
“Kamu masih marah?” tanya Alan pada Kansha yang mukanya ditekuk usai ucapannya tadi.
Kansha tak menjawab, dia malah memalingkan wajahnya membuat Alan merasa gelisah.
“Maaf, aku hanya becanda.” Ucap Alan merasa bersalah.
“Tapi bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?” ujar Kansha sebal.
“Tapi itu kenyataan.” Lirih Alan merasa tidak salah.
“Apa maksudmu?” Kansha mendengarnya.
“Yah, salah satu hal yang membuat suami manapun bertekuk lutut usai dibisiki sesuatu oleh istrinya pasti ‘hal’ itu.” sahut Alan dengan pelan.
Bug
Kansha kembali memukul bahu Alan dengan bantal.
“Awh, sakit!” ringis Alan.
“Kontrol ucapanmu!” ujar Kansha gemas.
“Baiklah-baiklah. Aku salah.” Alan mengakui kesalahannya yang berlebihan.
“Tapi kita memang harus membicarakan sesuatu yang penting.” Celetuk Alan lagi.
Kansha menoleh, “Apa?”
“Soal pernikahan kita. Kata mamamu kita harus mulai membicarakannya agar ketika makan malam keluarga nanti, kita sudah punya gambarannya.”
“Kamu melakukan ini karena untuk makan malam keluarga atau memang ngebet ingin menikah?” tanya Kansha jahil.
“Tentu saja karena ngebet!” jawab Alan cepat.
Kansha kehilangan ludahnya. Dia memalingkan mukanya ke arah lain. Wajahnya memerah karena malu.
Menyadari jawabannya membuat Kansha terdiam telak membuat Alan menahan senyumnya.
“Tapi aku melakukan ini bukan semata-mata karena ingin cepat menikah denganmu, tentu saja itu hal yang bagus tapi lebih ke agar persiapan kita matang. Aku tidak ingin batal pernikahan untuk kedua kalinya.” Jelas Alan.
“Kamu sangat menyebalkan berkata seperti itu.” dengus Kansha.
“Itu sebabnya aku ingin mempersiapkan semuanya dengan matang. Kita bisa bertukar fikiran tentang konsep pernikahan yang kita inginkan. Bagaimanapun terlepas dari itu semua, aku memang ingin menikah denganmu.” Ujar Alan serius.
Sudut bibir Kansha berkedut, “Hanya denganku?” tanyanya berpura-pura acuh.
“Tentu saja. Dengan siapa lagi kalau bukan denganmu?”
Kansha berdeham mendengarnnya. Dia kembali blingsatan seperti cacing kepanasan karena pengakuan Alan yang jujur. Kansha bahkan berkali-kali menggosok hidungnya karena malu.
“Kamu yang bertanya sendiri tapi kamu juga yang tersipu.” Ejek Alan terkekeh.
Kansha berusaha mengabaikannya. “Aku tidak seperti itu.” sanggahnya. “Jadi, apa kamu sudah memiliki rencana tentang konsepnya?” Kansha mengalihkan pembicaraan.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian? Apa kamu memiliki keinginan tentang konsep pernikahan impianmu?” tanya balik Alan.
Kansha terdiam sesaat. Dia berfikir keras.
“Hmm, sebenarnya menurutku pernikahan di gedung juga tidak masalah. Alih-alih panas-panasan di outdoor, aku lebih suka indoor.” Tutur Kansha.
“Seleramu lazim tapi entah kenapa aku terkejut.” Komentar Alan.
“Itu karena kebanyakan para pengantin perempuan lebih suka mengadakan pesta pernikahan di oudoor. Meski ada beberapa yang sepertiku juga sih.”
Alan mengangguk, “Jadi kamu ingin di gedung saja?”
“Hem, ballroom hotel sudah cukup. Ada hotel milik Wiliiams yang khusus untuk pasangan menikah.”
Alan mengangguk-anggukan kepalanya, “Baiklah, aku setuju.”
“Tapi, Alan.” panggil Kansha.
“Apa?”
__ADS_1
Kansha terlihat gelisah. Dia berkali-kali melipat bibirnya. Nampak ragu mengatakannya.
“Katakan saja.” Ujar Alan dengan nada lembut.
“Bagaimana soal akadnya? Apa bisa dilakukan dalam dua keyakinan?”
Alan terdiam. Soal itu, dia juga belum mencari tahu.
***
Seorang laki-laki sedang duduk sila di atas kursi anyaman bambu sambil memakan es krim. Wajahnya nampak serius meski tangannya tetap bekerja menyendokkan es krim ke mulutnya yang tetap mangap.
Alfin nampak sedang serius memikirkan sesuatu. Tapi entah apa, tidak ada yang bisa membaca fikiran lelaki dua puluh tiga tahun ini. Hanya saja yang jelas bahwa Alfin terlihat amat serius.
Kemudian tak lama, seseorang menghampiri Alfin dan bergabung bersamanya. Alan ikut duduk bersila sambil menjilat es krim. Ekspresinya bingung dan gelisah berbanding terbalik dengan adiknya. Tapi mereka tetap sama-sama aneh.
Lama mereka di posisi itu hingga es krim mereka habis barulah mereka bergerak. Alan dan Alfin saling berpandangan.
“Mas sedang galau?”
“Kamu sedang galau?”
Dua pertanyaan penuh kekompakan itu sama-sama didengungkan keduanya. Tapi tidak ada yang menjawab hingga mereka langsung memutuskan pandangan satu sama lain dan fokus menatap ke arah kolam renang di hadapan mereka.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Alfin membuka suara lagi. Dia bertanya karena dia tahu bahwa masnya itu datang menemui Kansha tapi entah apa yang terjadi setelah kepulangannya Alan malah bersikap tak biasa.
“Kami membicarakan soal pernikahan kami.” Cerita Alan.
“Lalu?”
“Ada pertanyaan darinya yang membuat mas bingung karena tidak tahu harus menjawab apa.”
“Pasti soal akadnya, benar kan?” tebak Alfin tepat sasaran.
“Darimana kamu tahu?” seru Alan terkejut.
“Itu bisa ditebak dengan mudah. Sudah kubilang pernikahan beda agama itu rumit dan sulit. Banyak hambatan dan tantangannya. Kalau mas dan Kansha belum siap menghadapinya, pernikahan kalian bisa gagal.”
pletak
“Jangan bicara sembarangan!” tukas Alan kesal.
Alfin mengusap bekas jitakan Alan, “Aku serius mas. Pernikahan beda agama itu masih tabu dan dianggap kontroversial di Indonesia. Tidak banyak KUA yang menerima pernikahan beda agama. Kurasa hanya daerah sekitar Yogyakarta, Denpasar dan sebagainya yang menerimanya. Ada gereja yang bisa mengesahkannya sesuai hukum negara.” Jelas Alfin.
“Kamu tahu banyak sepertinya kamu sudah mencari tahu.” Ujar Alan.
“Aku sudah tahu ini akan terjadi. Meski aku yang paling mendukung hubungan kalian tapi aku juga yang paling khawatir. Tidak mudah untuk menikah dengan pasangan tidak seiman, ada banyak komentar nyinyir orang lain nanti. Belum lagi pertentangan internal di masing-masing keluarga besar. Ayah bunda, lalu orang tua Kansha memang menyetujuinya, tapi bagaimana dengan paman bibi kita? Om tante? Kakek nenek? Sepupu-sepupu? Itu sebabnya kalian harus memiliki tekad dan keyakinan yang kuat. Dan jangan lupakan dengan cinta kalian. Cinta kalian juga harus besar satu sama lain.” Alfin seperti memberi nasihat pada Alan.
“Entah kenapa sepertinya kamu sedang menceramahi mas.” Komentar Alan.
“Aku hanya merasa khawatir.” Bela Alfin.
“Jadi apa yang harus mas lakukan?” tanya Alan meminta saran.
“Menikahlah di luar negeri.” Tandas Alfin.
Alan menatap wajah adiknya yang tetap beraut tenang, “Di luar negeri?”
Alfin mengangguk, “Tidak seperti di Indonesia, di luar negeri pernikahan seperti itu sudah legal dan kalian tidak akan kesulitan untuk mengesahkan pernikahan kalian. Meski biayanya sangat mahal tapi itu sebanding daripada kalian harus ditolak KUA dimana-mana.”
Alan terdiam mendengarnya. Dia menyadari bahwa ucapan Alfin sepenuhnya benar dan masuk akal. Dia juga pernah mendengar tentang hal itu. Tapi menikah di luar negeri, Alan sih mau-mau saja asal pernikahannya legal dengan Kansha, tapi Kansha, apakah dia juga setuju?
“Bicarakan hal ini dengan Kansha lagipula ini masalah yang sangat sensitif. Kalian harus memutuskannya bersama-sama dengan kepala dingin.” Saran Alfin ketika menyadari Alan kebingungan.
Alan mengangguk setuju.
"Kamu sudah dewasa ya, Fin. Cocok." komentar Alan.
"Cocok apa?"
"Jadi petugas KUA."
***
__ADS_1
“Saya ingin bertemu Grace Williams,”
Aura sedang berada di Yayasan Cendikia, yayasan milik Williams. Perempuan itu tengah berusaha mengambil kembali hak nya dari tangan Williams.
“Maaf, apakah Anda sudah memiliki janji temu?” tanya pengurus yayasan itu dengan sopan.
“Tidak, tapi katakan saja bahwa putri direktur Hans dari perusahaan LWM ingin bertemu.” Ujar Aura.
“Maaf, Anda tidak bisa menemuinya bila tidak memiliki janji.” Tolaknya.
“Saya putri Pak Hans yang menyerahkan semua asetnya kesini. Saya ingin bertemu dengan Grace Williams!” seru Aura.
“Maaf, tapi tidak bisa.”
Aura tidak kehilangan cara. Pokoknya dia harus bertemu dengan Grace Williams.
“Oh?” Aura tiba-tiba menunjuk sesuatu di belakang pengurus itu. Perempuan paruh baya itu mengikuti arah telunjuk Aura dan seketika kebingungan menyadari tidak ada apa-apa.
Aura yang tidak ingin kehilangan kesempatan langsung menerobos masuk. Dia segera masuk lift dan menghilang. Sedangkan pengurus itu menyadari bahwa dia sudah dikadali oleh orang asing segera menelfon petugas keamanan.
Aura sampai di lantai tiga, menurut peta lokasi yang dia lihat di dinding lift, lantai tiga adalah lantai dimana ruangan direktur berada. Tak hanya ruangan direktur saja, melainkan ada beberapa ruang lain yang diisi oleh para guru dan pembimbing serta pengurus yayasan. Aura berjalan satu persatu melewati tiap ruangan untuk mencari ruangan Grace Wiliams.
Koridor di lantai tiga terlalu panjang. Seberapa jauh Aura berjalan, ujungnya masih nampak tidak kelihatan. Aura berhenti sebentar, dia terengah-engah kecapean.
Gila, berjalan di satu koridor saja sudah membuat dirinya letih. Seberapa luas sih yayasan Williams ini, hingga koridornya saja nampak seperti jalan tol.
“Katanya semua aset kekayaan Williams akan diberikan pada Bu Kansha.”
Aura menajamkan pendengarannya kala nama Kansha disebut di salah satu ruangan.
“Tentu saja, itu akan terjadi. Satu-satunya putri Williams yang masih tersisa adalah Bu Kansha. Tentu saja Bu Kansha akan mendapatkan semuanya.” Timpal sebuah suara lainnya.
“Tidak tahu malu sekali ya kalau sampai Bu Kansha menerima semuanya padahal dia sudah mencelakai kakaknya hingga meninggal. Seharusnya dia sadar diri.” Suara lain ikut menambahi dan ini membuat Aura tersentak.
“Bu Kansha tidak berhak mendapatkannya, seharusnya yang mendapatkannya adalah Kania.”
Brak
Aura masuk tiba-tiba hingga membuat tiga orang wanita yang sedang bergosip itu terperanjat kaget. Mereka langsung berdiri dari kursinya begitu mendengar suara pintu dibuka keras. Jantung mereka bahkan serasa jatuh ke dengkul akibat terlalu terkejut.
“Tidak kusangka di yayasan sebesar ini, tiap ruangan ini bukan ruangan kedap suara. Seharusnya bila Williams sekaya itu tiap ruangan akan dipasangi kedap suara agar mereka tidak akan mendengar para karyawannya menggosipi mereka.” Ujar Aura tenang.
Tiga wanita yang merupakan pengurus yayasan itu seketika terdiam pucat. Mereka sadar mereka telah melakukan kesalahan.
“Ka-kami tidak sengaja, tolong jangan laporkan kami.” Pinta seorang wanita berambut sebahu.
“Mana ada gosip yang disengaja? Semuanya kan mengalir begitu saja.” Balas Aura terkekeh
“Kami hanya berbincang saja, tidak bermaksud membicarakan aib Williams.”
“Tapi kalian baru saja menyebarkan sebuah berita yang amat mengejutkan. Entah itu asli atau palsu, semuanya akan geger begitu mendengarnya.”
“Be-berita?”
Aura mengangguk, “Soal Kansha yang membuat Kania meninggal dunia.” Ujarnya. “Apa itu asli atau palsu?”
Tiga wanita itu saling berpandangan, mereka tidak tahu aharus menjawab apa. Mereka sangat ketakutan.
“Se-sejujurnya kami tidak—“
“Kalau itu berita palsu, maka kalian akan dituntut atas pencamaran nama baik dan tuduhan penyebaran hoax.” Sela Aura.
Mereka makin pias, ketakutan setengah mati akibat ucapan Aura.
“To-tolong, jangan laporkan kami. Kami mengaku salah.” Pinta mereka.
“Kalau begitu, jelaskan padaku mengenai ucapan kalian tadi. Terlepas dari itu asli atau palsu, saya akan membayar mahal kalian.” Tandas Aura.
“Ma-maksudnya?”
“Jual berita itu pada saya dan saya akan membayar kalian.”
“Tapi apa yang perlu di—“
__ADS_1
Aura kembali menyela, “Saya ingin mendengar semua pembicaraan kalian yang sempat terputus. Soal keluarga Williams.”