
Bruk
Kotak kado beserta isinya berhamburan keluar dan jatuh begitu Kansha membuka lemari Zakariya.
"Apa ini?" gumam Kansha memungut sebuah kerudung bermotif dari lantai.
"Ini punyamu?" tanya Kansha pada Aisyah.
Aisyah seketika menggeleng. Pandangannya lalu terpaut pada sebuah kertas yang tergeletak di bawah Kansha, "Itu sepertinya surat, benar kan?" tunjukknya.
"Surat?" Kansha mengikuti arah tunjuk Aisyah dan menemukan selembar kertas dibawah kakinya. Dia memungutnya.
"Surat maafku untuk putriku."gumam Kansha membaca judul surat itu.
***
Assalamu'alaikum, Azzahra sayang...
Ini Abimu yang hina, jahat, kejam dan tak berperikemanusiaan.
Begitu Abi mendengar bahwa kamu adalah Azzahra, putri Abi yang sangat Abi rindukan, Abi mulai menulis surat ini.
Surat Maaf Abi padamu.
Maaf Zahra, Maafkan Abi. Abi bahkan tidak pantas dipanggil seorang ayah atas perbuatan Abi padamu.
Maaf Zahra...
Maaf atas semua luka, penderitaan dan kesedihan yang sudah Abi torehkan padamu di sepanjang umurmu. Maaf karena Abi tidak pernah berusaha menemukanmu hingga kamu harus terpisah dari keluargamu dan harus hidup sebagai orang lain.
Ada alasan mengapa Abi melakukan ini semua. Bukan karena Abi tidak sayang, bukan karena Abi tidak cinta. Bagi Abi, kamu adalah permata berharga pelengkap kebahagian Abi.
Alasannya adalah karena saat itu kondisi keluarga kita sedang kacau balau. Tepat disaat kamu dibawa pergi oleh perampok itu, Umimu mengalami kontraksi hebat. Abi saat itu dilema, haruskah mengejarmu ataukah memilih menyelamatkan Umi dan adikmu yang berada di dalam kandungan. Dan waktu tak pernah bersahabat, Nak. Dia selalu bergerak maju, tak peduli apakah manusia sedang terhimpit sebuah pilihan. Dan akhirnya, Abi harus memilih. Yang akhir ceritanya sampai pada yang kamu tahu saat ini.
Setelah Abi membawa Umi ke rumah sakit, saat itu juga Umimu melahirkan. Dengan darah disekujur tubuhnya. Dan energinya yang sudah terkuras serta perjuangan tanpa henti belasan jam, Umimu berhasil mengantarkan Aisyah ke dunia dengan selamat.
Setelah keadaan membaik, Abi langsung mencarimu. Bahkan Abi sudah melaporkannya pada polisi, tapi apa daya, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, kabarmu tak jua ditemukan. Abi putus asa.
Abi berada di ambang keputuasaan dan kehilangan asa, bahkan hati Abi bertambah perih, kala Umimu mulai sakit-sakitan. Beliau tak hentinya memanggil namamu. Abi masih ingat bagaimana Umimu memanggilmu. Penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan mendalam. Hati orang tua mana yang tidak sakit saat putri tercintanya hilang ditelan bumi?
Dan Nak, alasan mengapa Abi tak lagi mencarimu dan malah menghapusmu di kartu keluarga karena Abi tak punya pilihan lain, Nak. Karena sejak usia Aisyah menginjak dua tahun, Umimu mengalami demensia. Dia selalu teringat denganmu. Dan tiap kali teringat padamu, Umimu selalu mengamuk dan menangis. Umimu bahkan tak segan melukai dirinya sendiri. Umi bahkan tak ingat pada Aisyah. Dia hanya selalu teringat padamu.
Jadi demi kebaikan Umi dan mengharap kesembuhannya, Abi menyingkirkan semua hal tentangmu. Benda-benda yang bisa mengingatkan soalmu, hingga identitasmu. Agar Umimu bisa lupa akan kesedihannya.
Dan itu berhasil, Umimu tak lagi mengamuk dan menangis. Dia sudah membaik. Dan di tahun kedua Aisyah, Umimu kembali sakit-sakitan, bahkan jauh lebih parah hingga akhirnya dia harus berpulang.
Selama ini Abi berfikir bahwa Umimu sudah melupakanmu sepenuhnya tapi di kalimat terakhirnya, dia mengucapkan sesuatu yang membuat abi bergetar. Dia mengatakan,
"Sampaikan maafku pada Azzahra.."
Empat kata itu terus terngiang di benak Abi, Nak. Dan membuat Abi bertambah menyesal hingga sekarang.
Kini setelah Abi tahu siapa kamu dan bagaimana kamu hidup, Abi hanya bisa mengucap syukur. Keinginan terakhir Abi hanyalah ingin melihatmu. Dan itu sudah terlaksana hari ini. Abi sungguh lega dan bahagia.
Sayang, beribu maafpun tak akan cukup untuk menebus luka dihatimu yang sudah berdarah cukup lama. Sebanyak dan sebesar apapun permintaan maaf Abi, Abi yakin tak akan pernah cukup untuk menghapus dosa Abi padamu. Tapi Abi harap dan mohon, agar kamu hidup dengan baik, Nak. Meski kita tidak bisa bersatu di dunia fana ini, Abi harap kita bisa bersatu sebagai keluarga seutuhnya di Syurga Allah.
Terakhir, Abi mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Terima kasih karena Abi diberi kesempatan untuk melihatmu meski sekali. Terima kasih karena Abi bisa berbincang denganmu meski sekali. Meski kamu mengenalkan diri sebagai Kansha, tapi bagi Abi, kamu adalah Azzahra.
Sekali lagi, Abi minta maaf, Nak. Maaf, Maaf dan Maaf.
Serta terima kasih atas kebahagiaan amat besar ini yang Abi tak sangka akan Abi terima di ujung usia Abi.
Azzahra, bolehkah Abi meminta bantuan? Setelah Abi pergi, Aisyah tak ada yang menjaga. Bolehkah dia kamu anggap sebagai keluargamu dan menjaganya setelah Abi pergi? Abi amat memohon padamu, Nak. Meski Aisyah pernah melukaimu, tapi hati Aisyah amatlah baik. Dialah yang berjuang untuk menemukanmu kembali.
Nak, selain surat ini, Abi haturkan sebuah hal yang Abi harapkan akan menjadi awalmu meluruskan kebahagiaanmu. Cobalah lihat dan renungkan. Dan tanyakan, apakah hatimu terenyuh untuk memakainya?
Sekian surat dari Abi, Nak. Ini adalah surat pertama dan terakhir untukmu dari Abi. Sehat-sehatlah dan semoga kamu diberkahi kebahagiaan. Dan Abi yakin, keluargamu sangat mencintaimu sepenuh jiwa mereka.
Wassalamu'alaikum, Zahra. Sampai bertemu nanti di Syurga..
^^^Salam Cinta dari Abimu^^^
^^^Zakariya^^^
Tes
Tangan Kansha memegang surat Zakaeiya dengan gemetar. Surat itu basah kareja air mata Kansha yang menetes tanpa henti. Tanpa perlu dijelaskan bagaimana perasaan Kansha atas surat itu.
Kansha hanya merasa dia sudah menemukan jawabannya.
Jawaban atas tiap pertanyaan abu-abu yang bersarang di otaknya cukup lama. Bagai padang pasir yang terus tandus, surat itu bagaikan oase untuknya. Memberikan rasa lega di hatinya.
Kansha jatuh perlahan. Dia menyenderkan tubuh lemahnya di dinding kamar. Surat itu tanpa sadar dia remas. Tak hentinya air mata mengalir deras di wajah cantiknya.
Kansha menangis keras. Tak dipedulikannya akan tangisannya yang mungkin menganggy orang lain, Kansha hanya ingin menumpahkan semuanya.
Kesedihan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian seakan menguap bersamaan dengan tetesan air matanya.
Di hatinya sudah tak ada lagi perasaan negatif apapun. Hatinya yang semula kering bak musim kemarau, kini seakan diturunkan hujan. Rasa cinta, rasa sayang dan rasa rindu menguasai nuraninya kembali.
Andai dia bisa menemui Zakariya di saat hembusan terakhir dan berbicara untuk yang terakhir kalinya. Maka akan Kansha lantangkan betapa dia mencintai Zakariya dan merindukannya.
Aku mencintai Ayah..
Di sisi lain, di balik dinding putih polos tempat Kansha menumpahkan kesedihannya, duduk Aisyah dengan punggung yang disadarkan. Sama seperti kakaknya, dirinya juga turut menangis. Merasakan kepiluan sang kakak. Andai rasa sakitnya bisa dibagi, maka Aisyah akan dengan senang hati menanggung semuanya.
Sudah waktunya kakaknya tersenyum. Dan sudah waktunya kakaknya menemui akhir bahagia
__ADS_1
***
Tok tok
Kansha merengut di dalam tidurnya kala sura ketukan pintu membangunkannya.
Kansha membuka matanya perlahan dan samar-samar merasakan kehangatan cahaya matahari yang masuk malu-malu lewat celah jendela kaca besar.
"Kakak sudah bangun?" suara Aisyah terdengar dari balik pintu.
"Sudah. Masuk saja." ucap Kansha. Dia mengucek matanya yang bengkak karena menangis selamaan.
"Aku masuk ya kak." Aisyah pun membuka pintu dan masuk ke kamar dengan nampan yang terisi penuh.
"Diminum dulu kak." ucap Aisyah menyerahkan segelas air putih pada Kansha.
"Terima kasih." kata Kansha langsung meneguk air putih dengan dahi mengernyit. Rasa pahit langsung dia rasakan.
"Apa itu?" tanya Kansha menunjuk sebaskom air es dan handuk kecil di atas nampan yang dibawa Aisyah.
"Ini kompresan es batu untuk kelopak mata kakak yang bengkak." jawab Aisyah.
"Oh, terima kasih." lirih Kansha. Dia mengambil handuk yang sudah dibasahi air dingin itu dan menyentuhkannya pada kelopak mata kanannya. Rasa dingin langsung dia rasakan.
"Kakak menangis semalaman, kakak tidak apa-apa?" tanya Aisyah sembari duduk di samping Kansha.
"Sekarang sudah lebih baik." balas Kansha.
"Aku tidak tahu apa yang kakak baca dari surat Abi itu tapi Aisyah yakin Abi berbicara tentang semuanya. Selama ini sebanyak apapun Aisyah bertanya, Abi tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Abi hanya mengatakan ini untuk kebaikanmu blablabla, jadi Aisyah merasa bersalah pada kakak. Seakan-akan Aisyahlah, penyebab kakak harus melewati kesulitan ini." tutur Aisyah dengan kepala menunduk.
Kansha menghentikan kompresannya, dia menaruh handuk itu di atas nakas dan langsung mengambil tangan Aisyah yang tertaut di atas pahanya.
"Di suratnya, ayah ingin aku menjagamu. Dan aku sudah berjanji akan melaksanakannya. Aisyah, maukah kamu tetap disini?"
Aisyah menoleh dengan raut terkejut, "Tapi bagaimana dengan rencana kita?"
"Lupakan itu semua. Masalah kamu kuliah di Turki itu hanyalah keinginan kamu yang didorong olehku semata. Tidak perlu kalau kamu tidak ingin. Kamu bisa tetap disini."
"Tapi mbak.."
"Aku salah soal kamu yang harus pergi untuk menenangkan diri. Tetaplah disini. Kamu adalah keluargaku satu-satunya." pinta Kansha.
Aisyah menarik nafasnya, dadanya seperti sesak. "Sebenarnya apa yang dikatakan kakak tidak salah. Aku sungguh ingin menenangkan diriku. Disini, banyak hal yang mengingatkanku soal Abi. Ada terlalu banyak kenangan indah disini. Aku masih belum siap. Aku masih terbayang-bayangi Abi. Aku selalu bangun oleh ketukan pintu Abi yang menyuruhku shalat subuh. Dan kini, setiap aku bangun di tempat yang sama, aku tak lagi terbangun karena itu. Rasanya masih berat untukku. Jadi aku ingin pergi menenangkan diri sekaligus menghibur diriku sendiri."
Kansha menghela nafas, "Jadi kamu yakin akan pergi?" tanyanya.
Aisyah mengangguk yakin, "Iya kak."
"Aku hanya bisa menghormati keputusanmu. Tapi ingat, kamu tidak sendirian. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Kamu juga harus berjanji, begitu semuanya selesai, kamu harus pulang."
Aisyah kembali mengangguk, "Iya kak. Aku berjanji."
Aisyah tersenyum, "Tentu saja. Aku tidak bisa melewatkan hari bahagia kakak begitu saja."
Kansha turut tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya.
Mungkin, mereka memang masih terlihat canggung satu sama lain. Ikatan darah yang tiba-tiba terungkap pasti membuat hati mereka belum siap menerima kenyataan. Tapi baik Kansha maupun Aisyah, berusaha menerima dan memahami.
Bahwa mereka tinggal berdua saja. Dan saling bergantung satu sama lain.
***
Alan menjemput Kansha begitu Kansha selesai sarapan. Mereka kini sedang dalam perjalanan.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Kansha.
Alan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Kansha.
"Belum sempat. Aku baru saja kembali dari bandara dan langsung menjemputmu." jawab Alan.
"Kalau begitu seharusnya aku tidak mengiyakan saat kamu ingin menjemputku." rutuk Kansha.
Alan tersenyum kecil, "Tidak apa-apa. Kalau bukan aku, lantas siapa?"
"Aku bisa menelfon supir perusahaan." balas Kansha.
"Aku senang bisa menjemputmu. Justru aku tidak rela kamu dijemput oleh lelaki selain aku." tiba-tiba Alan berkata dengan nada posesif
"Sekalipun itu papaku?" tanya Kansha iseng.
"Beliau masih kuizinkan melakukannya. Tapi begitu kamu menjadi istriku, semua tentangmu sudah menjadi kewajibanku."
Kansha memalingkan mukanya karena wajahnya yang tiba-tiba tersipu, "Dasar posesif!" ejeknya.
"Posesif sama istri sendiri, apa salahnya? Lagipula itu ada artinya."
"Apa?" tanya Kansha.
"Artinya aku tidak ingin kehilanganmu." jawab Alan cepat.
Kansha melipat bibirnya berusaha menahan senyuman lebar berkat ucapan Alan.
"Kita menepi sebentar ya, ada bubur yang enak di taman itu." ucap Alan.
Kansha mengangguk, "Oke."
__ADS_1
Alan pun menghentikan mobilnya di parkiran taman. Dia dan Kansha keluar mobil dan langsung menuju sebuah warung bubur yang tadi dikatakan Alan.
"Mereka punya bubur yang sangat enak, kamu mau coba?"
Kansha menggeleng, "Aku sudah kenyang." tolaknya.
Maka Alan pun memesan untuk dirinya sendiri. Tak lama, semangkuk bubur hangat disajikan di depan Alan. Alan mengaduknya perlahan dan mulai memakannya. Rasa nikmat langsung tercecap oleh indra perasanya.
"Hmm enak." ucap Alan.
Cara makan Alan yang menggugah selera itu membuat Kansha meneteskan air liur. Dia memang sudah kenyang tapi perutnya jadi lapar kembali karena tergiur oleh bubur Alan.
Alan menyadarinya. Dia menyendokkan sesendok bubur dan mendekatkannya pada bibir Kansha.
"Buburnya sangat enak, sayang sekali kalau kamu tidak mencobanya." ucap Alan mengangsurkan suapan itu pada Kansha.
"Tidak perlu. Aku tidak lapar." tolak Kansha. Sebenarnya bukan sok gengsi, hanya saja dia malu kalau harus disuapi Alan.
"Ya sudah. Kalau begitu aku makan sendiri ya. Haum..." Alan dengan gerakan lambat hendak menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya dengan tatapan menggoda Kansha.
Kansha tersentak kecil. Dia tak rela kalau suapan itu untuk Alan.
Haup
Kansha menyambar sesendok bubur itu secepat kilat. Dia langsung menelannya. Bubur itu terasa enak dan hangat di tenggorokannya.
"Katanya tadi tidak mau." ejek Alan.
"Hanya satu sendok itu saja." balas Kansha malu.
Alan tersenyum kecil, "Mau lagi?" tawarnya.
Kansha menggeleng, "Aku sudah tahu rasanya. Lebih baik untukmu saja. Kamu harus sarapan yang banyak."
Alan pun mengangguk. Dia langsung tenggelam dalam acara makannya sendiri. Meninggalkan Kansha yang terus menatapnya tanpa berkedip.
Bagi Kansha, Alan saat makan, terasa sangat menggemaskan. Caranya mengunyah dan menelan makanan sangat memesona. Melihat Alan makan saja, dia sudah kenyang duluan.
Tak lama, Alan selesai menghabiskan sarapanya. Dia dan Alan lalu berjalan-jalan di sekitaran taman. Kemudian mereka menemuka spot melukis.
"Ayo melukis, Lan!" ajak Kansha antusias.
Alan mengangguk dan membiarkan Kansha menuntunnya ke spot melukis itu. Oada penjual, Kansha meminta dua kanvas untuk dirinya dan Alan.
"Kita akan melukis apa?" tanya Alan begitu mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Di depan mereka, kanvas kosong sudah berdiri tegak, siap untuk dipenuhi guratan warna.
"Kita gambar wajah saja. Kamu menggambarku dan sebaliknya. Bagaimana?" saran Kansha.
Alan mengangguk setuju.
Kemudian Kansha dan Alan larut dalam permainan gambar masing-masing. Mereka menggambar wajah masing-masing dengan interpretasi imajinasi mereka sendiri.
Kansha yang pada dasarnya jago menggambar, menggambarkan wajah Alan dengan sangat bagus. Tiap gurat wajah Alan, dituangkan dengan halus di atas kanvas oleh Kansha.
Sedangkan Alan, gambarnya layaknya anak SD. Dia tidak bisa menggambar terutama menggambar wajah orang. Dan dia yakin, begitu Kansha melihat gambarnya, dia akan menggamparnya dengan keras.
"Selesai!" seru Kansha senang. Dia meregangkan tangannya yang pegal.
"Tunggu sebentar. Aku belum selesai." ucap Alan masih fokus pada karya seninya.
Tak berapa lama kemudian, hasil karya Alan juga selesai. Mereka pun masing-masing akan menunjukkan mahakarya yang telah mereka buat tadi. Dimulai dari Kansha lebih dulu.
Kansha menunjukkan gambarnya. Dan Alan langsung berdecak kagum. Wajahnya serasa realistis di atas kanvas. Meski tak banyak warna, tapi dengan hasil sebagus ini, cukup membuat Alan berdiri bertepuk tangan.
"Aku sengaja menggambarkanmu dengan gaya halus. Aku teringat dengan sketsa wajah yang kamu temukan di rumah pohon. Kurasa ini sangat mirip dengannya." jelas Kansha.
"Itukan memang aku." jawab Alan masih terpukau.
"Nah, sekarang giliranmu." titah Kansha.
Alih-alih langsung menunjukkannya, Alan malah menggaruk kepalanya. Dia nampak ragu dan khawatir.
"Ada apa?" tanya Kansha menyadari sepertinya ada yang salah.
"Aku tidak jago menggambar. Jadi kuharap kamu tidak akan langsung memukuliku begitu melihat ini." pinta Alan.
"Perasaanku mendadak tidak enak. Tapi tunjukkan saja. Aku penasaran."
Alan pun menunjukkannya. Dan jreng jreng, Kansha seketika membeku.
"Gambarmu.." Kansha kehabisan kata-kata.
"Sudah kubilang kamu akan terkejut. Tapi segini masih lumayan, kan? Setidaknya hidung, mata dan bibirmu terlihat." ucap Alan menyengir.
Kansha hanya tersenyum terpaksa. Dia sangat syok dengan hasil gambar Alan. Bagaimana tidak? Hidung kecil yang penyok, matanya yang besar sebelah dan bibirnya yang nampak seperti bulan sabit berdarah alih-alih bibir.
"Untuk seseorang yang tidak bisa menggambar, itu cukup bagus." komentar Kansha. Dia tiba-tiba saja merasa pusing.
Mendengarnya Alan tersenyum lega.
"Kalau begitu, ini untukmu saja. Jangan lupa gantung di kamarmu ya!" ucap Alan riang.
Dan Kansha hanya mampu tersenyum paksa.
...----...
__ADS_1
Maaf untuk gambarnya yang tiba-tiba saja muncul dibawah💦 Alan memang gak jago gambar begitupun authornya, hehe.