
Mereka sedang di cafe. Nana duduk melamun didepan Kansha yang terdiam sedangkan Alvaro tengah mengambil pesanan. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Nana dan Kansha masih sama-sama canggung setelah pertengkaran mereka. Tak lama, Alvaro datang membawa nampan berisi minuman. Alvaro kemudian duduk di samping Kansha.
“Minum dulu.” kata Kansha. Dia menyodorkan jus mangga favorit Nana. Nana mengambilnya dan meminum tanpa suara.
“Kamu baik-baik saja? Apa yang dilakukan oleh kak Ruben?” tanya Kansha begitu Nana selesai meneguk minuman.
Nana menggeleng pelan. “Bagaimana kamu bisa datang?” tanya Nana tanpa menjawab pertanyaan Kansha.
“Aku baru saja pulang dari Korea jadi sekalian menemuimu.” Jawab Kansha.
“Terima kasih.” Ujar Nana tulus.
“Sama-sama. Aku yang harusnya minta maaf disini. Aku salah.” Kata Kansha menunduk.
“Boleh aku memukulmu?” tanya Nana.
Kansha terdiam terkejut kemudian mengangguk. Dia memang pantas dipukul.
“Mendekat.” Titah Nana. Kansha pun mendekatkan kepalanya.
Nana kemudian mengangkat tangan kanannya bersiap memukul.
“Aw.” Kansha menjerit kecil. Dia menutup matanya.
“Aku bahkan belum memukulmu.” Kata Nana setengah menahan tawa. Kansha menyengir. Nana pun kembali memasang ekspresi serius meski terus menahan tawa.
“Aku mulai.” Ujar Nana.
“Boleh mukul dimanapun asal jangan di mata, please!” pinta Kansha ketakutan. Asal tahu saja, pukulan Nana sama dengan dipukul lima kali oleh lelaki. Sudah sakit, perih dan kapok.
“Terserah aku, mau dimanapun.” Tukas Nana mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Ini permohonan. Tolong pertimbangkan, Ratu.” Pinta Kansha. Alvaro yang melihat drama mereka hanya menutup mulutnya menahan tawa.
“Siap.” Nana kembali mengangkat telapak tangannya. Dia bersiap memukul. Kansha menutup matanya erat-erat.
Puk
Kansha membuka matanya ketika tidak merasakan pukulan dimanapun. Dia malah merasakan kepalanya ditepuk lembut.
“Aku jauh lebih sayang kepala sahabatku dibanding tanganku.” Kata Nana.
“Ah..Nana!” pekik Kansha terharu. Dia maju mendekat dan memeluk sahabatnya. Kansha bahkan menciumnya berkali-kali membuat Nana meronta jijik.
“Ada orang lain disini. Dan aku tidak mau dipanggil pasangan lesbi,” kata Nana melepaskan pelukan mereka. Kansha pun kembali ke tempat duduknya.
“Saranghae Nanaku.” Ucap Kansha lebay. Dia membuat tanda hati besar di atas kepalanya. Nana berlagak mual.
“Permisi, tapi bisa jelaskan ada apa disini?” Alvaro menyela momen romantis mereka.
“Ah, aku lupa ada kamu. Maafkan aku.” Seru Kansha baru ingat. Dia menatap Alvaro dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa. Sepertinya kalian tidak bertemu lama sekali, persahabatan kalian sungguh mengharukan.” Komentar Alvaro.
“Oh ya, aku lupa mengenalkan kalian.” Ucap Kansha menepuk dahinya. “Alvaro, kenalkan ini Nana, sahabatku. Dan Nana, ini Alvaro, teman SMA ku.” Lanjut Kansha mengenalkan.
“Nana. Terima kasih ya sudah membantuku tadi.” Ucap Nana menjabat tangan Alvaro.
Alvaro mengangguk, “Sama-sama.” Balas Alvaro membalas jabatan tangan Nana.
“Jadi kenapa kalian bisa bersama?” tanya Nana.
“Aku dan Alvaro sedang mengerjakan sebuah kasus.” Jawab Kansha.
“Kasus?”
“Iya. kasus soal perebutan hak milik tanah. Klien Alvaro adalah sebuah panti asuhan dan kebetulan anak yang kukenal tinggal disana. Jadi aku ingin membantu.”
“Itu gaya mu sekali.” Komentar Nana. “Jadi bagaimana kelanjutan kasusnya?”
Alvaro melirik Kansha kemudian menjawab dengan nada tenangnya, “Besok akan dilakukan sidang pertama. Kami sudah mengumpulkan bukti-buktinya, semoga saja bisa membantu.” Jawab Alvaro.
Nana mengangguk-anggukan kepalanya. “Semoga sukses.” Ucap Nana.
“Kita kembali ke pembicaraan awal.” Celetuk Kansha,
__ADS_1
Nana yang tengah mengunyah kentang goreng menatap polos, “Apa?”
“Apa yang terjadi denganmu dan Kak Ruben? Apa di malam itu kalian bertengkar?”
Nana menjatuhkan kentang gorengnya. Dia terdiam, membuat Kansha dan Alvaro mengernyit bingung.
“Ada apa?” tanya Kansha ketika melihat Nana diam saja.
“Tidak ada yang terjadi. Aku dan Kak Ruben memang bertengkar. Hanya itu.” timpal Nana. Dia sedikit berbohong.
“Jangan bohong. Aku tahu ada yang kamu sembunyikan.”
Nana menggeleng kuat-kuat. “Sembunyikan apa. Tidak ada kok.” Nana kini malah terkekeh palsu.
Kansha dan Alvaro saling melirik kemudian Kansha menatap Nana yang kini terlihat gugup. “Sebenarnya, aku sudah mendengar semuanya. Pertengkaranmu dan Kak Ruben. Aku sudah mendengar semuanya.”
“Kamu mendengarnya? Semuanya?” tanya Nana terkejut. Kansha mengangguk.
“Ayo ke rumah sakit, Na.”
***
Alfin tengah memeriksa pasien-pasiennya sembari bercanda ringan. Setelah selesai memeriksa, Alfin kembali ke ruangannya.
Kemudian asisten perawatnya datang membawa seberkas dokumen.
“Ini adalah daftar nama dokter dan perawat sekaligus relawan untuk kegiatan Peduli Sesama di pedalaman Kalimantan.” Ucap asistennya.
“Terima kasih.” Ucap Alfin tersenyum. Asistennya mengangguk kemudian pamit undur diri.
Sepeninggal asistennya, Alfin lantas membuka dokument itu. Judul kegiatan Peduli Sesama terpampang dengan ukuran besar di halaman pertama. Alfin kemudian membuka halaman selanjutnya. Ini merupakan daftar dokter dan perawat yang dikirim kesana. Ada namanya di urutan pertama sebagai ketua tim. Alfin membacanya sekilas kemudian berlanjut ke halaman selanjutnya.
Judul draft itu adalah daftar nama relawan yang mendaftarkan diri mengikuti kegiatan kemanusiaan yang akan diselenggarakan dua hari lagi. Alfin membacanya dari atas ke bawah. Namun satu nama mengusik perhatiannya.
“Adindra Anaya.” Alfin menatap nama itu. Itu adalah nama lengkap Nana.
“Jadi, Nana ikut kegiatan kemanusiaan ini? Dia tidak pernah menyinggung hal ini sebelumnya.” Gumam Alfin bingung. Dia terkejut ketika wanita galak seperti Nana punya hati baik, ehe.
Alfin pun mengambil ponselnya bermaksud menghubungi Nana. Dia menelfon Nana sambil berjalan keluar. Namun Nana tak mengangkatnya. Hingga Alfin melihatnya tengah duduk di salah satu bangku di lobi rumah sakit.
Nana yang tengah menunduk lantas mendongak.
***
“Ayo ke rumah sakit, Na.”
Nana mematung. “Untuk apa aku kesana?” tanya Nana gugup.
“Hanya melakukan sedikit pemeriksaan.” Balas Kansha. Dia berusaha menekan pemikiran negatifnya dan memilih memastikannya secara jelas.
“Kansha, aku tidak sakit sama sekali.” Tukas Nana. Matanya menyorot khawatir.
“Kamu tahu bukan itu yang kumaksud.”
“Kansha..” Nana membasahi bibirnya, “Aku tidak mengalami hal aneh apapun itu. Aku baik-baik saja dan tidak akan ada yang terjadi.” Ucap Nana meyakinkan Kansha.
“Kita akan tahu setelah berada disana.” Kata Kansha tanpa penawaran.
Nana menghela nafas. Dia pun mau tak mau mengangguk. Dia sejujurnya juga cemas. Dan juga..takut.
Tak ada pembicaraan apapun lagi diantara mereka. Alvaro bahkan dari tadi terus diam. Dia hanya mengamati perbincangan kedua sahabat itu layak air. Dia juga tidak terlalu mengerti.
Kemudian setelah makanan mereka habis, mereka bertiga kembali ke mobil dan Alvaro melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan baik Kansha terlebih Nana merasa cemas. Kansha mengenggam tangan Nana yang saling bertaut. Memberinya kekuatan. Nana tersenyum kecil. Perasaanya sedikit lebih baik karena ada Kansha yang menemaninya.
Tak lama, mobil yang dikemudikan Alvaro sampai. Kansha, Nana dan Alvaro turun. Mereka pun mendaftar.
“Obgyn untuk nama Adindra Anaya.”
***
Kansha, Alvaro dan Nana sedang duduk di depan poli kandungan. Nana terus menautkan jemarinya. Dia menggigit bibirnya cemas.
“Alvaro, aku minta maaf sudah merepotkanmu.” Kata Kansha menoleh pada Alvaro.
“Tidak masalah. Lagipula sekalian belajar bukan. Aku juga nanti harus menemani istriku di poli kandungan.” Timpal Alvaro santai. Kansha mengangguk dengan senyum tak enak.
__ADS_1
“Kamu gugup?” tanya Kansha menoleh pada Nana.
“Kasha, semuanya belum jelas kan. Aku mungkin juga negatif.” Balas Nana dengan nada harap terselip didalamnya.
“Aku juga berharap seperti itu. Tapi bila benar-benar ada, kuharap kamu bisa menerimanya.” Imbuh Kansha. dia menatap perut datar Nana. Perasaannya sama dengan Nana, sangat tak menentu. Gugup, cemas, takut dan khawatir.
Nana menghembuskan nafas pelan. Kemudian seorang perawat keluar.
“Adindra Anaya.”
Nama Nana dipanggil. Nana menatap Kansha begitupun Kansha. kansha mengangguk meyakinkan. Nana menghembuskan nafas lagi dan mulai melangkah masuk diikuti Kansha. sedangkan Alvaro menunggu di luar.
Bug
Baru saja, sampai awang pintu, Kansha ditabrak seseorang yang membuka pintu dari dalam hingga menyebabkan sikunya membentur sudut tajam kursi dan punggungnya juga ikut terbentur. Kansha mengaduh. Nana menoleh dan Alvaro seketika berdiri. Mereka menghampiri Kansha yang meringis kesakitan.
“Ya ampun maafkan saya!” seru orang yang menabrak Kansha yang rupanya seorang perawat. Dia berjongkok di depan Kansha.
“Saya terburu-buru karena ada pasien yang akan melahirkan sebentar lagi jadi tidak melihat ada orang. Maafkan saya.” Ucap perawat itu merasa bersalah.
“Tidak apa-apa.” Balas Kansha. Dia mencoba berdiri dibantu Alvaro namun Kansha sedikit limbung dan untungnya segera ditahan oleh Alvaro. Punggungnya terlalu sakit.
“Sangat sakit?” tanya Alvaro cemas.
“Sedikit.” Balas Kansha meringis. Dia tidak mau Nana dan Alvaro khawatir.
“Kalau begitu, mbak saya antar ke dokter umum. Saya akan bertanggung jawab.” Kata perawat itu. Dia hendak mengapit satu tangan Kansha lagi.
Kansha menggeleng, menghentikan tindakan perawat itu, “Mbak bilang ada pasien yang akan melahirkan, jadi segera kesana. Saya bisa sendiri.”
“Mbak serius? Saya benar-benar tidak enak. Benturannya terlalu keras tadi.” Ucap perawat itu makin merasa bersalah.
Kansha menggeleng sembari tersenyum kecil meski masih terus mengiris, “Saya pernah mengalami yang jauh lebih parah dari ini. jadi tidak apa-apa. Pergilah mbak.”
Perawat itu mengangguk ragu, “Kalau begitu, akan saya hubungi dokter terusebut agar mbak bisa langsung dapat pengobatan.”
“Terima kasih.” Ucap Kansha.
“Saya yang harusnya terima kasih karena mbak baik pada saya padahal saya sudah melukai mbak. Sekali lagi saya meminta maaf.” Timpal perawat itu. dia menundukkan badannya sedikit.
“Tidak masalah. Pergilah sekarang, pasien yang melahirkan membutuhkanmu.”
“Kalau begitu saya pergi dulu. sekali lagi saya minta maaf mbak.” Kansha mengangguk. Perawat itu pun segera pergi dengan berlari meninggalkan mereka.
“Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Nana usai perawat itu pergi.
“Adindra Anaya.” Panggil perawat lagi dari dalam.
“Aku kedalam sendiri saja. Alvaro tolong temani Kansha memeriksa lukanya.” Kata Nana.
“Kamu yakin?” tanya Kansha. dia tahu tidak mudah datang sendiri. Terlebih ini kali pertama.
Nana menggeleng, “Lukamu harus diobati kalau tidak akan semakin parah.”
“Adindra Anaya.” Panggil peawat lagi.
“Aku masuk dulu ya. Kita bertemu di lobi saja.” Ucap Nana kemudian dianggguki Kansha.
“Semangat!” bisik Kansha. nana mengangguk kemudian masuk ke dalam.
“Ayo.” Ajak Alvaro. Alvaro pun memapah Kansha menuju poli umum.
***
Nana kini sudah duduk berhadapan dengan dokter kandungan bernama Mila. Tadi Nana sudah diperiksa segala macam dan ditanyai segala hal. Kini sedang menunggu hasil tes darah dan tes urine.
Kemudian seorang perawat datang membawa berkas hasil lab milik Nana. Dokter Mila membukanya dan membacanya. Nana harap-harap cemas.
Kemudian dokter Mila menatap Nana.
“Selamat Bu Adindra, Anda hamil.”
Begitu satu kata itu diucapkan. Nana mematung. langitnya seolah meluruh tak bersisa.
Apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1