My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 69.


__ADS_3

Keesokan harinya, suasana mendung menyelimuti Desa Mauri. Sejak semalam, tak ada satupun yang tidur. Semuanya terjaga dengan perasaan sedih menggelayut dada mereka. Hingga sebuah sirine dan rombongan mobil SUV membelah jalan terjal menuju Desa. Orang-orang berpakaian tentara dan seragam oranye keluar satu persatu. Pak Mari dan Alfin menyongsong mereka sebagai perwakilan.


"Saya turut berduka cita atas musibah ini." ucap Kapten Resky.


"Terimakasih sudah mau datang membantu kami." timpal Pak Mari.


"Sama-sama pak, Maafkan saya karena datang terlambat, kami tidak bisa langsung ke lokasi kejadian dikarenakan sangat berbahaya mengemudi di malam hari. Juga menghindari resiko gempa susulan dan longsor."


"Saya mengerti." angguk Pak Mari.


Kemudian tatapan Kapten Resky teralih pada Alfin. Dia menjabat tangan Alfin dan Alfin membalasnya. Mereka pun saling bertukar nama.


"Sangat kebetulan ada tim medis disini. Kedepannya saya meminta bantuannya." ucap Kapten Resky.


"Saya harap kami bisa membantu sebanyak-banyaknya."


Kapten Resky mengangguk, "Kita akan mulai pencarian di reruntuhan. Kira-kira ada berapa warga yang terjebak?"


"Menurut perkiraan kami sekitar tiga puluh orang. Rata-rata adalah perempuan dan lansia." jawab Alfin.


"Baik, kita akan mulai pencarian. Untuk warga lainnya silakan ikuti beberapa anggota kami untuk tinggal sementara di pengungsian."


Setelah itu, Kapten Resky langsung memerintahkan anak buahnya untuk mulai mencari. Mereka menggunakan katrol untuk mengangkat benda besar seperti batu. Kemudian mereka juga mencangkul tanah dengan manual. Semuanya dilakukan manual, karena mobil pengangkut dan eskavator tidak bisa masuk desa.


Bahu membahu para TNI dan tim SAR mencari jejak para korban dibalik reruntuhan. Desa telah menjadi lautan tanah dan rumah yang runtuh. Sedangkan tim Alfin juga bersiaga menyelamatkan para korban yang terluka. Disisi lain, seperti kata Kapten Resky, para warga yang selamat diungsikan lebih dulu ke pengungsian. Warga yang tinggal hanyalah Pak Mari dan beberapa laki-laki dewasa saja. Mereka juga turut membantu evakuasi.


"Ada warga yang terluka!" teriak salah satu anggota Tim SAR.


Alfin dan Nana langsung berlari ke sumber suara. Begitu sampai, seorang perempuan terbaring di atas brangkar dengan tubuh berbalut tanah nampak terluka dan kelelahan. Rambutnya acak-acakkan dengan darah mengalir dari sisi kanan pelipisnya. Alfin pun langsung mengecek nadi perempuan itu.


"Detak jantung normal. Dia hanya mengalami cedera otak ringan. Kita harus bawa dia ke tenda pengobatan." kata Alfin.


"Tolong! Ada korban lagi!" teriakan seorang anggota TNI memecah konsentrasi Alfin. Alfin dan Nana saling berpandangan.


"Kamu kesana saja. Korban ini akan aku tangani." kata Nana.


"Kamu yakin?" tanya Alfin ragu. Pasalnya meski Nana sudah sering menjadi relawan, akan tetapi dia tetap ragu apakah Nana memiliki kemampuan medis apa tidak. Salah-salah akan berisiko fatal pada korban.


"Kamu tenang saja. Aku pernah melakukannya." ucap Nana memberi keyakinan.


Alfin pun mengangguk, dia segera membereskan peralatannya dan berlari pergi.


Nana melihat Alfin yang terus menjauh hingga hilang dari pandangannya. Setelah itu, Nana kembali fokus pada korban.


"Dia harus diobati di tempat lebih steril. Kita ke posko saja." kata Nana.


Di sisi lain, Alfin pun mendekati anggota TNI yang membawa brangkar berisi korban lain. Kali ini cederanya cukup parah. Alfin pun segera memeriksanya.


"Dia mengalami cedera otak yang cukup serius. Sepertinya dia terbentur sangat keras." kata Alfin.


"Jadi bagaimana dok?"


"Kita perlu pemeriksaan lebih lanjut. Kita segera bawa korban ke posko."


Anggota TNI itu mengangguk. Mereka lun bersama segera berlari ke posko.


Di Posko, keadaan sangat riuh. Suara rintihan dan kesakitan para korban amat menyayat hati. Selain itu, tim medis sangatlah sibuk. Mereka memasang infus di setiap tangan korban. Di sudut, ada Nana yang sedang mengobati satu pasien. Dia amat fokus menyuntikkan cairan IV ke cairan infus.


Korban yang tadi di letakkan di brangkar lain. Alfin pun segera memasang infus dan memeriksa pasien.


"Bagaimana Fin?" tanya Nana yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


"Dilihat dari benturan dan lukanya, dia mengalami cedera aksonal difus." kata Alfin.


"Cedera apa?" tanya Nana mudeng.


"Aksonal difus atau bisa dibilang salah satu kerusakan otak yang berbahaya. Cedera aksonal difus adalah dampak benturan kepala yang tidak menyebabkan terjadinya perdarahan, tapi tetap memicu kerusakan pada sel-sel otak." jelas Alfin.


Nana hanya mengangguk-angguk meski tidak mengerti.


"Dia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif atau kalau tidak..akibatnya akan sangat fatal." kata Alfin.


"Fin, kita tidak bisa pergi. Bagaimana caranya pergi sedangkan akses jalan sangat sulit? lagipula jarak desa dengan kecamatan terdekat itu jauhnya dua puluh lima kilometer." tukas Nana.

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Kita akan membiarkannya saja?" Alfin bertanya dengan nada tak suka.


"Bukan begitu. Begini saja, kamu lakukan pengobatan apapun untuk menimalisir resikonya. Dan aku akan bertanya pada para TNI apakah kita bisa ke kota untuk membawanya ke rumah sakit." saran Nana.


Alfin mengangguk, "Baiklah kalau begitu." nana pun bangkit dan meninggalkan Alfin.


***


Kansha sampai di rumah sakit yang dialamatkan Alan. Kansha pun berjalan menuju kantin rumah sakit. Alan yang menyuruhnya bertemu disana.


Sampai di kantin, Kansha celingak-celinguk mencari keberadaan Alan namun sepertinya lelaki itu belum datang. Kansha pun duduk di salah satu kursi dan menunggu Alan.


Kansha mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan pada Alan bahwa dia sudah sampai.


Alan


Aku kesana.


Tak lama, Alan datang. Kansha bersiap menyambut Alan. Senyumnya mengembang namun tak lama kembali luntur. Sebab Alan ternyata tak sendiri, dia bersama Aisyah yang memakai kursi roda dan tengah didorong Alan. Mereka menghampiri Kansha.


Begitu mereka mendekat, Kansha kembali tersenyum meski sangat tipis.


"Maaf, aku menyuruhmu datang kesini." kata Alan dengan nada tak enak.


Kansha tersenyum dan hendak membuka suara. Namun Aisyah memotongnya.


"Maaf ya mbak Kansha. Aku sedang sakit dan mas Alan menjagaku dari kemarin. Jadi kalian hanya bisa bertemu disini." kata Aisyah dengan nada merasa bersalah. Namun dalam artian Kansha, dia sedang diejek.


"Tidak masalah. Lagipula seharusnya aku yang meminta maaf karena meminta bertemu di saat kamu sedang sakit." timpal Kansha pura-pura biasa saja.


Alan berdeham singkat, "Jadi ada apa hingga kamu meminta bertemu?" tanya Alan mengalihkan pembicaraan.


"Oh itu.."


"Mbak harus punya alasannya kenapa ingin bertemu dengan Mas Alan. Atau jangan-jangan mbak iseng saja?" tuduh Aisyah dengan nada lembut yang amat menjijikan kini di telinga Kansha.


"Aisyah." tegur Alan.


Kansha berdecih dalam hati. Dia berusaha menenangkan perasaannya yang merasa amat jengkel pada Aisyah. Dia fikir, Kansha itu perempuan murahan apa.


"Silakan, siapa yang melarang mbak bicara memangnya." ujar Aisyah tak tahu malu.


Kansha tersenyum lebar menutupi kodongkolannya pada calon istri Alan ini.


"Alan, kamu sudah melihat berita?" tanya Kansha menoleh pada lelaki itu.


"Berita? Berita apa?" tanya Alan bingung.


"Kusimpulkan kamu belum melihatnya." ujar Kansha. Dia lalu mengambil ponselnya dan mengotak-atiknya sebentar. Kemudian ponsel miliknya dia serahkan pada Alan.


"Ini.." Alan melihat saksama sebuah tayangan yang menampilkan berita terkini soal gempa bumi malam kemarin.


"Maksud mbak itu apa? Sekadar informasi, Mas Alan tidak suka melihat berita jadi kalau mbak datang karena ingin membicarakan berita itu, maaf saja aku bisa bilang mbak sia-sia datang." kata Aisyah dengan nada mengejek dan merendahkan di telinga Kansha. Tapi anehnya, bagi orang awam, mungkin nada Aisyah sangatlah lembut dan tulus.


"Sudah saya bilang, tolong jangan potong pembicaraan saya." kata Kansha dengan dingin.


"Aisyah." Alan kembali menegur Aisyah. Aisyah pun menutup mulutnya meski dalam hati sangat kesal.


"Jadi maksudmu?" tanya Alan.


"Kamu sudah melihat beritanya kan. Itu gempa yang terjadi malam kemarin di salah satu kecamatan yang ada di Kalimantan Barat. Dan usut punya usut, Alfin ada di daerah gempa tersebut." kata Kansha.


Alan dan Aisyah terkejut. Terutama Alan yang kini menuntut penjelasan lebih.


"Mbak! Jangan asal bicara. Mbak bicara hal seperti itu bagaimana kalau kenyataan dan Alfin celaka?" seru Aisyah marah.


"Saya tidak becanda, kamu fikir saya orang yang tidak berpendidikan hingga membuat lelucon konyol seperti itu?" sahut Kansa tak terima.


Aisyah kembali membuka mulut, "Tapi jelas-jelas mbak--"


"Aisyah diam." tiba -tiba Alan memotong ucapan Aisyah.


"Mas Alan, tapi mbak Kansha sudah--"

__ADS_1


"AKU BILANG DIAM!" bentak Alan keras.


Bukan hanya Aisyah yang mematung kaget melainkan Kansha dan seluruh penghuni kantin pun ikut menarik nafas karena terkejut. Keadaan seketika hening.


"Mas Alan.." lirih Aisyah tak percaya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan dibentak oleh Alan.


Alan menoleh pada Aisyah yang menunduk ketakutan. Alan mendesah pelan. Dia sadar dia salah. Tak seharusnya dia membentak Aisyah.


"Maaf Aisyah, mas tidak sengaja. Mas terbawa emosi." kata Alan menyesal.


Kansha yang melihatnya hanya memalingkan wajah.


"Tapi mas tidak harus membentakku bukan?" lirih Aisyah. Air matanya hampir menitik.


"Maafkan Mas, Aisyah. Mas salah dan mas menyesal."


"Aku menunggu di ruang rawatku saja. Silakan kalian lanjutkan pembicaraan kalian." pamit Aisyah tiba-tiba. Dia pun memutar kursi rodanya.


"Aisyah! Tunggu, Aisyah!" panggil Alan. Namun Aisyah sudah berbalik pergi.


"Susul saja." titah Kansha pelan.


Alan yang tengah berdiri seketika berbalik menghadap Kansha. Dia menghela nafas dan kembali duduk.


"Kubilang susul kenapa malah kembali duduk?"


"Aku perlu mendengar penjelasanmu lebih lanjut. Jujur aku tidak tahu bahwa Alfin melakukan perjalan relawan disana." kata Alan.


"Aku juga baru sadar tadi pagi. Aku ingat kalau Alfin juga ada saat aku mengantar Nana ke bandara."


"Jadi bagaimana kondisi mereka?" tanya Alan dengan raut cemas.


"Tadi malam, Tim SAR bilang mereka akan menuju lokasi pagi ini. Karena saat malam, sangat berisiko ditambah akses yang sulit. Jadi ada kemungkinan saat ini mereka sedang melakukan evakuasi."


Mendengar hal itu, Alan pun mengambil ponselnya di saku celana jeansnya. Dia hendak menghubungi Alfin.


Maaf nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.


"Aku sudah mencoba menghubungi Nana sejak semalam dan ponselnya tetap tidak bisa dihubungi. Ada kemungkinan sinyal disana tidak ada." kata Kansha.


Alan pun dengan lesu memasukkan kembali ponselnya.


"Jangan khawatir, Mereka akan baik-baik saja. Kita serahkan semuanya pada Tuhan, semoga mereka baik-baik saja termasuk para korban bencana." kata Kansha menghibur Alan.


Alan mengangguk pelan meski hatinya belum tenang.


"Kansha aku minta bantuanmu, bila ada kabar apapun, tolong kabari aku." pinta Alan.


"Pasti." sahut Kansha mengangguk pasti.


***


Aisyah dengan lunglai memutar kursi rodanya. Dia menghembuskan nafas pelan.


"Mas Alan tidak mengejarku sama sekali." lirihnya.


"Aisyah!" panggil seorang wanita. Aisyah mendongak, matanya beradu pandang dengan Aura.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Aura begitu menghampiri Aisyah.


"Tidak ada." geleng Aisyah pelan. "Mbak Aura bagaimana bisa kesini?" tanya Aisyah.


"Sepupuku sakit, masa aku tidak menjenguk. Tadi aku sudah ke ruanganmu dan kamu tidak ada. Kata perawat, kamu berjalan jalan dengan Alan."


"Oh begitu.."


"Kamu kenapa sebenarnya? Kenapa rautmu kuyu sekali? Lalu dimana Alan?" tanya Aura celingak celinguk.


"Dia sedang bersama Mbak Kansha." jawab Aisyah pelan.


Aura membulatkan mataya, "Lalu kenapa kamu tidak disana? Kamu membiarkan mereka berdua saja?" tanya Aura tidak percaya.


"Tadinya aku disana, tapi Mas Alan membentakku gara-gara Mbak Kansha. Aku yang sakit hati memilih pergi."

__ADS_1


Aura terdiam sebentar. Dia lalu bangkit dan berdiri di belakang kursi roda Aisyah.


"Kita bicara di ruanganmu saja." katanya. Aura pun mendorong kursi roda Aisyah perlahan.


__ADS_2