My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 39. Masokis Cinta


__ADS_3

Nana menghembuskan nafas pelan mendengar pembelaan Kansha. “Kansha, kamu menyukai Alan?” tanya Nana.


“Jujur saja.” Kata Nana sedikit mendesak. Dia menatap tepat ke manik Kansha yang kini berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat gugup di mata Nana.


“A-Aku..bagaimana mungkin aku menyukainya? Hahaha.” Elak Kansha, gugup. Dia memijat ibu jarinya pelan.


Nana tersenyum kecil, “Kita sudah bersahabat hampir enam tahun, aku tahu bagaimana kebiasaanmu ketika gugup atau berbohong. Kamu pasti akan memijat ibu jarimu dan menghindar dari tatapanku. Jujurlah, Kansha, jangan membohongi perasaanmu.” Desak Nana.


Kansha terdiam, “Lalu bagaimana denganmu? Kamu jelas-jelas menyukainya tapi malah menyodorkannya pada sahabatmu sendiri?” tanya balik Kansha. Gilirannya yang menatap Nana dengan intens. Nadanya sangat serius.


Nana tersentak mendengar lontaran pertanyaan yang menyerangnya balik. “Kamu tahu?” tanya Nana.


Kansha mengangguk, “Orang buta pun akan tahu kalau kamu menyukainya.”


Nana terkekeh kecil, “Bagaimana bisa orang buta tahu? Dia tidak bisa melihat.”


Kansha terkesiap ketika menyadari kekonyolannya, “Oh, maksudku, orang bodoh juga tahu kalau kamu menyukainya. Apapun itu. Kamu menyukainya tapi kenapa malah berusaha mendekatkannya padaku?”


“Karena dia menyukaimu, sesederhana itu.” Balas Nana.


“Sejak kapan kamu menyukainya?”


“Sejak pertama kali bertemu dengannya. Saat itu kakakku baru pertama kali membawa temannya dan disaat itulah aku jatuh hati padanya.”


“Dia tahu?” Nana menggeleng.


“Kenapa?”


“Aku tidak berani mengungkapkannya. Aku berfikir kalau aku memberitahunya, dan dia malah menolakku, hubungan kita tak akan seperti semula. Pasti ada jarak dan aku tidak suka itu. Jadi yang bisa kulakukan adalah melihatnya dari jauh dan mengaguminya dalam diam. Meski dia akhirnya malah menyukaimu, maka aku akan mendukungnya selama dia bahagia.” Jelas Nana terang-terangan.


Kansha mendesah dan menyandarkan dirinya di sandaran sofa, “Kamu terlalu banyak berfikir. Kalau kamu menyukainya, tunjukkan bahwa kamu menyukainya. Lagipula aku tidak bisa menerima cintanya. Aku tidak pernah memiliki bayangan masa depan dengannya.”


“Kamu serius?” tanya Nana. Kansha mengangguk.


“Kak Ruben terlalu dekat untukku bila harus menjadi suamiku. Dia tahu sangat banyak hingga aku tidak tahu harus menyimpan rahasia apa lagi.”

__ADS_1


Nana tersenyum kecil, ada rasa bahagia ketika mendengar pernyataan Kansha. “Tapi kamu harus mempertimbangkannya lagi. Bukankah bagus bila kamu menikah dengan orang yang sangat mengertimu?” tanya Nana.


Dia tidak kapok untuk menjodohkan Kansha dengan lelaki pujaannya. Mungkin bisa dibilang dia masokis, selalu mencari rasa sakit.


Kansha menoleh pada Nana, “Tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi.” Katanya.


Kansha lalu duduk tegak, “Baiklah, kita jangan membahas hal ini lagi. Jadi katakan padaku bagaimana hari-harimu dengan Kak Ruben?”


Nana seketika tersenyum, “Aku rasa saranmu tepat. Dia mengurusku dengan baik, memasakanku sarapan dan membantuku bersih-bersih. Meskipun seluruh koleksi wine ku dia ambil.” Jawab Nana dengan muka manyun di akhir kalimatnya.


“Itu tindakan yang benar. Kamu dan wine tidak bisa dipisahkan, sedikit-sedikit minum, sress sedikit larinya ke minum. Kamu dan kecanduanmu itu.” Omel Kansha menempelkan telunjuknya pada dahi Nana.


Nana melepaskan telenjuk Kansha didahinya kemudian mengusap dahinya pelan, “Masih lebih baik daripada aku ngedrug lagi. Kamu mau?”


Kansha memukul kepala Nana membuat Nana mengaduh sakit, “Sakit ih!” seru Nana.


“Awas saja kalau kamu berani! Akan kukirim kamu langsung ke rumah sakit jiwa.” Ancam Kansha. Nana seketika manyun.


“Ngomong-ngomong, kapan Kak Ruben pulang?” tanya Kansha lagi. Pasalnya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Ruben belum pulang sama sekali.


Lalu Nana menguap, matanya sudah sayu dan dia sangat mengantuk. Nana pun pamit tidur duluan sedangkan Kansha terjaga sebentar lagi, dia harus mencicil tesisnya.


Malam makin naik, namun Kansha masih tetap menulis tesisnya. Hingga suara kunci terbuka terdengar, Ruben masuk dengan jas yang tersampir di bahunya.


Ruben terkejut ketika dia menemukan Kansha tengah duduk dengan laptop dipangkuannya di ruang tamu. Ruben pun menghampiri Kansha.


“Kansha, sejak kapan kamu disini?” tanya Ruben.


Kansha menghentikan kegiatannya dan menatap Ruben, “Aku dari tadi sore, Nana merengek ingin agar aku menginap untuk menemaninya.” Jawab Kansha, “Oh ya Kak Ruben kenapa baru pulang?” tanyanya.


Ruben menghembuskan nafas pelan dan memijat pangkal hidungnya. Dia duduk dengan lesu di sofa. “Aku terpaksa lembur. Ada banyak masalah pada kasus yang sedang kutangani.” Jawabnya letih.


“Ada masalah apa?” tanya Kansha.


“Aku sedang menangani kasus besar, tapi masalahnya kasus itu mengalami kebuntuan. Aku sangat bingung. Ada banyak bukti yang mengarah pada klienku sedangkan bukti untuk kesaksian klienku sangat sedikit. Hingga kami mengambil jalan tengah untuk berdamai tapi dengan perjanjian prasyarat.” Jawab Ruben.

__ADS_1


“Lalu masalahnya apa?” tanya Kansha lagi. Dia masih belum mengerti tentang masalah yang dihadapi kakak tingkatnya ini.


“Perjanjian yang diberi oleh pihak lawan memberatkan klien kami.”


Kansha menutup laptopnya dan berfikir, “Kalau begitu bukannya mudah menjawabnya? Kakak tinggal minta satu klausa lagi atau kakak masukkan klausa rahasia tambahan yang berguna untuk melindungi klien kakak.” Saran Kansha.


Bagai mendapat durian runtuh, Ruben menoleh dengan terkejut. Dia baru terfikirkan hal itu sekarang. Kenapa dia tidak memikirkan itu dari dulu?


“Kansha, kamu benar! Astaga, kenapa aku tidak memikirkannya ya?” ucap Ruben senang.


Kansha tersenyum bangga, “Makanya jangan terus bergaul dengan seprofesi, kakak juga harus minta saran dari pihak luar, mungkin ide mereka lebih segar.”


“Terima kasih Kansha, kamu sangat pintar!” puji Ruben.


Ruben tersenyum senang lalu memeluk Kansha tanpa sadar. Kansha mematung dan tak membalas pelukan Ruben. Ruben yang tersadar segera melepaskan pelukannya.


“Maaf, aku tidak sadar memelukmu.” Ucap Ruben. Suasananya menjadi canggung.


“Tidak apa-apa.” Balas Kansha singkat.


Ruben lalu beranjak bangun. Dia masuk ke dapur lalu kembali ke ruang tamu dengan sebotol anggur dan dua gelas. Dia menaruhnya di meja.


“Hari ini aku bahagia, kamu mau menemani aku minum? Hanya segelas.” Pinta Ruben.


Kansha mengangguk, “Kalau Nana tahu, dia akan mengamuk. Kakak menyita semua anggurnya dan kakak malah disini minum-minum.” Kata Kansha tertawa.


Ruben terkekeh mendengarnya, “Iya, makanya diam-diam saja.” Ujarnya. Dia menuang minuman ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Kansha. Setelah itu dia kembali menuang untuk dirinya.


“Cheers?” tanya Ruben sambil mengangkat gelasnya.


Kansha tersenyum lalu mengadukan gelasnya dengan gelas Ruben, “Cheers.”


---------------------------


Terima kasih yang sudah membaca kisah ini hingga kini😊 Boleh minta kritik dan sarannya? jangan lupa like yaa! 😊

__ADS_1


__ADS_2