
“Seli, tolong panggil tim jurnalis 3 ke ruangan saya.” Titah Kansha.
“Baik bu.”
Tim Jurnalis 3 yang tadi diminta untuk ke ruangannya sudah berkumpul. Kansha berdeham sebentar lalu mengatakan maksudnya memanggil mereka.
“Saya akan ikut kesana.” Kata Kansha.
“Maksudnya bu?” tanya Neli, ketua tim.
“Saya akan ikut kalian liputan disana. Sekalian saya ingin menikmati alam Mandalika, Mandalika juga punya banyak pantai kan.”
“Jadi yang ibu maksud, ibu ingin berlibur dengan kedok bekerja?” goda Bayu.
Kansha menjetikkan jarinya, “Nah itu. Saya belum liburan lagi semenjak menjabat. Jadi karena itu saya ingin ikut kalian. Tenang saja, saya pakai uang saya pribadi, bukan uang perusahaan.” Kata Kansha.
“Kalau kami terserah ibu, lagian kalau misal ada ibu mungkin prosesnya jauh lebih lancar. Kami juga bisa sedikit liburan.” Timpal Neli tersenyum malu.
“Tentu saja, kalian kesana bukan hanya sekedar liputan tapi silakan berjalan-jalan, kalian juga perlu refreshing.” Kata Kansha.
“Baik, bu. Terima kasih.” Seru tim kompak.
***
Dua hari setelahnya, Kansha dan tim jurnalis 3 sudah sampai di Mandalika. Mandalika adalah kawasan wisata seluas 1.035 hektar yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sejak tahun 2017, Mandalika sudah diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Ada 7 spot wisata di Mandalika terdiri dari beberapa pantai, bukit hingga batu. Juga ada sirkuit balap yang akan digunakan di event internasional mendatang.
Setelah satu hari liputan, Kansha dan timnya berisitirahat di salah satu hotel. Keesokannya, tim Jurnalis 3 pulang lebih dahulu ke Jakarta meninggalkan Kansha yang akan tinggal sehari lagi.
Kansha menikmati udara sore hari di depan Pantai Kuta Lombok. Rasanya sangat tenang, kamu bisa merenungi semua yang telah terjadi hanya dengan menutup mata dan berdiam diri. Semilir angin sore khas pantai ikut menari pelan.
“Kansha.” Panggil sayup-sayup seseorang.
Kansha membuka mata lalu matanya membelalak ketika Nana dan Ruben berada di depannya.
“Nana? Kak Ruben? Kalian mengapa ada disini?” seru Kansha terkejut.
Nana duduk di samping Kansha begitupun Ruben.
“Kamu tidak bilang kalau mau liburan, kita bisa menemani kamu.” Balas Nana.
“Aku tidak liburan kok, aku sedang bekerja.” Elak Kansha.
“Bekerja? Tim kamu baru pulang tadi pagi.” Ujar Nana berdecih.
Kansha terkekeh malu, “Aku ingin berlibur walau sehari.”
“Lalu mengapa kalian bisa disini? Kalian tahu darimana kalau aku ada disini?” lanjut Kansha.
“Orang tuamu yang memberitahu. Jadi karena kami juga sedang tidak sibuk jadi menyusul.” Jawab Ruben.
“Ah begitu.” Kata Kansha mengangguk-anggukan kepalanya.
“Aku kira kamu akan berjalan-jalan tapi mengapa malah disini? Seperti patung saja.” Ejek Nana.
“Aku hanya ingin menikmati keindahan alamnya saja. Sekaligus merenungi semua yang terjadi padaku belakangan ini. Aku menyadari bahwa kejadian itu membuat hidupku berubah 180 derajat. Hubunganku dengan orang tuaku membaik, ARC menjadi perusahaan besar dan aku jadi lebih bahagia.” Kata kansha dengan mata menerawang.
Nana mendesah, “Aku juga ikut bahagia. Sudah waktunya kamu bahagia.”
Kansha tersenyum tipis menatap dua orang yang selalu jadi tempat bersandarnya kala tengah lelah akan hidup.
“Oh ya, ngomong-ngomong bukit disana namanya bukit Mandalika. Katanya itu diambil dari nama Putri Mandalika yang terjun dari bukit karena tidak mau jadi rebutan para pangeran.” Ujar Kansha mengalihkan pembicaraan.
Nana memukul pelan bahu Kansha, “Kamu ini, tadi bicara soal hidup, serius sekali. Sekarang malah bahas legenda, kamu aneh.” Seru Nana kesal namun tak urung tertawa.
“Aku akan memblokir apapun pembicaraan yang emosional.” Ujar Kansha ikut tertawa.
“Kalau begitu sudahi pembicaraanya, ayo jalan-jalan. Kak Ruben traktir, dia baru saja memenangi kasus.” Kata Nana.
“Wah benarkah? Selamat kak!” seru Kansha senang.
“Terima kasih. Kalau begitu ayo, hari ini aku traktir sepuasnya!” seru Ruben.
***
“Ini enaknya jadi pilot! Bisa punya waktu untuk sekedar jalan-jalan, gratis tanpa pakai ongkir!” desah Elang senang, co-pilot Alan. Dia merebahkan diri di kasur hotel yang dipesan dengan Alan.
Alan menggelengkan kepalanya, “Hanya beberapa jam, besok pagi kita harus pulang.” Ujar Alan sambil duduk di kasur hotel.
“Beberapa jam juga berharga. Eh, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Ada banyak pantai di sekitar Mandalika.” Ajak Elang.
Alan menggeleng tidak mau, “Aku ingin beristirahat.” Tolaknya.
“Ah, Alan! Kamu ini tidak asik, ayolah sekali ini saja, ya..” bujuk Elang.
Alan mendesah pelan lalu mengangguk terpaksa, “Sekali ini saja. Pulang tidak lebih dari jam delapan.” Tegasnya.
“Jam sebelas, Alan. Mandalika masih ramai bahkan sudah larut malam pun, ayolah.” Bujuk lagi Elang.
“Baiklah, baiklah.” Alan mengalah dan mengangguk setuju. “Ayo berangkat!” seru Elang.
“Tunggu dulu, aku mau berganti baju.” Kata Alan.
__ADS_1
“Kalau begitu aku ke lobi duluan, 5 menit ya Alan.” Kata Elang langsung ke luar kamar. Alan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
***
Alan dan Elang berjalan-jalan di sekitar Pantai Kuta Lombok, ada banyak pedagang kaki lima. Banyak diantaranya yang menjual pernak-pernik khas Nusa Tenggara.
Elang berjalan santai dengan tangan yang asik memotret. Elang menyukai fotografi tapi karena dia tak bawa kamera, maka Elang hanya menggunakan ponselnya.
Alan berjalan sembari melihat ke sekitar, lalu pandangannya teralih pada sebuah toko yang menjual pernak-pernik. Alan mendekati toko itu lalu terpaku pada sebuah gelang.
Flash back On
"Astaga, gelangku! Dimana gelangku?" pekik Kansha tiba-tiba.
Alan mengernyit bingung. "Gelang?"
"Iya, itu gelang khas Lombok. Ku namai Nene." kata Kansha murung.
"Apa sangat berharga?" tanya Alan.
"Begitulah." sahut Kansha mengangguk.
"Sepertinya hilang terbawa ombak. Tak apa lah, mungkin memang sudah hilang." lanjut Kansha tersenyum sedih.
Flashback Off
Alan memerhatikan gelang itu. Ingatannya terpaut pada wajah sedih Kansha ketika gelangnya hilang saat kecelakaan. Alan terus diam memerhatikan hingga sang penjual menegurnya.
"Ini gelang tenun khas Lombok pak. Banyak turis beli ini." kata penjual.
"Benarkah?" gumam Alan. Dia memerhatikan sekali lagi pada gelang itu dan tiba-tiba menatap si penjual, "Saya beli ini bu." kata Alan.
***
Setelah Alan selesai membeli, Alan langsung pergi meninggalkan toko namun tanpa ada yang menyadari, Kansha berpapasan dengan Alan. Begitu Alan keluar, Kansha masuk ke dalam toko.
Kansha terpaku pada gelang yang tadi dilihat Alan. Gelang-gelang tenun ini, mengingatkannya pada masa lalu.
"Gelangnya cantik kan, mbak. Tadi ada si mas juga yang beli." kata penjual.
Kansha tersenyum kecil, gelang ini yang memberinya kekuatan. Gelang ini adalah hadiah pertama yang ia beli ketika menjadi reporter.
Namun Kansha rasa untuk kembali membelinya...
"Saya beli ikat itu aja bu!" ujar Kansha tersenyum.
***
"Iya Na. Semuanya sudah siap. Terima kasih ya kamu mau membantu." timpal Ruben tersenyum.
Nana mengangguk sembari tersenyum meski hatinya telah patah. "Harus sukses ya kak. Dan kakak harus janji untuk menjaga Kansha baik-baik, beri dia kebahagiaan dan jangan buat sedih." pesan Nana. Dia menggigit bibirnya pelan, berusaha menahan isakan.
"Pasti." angguk Ruben mantap.
Tak lama objek yang dibicarakan muncul. Kansha datang ke tempat Ruben dan Nana yang sedang beristirahat di warung es kelapa muda. Seketika Nana dan Ruben menghentikan pembicaraan mereka.
“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Kansha sembari duduk lesehan di samping Nana. Dia menaruh topi pantainya. Udara sejuk seketika menerpa kepalanya.
“Tidak ada—oh ya kamu habis darimana?” Nana langsung mengalihkan pembicaraan.
“Oh, aku baru dari toko pernak-pernik, aku membeli ini.” ujar Kansha menunjukkan ikat yang dia beli.
Nana mengambil ikat itu, “Untuk apa kamu membelinya? Kufikir kamu akan membeli gelang lagi. Gelang milikmu katanya hilang.” Tanya Nana.
Kansha terdiam sebentar lalu tersenyum kecil, “Karena sudah hilang, aku tak perlu membeli yang baru kan. Ada banyak pilihan, mengapa harus memilih benda yang sama.” Balas Kansha ambigu.
Nana mengernyit bingung, “Entah mengapa kamu makin puitis semenjak selamat dari pulau.” Ujarnya. Kansha hanya mengangkat bahunya acuh.
Tak lama Ruben yang tadi pergi kembali membawa air kelapa muda untuk Kansha. Kansha bergeming ketika kelapa itu dihadapannya. Ingatannya akan kelapa menyeruak kembali di benaknya.
Flash Back On
"Nah, anak kota, coba perhatikan baik-baik kemampuan memanjat seorang Kansha." usai mengatakan itu, Kansha dengan percaya diri mulai memanjat pohon kelapa. Alan terngaga melihatnya.
"Kamu bisa memanjat?" Alan takjub bercampur tidak percaya, "Setinggi itu?"
"Tentu saja, memangnya kamu." ejek kembali Kansha.
Alan mendongak, "Kansha, jangan dulu di--"
Bug
Terlambat, Kansha sudah memelintir kelapa itu hingga menyebabkan kelapa itu jatuh ke tanah. Namun yang menjadi masalahnya adalah..
"Alan!" pekik Kansha terkejut. Dia bergegas turun dan mendekati Alan yang terkapar.
Flash Back Off
Kansha menghirup nafas dalam-dalam. Ingatannya ketika di pulau sangat tak bisa dilupakan. Selama 6 bulan ini, Kansha berusaha mengunci semua kenangannya dengan Alan agar hatinya tak semakin jatuh, namun acapkali melihat benda yang berkaitan dengan kenangannya, ingatannya selalu menyeruak tanpa permisi.
“Kansha, kamu tidak apa-apa?” tegur Nana melambaikan tangan di depan wajah Kansha. Kansha tersentak dan mengangguk kecil.
__ADS_1
“Kenapa melamun?” tanya Nana bingung.
“Aku hanya tiba-tiba memikirkan soal kelapa. Kenangan yang unik.” Balas Kansha menatap kelapa itu.
“Terima kasih kak Ruben.” Lanjut Kansha mengambil kelapa itu dari tangan Ruben kemudian menyesapnya dalam diam. Melihat itu, Nana dan Ruben saling berpandangan.
“Kamu tahu Kansha? Kamu semakin aneh belakangan ini.” ujar Nana dengan dahi mengernyit dalam.
“Aneh? Apa maksudnya?” tanya Kansha bingung. Dia menghentikan kegiatan minumnya.
“Ya aneh saja, kamu jadi lebih sering melamun seakan kamu punya banyak pemikiran. Perkataanmu juga makin tidak masuk akal.” Sahut Nana berhati-hati.
Kansha tersenyum kecil, “Mungkin kejiwaanku masih terganggu.”
“Apa?” seru Nana terkejut.
“Aku becanda,” Kansha mengibaskan tangannya, “Aku masih benar-benar sangat sehat.”
“Pemborosan kata,” decih Nana.
“Oh ya, Kansha. Nanti malam kamu tidak ada acara kan?” tanya Ruben mengalihkan pembicaraan.
Kansha menoleh pada Ruben lalu mengangguk. Sedangkan Nana memalingkan mukanya ke arah lain. Mencoba mengendalikan raut mukanya.
“Ada apa kak?” tanya Kansha.
“Ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan. Nanti malam setelah makan malam, datanglah ke kolam renang hotel.” Ujar Ruben.
“Kenapa harus di kolam renang?” tanya Kansha dengan dahi mengernyit.
“Intinya datang saja dulu.” tukas Ruben singkat.
“Oke. Na, kamu juga ikut kan?” tanya Kansha mengalihkan tatapannya pada Nana.
Nana bergeming sesaat kemudian saling berpandangan dengan Ruben. Ruben menatapnya tanpa suara, Nana lalu mengalihkan tatapannya pada Kansha dan menjawab dengan raut pura-pura tak enak. “Aku ingin beristirahat, aku merasa sangat lelah akhir-akhir ini.”
“Kalau begitu, aku ingin menemanimu saja.” Kata Kansha khawatir.
“Eh, tidak usah!” seru Nana. “Aku baik-baik saja. Kamu pergi saja berdua dengan Kak Ruben. Malam ini katanya akan bulan purnama.” Lanjut Nana tersenyum.
“Kamu serius?” Kansha masih ragu.
Nana mengangguk mantap, “Serius.”
***
Malamnya sesuai yang dijanjikan, Kansha datang ke kolam renang hotel seusai makan malam. Kansha terperangah ketika tiba di pintu masuk, jajaran lilin putih menyinari tempat itu yang temaran karena hanya bermodalkan cahaya bulan. Kelopak mawar merah menebar membentuk jalan di tengah lilin putih yang berbaris.
Kansha mengikuti jalan setapak mawar itu, langkahnya pelan mengedar ke sekelilingnya. Kolam renang itu terlampau indah karena berbiaskan cahaya bulan. Kemudian Kansha menatap ke depan, matanya bersibobrok dengan Ruben yang berdiri tegak sembari membawa sebuket mawar merah.
Kansha berjalan mendekati Ruben. Setelah sampai di hadapan Ruben, Kansha membuka mulutnya. Menanyakan segudang pertanyaan yang bersemayam sejak pertama datang.
“Ini maksudnya apa?” tanya Kansha.
Ruben tak menjawab malah memilih menatap dalam pada manik Kansha membuat Kansha sedikit salah tingkah.
“Kansha ingatkah pertemuan pertama kita?” tanya Ruben tiba-tiba.
Meski bingung, Kansha tetap menjawab, “Tentu saja. Kita bertemu pertama kalinya di pesta ulang tahun Nana.”
“Apa kesan pertamamu ketika melihatku?” tanya Ruben lagi.
“Kakak baik, kakak keren, dan kakak populer. Teman-temanku sering membicarakan kakak dikelas.” Ucap Kansha. “Tapi kenapa tanya soal itu?” tanya Kansha.
“Kamu tahu apa kesan pertama kakak melihatmu?” tanya Ruben tanpa menjawab pertanyaan Kansha sebelumnya.
“Apa?”
“Aku tak akan dikalahkan oleh wanita sepertinya.”
“Hah?” seru Kansha tak percaya. “Maksudnya?”
“Aku tak akan dikalahkan oleh wanita sepertinya. Kamu begitu cantik, begitu mempesona dan hampir menjadi penghancur tujuanku. Sejak dulu, aku tak pernah peduli mengenai wanita manapun. Mau secantik apapun dia, mau sepopuler apapun, yang aku pedulikan adalah belajar dan belajar untuk mengejar karier sebagai pengacara.”
“Lalu kamu datang, hampir menghancurkan tembok pertahananku. Awalnya kufikir ini mungkin hanya perasaan kagum sedetik, tetapi lama-kelamaan perasaan itu malah semakin besar hingga menjadi sebuah pertanyaan. Bertahun-tahun aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, lalu ketika aku pergi ke Jerman, ada rasa rindu ketika tak bertemu dengan kamu dan ketika kamu dinyatakan hilang, langitku seakan runtuh. Dari sana aku menemukan jawabannya. Ternyata, jawabannya sederhana. Karena aku mencintaimu, sesederhana itulah.” Tutur Ruben.
Mendengar pengakuan Ruben, Kansha terdiam dengan mulut menganga.
***
Halo semuanya, tak terasa ini udah 30 episode. Dan terima kasih yang sudah memberikan semangat, dan dukungannya 🙏🤗
Saya melihat bahwa banyak yang membaca karya saya setiap harinya, namun sangat sedikit yang memberikan penghargaan pada jerih payah saya. Tolonglah untuk sedikit saja meluangkan waktu melike atau memberi komentar. Karena dengan begitu membuat saya merasa lebih dihargai. ☺
Meski karya saya tak menarik, tapi jujur, saya dengan sepenuh hati membuat kisah ini setiap harinya. Jadi bagi yang menikmatinya, terima kasih atas kesediaan semuanya yang mau meluangkan waktu membaca kisah tak menarik ini🙏☺
Semoga kisah ini setidaknya dapat menghibur #stayathome teman-teman. Terima kasih☺🤗
^^^Salam,^^^
^^^KyGe^^^
__ADS_1