
"Alan, ayo makan malam. Yang lain sudah menunggu di bawah.” Ajak Elang. Dia memakai jaket denimnya kemudian menyisir rambut.
“Ayo.” Ucap Alan menutup bukunya kemudian beranjak bangun.
Elang dan Alan berjalan keluar kamar hotel. Namun tiba-tiba, Elan berhenti. Alan menoleh pada rekannya itu yang beraut aneh.
“Ada apa?” tanya Alan.
“Aku tiba-tiba ingin buang air kecil. Kamu duluan saja ke bawah, nanti aku menyusul.” Kata Elang sembari menahan pipis.
“Kalau begitu cepatlah.” Ujar Alan. Elang mengangguk kemudian segera berlari kembali ke kamarnya.
Alan lalu berjalan kembali. Dia melewati beberapa kamar dengan santai. Kemudian, dia tiba-tiba di tabrak oleh seseorang yang tengah membuka pintunya dengan tiba-tiba.
Bruk
Alan mengaduh. Dia mendongak pada pelaku itu. Dan seketika matanya membelalak.
“Kansha?”
***
Kansha berlari cepat menuju kamar hotelnya. Astaga, tidak dia percayai bahwa para pegawainya melakukan hal ceroboh seperti itu, di saat seperti ini. Di sepanjang jalan, Kansha tidak berhenti mengumpat. Terlebih, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Nana. Semoga dia baik-baik saja, batin Kansha.
Kansha sampai di kamarnya kemudian segera membuka pintu dengan keras. Kansha lalu membuka tasnya, mencari keberadaan flashdisk itu. Namun karena panik, Kansha kesulitan menemukannya. Dia mengobrak-abrik tasnya. Isi-isi nya juga berceceran keluar. Kansha mencari diantara barang-barangnya, dan akhirnya ia berhasil menemukan flashdisk itu.
Kansha mencolokan flashdisk itu ke ponselnya dan dokumen yang dicari tim nya juga ada. Kansha segera mengirimkan dokumen itu ke email Neli, ketua tim Jurnalis 3.
“Selesai.” Gumam Kansha. Dia sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. Kemudian dia membereskan barang-barangnya yang berhamburan keluar.
Setelah itu, dia melihat ke arah lain, dimana pecahan kaca dan botol anggur tergeletak. “Kurasa ini pecahan gelas.” Gumam Kansha.
“Tapi apa yang dilakukan Nana hingga menjadi seperti ini? dia mabuk? Tapi kenapa?” fikir Kansha. Dia lalu berfikir keras, bagaimana membereskan kekacauan ini. dia juga tidak punya waktu untuk membersihkannya. Dirinya harus segera ke rumah sakit.
Kansha mendapat ide. Dia lalu menelfon resepsionis untuk dibawakan petugas kebersihan. Setelah selesai, Kansha beranjak pergi meninggalkan kamarnya. Dia berjalan ke arah pintu sembari melihat ponselnya. “Kenapa Kak Ruben belum mengirim pesan?” gumam Kansha.
Dia membuka pintu kamarnya dan begitu membuka pintu, dirinya menabrak seseorang.
Kansha terkejut dan seketika mendongak. Dirinya tambah membelalak ketika seseorang yang dia tabrak adalah—
“Alan?”
Alan yang didepannya juga membelalak terkejut, “Kansha?”
Kansha memalingkan mukanya sejenak, dia mengumpat pelan. Sial, dia sudah bersusah payah menyembunyikan diri agar dirinya tak ditemukan Alan, tapi ini? ucapkan sial, pada pintu yang sudah mempertemukannya.
“Apa yang kamu lakukan disini? Tunggu, kamu kemana saja selama ini?” tanya Alan masih syok.
“A—ku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku sedang terburu-buru. Sampai jumpa.” Kata Kansha, dia bergegas pergi namun tangannya tiba dicekal oleh Alan.
“Ikut aku.” Kata Alan dingin. Dia menarik tangan Kansha dan membawanya pergi. Kansha hanya mampu mendesah pasrah.
***
“Jadi, apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanya Alan. Dia duduk berhadapan dengan Kansha. Gadis itu, dalam bayangan Alan masih sama. Rambutnya hitam tergerai, matanya masih setajam biasanya dan bibirnya ranum layaknya buah yang masak.
“Aku sedang berlibur.” Jawab Kansha pendek.
“Lalu kemana kamu selama ini?” tanya Alan lagi. Dia benar-benar ingin menuntut penjelasan pada Kansha. Pergi tanpa kabar dan menghilang layaknya embusan angin tanpa jejak sama sekali.
“Aku tidak kemana-mana.” Kansha menggeleng dengan raut tak berdosa.
Alan tersenyum sinis, “Kamu pergi dari rumah sakit begitu saja tanpa memberitahuku. Lalu kamu menghilang selama 6 bulan ini. kenapa kamu lakukan itu?”
“Aku tidak menghilang, lagipula karena aku sudah sembuh ya waktunya aku keluar dari rumah sakit.”
“Lalu kenapa tidak memberitahuku? Kenapa pergi begitu saja?”
Kansha menghembuskan nafas pelan, “Itu bukan salahku. Kita tidak bertukar kontak jadi bukan salahku kalau aku tidak ada kabar.”
Kini giliran Alan yang menghembuskan nafas, “Kamu bisa tinggalkan surat atau apapun. Kamu juga bisa menyambangi kamarku dan mengatakan akan keluar dari rumah sakit. Atau kamu bisa menitipkan pesan pada perawat.”
“Ini sudah zaman modern, sudah tidak zaman bertukar pesan dengan surat. Lagipula aku tidak suka menulis dan merepotkan orang lain.” Tukas Kansha.
“Pekerjaanmu reporter, tapi kamu tidak suka menulis?” tanya Alan tak percaya.
“Itu sebabnya, aku selalu mengggunakan perekam suara. Dan aku selalu membutuhkan rekan yang suka menulis.” Angguk Kansha.
“Tapi apa yang kamu lakukan disini juga?” tanya Kansha.
“Aku memiliki jadwal terbang kemarin. Besok pagi aku pulang.” Jawab Alan.
“Terbang? Tapi kenapa aku tidak tahu apapun soal penerbanganmu ke Mandalika?” Kansha sedikit bergumam.
“Apa maksudmu?” tanya Alan tidak mengerti.
__ADS_1
“Ah apa? Tidak ada.” kini Kansha tersentak, dia baru menyadari bahwa dirinya hampir kelepasan bicara.
Alan menatap Kansha dengan tatapan menyelidik, “Kenapa aku merasa bahwa perkataanmu terkesan kamu tahu semua kegiatanku?”
Kansha tertawa palsu, dia merasa gugup pada Alan yang mulai curiga. Jangan sampai dia mengetahui rahasia Kansha selama ini. “Apa yang kamu bicarakan?” kata Kansha terkekeh dengan raut gugup.
“Menurutmu? Jangan bilang, kalau kamu mengawasi ku selama ini?” tebak Alan tepat sasaran.
Kansha berhenti tertawa. Dia terkejut luar biasa bahwa Alan menebaknya dengan tepat. Dirinya memang mengawasi Alan selama ini dengan diam-diam. Mengamatinya melalui akun sosial medianya dan kabar dari Alfin sendiri.
Melihat Kansha yang bergeming, Alan semakin yakin kalau tebakannya benar. “Jadi benar. Lalu bagaimana caranya kamu mengamatiku?”
Kansha membasahi bibirnya dan mau tak mau membuka mulutnya untuk mengatakannya. Toh dia sudah ketahuan, malunya nanti diakhir.
“Iya aku mengamatimu selama ini secara diam-diam. Sebenarnya bukan diam-diam juga, salahkan diirmu yang payah. Kita tinggal bersama sebulan tapi kamu tidak pernah sekalipun meminta atau menanyakan kontakku atau informasi pribadi apapun.” Kata Kansha sedikit kesal.
“Itu karena aku lupa lagipula kalau kamu ingat, kenapa tidak kamu yang memintanya saja?”
“Aku ini perempuan, mana bisa aku berinisiatif duluan.” Ujar Kansha malu.
Alan mendesah keras, “Dasar perempuan. Kalau salah, mengaku salah tapi akhirnya memojokkan. Malu berinisiatif dan ujung-ujungnya marah-marah.” Gumam Alan menggeleng.
“Apa kamu bilang?” seru Kansha kesal.
Alan terkesiap, “Tidak ada.” jawab Alan berbohong. Kansha mendecih keras.
“Jadi bagaimana kamu tahu kabarku selama ini?” lanjut Alan mengalihkan pembicaran.
Drrt.
Lalu ponsel Kansha bergetar, nama Ruben terpampang di layar pemanggil. Kansha segera mengangkatnya. Dia tak mengindahkan pertanyaan Alan.
“Halo kak Ruben!” sapa Kansha.
Alan berdecih ketika Kansha segera mengangkat telfonnya seolah penting dan mengabaikan pertanyaannya. Tapi tunggu—Alan merasa namanya familier. Ruben—dimana dia pernah mendengarnya?
Flashback On
“Apa hubunganmu dengan laki-laki yang memberimu rompi pelampung dan pisau lipat itu?” ulang Alan.
Kansha mengernyit bingung, “Hubungan apa yang kamu maksud? Kurasa aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Ruben.”
“Jadi namanya Ruben.” Gumam Alan.
Flashback Off
“Kakak belum mengirimkan alamatnya padaku. Mana bisa aku datang?” suara Kansha terdengar sarat khawatir di telinga Alan.
“Kakak tidak perlu menjemputku, aku akan datang sendiri. Jaga saja Nana dan terus kabarkan kondisinya padaku. Aku akan datang—“
“Kamu mau kemana?” sela Alan tiba-tiba.
Di seberang telfon, Ruben mengernyit ketika suara laki-laki terdengar dari telfon Kansha. Pertanyaannya dengan siapa Kansha sekarang?
“Kansha, siapa yang sedang bersamamu?” tanya Ruben.
Kansha yang mendengar pertanyaan Ruben, seketika mendelik kesal pada Alan. Alan yang ditatap seperti itu memalingkan mukanya.
“Sudah dulu kak, aku akan datang secepat mungkin.” Ucap Kansha menutup telfonnya. Dia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ruben.
Sedangkan di lain tempat, Ruben mendesah pelan ketika Kansha menutup telfon begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya dulu. Jelas, Kansha mencoba menghindar. Tapi kenapa? Ruben tidak bisa menerka-nerkanya.
***
“Aku harus pergi sekarang.” Kata Kansha. Dia buru-buru berdiri. Namun tangannya malah dicekal lagi oleh Alan. Dan itu membuat Kansha kesal.
“Kamu sepertinya suka memegang tanganku. Di pulau, kamu bilang kita tidak boleh saling bersentuhan tapi ini? kenapa kamu menjilat ludah sendiri?” ucap Kansha kesal.
“Aku memegang kain bajumu bukan lenganmu. Jangan disamakan.” Tukas Alan.
Kansha hanya mendesah pelan, “Terserah kamu.” Ucap Kansha menyerah.
“Ngomong-ngomong kamu mau pergi kemana?” tanya Alan.
“Oh, aku harus pergi ke rumah sakit. Sahabatku dilarikan ke rumah sakit baru saja,” jawab Kansha. “Tapi tunggu, kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?”
“Apa salahnya menjawab, aku bukannya mau menagih uang.” Tukas Alan sedikit ngegas.
Kansha mendengus, “Kamu sepertinya makin emosian setelah tak bertemu berbulan-bulan ini.” ejek Kansha.
“Salahkan dirimu yang tak ada kabar. Kamu fikir enak rasanya digantung seperti itu?”
“Digantung? Maksudmu?” Kansha mengernyit bingung.
“Iya, aku tidak tahu hubungan kita seperti apa, dan ketika aku ingin memastikannya, kamu malah hilang tanpa kabar. Dan ketika aku ingin menemuimu, kamu sudah menghilang duluan.”
__ADS_1
“Itu karena kamu lebih payah dari Alfin. Adikmu itu sudah meminta nama akun ku untuk dia ikuti. Aku juga mengikutinya kembali. Kamu cukup gaul tapi tetap payah.” Kata Kansha membalikkan jempolnya ke bawah. Jelas mengejek Alan.
Namun Alan terdiam ketika mendengarnya. “Jadi selama ini yang kamu maksud mengamati ku diam-diam, selalu tahu kabarku dan kegiatanku, itu karena kamu mengamatiku lewat akunku yang kamu dapat dari Alfin?” tanya Alan.
Kansha menganga terkejut, dia baru sadar kalau dia keceplosan. Dia menutup mulutnya.
“Jawab Kansha. Tebakanku benar kan?”
“Aku harus pergi sekarang. Aku akan menjawab pertanyaanmu lain kali. Sampai jumpa, Alan.” Kansha mengalihkan pembicaraan dan segera berbalik pergi. Namun dia terhenti baru beberapa langkah.
“Alan lepas!” kata Kansha memegang ujung kupluk hoodienya yang dipegang Alan.
“Kamu semakin lihai menghindari pertanyaan. Kurasa ini ciri khasmu ketika terpojok.” Kata Alan dengan masih tetap memegang ujung kupluk hoodie Kansha.
“Apa sih yang kamu bicarakan.” Tukas Kansha.”Lepas kenapa sih, aku bukan anak kucing.” Lanjut Kansha kesal.
“Jawab dulu pertanyaanku kalau begitu.” Kata Alan.
Kansha berhenti memberontak, dia berdiri tenang kemudian menghembuskan nafas pelan. “Baiklah, aku akan menjawabnya. Tapi lepaskan dulu.” kata Kansha tenang.
Alan sedikit ragu, bagaimana kalau Kansha malah kabur ketika ia melepaskannya? Menemukan Kansha setelah pencarian keras itu sama ketika sepuluh tahun baru datang bersamaan. Rasanya membahagiakan dan merasa tak percaya.
Namun Alan memilih mempercayai Kansha, dia pun melepaskan kupluk hoodie perempuan itu. Kansha yang merasa sudah terbebas. Berdiri tenang sebentar, kemudian segera berlari kabur.
“Eh Kansha!” panggil Alan. Dia tak sempat mengejarnya, karena Kansha keburu sudah menjauh. Alan mendesah kesal, sial, dia dikadali oleh Kansha.
***
Kansha sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit yang tadi dialamatkan oleh Ruben. Dia kini sedang berada dalam taksi. Sepanjang perjalanan, dirinya teringat dengan pertemuaannya dengan Alan. Kansha merasa Alan tumbuh jauh lebih menakjubkan daripada di lihat di media sosialnya. Tubuhnya makin tegap dan tinggi. Rambutnya terpotong rapi, tak seperti ketika di pulau, gondrong tak terurus—tentu saja, Alan tak punya sampo, bagaimana mau mengurus rambutnya. Kulitnya makin cerah dan kumis tipisnya selalu mengundang khayalan yang tidak-tidak. Astaga, makhluk nyaris sempurna itu, membuat Kansha selalu terpesona.
Setelah perjalanan selama 30 menit, taksi sampai dipelataran rumah sakit tempat Nana dirawat. Kansha memberikan ongkosnya dan tak lupa mengucap terima kasih. Dia keluar dari taksi dan langsung disambut oleh tubuh tinggi kurus Ruben yang menunggunya di pintu masuk. Kansha pun menghampirinya.
“Kak Ruben, bagaimana keadaan Nana?” sambar Kansha langsung.
“Nana sudah baik-baik saja, dia baru dipindahkan ke ruang rawat. Oh ya tadi kamu dengan siapa? Mengapa kakak mendengar suara laki-laki?”
Kansha berfikir keras, dia tidak boleh mengatakan bahwa dia bersama Alan. Ruben sudah lama tidak mendengar nama Alan keluar dari mulutnya, dan akan jadi pembicaraan panjang karena Ruben pasti ingin detail yang jelas. Jadi lebih baik dirinya merahasiakannya saja.
“Tadi aku bertemu teman lama, dia sedang berlibur disini. Kami berbincang sebentar. Sebenarnya timku lupa sesuatu jadi aku tadi harus mengambil flashdisk yang didalamnya berisi hasil liputan dan mengirimkannya. Jadi makanya sedikit lama.”
Ruben mengangguk percaya, “Kalau begitu ayo kita masuk. Nana sendirian di ruang rawat nya.” Ajak Ruben. Kansha mengangguk dan mengikuti Ruben masuk kedalam rumah sakit.
Kansha dan Ruben sampai di ruang rawat Nana. Dan segera mereka masuk ke dalam dan langsung mendapati Nana yang tengah terbaring lemah di ranjang rawatnya.
Kansha mendekati Nana yang berwajah pucat. Tak ada rona seperti sebelumnya. Kansha sungguh mengkhawatirkan kondisi sahabatnya itu. Dia pun duduk di samping ranjang Nana. Menatapi mata sahabatnya itu yag terpejam dan pulas.
“Bagaimana kondisinya? Apa kata dokter?” tanya Kansha sembari menoleh pada Ruben.
“Nana mengalami Gastritis akut. Penyebab pingsannya karena sakit perut yang tak tertahankan.” Jawab Ruben.
Kansha mendesah pelan menatap Nana kembali, “Dia pasti jarang makan. Belakangan ini juga dia sering minum alkohol.” Sahut Kansha.
“Hm, itu pasti salah satu penyebabnya. Dokter juga menemukan kandungan obat-obatan pereda nyeri pada darahnya. Tampaknya Nana sering mengkonsumsinya dalam jangka panjang hingga dia mengalami peradangan pada lambungnya.”
“Entah apa yang terjadi tapi Nana terlihat berbeda belakangan ini. dia terlihat seperti banyak fikiran.” Lanjut Ruben.
Kansha terdiam mendengar pernyataan Ruben. Dia jelas tahu apa yang dimaksud Ruben. Nana memang tengah banyak fikiran, dia tak seceria biasanya. Faktor stress yang mengakibatkan gadis 26 tahun ini juga minum-minum. Tapi Kansha tak berani mengatakan, karena dirinya juga masih merasa abu-abu.
“Oh ya, Kansha. Kata dokter Nana mungkin harus dirawat satu atau dua hari. Tidak apa kalau kita disini dulu? Penerbangan kita besok juga mungkin dibatalkan.” Kata Ruben.
“Tidak apa-apa. Kesehatan Nana jauh penting.” Balas Kansha mengangguk. “Aku akan meminta perpanjangan cuti besok.” Lanjutnya.
“Syukurlah. Kalau begitu.”
“Oh ya, kapan Nana akan sadar?” tanya Kansha.
“Kata dokter besok pagi.” Balas Ruben.
Kansha mengangguk mengerti. “Oh ya Kansha.” Panggil Ruben tiba-tiba.
“Iya kak?” sahut Kansha.
“Soal lamaran tadi—“
“Lebih baik tidak usah dibahas dulu kak. Kita prioritaskan kesembuhan Nana.” Sela Kansha tanpa menatap Ruben.
“Ah kamu benar.” Kata Ruben sedikit kecewa. Tetapi, Kansha benar, ini bukan waktu yang tepat menanyakannya.
“lebih baik kakak istirahat saja. Aku juga akan beristirahat.” Kata Kansha mengalihkan pembicaraan.
“Kalau begitu beristirahatlah. Lebih nyaman kalau di sofa.” Timpal Ruben.
“Tidak perlu. Aku disini saja. Lebih baik kakak saja. Kakak pasti seharian ini cape jalan-jalan sambil mengurus kami.” Tolak Kansha tersenyum. “Kalau begitu, selamat malam kak.” Lanjut Kansha. Dia segera merebahkan kepalanya di samping ranjang Nana.
Ruben menatap Kansha dalam keterdiaman. Suasananya menjadi canggung dan Kansha begitu lihai mengalihkan pembicaraan. Entah hanya perasaannya saja, tapi Kansha sepertinya memiliki pandangan lain terhadap dirinya. Dan Ruben berharap itu hal yang baik.
__ADS_1
Ruben melangkah pelan menuju sofa kemudian berbaring. Tak lupa, dia membalas ucapan selamat malam dari Kansha.
“Selamat malam, Kansha.”