap ketika ingatan semalam muncul bertubi-tubi. Ruben yang melamar Kansha dan berakhir penolakkan. Dia yang minum-minum gila-gilaan kemudian pergi ke apartement dan menemui Nana. Dirinya yang bertengkar dengan Nana dan Nana yang mengungkapkan perasaannya. Kemudian mereka berakhir di ranjang?
Ruben memegang rambutnya keras. Dia dan Nana? Semalam? Astaga, apa yang dia lakukan? Kepalanya bertambah pusing saat ini.
Setelah menenangkan diri, Ruben mencari pakaiannya dan segera memakainya. Kemudian dia mencari Nana disekeliling rumah, namun Nana tak ada dimanapun. Ruben pun mencoba menghubungi Nana namun ponselnya tak aktif.
Ruben pun mencoba menghubungi Kansha siapa tahu Nana ada bersama Kansha. Namun ketika jarinya hendak menekan tombol panggil, dia seketika mengurungkan niatnya. Bayangan kemarin malam yang dirinya ditolak muncul. Ruben pun urung dan kembali menelfon Nana. Berkali-kali nomor Nana dipanggil, namun hanya suara operator yang menjawab. Ruben yang cemas, mengambil kunci mobil dan berlari keluar apartement. Dia mencoba mencari Nana.
Disisi lain, Nana, objek yang tengah dicari, tengah melamun di depan sebuah danau. Wajahnya kusut dengan air mata yang mengering. Dia menekuk lututnya dan membiarkan riak air danau menenangkan hatinya yang kacau dan hancur.
Kemudian, sebuah benda dingin ditempelkan di pipinya. Nana tersentak, dia menoleh pada si pelaku. Ada Alfin yang tersenyum kecil sembari memegang es krim. Nana menatap Alfin datar.
“Jangan menatap begitu. Kamu menyeramkan kalau lagi kacau.” kata Alfin. Dia menaruh es krim itu ke tangan Nana kemudian duduk di samping Nana sambil menjilat es krim miliknya.
Nana membuka kemasan es krim itu dan memakannya hening. Sensasi dingin dan manis menyentuh lidahnya dan menenangkan hatinya.
Sebenarnya, Alfin tak sengaja bertemu Nana. Saat itu, Alfin yang tengah pergi ke toilet bandara bertemu dengan Nana yang seperti mayat hidup berjalan memegang tiket. Alfin yang curiga menghentikan niat Nana yang ternyata ingin pergi ke luar negeri. Bukan maksudnya Alfin mencampuri urusan Nana, dia sih masa peduli soal Nana mau pergi kemana. Hanya saja, dia merasa aneh, mana ada orang yang bepergian terlebih ke luar negeri hanya dengan bermodalkan memakai jeans, kaus oblong dan sandal rumah. Belum lagi Nana tak membawa koper atau semacamnya.
Kemudian Alfin mengetahui bahwa Nana tengah dalam masalah dan hendak menenangkan diri. Alfin pun mengajak Nana ke sebuah danau yang tenang. Dan disinilah mereka.
“Aku tidak akan bertanya kamu memiliki masalah apa. Itu urusanmu, aku tidak perlu ikut campur. Dan percuma menghibur juga, yang bisa mengatasi masalah ini ya kamu juga. Jadi tenangkan dirimu dan selesaikan masalahmu.” Kata Alfin melirik Nana.
Nana mendesah, matanya masih menatap hamparan air hijau di dedepannya. “Aku tahu. Aku hanya masih belum sanggup dan aku masih harus menenangkan diri dahulu.” Kata Nana pelan.
“Tidak masalah. Asal jangan lari saja seperti tadi. Tak ada gunanya lari, toh masalahnya masih tetap ada.” timpal Alfin. “Dan lagi, lain kali jangan memakai sandal rumah kalau mau berpergian. Yang ada kamu disebut gembel di luar negeri.” Lanjut Alfin.
Nana tertawa pelan, “Ucapanmu masih saja tidak bisa disaring, biasanya aku akan meledak dan adu mulut denganmu lagi. Tapi entah kenapa perkataamu justru menguatkanku.”
Alfin berdeham, “Aku memang tidak pandai berkata-kata. Kakakku yang sangat pandai melakukannya. Jadi terima saja.”
“Pantas kakakmu sudah dapat calon, sedangkan kamu, kuyakin kamu masih jomblo abadi.” Tukas Nana mengejek.
“Eh, jangan salah. Aku bukannya mau menjomblo, hanya saja tidak ada yang cocok dengan lelaki tampan nan charming sepertiku.” Kata Alfin narsis.
“Cih, bilang saja kamu memang tidak laku.” Kata Nana semberi tertawa lebih kencang kali ini.
“Omonganmu ya nona, baik lagi sehat walfiat atau lagi hancur begini tetap saja menyakitkan.” Sungut Alfin. Nana mengembangkan senyumnya dan tertawa pelan.
__ADS_1
Alfin yang melihat Nana tertawa seketika terdiam. Visual cantik Nana yang tak memakai riasan membuatnya merasa terkesima.