My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 115.


__ADS_3

Setelah kedatangan Alan yang tak terduga dan ucapan Kansha yang tak terbukti kebenarannya, membuat suasana seketika jadi hening. Alan masih tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia hanya tahu bahwa ada ucapannya yang salah dan juga kehadirannya kini tidak dalam waktu yang tepat.


“Silakan masuk.” Ucap Andrian pada akhirnya.


Tanpa perlu repot-repot menunggu jawaban Alan, Andrian langsung saja masuk dan diikuti oleh Grace. Sedangkan Kansha belum beranjak pergi.


Usai orang tuanya masuk, Kansha mendekati Alan dan menatapnya penuh kekesalan.


“Ada apa?” tanya Alan bingung.


“Bagaimana bisa kamu datang begitu saja tanpa memberitahuku?!” lirih Kansha tapi penuh penekanan.


“Aku tidak tahu kalau yang membuka pintu adalah ayahmu lagipula bukankah kamu bilang semalam kalau orang tuamu akan datang hari jumat?” tanya balik Alan.


“Aku juga baru bertemu dengan mereka satu jam yang lalu! Mereka pulang mendadak tanpa mengabariku.” Jelas Kansha. “Sekarang bagaimana? Aku membicarakan soal pernikahan kita pada mereka dan tanggapan mereka kurang bagus.” Lanjutnya sebal.


“Apa maksudmu kurang bagus?” seru Alan terkejut.


“Mamaku khawatir soal kamu yang tiba-tiba saja langsung melamarku alih-alih pacaran dahulu. Mama juga tidak mengenalmu jadi dia tidak tahu kamu baik atau tidak. Terlebih lagi aku sempat mengatakan kalau kamu adalah orang yang sopan dan selalu memberitahuku kalau mau datang ker rumah. Tapi tadi...” Kansha tak melanjutkan ucapannya.


Alan mengerti sekarang. Pantas saja tatapan orang tua Kansha sangat datar padanya. Tapi bukankah mereka sudah saling mengenal? Agak aneh kalau mereka lupa pada sosoknya.


“Jadi apa yang harus kulakukan? Nilaiku dimata orang tuamu sudah anjlok.” Bisik Alan.


“Kalau itu kamu fikirkan saja sendiri. Aku sudah berusaha semampuku untuk mengangkat martabatmu di depan orang tuaku tapi kamu malah menghancurkannya.” Sahut Kansha kembali kesal.


Alan lalu diam sesaat lalu kembali berbisik, “Aku punya jurus jitu.”


“Apa?” tanya Kansha penasaran.


Alan lalu menatap Kansha, “Wajahku.” Tandasnya tanpa dosa.


***


“Bukankah acaranya masih tiga bulan lagi? Kenapa ribut-ribut dari sekarang?”


Alfin sedang senggang dan dia ditelfon oleh teman semasa kuliahnya dahulu.


“Ayolah, ini adalah acara paling istimewa. Kita harus menyiapkannya dengan baik.” Balas temannya di seberang telfon.


Alfin mendesah, “Terserah kamu saja. Asal ingat, jangan ada alkohol dan wanita di mejaku.” Ucapnya.


“Kamu kolot sekali sih pak dokter! Bukankah itu inti acaranya?” ujar temannya terkekeh.


“Kalau begitu aku tidak akan datang.” Tandas Alfin.


“Astaga, jangan ngambekan dong. Baiklah aku tidak akan menghadirkan alkohol dan wanita untukmu, puas?”


“Baguslah.”


“Tapi kamu ingat, kamu harus datang. Ini bukan hanya pesta reuni, tapi juga pesta persahabatan kita yang sudah terjalin sangat lama. Aku akan membunuhmu kalau kamu berani mangkir!” ancam temannya.


“Memangnya kamu berani?” tantang Alfin tenang.


Temannya itu terkekeh keras, “Aku berani hanya dalam mimpi. Sudah ya, aku tutup dulu.” pamitnya cepat.


“Kalau kamu sudah pamitan tanpa basa-basi itu berarti kamu sedang bersenang-senang.” Tebak Alfin tepat sasaran.


Suara kekehan lagi-lagi bergema di sebrang telfon, “Tentu saja! Aku bukan dirimu yang kolot dan terus bermeditasi dengan alat medis.” Ejeknya.


Alfin tak terpengaruh sama sekali, “Aku tutup.” Pungkasnya lalu lelaki itu langsung menutup sambungan tanpa menunggu balasan temannya.


“Dasar gila.” Gumamnya. Tapi segila apapun temannya, dia tetap temannya(?) benar, kan?


Drrt


Ponsel Alfin kembali bergetar, kini ada pesan masuk dari Kansha.

__ADS_1


Kansha


Kakakmu sungguh gila. Masa dia ingin merayu orang tuaku dengan wajahnya? Dikira dia pangeran apa?!


Inilah orang gila lainnya. Alfin tertawa membaca pesan Kansha itu. Kalau soal narsis, kakaknya memang nomor wahid.


Alfin


Wajah Mas Alan tampan makanya dia percaya diri. Dia jauh lebih gila perawatan dibanding lelaki pada umumnya. Tapi kamu tahu? Aku jauh lebih tampan dan segar dibandingnya.


Drrt


Kansha kembali membalas dan balasannya membuat Alfin tertawa makin keras.


Kansha


9IL4


****


Alan sudah duduk. Begitupun Andrian dan Grace yang juga duduk di depannya layaknya hakim. Suasananya hening dan dingin. Tak ada yang membuka suara hingga Kansha datang dengan satu nampan penuh berisi jus dan kue kering.


Kansha terlebih dahulu melirik eskpresi kedua orang tuanya lalu pelan-pelan menaruh nampan di atas meja.


“Diminum.” Lirihnya canggung.


Setelah itu Kansha hendak kembali ke dapur tapi suara Grace menghentikan niatannya ingin kabur dulu.


“Duduk.” Ucapnya. Kansha langsung duduk di samping Alan. kini mereka seperti layaknya sedang disidang.


“Kansha, benar ini calon suamimu?” tanya Grace sambil melirik Alan.


Kansha mengangguk cepat.


“Siapa namamu?” tanya Andrin pada Alan.


“Alandra? Saya seperti pernah mendengarnya.” Ucap Grace mencoba mengingat-ingat.


“Saya juga korban selamat dari pesawat jatuh yang juga terdampar bersama Kansha.” ujar Alan bantu mengingatkan.


Grace lalu mulai mengingat. “Ah saya ingat.” Serunya. “Kamu juga pernah menemani Kansha menggantikan saya yang harus ke menemui dokter, benar kan?” tanya Grace.


Alan mengangguk, “Iya bu. Itu saya.”


Kini wajah Grace berubah cerah. “Astaga, seharusnya saya bisa mengingatmu lebih awal. Maaf saya hampir lupa padahal wajahmu sangat tampan untuk bisa saya ingat seumur hidup.” Ucapnya dengan nada merasa bersalah.


Kansha yang mendengar nada berbeda dari ibunya seketika mengerutkan keningnya.


“Tidak apa-apa, tante. Saya memakluminya. Kita sudah tidak bertemu hampir setahun setelah kejadian itu.” tukas Alan sopan.


Grace mengangguk, “Jadi bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Grace seakan sudah melupakan niatan interogasinya tadi.


“Saya sudah baik-baik saja tante. Saya juga sudah kembali pada pekerjaan saya.” Jawab Alan.


Grace bertepuk tangan sekali, merasa sangat terkesan dan bangga pada Alan. “Kamu luar biasa.” Pujinya takjub. Kini kerutan di kening Kansha makin dalam. Ini ada apa sih sebenarnya? Dia tak habis fikir.


“Ekhem, kita kembali ke pembahasan sebelumnya.” Sela Andrian yang diangguki Kansha diam-diam.


“Putri saya sudah menjelaskan mengenai rencana pernikahan kalian. Katanya keluargamu juga akan datang menemui kami.” Ucap Andrian.


Alan mengangguk membenarkan, “Iya, om. Rencanannya hari minggu malam bila om dan tante tidak keberatan.” Jelas Alan.


“Oh tentu tidak keberatan. Kami menerima kalian kapan saja.” Serobot Grace sebelum Andrian sempat menjawab. Kini nadanya benar-benar berubah.


Alan tersenyum, “Terima kasih tante.” Ucapnya.


Kansha menyikut lengan Alan pelan lalu berbisik setelah mendapat tanggapan dari Alan, “Apa?” bisik Alan bertanya.

__ADS_1


“Kurasa jurus jitumu benar-benar efektif.” Bisik Kansha takjub.


“Sudah kubilang, cara menaklukan calon mertua adalah dengan ketampanan.” Bisik Alan lagi.


“Ekhem.” Dehaman Andrian membuat Kansha dan Alan menghentikan pembicaraan mereka. Dan fokus kembali ke depan.


“Saya mau meminta maaf atas ketidaksopanan saya karena saya tidak meminta izin untuk datang, niatnya—“


Grace menyela, “Oh tidak apa-apa. Bisa dimaklumi kok, apalagi kamu bawa bunga pasti mau memberi kejutan kan.”


Alan mengangguk patah-patah, “Iya, tante. Saya minta maaf.”


Grace melambaikan tangannya sekali, “Tak masalah. Kamu sudah sarapan? Mau sarapan disini?” tawar Grace.


“Saya sudah sarapan tante, terima kasih.” Tolak Alan halus.


“Yasudah. kalau begitu kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian. Mama dan papa ke atas dulu.” Grace langsung menarik lengan Andrian memaksanya untuk mengangkat bokongnya dari kursi.


“Pembicaraan apa?” sela Kansha bingung.


Grace masih berjuang menarik tubuh Andrian yang tiba-tiba saja jadi kaku itu. Suaminya ini terlihat jelas tak ingin meninggalkan ruangan meninggalkan putri tunggalnya berduaan saja dengan laki-laki.


“Apa saja, kalian akan menikah, kan? Bicarakan hal itu agar nanti ketika pertemuan keluarga, semuanya sudah beres dan kalian tinggal menikah saja.” Jawab Grace terengah-engah. Dia lalu menendang tulang kering suaminya.


“Aduh, ma!” seru Andrian kesakitan.


“Makanya bangun sendiri, susah amat.” Dengus Grace kesal.


“Papa tidak mau ikut mama. Papa akan disini mengawasi mereka berdua.” Tandas Andrian.


“Mereka bukan anak kecil, apanya yang harus diawasi?” seru Grace kesal.


“Siapa yang tahu? Meski dia istilahnya sudah saling mengenal dengan kita, tapi papa tetap curiga. Bagaimana kalau dia apa-apakan anak kita?” ujar Andrian menyelidik curiga pada Alan.


“Saya tidak akan berani melakukannya, om.” Balas Alan tersenyum tenang.


“Tuh, dengar sendirikan?! Wong orangnya ganteng, baik, sopan seperti itu masa punya fikiran mesum?” sahut Grace.


Tapi Andrian bergeming. Dia tetap duduk di kursinya tak peduli celotehan apapun Grace pada telinganya. Dia harus membuktikannya sendiri.


“Sudah, ayo bangun.” Ujar Grace kembali menarik lengan Andrian.


“Tidak mau.” tolak Andrian kukuh.


Grace sudah kehilangan kesabaran, dia lalu berbisik di telinga suaminya. Suaminya yang mendengarnya langsung bersinar dan segera beranjak berdiri.


“Saya belum memberikan restunya untuk kamu, ingat itu.” ujar Andrian tegas pada Alan.


Setelah mengatakan kalimat datar itu, Andrian langsung menatap Grace dan rautnya berubah seketika. “Ayo, ma.” Ajaknya semangat. Grace hanya memutar bola matanya, malas.


Setelah itu kini giliran Andrian yang menarik tangan Grace menuju lantai dua.


“Saya akan berusaha mendapatkan restu dari Anda!” seru Alan pada Andrian yang sudah berjalan pergi.


“Kamu tahu apa yang dibisikkan mamaku pada papa?” tanya Kansha sepeninggalan orang tuanya.


“Kamu tidak tahu?” tanya balik Alan menoleh pada Kansha. Kansha menggeleng polos.


Alan lalu menggerakan tangannya seolah-olah meminta Kansha mendekat. Kansha yang polos pun langsung mendekatkan tubuhnya. Alan lalu berbisik di telinga Kansha.


“Mamamu akan memberikan ‘jatah’ pagi.” Bisik Alan.


Kansha langsung menjauhkan diri. Dia lalu menatap kosong Alan, bingung dengan apa maksud ucapan Alan. Tapi kemudian Kansha tersadar, setelah itu dia tiba-tiba mengambil bantal sofa dan melemparkannya langsung ke wajah Alan dengan sekuat tenaga.


Bug


“Dasar Mesum!” pekiknya.

__ADS_1


__ADS_2