My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 104.


__ADS_3

Perhatian :


Adegan part ini mungkin aneh. Karena saya gak pernah ngalamin dan hanya berbekal nonton drama ketika menulis part ini😅


Oh ya, memainkannya dengan musik mungkin lebih baik. Terserah, mau musik apa saja asal jangan koplo karena tidak nyambung dengan part 🙏😅


Terima kasih :)


...*********...


Kansha membeku di tempatnya. Rambut tergerainya berkibar ditiup angin yang dibawa Alan seiring langkahnya. Lelaki itu bagai keluar dari manga--dan berjalan perlahan dan perlahan hingga berhenti tepat satu langkah dihadapan Kansha.


Alan hanya menatapnya tanpa suara dan tanpa kata. Tatapannya tak setajam biasanya dan ada makna dalam kedalaman maniknya, membuat Kansha tak tahu harus apa. Kaki wanita itu bagai tertancap di tanah. Serta jantungnya yang bagai terhenti selaras dengan waktu disekitarnya yang juga seperti berhenti.


“Kansha.” panggilan Alan membuat Kansha mendongak menatap tepat matanya. Dia makin gugup dan tidak bisa menduga apa yang hendak diucapkan lelaki itu.


Terlebih, suasananya—aneh.


“Kamu ingat soal kali pertama kita bertemu?” tanya Alan.


Kansha mengangguk perlahan berusaha mendapatkan kembali ketenangannya.


“Saat itu, kamu terbaring dengan sekujur tubuh berdarah-darah. Kufikir kamu sudah jadi mayat.” terang Kansha.


“Sesaat aku memang berfikir aku sudah meninggal. Aku sadar dan aku mendengar tapi aku tidak bisa membuka mataku dan aku juga tidak bisa bangun sekeras apapun usahaku. Namun begitu mendengar jeritan seseorang, tiba-tiba aku bisa bangun.” Timpal Alan.


“Aku juga. Kufikir aku sudah berada di surga.” Imbuh Kansha.


Kalau difikir-fikir, ingatan mereka saat diambang kematian memang mengerikan. Memberikan ilusi yang tak diinginkan terjadi namun dipaksa menyadari kenyataan. Dan Kansha bersyukur, bahwa itu memang hanya ilusi saja. Nyatanya, dirinya selamat dari maut dan masih sehat hingga kini.


“Aku juga masih ingat soal ucapanmu yang akan membelikanku sekarung kaus setelah kita selamat karena kamu merusak kausku satu-satunya.” Ucap Alan lagi.


Kansha tiba-tiba menggaruk kepalanya, dia baru ingat soal hal itu. “Ah, soal itu..tentu aku akan menepatinya...meski sebenarnya aku sudah tidak ingat lagi.” Balas Kansha malu.


“Tidak perlu. Tapi aku ingin menggantinya dengan permintaan lain.” Tukas Alan.


Kansha menatapnya penuh kebingungan.


“Apa?”


“Tolong ganti sekarung kausku, dengan suatu hal yang bisa kurasakan seumur hidupku.”


Kansha makin bingung. Terbukti dari keningnya yang berkerut makin dalam.


“Apa itu?”


“Menikah denganku.” Tandas Alan.


Kansha menutup mulutnya, kaget dengan ucapan Alan yang tak terduga. Dia bahkan termundur kebelakang beberapa langkah. Kansha sama sekali tidak menduga Alan akan mengatakan hal itu.


“Menikah denganku dan jalani masa tua bersamaku.” Ulang Alan dengan raut serius.


Kansha masih syok. Dia memang mengharapkan momen ini terjadi saat Alan menyatakan perasaannya dan mengajaknya menikah. Tapi begitu momen ini datang, Kansha bahkan nyaris mati kutu sebelum bereaksi. Ini terlalu mendadak.


“Alan, kamu serius? Atau kamu becanda? Please Alan, kalau kamu becanda, ini sama sekali tidak lucu. Ini bahkan belum april mop.” Tukas Kansha panik.


“Kenapa kamu menganggap ini becanda? Bukankah ini sesuatu yang kamu tunggu-tunggu?”


“Aku tahu, tapi aku tidak yakin apakah kamu serius dengan ucapanmu atau tidak.”


“Mendengarmu berkata seperti ini, membuatku meragukan soal perasaanmu padaku. "


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu kamu berdebat dengan Aisyah dan menyatakan bahwa kamu mencintaiku, apakah itu sungguhan? Atau kamu hanya ingin memanas-manasi Aisyah? Kamu bahkan menegaskannya pada bunda, apakah itu juga hanya lelucon?”


Kansha menggeleng keras, “Tentu saja itu bukan. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya.” Masa bodo dengan harga diri, Kansha hanya tidak ingin Alan salah paham lagi.


“Kalau begitu, kenapa kamu menganggap perasaanku hanya becanda?”


Kansha terdiam mendengar serangan Alan. Siapapun yang berada di posisinya, akan ragu apakah ini serius atau hanya lelucon belaka. Dirinya bahkan tidak tahu perasaan Alan padanya selama ini. Dan lelaki ini, tiba-tiba saja mengajaknya menikah. Salahkah Kansha bila dia ragu akan ketulusan Alan?


“Lalu katakan padaku, kenapa kamu ingin menikahiku?” tanya Kansha.


“Kamu menyukaiku?” lanjutnya.


Dua pertanyaan Kansha berdampak pada keterdiaman Alan.


Melihat Alan yang terdiam tanpa menjawab apapun, Kansha mengerti. Dia mengangguk patah-patah.


“Kamu tidak menyukaiku, lalu bagaimana kamu akan menikahiku? Aku tidak ingin menjalaninya hanya dengan cinta satu pihak.” Tandas Kansha.


“Apakah selama ini kamu tidak melihatnya?” desisan Alan terkirim lembut pada gendang telinga Kansha.


“Melihat apa?”


“Perasaanku.” Tandas Alan membuat Kansha menatap padanya lagi. “Aku menyukaimu---tidak, " Alan menggelengkan kepalanya, "Aku mencintaimu.”


“Kamu mencintaiku? Sejak kapan?” tanya Kansha tidak percaya begitu saja.

__ADS_1


“Sejak..”Alan berhenti sesaat membuat Kansha makin diambang frustasi, “Sejak aku kehilangan dirimu tepat setelah kita dinyatakan sembuh.”


Kansha menahan nafasnya. Sudah selama itu? lalu apa yang dilakukan Alan selama ini? Lelaki itu mencintai dirinya bahkan saat masih bersama Aisyah. Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Aisyah?


“Kamu mencintai dua wanita sekaligus?” seru Kansha merasa kecewa.


Alan menggeleng, “Sejak awal aku tidak menyadari perasaanku padamu. Sama sepertimu yang terus mendikte bahwa aku hanyalah sebatas teman. Aku juga melakukan hal yang sama. Terlebih ada hati lain yang harus kujaga. Apa jadinya bila aku menyukai dua wanita sekaligus? Karena aku masih ragu, aku akhirnya mengubur perasaan asing itu padamu.”


“Lalu kapan kamu menyadarinya?” tanya Kansha menjadi penasaran.


Alan merenung sesaat sebelum berkata, “Saat aku melihatmu berlari menuju rumah pohon.”


Alan tidak berbohong. Disaat suasana hatinya yang kacau karena keputusannya membatalkan pernikahannya dengan Aisyah, saat itulah Kansha datang. Menatapnya dengan terengah-engah karena berlari kencang. Raut Kansha yang saat itu terlihat khawatir dan cemas membuat Alan tertegun. Perasaan asing itu datang lagi. Menggelegak dalam hatinya yang terdalam dan berusaha naik ke permukaan.


“Dan puncaknya, saat aku menemukan lembaran sketsamu soal anak lelaki yang kamu tunggu-tunggu kedatangannya ke rumah pohon.” Tambah Alan. Lelaki itu menatap Kansha lamat-lamat.


“Akulah anak lelaki itu.” pungkas Alan.


Kansha terkejut setengah mati mendengarnya.


“Pakaian yang dipakai anak lelaki itu sama persis dengan pakaian yang diberikan ayahku dulu. Kaus hitam dengan logo Al. Dan aku jadi ingat bahwa aku pernah memakainya saat melakukan kemping dengan sekolahku. Saat itulah aku bertemu denganmu.”


“Tapi kamu bilang, kamu tidak ingat apapun.” Tukas Kansha masih tak percaya. Saat dia bilang bahwa Alan sedikit mirip dengan anak lelaki diingatannya, Alan hanya menukasnya dengan santai.


“Maafkan aku. Aku memang sempat melupakannya karena sudah lama sekali.” Balas Alan merasa bersalah.


“Jadi...itu sungguhan kamu?” tanya Kansha dengan raut syok.


Alan mengangguk. “Aku ingat saat itu kamu memakai bando putih.”


Kansha makin mundur kebelakang. Dia menatap Alan tak percaya.


“Jadi itu sungguh kamu?”


Anak lelaki itu sungguhan Alan?


Alan tak menjawab lagi dan malah merogoh sakunya. Dia mengambil sebuah bando putih bersih. Kansha menatap bando itu dan menyadari bahwa itu memang bando miliknya yang sempat hilang dulu.


Alan lalu tiba-tiba menaruh buket mawarnya di tanah. Dia lalu mendekati Kansha. Kansha berubah jadi patung kala Alan memakaikan bando itu pada kepalanya. setelah mengikatnya dengan baik, Alan lalu menatap Kansha.


“Kutarik perkataanku dulu. Kansha, kamu dan aku sudah ditakdirkan sejak awal.” Ucap Alan.


Kansha makin mematung. Asli, kalau dia memiliki penyakit jantung, mungkin sejak tadi dia sudah sekarat. Kenyataan demi kenyataan, yang selama ini dikhayalkan olehnya kini terwujud. Terlebih, bukan hanya pengakuan Alan soal perasaannya yang membuatnya tak percaya pada indera pendengarannya melainkan pada kenyataan bahwa Alan adalah anak lelaki yang selama ini dia tunggu dan dia rindukan.


Kansha seperti tersadar pada akhirnya, bahwa mungkin dia dan Alan memang memiliki ikatan takdir yang kuat.


“Jadi, menikahlah denganku, Kansha. Dan aku berjanji, tidak akan melupakan kenangan tentangmu seperti saat aku masih kecil.” Ucap Alan menatap Kansha penuh harap.


“Apa yang membuatmu ragu?”


“Aku mencintaimu sangat lama, hingga nyaris gila karena aku tidak berani mengungkapkannya. Aku bahkan menunggumu belasan tahun dan sengaja membeli rumah pohon agar bisa bertemu denganmu lagi. Tapi aku tidak yakin, adakah pengorbanan yang pernah kamu lakukan untukku? Tuluskah kamu mencintaiku dan bukan ilusiku saja?”


“Perasaanku wajar membuatmu ragu. Aku mengerti soal itu Kansha. Itu sebabnya, aku membawamu ke dermaga pantai.” Jawab Alan. “Aku membawamu pada tempat yang paling kamu sukai dan paling kamu benci. Kamu menghanyutkan perahu kertas di laut agar kakakmu bisa membaca soal betapa sayangnya dirimu padamu. Dan aku,”


Alan tiba-tiba menggenggam jemari Kansha, “Aku membuktikan perasaanku dengan membawamu kesini. Melangkah lurus hingga ujung dermaga dan meneriakkan namamu sekeras mungkin agar dunia tahu. Agar angin darat yang berhembus menyelingkupi laut membawa teriakanku. Agar orang-orang yang berada di balik samudera itu tahu, ada seseorang yang mencintai Kansha Andara.”


"Dan agar, kakakmu mendengar, betapa sayangnya aku pada adiknya." pungkas Alan.


Alan menarik tangannya dan tiba-tiba berlari membuat Kansha ikut berlari. Mereka berlari hingga ke ujung dermaga.


Setelah sampai di ujung dermaga, Alan berteriak dengan lantang.


“HEI! AKU ALANDRA KENANDRA MENCINTAI KANSHA ANDARA!”


Kansha menitikkan air matanya tiba-tiba. Dia terharu. Meski tindakan Alan konyol dan tak masuk akal, namun begitu Alan mengucapkan kalimat bahwa dia mencintainya membuat Kansha merasa sudah cukup.


Alan tiba-tiba berhenti berteriak, “Ini tidak cukup. Secara logika, tidak ada apa-apa di laut. Dan letaknya sangat jauh dari daratan.” Alan tiba-tiba sadar. Kansha terkekeh sambil menangis melihat ketidakwarasan Alan.


“Aku punya solusi lain.” Ucap Alan.


“Solusi apa?” tanya Kansha bingung.


Alan tiba-tiba menarik tangan Kansha lagi. Mereka berbalik pergi dan berlari meninggalkan dermaga. Mereka terus berlari dan sampai di pinggir pantai. Kansha sepertinya tahu kemana Alan pergi hingga dia menahan tangan Alan agar berhenti.


"Ada apa?" tanya Alan.


"Jangan bilang kamu akan berteriak di tempat resepsi Nana." tebak Kansha horor.


"Kenapa? Bukannya itu bagus?"


"Disana banyak orang." tukas Kansha.


"Itu bagus. Artinya banyak orang yang akan menyaksikannya." jawab Alan tenang.


"Jangan gila, Alan. Aku tidak mau jadi tontonan." seru Kansha kesal.


"Kalau begitu disini saja." tandas Alan.


Alan menarik nafas lalu menghembuskannya, dia bersiap-siap.

__ADS_1


"Jangan bilang, kamu akan teriak lagi." ucap Kansha cemas.


"Tentu. Meski aku tidak bisa mengatakannya disana, tapi teriakanku akan tetap didengar."


"HE--"


Teriakan Alan berhenti ketika Kansha menarik tangannya dan membawanya pergi berlari kembali. Kansha membawanya ke dermaga tadi.


"Kenapa kamu membawaku kesini? Aku belum selesai."


"Jangan gila Alan. Itu sangat memalukan." tukas Kansha terengah-engah.


"Jadi bagaimana? Aku belum cukup membuktikannya. Dan kamu masih ragu padaku."


Kansha berdecak, "Dasar bodoh. Aku tidak ragu lagi padamu."


"Benarkah?" tanya Alan berseri-seri.


Nada Kansha mulai melunak, "Sejak awal, ini yang kuharapkan. Lalu setelah hal ini jadi kenyataan, aku ingin membuangnya begitu saja?"


Alan tersenyum meski masih penasaran dengan jawaban Kansha, "Jadi kamu menerimaku?"


"Apa aku punya pilihan selain menerimanya? Aku mulai lelah mencintaimu diam-diam. Aku lelah berjalan dibelakangmu terus menerus dengan kamu yang tidak pernah menoleh padaku sekali saja. Kalau aku tidak menerimamu, maka seluruh usahaku sia-sia."


Alan tersenyum lembut, dia menggenggam kedua tangan Kansha, mengusapnya perlahan.


"Aku berjanji kamu tidak akan melakukan hal itu lagi. Karena mulai sekarang, aku yang akan mensejajarkan langkahku agar bisa berjalan bersamamu beriringan. Dan mengucapkan aku mencintaimu secara terang-terangan."


"Jadi Kansha, permintaanku masih sama. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Alan hati-hati.


Kansha kembali terisak dan kini malah terduduk. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia bahkan sampai menutup mukanya.


"Kenapa baru sekarang? Aku menyukaimu sangat lama. Mendambakanmu dalam kesakitanku. Mencintaimu yang perlahan malah membunuh diriku sendiri. Aku lelah tapi ingin terus melakukannya. Aku hilang kesabaran tapi aku tetap memberikan waktu selama mungkin untuk cintaku. Aku benar-benar mencintaimu hingga aku nyaris gila!" Kansha terisak, mengeluarkan semua unek-uneknya.


Alan ikut duduk, dia memeluk Kansha yang terisak. Kansha memukul bahu Alan sebagai balasannya.


"Dasar brengsek! Tahukah cobaan apa saja yang harus kulewati untuk mempertahankan cintaku? Tahukah kamu duniaku nyaris runtuh saat kamu bilang akan melamar Aisyah dan tidak memberitahuku? Dasar brengsek. Aku benci padamu!" umpat Kansha sambil menangis.


Alan tetap memeluknya dengan erat hingga Kansha perlahan mulai lelah dan berhenti memukul-mukuli Alan. Tangisannya mulai reda.


"Aku minta maaf. Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf." lirih Alan.


Kansha menutup kedua matanya kala air mata mengalir ke pipinya.


"Maaf aku tidak tahu soal penderitaanmu selama ini. Maafkan aku yang tidak pernah sadar selama ini sudah banyak menyakitimu. Tolong percayalah padaku, bahwa aku akan menghentikan penderitaanmu dan menggantinya dengan kebahagiaan." lanjut Alan.


"Kansha, biar aku yang berganti mengejarmu." Alan tiba-tiba mengecup jemari Kansha.


Kansha terisak-isak. Ini sungguhan nyata.


Alan melepas pelukannya. Dia menatap Kansha yang basah oleh air mata. Astaga, sudah berapa banyak air mata yang tumpah dari mata wanita itu akibat dirinya? Alan merasa tidak berguna sama sekali. Jadi dirinya berjanji, mulai saat ini, dia harus membahagiakan Kansha. Agar air mata yang tumpah dari wanita yang dia sayangi, bukanlah air mata kesedihan lagi melainkan air mata kebahagiaan.


"Menikahlah denganku, Kansha, aku mohon." pinta Alan untuk kesekian kalinya. Dan dirinya tidak akan bosan mengatakannya sampai Kansha menjawab ya.


Kansha terdiam lama. Dia menatap mata Alan, mencari kebohongan disana. Tapi nihil, Kansha malah menemukan ketulusan dan penuh harapan dari maniknya.


Hingga Kansha memutuskan untuk mengangguk. Dia menerima pinangan Alan.


Alan tersenyum, "Kamu menerimanya?"


"Aku menerimanya." balas Kansha.


Alan makin melengkungkan senyumnya, "Terimakasih." bisik Alan bahagia.


Kansha ikut tersenyum bahagia, "Sama-sama." balasnya ikut berbisik.


Kemudian tiba-tiba Alan mencondongkan wajahnya pada Kansha. Kansha menutup matanya kala Alan makin mendekatinya. Dan bibir Alan mendarat di bibir Kansha. Menciumnya dengan lembut dan dibalas sama lembutnya oleh Kansha.


Kali ini, Alan sungguh melanggar batasnya pada Kansha. Meski begitu, dia tidak menyesal. Dan Kansha juga tengah dirundung kebahagiaan, karena kisah cintanya akan menuju akhir bahagia.


***


Sesosok gadis tengah terbaring damai di kasur yang berseprai putih. Tirai yang sama putihnya berkibar di tiup angin dari balkon yang sengaja dibuka. Suara burung laut saling bersahut-sahutan. Dan kelopak mata gadis itu perlahan terbuka.


Kansha membuka matanya secara sempurna. Kilasan soal lamaran Alan bergaung di benaknya. Dia mengedar kesekeliling. Dia berada di kamarnya, bukan di dermaga pantai. Kansha mendesah pelan, jadi itu adalah mimpi?


Kansha memejamkan matanya kembali, andai itu adalah mimpi, Kansha ingin kembali kedalam dunia mimpinya. Dia ingin merasakannya lebih lama sebelum siap menghadapi kenyataan.


Tapi, sekeras apapun usahanya, nyatanya Kansha tak lagi tertidur. Mimpi itu juga telah menghilang.


Kansha bangun dari ranjangnya dan duduk di pinggir ranjang. Tatapannya sayu dan hampir menangis karena itu bukanlah sungguhan. Alan tidak melamarnya sama sekali.


Sekali lagi, Kansha dihempaskan oleh kenyataan yang kejam.


Kemudian mata Kansha menoleh pada nakas. Matanya terbelalak kala melihat ada sekumpulan bunga mawar yang berada di vas berisi air. Kansha menyentuhnya, ini bunga sungguhan.


Mungkinkah...


Ceklek

__ADS_1


Kansha menoleh pada pintu kala ada seseorang yang membukanya dari luar.


__ADS_2