My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 47. 4 Ciri Orang Jatuh Cinta


__ADS_3

Ciri orang jatuh cinta padamu, pertama, dia akan cepat membalas pesanmu kurang dari sepuluh detik


Kansha termenung di ranjangnya. Dia memutar-mutar ponselnya, menimbang-nimbang apakah dia harus mengirim pesan untuk menguji Alan. Kansha berfikir lama kemudian memutuskan melakukannya.


Kansha


Kamu sudah tidur?


Setelah menekan tombol enter, Kansha menunggu dengan jantung berdebar. Dia mulai menghitung waktu.


“Satu—“


“Dua—“


“Ti—“


Ting


Kansha tersentak kaget ketika ponselnya berbunyi. Dia lekas membukanya dan ada pesan jawaban dari Alan.


Alan


Belum. Ada apa?


Kansha ternganga dan menekan ponsel ke dadanya. Jantungnya jadi tambah berdebar. Alan menjawab pesannya hanya dalam tiga detik. Mungkinkah Alan memang menyukainya?


Kansha


Kamu sangat cepat membalas


Kansha menekan tombol enter dengan hati berbunga-bunga. Lalu tak lama, pesan Alan kembali muncul. Kansha menebak-nebak, mungkinkah Alan akan menjawab—


Alan


Tentu aku harus membalas cepat, sedari tadi aku menunggu pesanmu


Kansha berguling-guling di ranjangnya. Bagaikan ada backsound jatuh cinta yang biasa ada di drama-drama dan taburan bunga di atas kepalanya, sebahagia itu hatinya. Dan—


Ting


Kansha tersadar dalam khayalannya. Dia membuka ponselnya dan pesan jawaban Alan muncul.


Alan


Aku memang tengah online. Aku sedang berdiskusi dengan rekan kerjaku.


Prangg


Bagaikan kaca pecah, buyar sudah khayalan Kansha. Memang realita tak seindah eskpetasi.


***


Ciri orang jatuh cinta padamu, kedua, dia akan diam-diam mencuri pandang padamu


Kansha dan Alan tengah bersantai dengan membaca buku di salah satu taman di dekat perumahan Kansha. Suasana sore itu amat damai dan menenangkan. Kontras dengan itu, Kansha tengah gelisah. Dia tidak fokus membaca bukunya.


Kansha berulang kali mencuri pandang pada Alan, mengintipnya melalui celah buku. Namun Alan bergeming, dia fokus membaca bukunya.


“Alan tidak mungkin menyukaiku.” Kata Kansha sedikit lega sedikit kecewa. Setelah itu fokus membaca bukunya.


Namun tanpa Kansha sadari, Alan mulai mencuri pandang padanya. Alan sudah selesai membaca buku dan diam-diam melirik Kansha yang tengah fokus pada bacaannya. Disisi lain, Kansha menyadari bahwa Alan mencuri-curi pandang padanya.


Kansha menoleh dan Alan pura-pura fokus membaca bukunya. Kansha kembali membaca buku dan Alan meliriknya lagi. Begitu seterusnya hingga Kansha menutup bukunya keras. Alan tersentak.


“Bisakah kamu berhenti mencuri pandang padaku?” tanya Kansha. Menyembunyikan senyumannya dengan pura-pura kesal.


“Aku tidak bermaksud melakukannya. Kufikir kamu sudah selesai membaca jadi aku memerhatikanmu kalau-kalau kamu selesai aku ingin mengajakmu makan es krim.” Tukas Alan.


Kansha mengedipkan matanya sekali, dan seketika dirinya ditarik kembali ke kenyataan.


“Ada apa?” tanya Alan ketika melihat gelagat aneh Kansha.


“Lupakan saja. Ayo makan es krim.” Alih Kansha beranjak berdiri.


***


Ciri orang jatuh cinta padamu, ketiga, dia akan memberikan segalanya padamu meskipun itu hal yang dia sukai

__ADS_1


Kansha dan Alan sedang berada di kedai es krim. Kansha memesan es krim vanilla sedangkan Alan memesan es krim favoritnya sepanjang masa, es krim stroberi.


Kansha dan Alan saling terdiam, sibuk dengan fikirannya masing-masing. Kemudian, pesanan mereka datang.


“Terima kasih.” Ucap Kansha. Kemudian pelayan itu pergi.


Kansha mulai menimbang-nimbang haruskah dia melakukannya. Tapi dia malu, namun demi menuntaskan misinya, dia akan menaruh malunya di bawah kakinya sesaat.


“Ekhem, Alan.” Panggil Kansha. Alan menoleh dan mengangkat alisnya, isyarat bertanya.


“Kufikir, es krim mlikmu terlihat enak. Maukah kamu memberikannya padaku?” tanya Kansha dengan ekspresi menggemaskan.


“Tapi kamu sudah memiliki es krim mu sendiri.” Tukas Alan bingung.


“Iya, tapi setelah kufikir-fikir, aku juga ingin makan es krim stroberi dan milikmu terlihat sangat enak.” Timpal Kansha.


Alan berfikir sebentar kemudian mengangguk. Kansha bersorak senang. Dia mengambil es krim milik Alan ke hadapannya.


“Terima kasih, Alan.” Ucapnya senang.


Alan tersenyum, “Sama-sama.” Katanya.


Ketika Kansha hendak menyendokkan es krimnya, saat itulah Alan memanggil pelayan lagi. Kansha menghentikan makannya dan menatap bingung. Lalu pelayan itu datang.


“Mbak, saya pesan es krim stroberi satu lagi.”


Saat itulah, rahang Kansha jatuh ke bawah kakinya.


***


Ciri orang jatuh cinta padamu, keempat, dia selalu ada untukmu


Kansha tengah berdiri di depan kantornya ketika hujan deras tiba-tiba mengguyur. Mana dirinya tak bawa mobil lagi. Jangankan itu, dia juga tak punya payung dan sedangkan seluruh pegawainya sudah pulang. Kansha bingung bagaimana caranya pulang karena sejak tadi ojek pesanannya juga terus dibatalkan.


Lalu Kansha teringat satu nama, Alan. Bagaikan bertemu oase, Kansha langsung menghubungi Alan. Dan bingo, Alan dengan cepat membalas pesannya.


Alan


Aku akan kesana sebentar lagi, kebetulan, aku juga sedang di jalan


Kansha membaca jawaban Alan dengan tersenyum-senyum sendiri. Astaga, Alan rela menjemputnya disaat hujan seperti ini, bukankah, ini pertanda bahwa Alan memang menyukainya? Lupakan soal tiga ciri-ciri sebelumnya. Nyatanya, Alan selalu ada untuk Kansha disaat kesulitan.


“Hujannya sangat deras, airnya hampir sebetisku ketika di gerbang masuk. Jadi aku meninggalkan mobilku dan berjalan kesini.” Kata Alan ketika sampai dihadapan Kansha.


“Kamu perhatian sekali, terima kasih karena sudah mau datang.” Ujar Kansha terharu.


Alan mengangguk sembari membuka kemejanya dan hanya tersisa kaus saja. Kansha mulai berspekulasi sendiri lagi, dirinya memang tengah kedinginan, mungkinkah itu untuknya? Tanpa sadar, Kansha lagi-lagi tersenyum-senyum sendiri.


“Kansha? Kansha?” tegur Alan ketika Kansha melamun sembari tersenyum sendiri.


Kansha terkesiap dan menatap Alan berbinar-binar, “Iya Lan?”


“Ayo pulang, hujannya makin deras.” Ajak Alan, Kansha mengangguk dan bersiap untuk adegan romantis ditengah hujan.


“Ini.” kemudian, bagaikan tayangan yang jeda sesaat, Kansha mematung. dihadapannya, Alan tengah mengulurkan payung tadi.


“Ini maksudnya apa?” kini tayangan kembali diputar, dengan menampilkan raut Kansha yang bingung. Dia menerima payung itu.


“Payung untukmu.” Tandas Alan. “Ayo.” Kata Alan sembari menaruh kemeja itu diatas kepalanya.


Kansha menganga. Dia sudah berspekulasi hal romantis sedangkan kenyataannya semenyedihkan ini? Apakah Alan tidak peka atau memang tidak tahu. Latar hujan, di tempat yang hanya mereka berdua, dan sebuah payung, bukankah itu adalah elemen-elemen pendukung adegan romantis? Memang, terkadang imajinasi bisa semenakutkan ini.


“Ada payung, kenapa kamu harus menggunakan kemejamu?” tanya Kansha.


"Aku tidak membawa payung lagi. Jadi itu untukmu saja.” Jawab Alan.


Kansha mendesah pelan, dia lalu memakai payung dan mendekat pada Alan.


“Ayo jalan.” Kata Kansha kemudian menarik tangan Alan. Mereka menembus hujan dengan payung yang sama.


Kalau tidak bisa mengalami adegan romantis ya ciptakan saja sendiri.


***


Nana sedang berada di sebuah toko kue. Hujan-hujan begini rasanya menenangkan bila dinikmati dengan secangkir teh hijau dari pelayan toko. Saat ini, Nana memang tengah menunggu pesanan kue ulang tahun.


Omong-omong, kue ini bukan untuknya melainkan untuk Ruben. Lelaki itu akan bertambah usia ke dua puluh sembilan, dua hari lagi. Jadi Nana ingin menyiapkan kejutan ulang tahun apalagi tahun ini adalah tahun terakhir Ruben di usia dua puluhan jadi harus dirayakan dengan baik.

__ADS_1


Kemudian pesanan Nana sudah selesai. Setelah mengucap terima kasih dan membayar, Nana hendak melangkah keluar toko. Namun dirinya malah ditabrak seseorang hingga kuenya jatuh.


Brak


“Sorry.” Kata orang itu.


Nana menjerit kecil ketika kotak kue itu jatuh. Dia membuka kotaknya dan kuenya hancur. Nana menatap orang itu sengit yang ternyata adalah Alfin.


“Kamu lagi? Ini pertemuan ketiga kita dan kenapa selalu saja sial. Kenapa sih saya harus tabrakan mulu sama kamu? Harusnya saya dapat gelas cantik sekarang.” Omel Nana kesal.


“Bukan salahku juga. Lagipula, suruh siapa jalan tidak lihat depan. Dan nasibmu memang sudah jelek.” Timpal Alfin sedikit tertawa.


Wajah Nana merah padam. Dia menarik nafas dan seketika menangis kencang(?)


“Huaaa!! Mama! Kue ku hancur oleh lelaki tidak bertanggung jawab ini!!hiks mama hiks.” Nana menangis kencang yang mengundang perhatian pembeli lain. Alfin panik dan menutup mulut Nana namun Nana melepaskan bekapan Alfin.


“Tanganmu bau sekali! Iwhh.” Kata Nana mengeluarkan suara seperti muntahan.


“Eh, jangan salah. Tangan ini yang sudah menyelamatkan ratusan pasien di meja operasi. Pakai dihina lagi.” Timpal Alfin kesal.


“Aku tidak peduli, pokoknya ganti kue ku sekarang juga!”


“Tinggal beli lagi sana, counternya hanya berjarak lima langkah darimu.” Kata Alfin malas.


“Aku akan membeli ulang dan awas jika tidak dibayar!” kata Nana melotot. Alfin hanya mengendikkan bahu acuh.


Nana masih menatap sengit Alfin ketika hendak kembali memesan kue. Namun jawaban pelayan membuatnya merengut kembali.


“Memang tidak bisa lagi, mbak? Saya mohon, tidak apa menunggu lama asalkan tolong buatkan satu lagi.” Pinta Nana. Pasalnya pelayan itu tadi mengatakan bahwa mereka tidak bisa membuat pesanan kue lagi terutama kue yang nana pesan tadi karena sudah kehabisan bahan-bahan.


Alfin yang melihat Nana tengah memohon-mohon, langsung melangkah menghampiri.


“Buatkan saja dengan bahan-bahan untuk besok. Saya yang nanti akan bilang pada bunda.” Kata Alfin. Pelayan itu mengangguk dengan segan.


Seusai pelayan itu pergi, Nana menoleh pada Alfin yang kini sedang duduk acuh dengan bermain ponselnya. Nana pun langsung menghampiri.


“Kamu ada hubungan apa dengan pemilik toko ini? hingga pelayan tadi sangat segan denganmu.” selidik Nana.


“Hanya hubungan ibu dan anak.” Jawab Alfin singkat.


“Ibu dan anak? Jadi kamu anak pemilik toko ini?” pekik Nana. Alfin mengangguk acuh.


“Pantas dia mau membuatkanku kue lagi. Untung ada kamu.” Ucap Nana lega.


“Itu sebabnya Nona, jangan apa-apa marah-marah. Ini pertemuan ketiga kita dan kamu selalu marah-marah padaku.” Tukas Alfin menaruh ponselnya di meja.


“Siapa suruh kamu membuat marah duluan.” Timpal Nana menyalahkan.


“Wanita memang melelahkan. Sudah jelas, di awal bertemu kamu yang menumpahkan kopi ke sneliku, malah kamu yang marah-marah. Lalu di pertemuan kedua, kamu menyemburku dan menonjokku. Kamu marah-marah dan tidak minta maaf sekalipun.” Kata Alfin geleng-geleng kepala.


Nana terdiam. Dia memikirkan ulang kejadian demi kejadian ketika bertemu lelaki itu. Kalau difikir-fikir lagi, memang dirinya yang salah. Menumpahkan kopi dan menyembur Alfin. Nana pun menatap Alfin yang kini sudah asik lagi dengan game di ponselnya. “Yasudah, karena kamu sudah menolongku. Aku minta maaf padamu dan terimakasih juga sudah mau membantuku tadi.” Kata Nana pelan.


Alfin menghentikan permainan gamenya dan menatap Nana terkejut. Alfin fikir, dia salah dengar karena gamenya disetel dengan volume lumayan kencang. Namun perkataan Nana selanjutnya membuat Alfin tahu kalau ini bukanlah kesalahan tuli telinganya.


“Setelah difikir-fikir, aku memang yang salah. Bukannya minta maaf, aku malah memarahimu. Sebenarnya pertemuan kita selalu tidak di waktu yang tepat hingga aku kadang melampiskan emosi kepadamu.”


Alfin membasahi bibirnya pelan. Suasana hujan dengan backsound musik sedih sungguh tidak pernah ia harapkan. Apalagi ketika melihat Nana yang menunduk sedih. Yang kemudian di samping kepalanya ada emotikon T.T


“Aku juga minta maaf, aku juga salah.” Balas Alfin tidak enak.


“Tidak apa. Jadi kita berdamaikan?” tanya Nana. Alfin mengangguk.


“Oh ya, kita sudah bertemu tiga kali bahkan sudah saling adu mulut tapi aku belum tahu namamu.” Lanjut Nana. “Aku Adindra Anaya, Panggil saja Nana.” kata Nana mengulurkan tangannya.


“Sudah tahu.” Gumam Alfin. Dia sudah tahu siapa nama gadis didepannya ini. Itu karena dia yang mengadu pada Kansha hingga akhirnya tahu siapa namanya.


“Apa?” tanya Nana ketika Alfin bergumam.


“Tidak ada. “ sahut Alfin terkesiap.


“Jadi siapa namamu?” tanya Nana. Dia masih tetap mengulurkan tangannya. “Cepatlah, tanganku pegal.” Katanya dengan melirik tangan kanannya.


"Alfin Adendra.” balas Alfin memperkenalkan diri. Dia menerima jabatan tangan Nana.


"Tunggu, nama kita sama?" tanya Nana terkejut.


Alfin hanya mengendikkan bahu acuh.

__ADS_1


Sore hari itu, ditengah terbenamnya mega jingga, dua anak manusia yang sebelumnya bertikai kini berdamai dan saling berjabat tangan. Derasnya hujan yang tergantikan pelangi layaknya sebagai harapan agar pertemanan yang mulai dirajut itu berakhir indah.


__ADS_2