
Kansha duduk terpekur di meja kerjanya. Wajahnya yang serius tersorot oleh sinar dari lampu neon yang berada di depan sudut matanya. Tubuhnya disini, tetapi fikirannya tengah berkecamuk. Sudah dua jam, gadis berkuncir kuda itu merenung.
"Mungkinkah, aku memiliki hubungan dengan Aisyah?" batinnya.
Bukti demi bukti yang diperlihatkan Alfin padanya sore tadi membuat dia mau tak mau jadi kefikiran. Pasalnya, meskipun ingatannya samar, dia yakin bahwa rumah yang dilihatnya dari Alfin dan rumah masa kecilnya itu sama persis. Belum lagi dengan tahun kelahiran mereka.
"Aku juga lahir di tahun yang sama. Hanya berbeda bulan dan tanggal saja. Tapi itu bisa jadi hanya kebetulan kan. Bagaimanapun Bi Ningsih menemukanku di hari yang sama yang dijadikan sebagai ulang tahunku."
Kansha makin menelungkupkan kepalanya. Dia menatap lampu belajar dengan sayu. Akankah akhirnya kebenaran akan asal usulnya terungkap? Apakah dirinya memang Azzahra? Tapi kenapa? Kansha bahkan tak merasa sedikitpun antusias.
Tak peduli lagi, Kansha lebih memilih memejamkan matanya.
***
Di suatu sudut rumah, sebuah jam tak hentinya berdetak dengan seekor cicak menatapnya tanpa kata. Ibarat waktu yang terus bergerak sedangkan hati tak lagi tergerak.
Di kursi, Ruben dan Nana hanya duduk diam. Jarak tiga puluh centi dari tempat duduk masing-masing bagaikan jarak yang terbentang kelipatannya diantara mereka. Sejak insiden Ruben yang menghentikan laju taksi yang ditumpangi Nana dan memaksanya pulang bersama.
Nana, dalam diamnya, sudah siap mengumumkan perpisahan. Tak ada lagi alasan, tak ada lagi harapan, semuanya nyaris sirna baginya.
Ruben, dalam diamnya, tengah mencambuk hatinya yang tega-teganya kembali menyakiti Nana. Dia memang sempat dan hampir akan mengabulkan permintaan Diana, tapi begitu mendengar suara lirihan Nana dan derap langkah milik gadis itu yang perlahan menjauh, Ruben sadar bahwa dia sudah bertindak tak adil bagi Nana.
"Aku tahu, kamu kecewa padaku. Aku benar-benar mengaku salah. Aku sempat akan mengabulkan keinginan Diana, karena aku terlalu fokus padanya hingga melupakanmu. Berapa ratus kali maafkupun, aku tahu kamu sudah tak akan menerima." ucap Ruben pelan.
Air mata Nana kembali menetes, nakun cepat-cepat diusapnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi ataupun tidak tahu harus bertindak bagaimana lagi.
"Tapi Na, aku bersumpah dari lubuk hatiku terdalam, aku mencintaimu. Dan aku tak akan pernah mengkhianatimu." lanjut Ruben penuh kesungguhan.
Nana lagi-lagi diam. Diam-diam, Nana merutuki soal mood nya yang terjun bebas hari ini. Mungkin ini juga dampak dari kehamilannya. Perasaan sensitifnya sedikit berlebihan.
"Kudengar, kamu menghubungi Maria. Aku sempat terkejut dan mencoba tidak berfikir macam-macam. Tapi tidak bisa, aku khawatir kalau kamu.." Ruben menoleh dengan cepat pada Nana. Nana seketika memalingkan mukanya.
"Kurasa aku tahu jawabannya." lirih Ruben.
"Jawaban apa?!" Nana menatap Ruben dengan dingin.
"Kamu membatalkan pernikahan kita." balas Ruben.
Nana mengangkat satu alisnya, "Jadi kamu berharap aku membatalkannya?"
Ruben cepat-cepat menggeleng.
Sudut bibir Nana berkedut.
"Kamu masih tidak menjelaskan padaku. Soal kenapa kamu mengiyakan permintaan Diana. Kamu sama sekali tidak memikirkan aku. Kita baru saja bertemu owner pernikahan dan setelah itu dengan gampangnya kamu mau menikahi gadis lain? Kamu fikir aku hanya cadangan apa?!" Akhirnya Nana menumpahkan kekesalannya pada lelaki itu.
"Bukan seperti itu, Na. Aku mengaku, aku salah.Awalnya aku memang lupa kalau kamu ada disana, aku mengiyakan hanya demi kesembuhan Diana. Bagaimanapun Diana adalah sahabat kecilku. Aku merasa sangat berdosa padanya." tukas Ruben menjelaskan.
__ADS_1
"Dan kamu tidak memikirkanku sama sekali. Kak Ruben, kenapa kakak sangat jahat?"
Ruben memegang kedua tangan Nana, "Na, aku minta maaf, aku memang lelaki yang jahat. Aku selalu saja menyakitimu. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan pernah menikahi Diana."
"Aku sudah menjelaskan pada Diana, bahwa arti dirinya dalam hidupku hanyalah seorang sahabat. Aku tidak bisa menikahinya hanya karena dia tengah sekarat. Dan aku memiliki orang lain yang sudah menjadi tanggung jawabku esok, dan sampai menutup mata. Aku wajib membahagiakannya." Ruben menatap kedua manik Nana dengan dalam.
"Na, aku adalah laki-laki yang penuh kekurangan. Aku terkadang bisa melakukan hal yang di luar batas seperti tadi. Jadi kumohon, jadilah sebagai pengingatku dan lentera dalam perjalananku serta teman hidupku. Aku hanya butuh kamu." pinta Ruben amat memohon.
Nana tak menjawab, dia malah mengambil ponselnya kemudian mendekatkannta pada telinganya. Ruben menatapnya dengan bingung.
"Apa--"
"Halo, Mbak Maria." sela Nana.
Ruben membelalakan matanya, dia hendak merebut ponsel Nana namun Nana nenepisnya dan malah memelotinya.
"Na, aku mohon, Na." mohon Ruben sanbil menggelengkan kepalanya.
Nana menurunkan ponselnya, dia menatap tajam Ruben. "Janji tidak akan seperti itu lagi?"
Ruben mengangguk mantap, "Aku janji."
"Janji tidak akan membuka pintu hatimu untuk wanita lain?"
Ruben mengangguk, "Cuma kamu."
"Janji hanya mencintaiku saja?" tanya Nana. Ruben kembali mengangguk mantap.
Nana lalu mendekatkan kembali ponselnya, Ruben makin panik.
"Na, jangan, kumo--"
"Mbak, aku ingin memajukan waktu pernikahan."
Ruben terdiam. Nana lalu menatap Ruben. Dia bertanya-tanya dengan raut yang ditampilkan oleh Ruben. Nana jadi cemas, apakah dirinya terlalu berlebihan hingga ingin memajukan tanggal pernikahan mereka dan tidak berdiskusi dengan Ruben terlebih dahulu. Tapi Nana melakukan ini, untuk kebaikan mereka. Seharusnya Ruben tidak masalah.
"Kak, aku.." Belum habis Nana berbicara, Ruben langsung menerjang Nana hingga jatuh terlentang.
Ruben mencium Nana berkali-kali hingga Nana kegelian.
"Aw, kak, berhenti, hahaha." ujar Nana tertawa.
Ruben mendaratkan ciuman terakhirnya di bibir ranum Nana, "I Love you, Na." tandas Ruben tulus.
Nana mengembangkan senyumnya, "Aku juga." balasnya.
***
__ADS_1
Di rumah keluarga Alandra, ayah, bunda, Zakariya, Aisyah dan Alan serta Alfij tengah makan malam bersama. Aisyah yang turut makan bersama mendapat limpahan perhatian dari segala sisi. Baik bunda, ayah, abinya bahkan Alan terus memerhatikan Aisyah. Sedangkan Alfin yang duduk di sudut berhadapan dengan Aisyah, terus mengawasi Aisyah dan Zakariya dalam diam.
Usai makan malam, Alfin naik ke kamar Alan. Begitu masuk, terlihat Alan sedang duduk sambil membaca buku. Alfin mengetuk pintu dua kali, Alan pun mendongak menatapnya.
"Ada yang ingin kubicarakan, mas." katanya.
Alan menutup bukunya kemudian mengangguk. "Masuklah."
Alfin masuk ke kamar setelah memerhatikan sekelilingnya. Dia takut akan ada yang menguping pembicaraannya dengan Alan. Dirasa aman, Alfin menutup pintu dan duduk di ranjang Alan.
"Ada apa?" tanya Alan merasa tidak beres melihat tindakan Alfin yang tak biasa.
"Mas, ada yang ingin kuberitahukan sesuatu. Ini memang belum pasti benar, tapi aku hanya ingin mengatakan pada Mas, yang selama ini terbohongi." kata Alfin.
"Apa maksud kamu?" tanya Alan mengernyit bingung.
Alfin lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Dia menunjukkan foro demi foto yang dia ambil saat menemukan map coklat itu.
"Selama ini, Om Zakariya memiliki anak perempuan yang lain."
Alan menatap terkejut, "Apa maksud kamu?"
"Ini." Alfin memperlihatkan foto kecil Azzahra.
"Dia Azzahra, kakak kandung Aisyah yang menghilang."
"Apa?!" pekik Alan. Alfin langsung menutup mulut Alan.
"Jangan keras-keras, mas." peringat Alfin pelan.
"Kamu serius? Darimana kamu tahu?" lirih Alan.
"Sebenarnya saat mas memergokiku menguping, aku mendengar bahwa Aisyah dan abinya bertengkar. Dan mereka menyebut-nyebut nama Azzahra. Hingga aku tahu bahwa Azzahra adalah kakak Aisyah yang menghilang dan kebenarannya disembunyikan Om Zakariya. Aku juga tahu bahwa Aisyah sedang mencari keberadaan kakaknya." jelas Alfin tetap dengan nada pelan.
Alan makin terkejut. Dia tidak pernah menduga bahwa Aisyah memiliki kakak kandung. Selama ini dia hanya tahu bahwa Aisyah adalah anak tunggal.
"Aku juga tahu bahwa syarat perjodohan mas dan Aisyah adalah harus sama-sama anak pertama. Tapi faktanya Aisyah bukanlah anak pertama." lanjut Alfin.
Alan termenung. Penjelasan Alfin sungguh membuatnya terkejut luar biasa. Dia juga tak tahu harus bereaksi apa. Dia masih bingung.
ceklek
Alan dan Alfin menoleh pada pintu yang berderak. Suara lembut Aisyah menyapa telinga mereka.
"Assalamu'alaikum, Mas. Ini Aisyah." ucap Aisyah dari balik pintu.
Alfin dan Alan sama-sama saling berpandangan.
__ADS_1
"Mas, rahasiakan ini dahulu." bisik Alfin cemas. Alan mengangguk.
Alfin lalu bangkit dan menuju pintu. Begitu pintu dibuka, raut Aisyah yang terkejut tertangkap radar Alfin.