
"Sha, kamu mau makan tidak?” tawar Nana. Kansha hanya menggeleng dalam diam.
“Mau keluar jalan-jalan? “ Tawar Nana lagi. Kansha kembali menggeleng.
Nana menghela nafas pelan, “Sha, aku tahu ini sulit dan berat untuk kamu. Tapi kamu jangan kayak gini ya. Aku sedih melihatmu seperti mayat hidup.” ujar Nana sendu.
Kansha menoleh pada sahabat terdekatnya itu. Ini memang bukan seperti dirinya. Seputus asa pun dirinya, seberat apapun masalahnya, Kansha tidak pernah punya pemikiran mengakhiri hidupnya sendiri. Dia masih ingat dosa. Namun entah mengapa, begitu mendengar nama Kania disebut oleh mamanya, Kansha merasakan sebuah emosi. Emosi penyesalan dan rasa bersalah amat dalam pada mendiang kakaknya itu. Padahal ia tidak pernah merasakan perasaan menakutkan ini ketika orang lain menyebut nama Kania, tetapi ketika namanya disinggung oleh sang mama, dirinya menjadi kehilangan kendali.
“Na, temani aku ke taman. Aku ingin menghirup udara segar.” Kata Kansha pelan. Nana tersenyum sumringah, akhirnya Kansha mau berbicara juga.
“Baiklah, nona Kansha. Nana yang cantik ini akan menemanimu jalan-jalan. Let’s go!” Nana mendorong kursi roda Kansha dengan ringan.
Sesampainya di taman rumah sakit, Nana duduk di salah satu kursi taman dengan Kansha yang masih di kursi roda. Banyak anak-anak kecil berbaju pasien tengah bermain, entah bersama orang tuanya atau para perawat. Senyuman polos mereka memberi kekuatan pada Kansha.
“Lihat, Sha. Anak-anak kecil itu masih bisa tersenyum bahagia meski didera sakit ya. Aku merasa sungguh salut.” Celetuk Nana takjub.
Kansha mengangguk, “Ya, mereka lebih tangguh dibanding orang dewasa sepertiku.” Timpal Kansha lirih.
Nana beranjak dari duduknya dan berjongkok di depan Kansha. Dia tersenyum lembut sembari memegang tangan Kansha. Nana menatap sendu pada perban yang melingkar di pergelangan tangan Kansha kemudian berkata, “Kamu pasti bisa. Kamu adalah orang tertangguh yang pernah kulihat di dunia. Sebelum-sebelum ini, kamu mampu menjalani hari-hari yang berat dan aku yakin saat ini dan nanti, kamu masih mampu. Aku yakin.” Ujar Nana tersenyum.
Air mata Kansha menetes. Dalam hatinya, tak hentinya ia mengucap terima kasih karena sudah diberi sahabat terbaik seperti Nana.
Drrt
Pembicaraan mereka terputus ketika ponsel Nana bergetar. Nana mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan mengangkat telfon. Rupanya atasannya di kantor yang menelponnya.
“Tapi saya udah minta cuti hari ini pak.”
“....” perkataan di seberang telfon membuat Nana mengalihkan tatapannya pada Kansha.
“Tapi pak, hari ini saya beneran tidak bisa.”
“.....”
“Tapi pak—“
“Pergilah Na. Tidak apa-apa.” Sela Kansha pelan. Nana menoleh pada Kansha. Dia menutup layar ponselnya menggunakan tangan dan menjauhkannya.
“Tapi Sha, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian disini. Orang tuamu sedang ada urusan, bu Sari juga sedang ke luar kota. Lagipula aku sudah meminta izin cuti.” Tolak Nana.
“Tidak apa-apa. Sehari sendirian tidak akan membunuhku kan? Aku janji akan baik-baik saja.” Ujar Kansha menenangkan.
“Kamu yakin? Aku tidak mau mengambil resiko kamu melakukan hal gila kayak kemarin.” Nana masih khawatir. Pasalnya kondisi Kansha masih belum stabil, baik fisiknya maupun mentalnya. Nana tidak mau Kansha kenapa-kenapa lagi.
Kansha mengangguk, “Aku tahu tentang kekhawatiranmu tapi tenang saja, aku tidak akan melakukannya lagi.” Ucap Kansha yakin.
“Benarkah?” tanya Nana belum yakin.
Kansha kembali mengangguk, “Tentu, pergilah.” Ucap Kansha tersenyum.
Nana masih menatap Kansha beberapa detik sebelum ia mengalihkan atensinya pada telfonnya lagi.
“Iya pak. Saya akan tiba disana 15 menit lagi.” Ucap Nana pada orang diseberang telfon.
“....”
__ADS_1
“Baik, pak. Sama-sama.” Nana pun menutup telfonnya.
Nana mendesah pelan kemudian menatap Kansha. “Andai saja tidak ada masalah darurat, aku tidak mau meninggalkanmu sendiri.” Kata Nana kesal.
“Tidak apa-apa. Pekerjaanmu juga pentingkan, aku tidak mau menghalangi urusan mu.” Timpal Kansha.
“Baiklah, aku harus segera pergi. Ayo kuantar lagi ke kamarmu.” Nana beranjak bangun hendak melangkah ke belakang Kansha namun Kansha mencegahnya,
“Jangan.” Cegah Kansha.
“Kenapa?” tanya Nana bingung.
“Aku masih ingin disini.” Kata Kansha.
“Oh benarkah?” tanya Nana. “Kalau begitu kamu hati-hati ya. Jangan sungkan meminta bantuan atau memanggil perawat, mengerti?” lanjut Nana.
“Baik, Nona Nana.” Kata Kansha terkekeh geli.
Nana terkekeh geli. Setidaknya Kansha tidak semurung tadi. Dia mulai bisa tertawa kembali.
“Pergilah.” Usir Kansha.
Nana mencebik namun tak urung tersenyum, “Begitu urusanku sudah selesai, aku akan segera kembali.” Kansha mengangguk.
“Ingat, jangan lakukan hal bodoh dan gila kayak kemarin.” Pesan Nana.
“Aku mengerti. Kamu sudah bilang itu beberapa kali.” Ucap Kansha memutar bola mata, malas. “Pergilah. Hati hati ya.”
“Sampai jumpa.” Pamit Nana kemudian meninggalkan Kansha. Kansha terkekeh geli ketika melihat Nana berjalan namun sesekali menoleh ke arahnya. Nampak belum yakin. Kansha tersenyum ketika Nana kembali menoleh. Kemudian melambaikan tangannya.
***
Seorang lelaki muda berseragam dokter menghampirinya. Dia berdiri di hadapan Kansha yang asik melamun. Lelaki itu melambaikan tangan di depan wajah Kansha. Namun tak ada tanggapan apapun dari Kansha.
“Nona Kansha?” tegur lelaki itu. Kansha tersentak dan menatap kaget pada sepasang manik hazel didepannya. Wajah lelaki itu menampilkan senyum geli.
“Tidak baik melamun pagi-pagi. Apalagi di tempat seramai ini.” lanjut lelaki itu.
“Oh iya.” Kansha mengangguk canggung. “Ngomong-ngomong darimana kamu tahu—“
“Saya Alfin Adendra, adik Alan yang paling tampan.” Sela dokter itu dengan percaya diri.
“Oh, kamu adiknya Alan rupanya. Saya Kansha.” Sahut Kansha.
Alfin duduk di kursi taman, sebelahan dengan kursi roda Kansha, “Sudah tahu. Mas Alan banyak cerita soal kamu.” Timpal Alfin santai.
“O-oh.” Kansha mengangguk canggung.
Alfin menoleh pada Kansha yang duduk kaku, dia terkekeh geli. Ternyata Kansha tidak sesuai dugaannya, dia fikir Kansha orang supel yang mudah bergaul namun ternyata berkebalikan.
“Ngomong-ngomong, selamat. Kamu berhasil lolos dari maut meski kamu harus menderita dulu hidup bersama dengan kakakku sebulan penuh di pulau terpencil.” Ucap Alfin terkekeh.
“Terima kasih. Saya juga masih tidak menyangka. Tuhan masih baik pada saya.” Timpal Kansha.
“Bicara santai saja. Saya tidak gigit kok.” Kata Alfin ketika Kansha menjawab dengan nada formal dan kaku.
__ADS_1
Kansha menggigit bibirnya, malu. “Maaf. Soalnya aku terlalu terkejut dengan kedatanganmu tadi.” Aku Kansha.
Giliran Alfin yang menggaruk tengkuknya, “Ah, maaf soal itu. Aku memang sedikit agak jahil.” Ucap Alfin sambil menekan sedikit kata jahil pada nadanya.
“Tidak masalah.” Sahut Kansha.
“Oh ya, Kansha.” Panggil Alfin lagi.
Kansha menoleh pada Alfin, “Ada apa?” tanya Kansha.
“Boleh aku bertanya?”
“Kau tadi kan sudah bertanya.”
“Aish, serius.” Alfin berdecak.
Kansha tersenyum, adik Alan ini sedikit konyol rupanya. “Baiklah, apa yang mau kamu tanyakan?”
Alfin merapat pada kursi roda kansha dan menatap Kansha serius, “Kamu dan kakakku, tidak melakukan hal aneh saat terdampar kan?” tanya Alfin.
Kansha mengernyit, “Hal aneh seperti apa?”
“Seperti...aish kau tahulah.” Alfin memalingkan pandangannya, merasa malu.
Kansha terdiam. Hal aneh seperti apa yang sudah dia lakukan dengan Alan di pulau?
“Aku sungguh tidak mengerti.” Kansha menggeleng bingung.
“Kamu tahulah. Hal yang dilakukan..perempuan dan laki-laki...ketika di tempat...sepi.” kata Alfin dengan patah-patah.
Kening Kansha makin terlipat, “Hal yang dilakukan perempuan dan laki-laki di tempat sepi?” gumam Kansha berfikir. Tak lama kening Kansha mengendur. Bibirnya terkatup rapat dan menoleh terkejut pada Alfin yang duduk canggung.
“Maksudmu..” Kansha tidak meneruskan ucapannya. Dia menatap panik, “Tentu saja tidak! Ke-kenapa ha-harus melakukan hal itu.” Lanjut Kansha gugup.
“Ah. Jadi benar ya. Alhamdulillah.” Sahut Alfin lega. Berbanding terbalik, Kansha merasa malu. Pipinya berasa panas. Entah kenapa dia teringat kembali dengan sebuah kilasan percakapaannya dengan Alan di pulau tempo lalu.
Flashback On
“Makan makananmu. Malam semakin larut, kita harus segera tidur.” Ucap Alan ambigu.
Sedetik kemudian---
Kansha mematung. Alan juga menghentikan gerakannya yang sedang mengunyah. Pipinya serasa memanas. “Maksudku bukan dalam artian ‘tidur’. Kita hanya memejamkan mata, maksudku—aku dan kamu tidur terpisah.” Jelas Alan gugup. Pipi Kansha makin memanas, Alan tidak perlu menjelaskan sampai sedetail itu pula.
“O-oh.” Hanya itu tanggapan Kansha. Lalu mereka hening kembali mulai menyantap makanan mereka.
Flashback Off
Kansha bergidik ketika kilasan itu muncul di kepalanya. Saat itu dia merasa malu sekali. Padahal Alan hanya mengajak tidur bukan dalam artian seperti itu. Astaga.
“Kansha.” Tegur Alfin. Tangannya melambai di wajah Kansha yang malah melamun.
“Hah? A-apa?” Kansha terkesiap. Dia menatap Alfin yang mengernyit bingung. “Apa?”
“Kamu melamun lagi. Sudah kubilang jangan melamun.” Kata Alfin.
__ADS_1
Kansha mengusap tengkuknya, “Oh, aku hanya melamun sedikit.” Kata Kansha canggung.
“Kamu lucu ya ternyata pantas Mas Alan betah di pulau sebulan.” Ujar Alfin geli.