My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 129.


__ADS_3

Seseorang yang ditutupi kain putih terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat berkumpul di sekelilingnya. Kepala mereka tertunduk lemah menyisakan suasana duka disekeliling ruangan.


Aisyah datang didampingi Alfin begitupun Kansha yang berada di kursi roda yang didorong Alan, mereka mendekati ranjang. Dan air mata Aisyah seketika menitik kembali.


Perempuan bergamis hijau itu perlahan membuka kain putih dengan tangan gemetarnya. Air mata membasahi seluruh wajahnya hingga menetes. Dan begitu kain itu dibuka, wajah familiar yang paling disayanginya terlihat. Aisyah seketika terisak hebat. Dia hampir jatuh kalau tidak ditahan oleh Alfin.


“Abi..” isak Aisyah. “Kenapa abi pergi meninggalkan Aisyah sendirian?”


Aisyah terus menangis, memanggil nama Zakariya berkali-kali. Dia tidak percaya bahwa satu-satunya keluarganya telah pergi dipanggil Allah. Aisyah masih belum siap.


“Demi Allah, Aisyah belum siap Abi. Aisyah belum siap sendirian. Aisyah sama siapa kalau Abi tidak ada? hiks hiks, Abi bangun, Aisyah mohon. Hiks, Abi tolong bangun.” Aisyah terisak hebat. dia menggoyang-goyangkan tubuh Zakariya.


“Aisyah, tenanglah. Om Zakariya sudah tenang disana. Tidak baik bila kamu meragukan ketetapan Allah.” Ucap Alfin.


“Tapi Aisyah belum ikhlas, Alfin. Aisyah tidak punya siapa-siapa lagi selain Abi. Siapa yang akan melindungi Aisyah lagi? Siapa yang akan mengelus rambut Aisyah lagi? Siapa yang akan duduk menjadi saksi nikah Aisyah nanti? Aisyah belum sanggup sendirian di dunia ini.” isak Aisyah.


Di sisi lain, Kansha yang sedari tadi diam saja, seketika air matanya menitik. Dia berusaha menahannya, tapi entah kenapa rasanya tidak bisa. Rasanya hatinya sangat sakit. Rasanya, seperti dia ditinggalkan kembali.


“Mbak Kansha, bicara! Kenapa mbak diam saja padahal Abi sudah meninggal? Apa Mbak masih dendam pada Abi?” Tiba-tiba saja Aisyah menyudutkannya. Kasnha tersentak, semua mata menatapnya.


“Mbak, Abi sudah meninggal, apa mbak masih membencinya? Maukah Mbak memaafkannya?” tanya Aisyah dengan nada lebih memelan.


Kansha terdiam. Bibirnya gemetar hebat. tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Bibirnya mendadak kelu.


“Mbak, Aisyah mohon, bicaralah sepatah kata pada Abi. Karena mbak tidak akan melihat rupanya lagi untuk selamanya. Bicaralah sebagai putrinya.” Mohon Aisyah.


Kansha masih terdiam. Sedangkan Alan dan Alfin tersentak kaget. Mereka saling berpandangan, tak menyangka akan mendengar pernyataan yang mengejutkan dari Aisyah.


“Jadi kamu Azzahra?” tanya Alfin tak percaya. “Jadi selama ini aku membicarakan Azzahra itu pada orangnya langsung?” dia menutup mulutnya sendiri karena syok.


Kansha tak menjawab. Dia malah mendorong kursi rodanya mendekati ranjang berada di samping Aisyah. Perempuan itu menunduk sesaat lalu mendongak. Menatap wajah pucat Zakariya yang matanya terpejam damai.


“Aku—“ Kansha tiba-tiba berhenti. Bibirnya lagi-lagi gemetar hebat. Begitupun dengan tangannya hingga dia harus menahan tangannya sendiri.


“Kenapa? Kenapa kau tidak mencariku lagi? Apa aku tidak berharga bagimu? Kenapa kau meninggalkanku lagi? Apa kau tidak akan meminta maaf padaku dulu? aku bahkan tidak tahu harus merasakan apa. Semuanya campur aduk. Aku kecewa, marah, benci, sedih tapi aku juga senang. Setelah sekian lama, aku menemukan orang tua kandungku sendiri. Meski pada akhirnya aku harus menerima kenyataan pahit bahwa kalian tidak lagi menginginkanku. Aku datang ke makam ibu kandungku. Kenapa? Itu adalah pertanyaan yang juga kutanyakan padanya. Kenapa, bu? Kenapa, yah? Kenapa aku harus menderita seperti ini? kenapa ketika aku sudah mendapatkan keinginanku, semuanya malah pergi? Kenapa aku kembali ditinggalkan? KENAPA?!” Kansha langsung terisak hebat. Alan mengelus bahunya menenangkan Kansha yang tengah emosi.


“KENAPA AKU HARUS MENDERITA? KENAPA AKU TIDAK BISA BAHAGIA?” seru Kansha. “Kenapa kalian seperti ini padaku? Apa salahku pada kalian sebenarnya. Apa dosaku, Ayah? Apa aku tidak pantas hidup? Kenapa cobaan selalu datang padaku?” nadanya melemah seiring tangisannya yang makin dalam. Di sisi lain, Aisyah hanya terdiam dengan suara isakan kecil.


“Kamu tidak boleh pergi sebelum menjelaskan padaku, Ayah. Kenapa kamu tidak mencariku lagi? Kenapa kamu mencoretku dari kartu keluargamu? Apa aku bukan anakmu lagi? Aku ingin mendengar semuanya darimu tapi kamu curang. Kamu pergi tanpa meninggalkan penjelasan. Aku tak ingin melepasmu pergi sebelum menjelaskan semuanya, tapi aku tak ingin kamu menyesal disana. Aku harus memaafkanmu, benar kan? Tapi apa yang kudapat setelah memaafkanmu? Apa kamu akan datang ke mimpiku?”


Hening sesaat lalu desahan keluar dari Kansha. “Aku memang kecewa, aku memang benci dan aku sangat marah. Pada kalian yang telah menggores luka amat dalam padaku. Tapi aku tidak ingin egois. Kalian berhak hidup baik disana. Jadi aku memaafkanmu dan juga melepasmu pergi. Tolong sampaikan salamku pada ibu, katakan bahwa aku—“ Kansha tak bisa meneruskan ucapannya. Air mata yang susah payah dia tahan, akhirnya jebol. Dia memalingkan mukanya karena terisak. Aisyah mengelus pundaknya lembut agar Kansha kembali tenang.


Setelah tenang, Kansha kembali menatap Zakariya, “Katakan padanya, bahwa aku tetap menyayanginya sepanjang sisa hidupku. Aku juga berjanji bahwa aku akan hidup dengan baik. Aku akan menjaga Aisyah dengan baik. Tapi kalian juga harus bahgaia disana. Katakan pada Tuhan, bahwa aku sudah memaafkanmu. Aku tak ingin kamu menderita. Aku menyayangi kalian berdua. Aku—amat sangat menyayangimu, Ayah, Ibu.” Dan Kansha kembali menangis hebat. kini benar-benar menangis hebat hingga pundaknya bergetar. Kepalanya dia tumpukan pada pundak Aisyah yang juga menangis.


****


Usai suasana emosional itu, jenazah Zakariya langsung dibawa ke rumah duka. Karena sudah malam, jenazah hanya dimandikan dan dikafani saja. Baru keesokan paginya, ketika matahari telah terbit, jenazah baru dishalatkan dan dikebumikan.


Suara yasin menggema di seluruh ruang tamu Aisyah. Sedangkan Aisyah dan Kansha memilih menjauh dan duduk berdampingan di teras rumah.


“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Kansha dengan pandangan fokus kedepan.


Aisyah tak langsung menjawab. Dia malah menghela nafas berat.


“Aku tidak tahu, mbak.” Balasnya pelan.

__ADS_1


“Kamu ingin kuliah lagi?” tanya Kansha sembari menoleh pada Aisyah.


“Kuliah?” sahut Aisyah. Kansha mengangguk.


“Aku dengar, kamu harus cuti kuliah selama empat semester karena kesehatan umi yang tidak baik.”


“Tapi aku berhasil menyelesaikan studiku, mbak.”


“Itu sebabnya, apa kamu ingin kuliah lagi? Kuliah pascaserjana.”


“Apa mbak melakukan ini agar aku tidak menjadi beban untuk mbak? Apa ini cara mbak mengusirku secara halus?”


Alih-alih tersinggung atau marah, Kansha malah menggeleng dengan tenang.


“Ketika aku diusir oleh orang tua angkatku, saat itu duniaku seperti runtuh. Aku tidak ingin berada di Jakarta, karena disanalah orang tuaku juga tinggal. Rasanya tidak baik kalau menghirup udara yang sama. Saat itu, aku sungguh frutasi. Aku ingin melupakan semuanya. Menenangkan hatiku yang sedih. Tapi aku tidak punya cukup kekuatan melakukannya. Dan yang bisa kulakukan hanyalah bersembunyi di sebuah kefe kecil di pusat Jakarta. Meski aku tidak bertemu dengan kedua orang tuaku lagi saat itu, tapi wajah mereka terus wara-wiri di televisi. Dan kamu tahu bagaimana rasanya?” tanya Kansha sembari menoleh pada Aisyah.


“Rasanya sangat menyesakkan. Aku merindukan mereka, tapi mereka sudah terlalu jauh untuk kugapai. Dan aku tidak bisa melupakan mereka. Tapi aku bisa menenangkan diri. Dan caranya adalah dengan menjauh ke tempat yang tidak ada kenangan mereka.”


Aisyah terdiam mendengar pernyataan Kansha. Dari cerita dan nada Kansha, Aisyah langsung tahu bahwa saat itu hidup kakaknya tidak mudah. Kakaknya sudah menanggung beban berat sejak dia belia.


“Sebenarnya, aku ingin sekali kuliah ke Turki. Aku pernah mengatakan ini pada Abi. Tapi itu belum kesampaian. Entah aku bisa menggapainya atau tidak.” Ucap Aisyah.


“Kalau begitu ini kesempatanmu. Kamu bisa gunakan ini untuk belajar sekaligus menenangkan diri.” Timpal Kansha.


“Tapi aku masih khawatir akan sesuatu.” Ujar Aisyah menatap Kansha.


“Apa?”


“Apa mbak tidak akan meninggalkanku, kan? Janji mbak pada Abi itu sungguhan, kan?”


Kansha seketika mengangguk. “Aku tahu rasanya ditinggalkan. Jadi aku tidak ingin kamu mengalaminya. Tenang saja, kamu tidak akan sendirian. Masih ada aku. Kapanpun kamu merasa sedih, merasa butuh teman yang mendengarkan keluh kesahmu, pintuku selalu terbuka lebar untukmu.”


“Tapi bolehkah aku, meminta sesuatu hal lagi?” sela Aisyah kini dengan tatapan penuh harap.


“Apa?”


“Bolehkah aku—“ Aisyah menjeda ucapannya karena merasa ragu. Dia khawatir Kansha akan marah padanya.


“Katakan saja.” Ucap Kansha.


“Bolehkah aku memanggilmu Kak Zahra?” pinta Aisyah dengan nada hati-hati.


Kansha terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dan hal itu membuat Aisyah menunduk. Dia mengerti.


"Terserah padamu." tandas Kansha acuh.


Aisyah yang lesu, mendadak sumringah. Dia tersenyum senang pada Kansha.


"Terimakasih, kak..Zahra."


***


Di sebuah kamar yang temaram, Kansha sedang bersandar pada pundak Grace. Tak ada pembicaraan apapun, dan Grace tahu bahwa Kansha sedang menenangkan diri.


"Aku sudah lama tahu bahwa Ok Zakariya adalah ayahku." celetuk Kansha tak lama.

__ADS_1


Grace tak menanggapi, dia membiarkan putrinya bercerita lebih lama.


"Aku senang, tapi sekaligus kecewa. Aku mendengar percakapannya dengan Aisyah. Mereka tidak mencariku bahkan menghapusku dari kartu keluarga seakan-akan aku telah tiada. Saat itulah aku mulai membencinya."


"Lalu, aku datang ke makam ibu kandungku, dan aku menanyakan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan. Kenapa? Aku ingin tahu kenapa. Aku ingin tahu apakah di hati mereka ada sedikit saja cinta padaku atau tidak? Tapi satu-satunya orang yang bisa kutanyai juga telah tiada."


Setelahnya, Kansha menghela nafas pelan.


"Kamu menyesal karena tahu masa lalu mu?" tanya Grace setelah lama terdiam.


Kansha menggeleng, "Aku tidak menyesalinya."


"Kalau begitu hilangkan semua prasangkamu. Kadang, pertanyaan yang tak terjawab, jauh lebih baik. Kalau kamu tetap menginginkan jawaban, maka instingmu adalah jawaban yang benar."


"Instingku mengatakan bahwa mereka memiliki alasan mengapa harus seperti itu."


"Kalau begitu, itu adalah jawabannya. Jangan terlalu difikir dalam-dalam. Semuanya juga hanya masa lalu, akan lebih baik kalau kamu menganggap itu semua sebagai bagian hidupmu yang berharga. Tapi jangan sampai memengaruhi masa depanmu."


"Ma." panggil Kansha.


Grace menoleh, dan menatap putrinya dengan pandangan tanya.


"Aku tetap putri mama kan?"


Grace tersenyum. Dia memegang kedua pundak Kansha dengan lembut.


"Sampai kapanpun kamu tetaplah putri mama."


***


Pagi tiba, dan pemakaman pun akan dilangsungkan. Sejak awal di shalatkan, Kansha menunggu di mobil. Lukanya kembali berdenyut, jadi dia memilih beristirahat dulu di dalam mobil.


Sedangkan Alan, Alfin dan Aisyah selalu setia di samping jenazah dan melalui berbagai rangkaian proses. Aisyah juga nampak tegar tak seperti semalam. Matanya juga tak lagi bengkak meski isakan kecil masih terdengar di mulutnya. Tak keluarganya yang datang. Sepertinya mereka masih kecewa atas tindakannya dulu. Dan yang menemani Aisyah hanyalah bunda saja.


Kini mereka akan mengantarkan Jenazah pada peristirahatan terakhir. Aisyah makin emosional kala melihat lubang tempat jenazah ayahnya akan disemayamkan terbentang lebar di depannya.


Alan, Alfin dan ayah bertugas menguburkan Zakariya. Mereka sudah masuk ke liang kubur. Jenazah Zakariya pun diturunkan ke liang lahat dan Aisyah makin terisak hebat. Sedangkan Kansha yang melihat dari kejauhan juga tak bisa menahan tangis. Dia menangis di balik kacamata hitamnya.


Zakariya sudah dikuburkan. Dan hanya beberapa kerabat Zakariya yang masih ada. Setelah itu mereka pulang daj meninggalkan Aisyah, bunda, ayah, Alan dan Alfin di pemakaman. Kansha juga belum siap mendekat. Dia masih melihat di kejauhan bersama Grace dan Andrian.


"Kak Zahra!" panggil Aisyah.


Kansha bergeming. Lalu Grace yang berinisiatif memapah Kansha yang masih lemah mendekat. Andrian juga menemani istri dan anaknya.


"Yang sabar ya sayang. Bunda sudah dengar semuanya." ucap bunda mengelus bahu Kansha pelan.


"Terima kasih bunda." lirih Kansha mencoba tersenyum.


Kansha lalu berusaha berjongkok dengan susah payah. Tapi kakinya yang retak, masih sakit alhasil dia malah jatuh terduduk.


Kansha lalu meminta kelopak bunga yang digenggam Aisyah. Aisyah memberikannya. Kansha pun menaburkan bunga ke makam Zakariya.


"Semoga ayah tenang disana dan bertemu ibu. Jangan khawatir soal Aisyah, aku akan menjaganya dengan baik hingga dia menemukan pasangannya." ucap Kansha.


"Abi, semoga Abi tenang disana ya. Kak Zahra sudah memaafkan abi dan kita semua. Aisyah tahu abi terkena syok jantung karena Aisyah yang mendadak mengatakan soal kebenaran Kak Zahra pada Abi. Maafkan Aisyah bi yang tidak memikirkan resikonya. Abi pasti bahagia karena akhirnya Abi akan menemui Umi yang telah menghadap Sang Pencipta lebih dulu." ucap Aisyah.

__ADS_1


"Aisyah menyayangi Abi dan juga Umi."


Dan angin pun mulai berhembus kencang. Bunga-bunga kamboja putih yang melingkupi makam Zakariya dan istrinya berguguran. Langit juga seketika cerah dan lebih terang benderang. Cahaya hangat matahari pagi memberikan ketenangan pada hati yang diselimuti duka karena ditinggalkan.


__ADS_2