My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 100.


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Aisyah, Aura pulang ke apartementnya yang sepi dan gelap. Dia sengaja dan tidak mau repot-repot menyalakan lampu. Untuk apa penerang, ketika hidupnya pun sudah terlalu gulita.


Aura melemparkan tasnya ke sofa. Dia lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol wine. Setelah itu berjalan jembali menuju ruang tamu.


Aura duduk bersandar di kaki sofa. Perempuan itu langsung membuka botol wine dan langsung menenggaknya. Dia tidak perlu gelas.


Dia baru meletakkan botol wine ketika isinya sudah setengah. Matanya sudah sayu. Kemudian tangannya menggapai pada satu-satunya benda yang berada di mejanya, sebuah bingkai foto.


Aura menatap foto itu dengan kerinduan mendalam. Amat rindu hingga dia nyaris gila ingin satu dunia bersama malaikatnya.


Foto itu adalah foto Aura kecil dengan seorang gadis kecil yang beberapa tahun lebih tua darinya. Dia adalah Kania Andara Williams.


Aura adalah gadis broken home sejak kecil. Papa dan mamanya tak saling mencintai dan terpaksa satu mahligai rumah tangga karena kehadiran dirinya dalam rahim sang ibu yang tak disengaja.


Katanya, kebersamaan akan membuat dua orang yang tak saling mencintai akan menumbuhkan benih cinta. Tapi orang tuanya membuktikannya tidak. Dari sejak awal penikahan hingga dirinya lahir dan sebesar sekarang, papanya selalu menduakan sang mama. Terlebih untuk menutupi kesalahannya, papanya menuduh mamanya jalang dan murahan. Pertengkaran fisik menjurus kekerasan juga kerap terjadi, tak hanya pada mamanya namun Aura juga yang tidak bersalah. Hingga mamanya meninggal dunia saat dia duduk di bangku sekolah menengah karena depresi.


Aura kecil tak tahu apa-apa. Alasan mengapa papanya begitu membenci dirinya. Alasan mengapa semua keluarga papanya mengucilkan dirinya saat pertemuan keluarga. Dan hanya keluarga mamanya yang peduli. Yaitu keluarga Aisyah. Bunda Aisyah adalah kakak dari mamanya.


Di semua penderitaan fisik dan cercaan yang dilontarkan papanya kala masa kanak-kanak, membuat Aura menjadi anak tertutup dan tidak bisa bersosialisasi. Tak ada yang menjadi temannya bercerita dan berkeluh kesah atas kekejaman papanya. Hingga dia bertemu Kania. Gadis kecil berjiwa malaikat itu bagai oase untuk Aura. Meski usianya baru delapan tahun, tapi Kania adalah sosok dewasa. Dia mendengarkan tanpa keluh cerita Aura.


Aura tak ingin menceritakan lebihlanjut soal Kania karena luka hatinya belum juga sembuh. Tapi fikirannya ingin. Dan mau tak mau, kilasan demi kilasan soal Kania terputar di fikirannya. Awal pertemuannya, persahabatannya hingga kabar akhir hayatnya yang membuat Aura runtuh dunianya di masa kecil.


Flashback On


Aura menangis sesenggukkan di ayunan taman perumahannya. Satu tangannya memegang tali ayunan, dan satu tangannya memegang sebuah surat yang tersobek.


Aura menunduk menatap suratnya penuh linangan air mata. Hari ini adalah ulang tahun papa. Aura bermaksud memberikan surat untuk papanya. Sebagai ungkapan rasa syukur dan cintanya pada papanya. Aura yang belum bisa menulis, hanya bisa menggambar sebuah hati. Namun ketulusan Aura, ditolak mentah-mentah oleh papanya.


"Kamu tidak usah pedulikan soal papa. Belajarlah yang rajin agar kamu tidak jadi orang tidak berguna seperti mamamu!"


Begitulah seruan kemarahan papanya kala tangan kecilnya menyodorkan sebuah surat yang dilingkari pita rambut pink kesukaannya.


Sampai saat ini, Aura tidak mengerti, mengapa papanya bisa sampai membenci dirinya. Dia tahu bahwa dia bukanlah anak yang diinginkan kehadirannya bagi papanya. Tapi, bukankah Aura hadir juga karena kesalahannya? Lalu mengapa dirinya yang malah jadi pelampiasan?


"Adik kecil, kenapa menangis?" sebuah suara menyapa gendang telinganya.


Kania menoleh ke samping, seorang perempuan berseragam merah putih menatapnya dengan penuh tanya.


Aura menghapus air matanya. Lalu diam tanpa suara. Dia tidak terbiasa berbicara dengan orang asing.


"Jangan takut, Kania tidak jahat kok. Kania juga punya adik yang manis sepertimu." ucap Kania.


Aura mulai tertarik pada kelembutan dan nada polos Kania.


"Ini apa?" tanya Kania menatap surat Aura.


"Ini surat Aura untuk papa." balas Aura pelan.


"Kenapa sobek?"


Aura menggeleng. Dia lalu menangis kembali membuat Kania bingung.


"Adik kecil kenapa menangis lagi? Kania jadi serba salah." ucap Kania.


Aura berhenti menangis, hanya sesenggukan saja. Membuat Kania lega.


"Nama kamu siapa?" tanya Kania.


"Aura." lirih Aura masih sesenggukan.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi ya, Aura. Nanti cantikmu hilang." hibur Kania menghapus bekas air mata di pipi Aura.


Aura menatap Kania tanpa kata kala matanya bertemu pandang dengan Kania. Kania tersenyum membuat hati Aura menghangat kembali.


****


"Papa marah-marah lagi dengan Aura. Padahal Aura hanya menawarkan pijatan karena papa terlihat sangat marah." curhat Aura suatu sore pada Kania.


"Aura tidak tahu kenapa papa selalu saja emosi tiap kali pulang ke rumah. Tadi malam, papa bahkan bertengkar dengan mama. Bahkan Aura dengar suara pukulan. Aura takut mama dipukul lagi oleh papa. Tapi Aura tidak bisa mengeceknya, karena mama mengunci pintu kamarnya."


Aura terus menceritakan kejadian demi kejadian di rumahnya pada Kania. Dan selama itu pula, Kania tidak menginterupsi sedikitpun. Nampaknya gadis kecil itu tahu, bahwa Aura lebih membutuhkan telinganya daripada mulutnya.


"Aura tidak tahan lagi jadi Aura balas marah sama papa. Aura berteriak pada papa dan memukul kakinya. Papa marah dan hendak mengusir Aura. Aura pergi dari rumah karena tidak tahan lagi."


"Menurut kakak, Aura salah apa?" tanya Aura menatap Kania.


"Aura tidak salah. Aura kan marah karena papa Aura yang selalu marah-marah. Tapi Aura tidak boleh balas memukul papa Aura. Kata mama Kania, Papa Aura adalah orang yang harus dihormati oleh Aura sebagai anaknya."


"Tapi Aura sangat kesal. Aura tahu Aura tidak diinginkan tapi papa sudah keterlaluan."


"Kata siapa Aura tidak diinginkan? Bagi Kania, Aura adalah teman yang sangat cantik. Kania sudah menganggap Aura sebagai adik Kania sendiri."


***


"Kakak jadi besok tidak bisa bermain dengan Aura lagi?" tanya Aura dengan bibir mencebik.


"Iya maafkan Kania ya. Kania mau berlibur dengan papa, mama dan adik Kania." ucap Kania merasa bersalah.


"Kemana?"


"Kata mama sih ke Korea. Adik Kania baru lulus dari playgroupnya. Kania juga sedang liburan sekolah."


Aura mendesah, dia menunduk menatap kakinya yang dibalut sepasang sepatu putih kecil pemberian Kania saat ulang tahunnya.


Kania mengusap rambut Aura, "Aura kan bagian dari keluarga Kania juga. Nanti Kania bawakan oleh-oleh ya untuk Kania." hibur Kania.


"Benarkah kak?" seru Aura kembali senang.


Kania mengangguk semangat, "Tentu. Aura mau dibawakan oleh-oleh apa?"


Aura terdiam sebentar. Tangannya mengetuk-ngetuk dagunya tanda berfikir, "Emm, Aura ingin dibawakan gelang yang cantik. Gelang itu harus samaan dengan Kak Kania." ucap Aura semangat.


Kania mengangguk, "Oke, nanti lusa kita ketemuan disini lagi ya. Kania bawakan gelang cantik untuk Aura nanti."


"Kakak janji?" Dia mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji." Kania menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Aura.


Tapi begitu Aura dan Kania saling bertukar senyum, dan sebuah janji sudah diucapkan. Berita buruk itu muncul. Membuat Aura yang menunggu di taman hingga sore habis, memadamkan harapannya.


Pasalnya, Kania tidak pernah datang. Janjinya untuk kembali hanyalah sebuah sapaan selamat tinggal...


Flashback Off


Aura menitikkan air matanya. Dia lalu cepat-cepat menenggak winenya kembali. Berusaha tak terpengaruh dengan sentimentalnya kala membahas Kania.


Pertemuan itu memang sebentar namun amat berarti bagi Aura. Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menganggapnya berharga.


Dalam hatinya paling dalam, Aura amat merindukan Kania-nya.

__ADS_1


***


Kansha kembali ke kantornya dengan perasaan dongkol. Dia meletakkan tasnya dengan kasar kemudian duduk di kursi.


"Ada apa sih dengan mereka berdua?!" akhirnya Kansha tidak tahan.


Alan sudah aneh dan kini Alfin juga. Tiba-tiba Alan datang ke kantornya lalu mengajaknya makan siang dan malah menungguinya. Kemudian hanya karena dia bilang dia sedang makan siang dengan Alan di sebuah restoran, Alfin tiba-tiba datang. Dan brengseknya, lelaki itu malah mengatakan yang tidak-tidak, membuat Alan jadi salah paham.


Kansha pusing tujuh keliling. Dia sudah tidak tertarik pada pekerjaannya dan malah memilih memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya.


Drrt


Kansha menggapai ponselnya dengan malas. Tanpa mengubah posisinya dia langsung menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo, Kansha sedang tidur. Tolong jangan ganggu hingga dua jam kedepan." ucap Kansha tanpa basa-basi.


Sebuah suara yang amat dikenal Kansha tertawa. Membuat Kansha membuka matanya.


"Setelah kamu buat Alan salah paham, kamu masih bisa tertawa? Dasar brengsek!" umpat Kansha.


Alfin terkekeh lebih keras membuat Kansha menahan emosinya.


"Jelaskan padaku, jangan terus tertawa!"


Setelah mendengar nada suara Kansha yang sudah sangat emosi, akhirnya Alfin berhenti tertawa.


"Aku punya alasan melakukannya."


"Alasan?" Kansha mengernyitkan dahinya.


"Mas Alan belum sadar kalau dia mencintaimu. Jadi aku yang tidak tahan, akhirnya memilih membantunya."


"Dengan membuat Alan salah paham?"


Alfin terkekeh, "Lebih tepatnya membuat Alan cemburu. Lelaki itu memang tidak peka jadi harus ada yang membantunya."


"Tapi..kamu tidak jatuh cinta padaku kan?" tanya Kansha khawatir.


Alfin kini tertawa sangat keras dan cukup lama. Membuat Kansha berdecak, "Cepat jawab!"


Alfin masih tertawa hingga terbatuk-batuk, "Aku tidak menyukaimu Kansha. Darimana kepercayaan dirimu itu?"


"Aku kan hanya bertanya. Habisnya, sikapmu sungguh aneh tadi." ucap Kansha malu.


Alfin tertawa, "Wajar sih kalau kamu berfikir demikian. Terkadang perhatianku yang romantis melebihi lelaki manapun, membuat para wanita berdebar." balasnya percaya diri.


Kansha mual mendengarnya.


"Jadi, apa yang kamu rencanakan sebenarnya?" tanya Kansha kembali serius.


"Aku hanya berusaha membuat Mas Alan sadar atas perasaannya. Bagaimanapun, Mas Alan sudah tak memiliki beban lagi pada perasaan sebenarnya."


"Kamu yakin berhasil? Bagaimana kalau sebenarnya Alan memang tidak menyukaiku?" Kansha kembali merasa skeptis.


"Kansha, aku tidak pernah seikutcampur ini atas perasaan seseorang terutama Mas Alan. Saat Mas Alan masih bersama Aisyah, pun, aku tidak terlalu peduli karena Mas Alan tahu bagaimana membawakan perasaannya pada Aisyah. Tapi kini, Mas Alan tidak begitu padamu. Dia belum menydarinya. Dan aku ingin membantunya. Aku yakin Mas Alan bisa bahagia denganmu. Dan kuharap kamu juga tidak menyerah." jawab Alfin yakin.


Kansha tersenyum tipis, "Aku tidak pernah menyerah atas perasaanku. Cintaku pada Alan masih sama meski Alan tidak menjadi milikku."


"Jadi, karena sudah tidak ada hambatan lagi. Kamu harus lebih gencar mendekatinya. Aku akan membantumu tapi kamu harus ikuti rencanaku."

__ADS_1


"Bagaimana caranya?" tanya Kansha mulai tertarik.


Dan ketika rencana Alfin ia dengar, membuat Kansha melengkungkan senyumnya.


__ADS_2