My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 13. Kansha 10 Tahun yang Lalu pt 2


__ADS_3

^^^Jakarta, 2009^^^


Hai mama dan papa


Apa kabar?


Sebenarnya Kansha sudah tidak punya hak untuk memanggil kalian dengan sebutan mama dan papa. Tapi saat ini Kansha sedang bahagia. Kansha diterima di salah satu SMA negeri!


Awalnya Kansha tidak tahu apakah harus melanjutkan sekolah atau tidak. Kansha bahkan tidak punya uang cukup. Tapi waktu itu Kansha mendapat pekerjaan menjadi pelayan di salah satu cafe. Dan tebak, apa yang terjadi?


Pemilik cafe itu namanya Bu Sari menyuruh Kansha untuk lanjut SMA. Beliau dengan sukarela mau menjadi wali Kansha. Kansha senang sekali. Tapi Kansha menolak karena saat itu Kansha tidak punya uang. Untuk tidur pun Kansha harus menumpang di cafe bu Sari.


Tapi Bu Sari sungguh baik. Selain menawarkan tempat tinggal dan pekerjaan, Bu Sari juga mau membantu biaya sekolah Kansha. Kansha bilang, Kansha hanya akan meminjam. Dan Bu Sari menyetujuinya.


Lusa nanti, Kansha mulai bersekolah. Do’akan Kansha ya. Dan juga Kansha minta maaf atas kesalahan Kansha. Kansha tidak pernah bermaksud mengorbankan kak Kania. Kansha sayang dengan kak Kania. Begitupun Kansha sayang pada kalian.


Sudah itu saja yang Kansha bilang. Kansha tidak mau menangis lagi. Hidup yang baik ya papa dan mama. Oh ya satu lagi, Kansha sudah mengubah nama Kansha, kini tak ada nama Williams dibelakangnya.


-*Kansha Andara*

__ADS_1


“Selesai.” Ujar Kansha. “Ah, kenapa aku menangis lagi.” Lanjut Kansha sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.


Kansha sering kali termenung. Merenungi apa yang sudah terjadi pada hidupnya. Hidupnya ketika kecil sampai usia 5 tahun layaknya hidup di negeri dongeng, ia dimanja dan diberi kasih sayang. Namun semenjak kejadian naas itu, ia seolah kembali ke kehidupan nyata. Dimulai dari orang tuanya yang perlahan menjauh dan membangun benteng untuknya hingga diusir paksa. Kansha mendesah pelan. Ia kini harus menjadi tangguh. Ia harus berjuang sendiri. Ia dipaksa dewasa oleh keadaan.


***


“Bu Sari, saya mau berhenti sekolah.” Ucap Kansha yang kala itu sudah berada di tingkat akhir SMA.


Bu Sari yang tengah fokus pada dokumen penjualan cafenya seketika menoleh dengan wajah kaget. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Kansha tiba-tiba ingin berhenti sekolah.


“Kenapa?” tanya Bu Sari tidak percaya.


Kansha nampak salah tingkah, lalu berkata dengan ragu. “Saya tahu ibu sedang kesulitan karena penjualan cafe yang terus menurun. Saya tidak mau membebankan ibu. Apalagi ini sudah mulai mendekati ujian, akan ada banyak biaya yang harus dikeluarkan.”


“Saya hanya tidak mau terus membebani ibu.”


“kansha, saya tidak pernah merasa kamu membebani saya. Uang bisa dicari, pendidikan kamu lebih penting. Kamu sudah berusaha selama tiga tahun ini, kamu mau menyerah?” tanya Bu Sari.


“Tapi bu, ibu akan semakin kesulitan. Saya juga belum bisa membalas budi ibu. Ibu terlalu banyak memberi pada saya.”

__ADS_1


“Kansha, saya ikhlas membantu kamu. Sudah, kalau kamu tetap keukeuh ingin keluar, jangan pernah bicara lagi sama saya.” Setelah mengatakan itu, Bu Sari pergi dan mengunci diri di kamarnya.


“Bu.” Kansha mengejar Bu Sari. Namun Bu Sari mengunci pintu kamarnya. Kansha merasa bersalah. Ai terus mengetuk pintu kamar bu Sari.


Kansha menyerah, Bu Sari tidak menanggapi. Ia pun mendesah pelan dan berlalu menuju kamarnya.


***


Di kamar, Kansha juga tidak bisa tenang. Ia tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, perkataan Bu Sari benar, akan sangat sayang bila ia memutuskan putus sekolah ketika ujian nasional sudah dimata. Semua perjuangannya selama 3 tahun akan sia-sia. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia tidak bisa terus bergantung pada Bu Sari. Usaha bu Sari sedang mengalami penurunan. Ia hanya tak ingin menjadi beban. Namun ia juga bisa apa untuk membantu Bu Sari dengan modal ijazah SMP saja?


Kansha berguling-guling di kasurnya. Ia bingung harus bagaimana. Apalagi sekarang bu Sari juga tengah marah padanya. Kansha lalu memutuskan menuju kamar Bu Sari. Keadaannya masih sama, pintu kamar nya masih tertutup.


“Bu.” Panggil Kansha sambil mengetuk-ngetuk pintu. Namun tak ada sahutan dari dalam.


Kansha mulai cemas, ia makin cepat-cepat mengetuk pintu. Kansha mendesah pelan, tak ada cara lain.


“Bu, Kansha janji akan lanjutkan sekolah! Kansha janji bu!” seru Kansha.


Pintu lalu terbuka. Muncul Bu Sari dengan wajah senang. Ia langsung memeluk Kansha. Kansha membalasnya erat.

__ADS_1


“Kansha, jangan pedulikan soal ibu. Kejarlah pendidikanmu agar nanti hidupmu cerah.” Ujar Bu Sari lembut. Mendengar hal itu, Kansha menangis. Ia bahagia.


“Terima kasih bu.” Bisik Kansha.


__ADS_2