My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bonus Chap : Selamat Datang di Neraka


__ADS_3

Selamat Datang di Neraka


Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Alfin pada Alan ketika Kansha dinyatakan mengandung. Dan meski bahagia karena kabar itu, nyatanya Alan diam-diam ikut meringis.


Kalimat itu diucapkan adiknya bukan tanpa arti. Karena begitu sudah menginjak bulan ketiga kehamilan Kansha, Alan tak pernah tidur nyenyak sehari pun. Karena permintaan calon ibu dari anak-anaknya yang terus mengalir tak kenal waktu dan tanpa henti.


Dimulai dari meminta dibelikan ketoprak tengah malam, lalu berlanjut ke gado-gado subuh buta, hingga kelapa muda yang harus dipanjat sendiri oleh Alan di Ancol. Entah lelaki itu bisa menemukannya atau tidak. Karena nyatanya semua yang diidamkan Kansha tak pernah dimakan sedikitpun.


"Aku cuma ingin lihat kerja keras kamu saja." itulah jawaban Kansha.


Dan Alan rasanya ingin menggetokkan kepalanya ke tembok.


Dan pagi ini, keributan kecil dan terkesan sepele kembali terjadi.


"Aku yang akan masak hari ini. Seriusan." ucap Alan.


"Kamu mana bisa masak, sayang? Bikin sup saja asinnya naudzubillah." tukas Kansha tidak percaya. Dia teringat ketika mereka belum menikah, Alan memasakkan sup untuknya ketika sakit. Dan rasanya...Kansha berani tawar berapapun untuk tidak memakannya meski setetes pun.


"Sekarang aku bisa. Aku sudah tanya-tanya ke bunda jadi kamu tenang saja." balas Alan dengan tampang amat meyakinkan.


Kansha menggeleng tidak percaya. "Tanya sama praktek itu beda, Alan. Kamu tidak bisa dipercaya."


"Aku bisa. Kamu lihat saja nanti."


Kansha baru saja hendak membuka mulutnya kala tangan Alan sudah terangkat mengisyaratkan agar Kansha tak berbicara lagi.


"Aku pasti bisa." angguk Alan penuh keyakinan."Silakan ibu ratu, duduk dengan tenang di singgasana."


Dan setelah itu Alan mulai mengambil celemek Kansha dan menalikannya dengan terampil. Kansha hampir terpukau.


Lelaki itu mulai memasak. Pertama, dia akan memasak omelet. Dan begitu telur sudah di atas wajan, Alan malah berhenti. Dia tampak kebingungan. Di hadapannya ada dua wadah berisi butiran putih halus. Yang satu garam dan yang satu adalah gula.


"Yang, bedanya gula sama garam apa?" tanya Alan bingung. Dia sebenarnya pernah melihat garam tapi karena hampir tidak pernah memasak, ia jadi kebingungan sendiri.


Kansha yang sedang duduk di kursi depan pantry hanya memutar bola malas, "Cicipin saja. Gula manis kayak aku, garam asin kayak ketiak kamu." ucap Kansha malas. Dia memuji dan mengejek bersamaan dengan nada ketus.


Alan menghela nafas kasar, kalau dulu ia pasti marah bila diejek seperti itu. namun karena Kansha tengah sensitif, Alan berfikir dua kali jadinya.


Alan pun mencobanya satu-satu. Kansha yang masih dalam mode cemberut seketika membulatkan matanya melihat Alan mencicipi kedua bahan tadi dengan masing-masing satu sendok makan. Agak berlebihan bila dalam hal mencicipi(?)


"Eh eh, jangan sesendok! Cukup--" ucapannya terpotong ketika Alan menyemburkan garam dari mulutnya lalu terbatuk-batuk.

__ADS_1


Kansha dengan sigap langsung mengambil air minum dan memberikannya pada Alan. Alan meminumnya dengan rakus. Begitu menyuapkan satu sendok garam ke mulutnya, rasa asin langsung menghatamnya dengan jumlah besar membuat lidahnya bahkan mati rasa sesaat. Namun beruntung, ia tidak keracunan atau yang lebih parah meninggal karena overdosis garam.


"Kamu gila ya? Masa nyicipin garam sama gula sesendok makan?" omel Kansha.


Meski Alan nyaris tak pernah memasak, bukankah itu tetap berlebihan kalau dia tak tahu mana garam dan gula? Seketika Kansha mengerti apa alasannya Alan memasukkan segudang garam pada sup dulu.


"Ya kan aku tidak tau. Aku pernah melihatnya tapi..." Alan malah menyengir.


Kansha memutar bola malas.


"Ini garam. Jangan salah lagi." ujar Kansha sambil menunjukkan mana garam pada Alan.


Alan mengambil wadah berisi garam itu lalu dengan polosnya menaburkan garam ke dalam telur sebanyak sekepalan tangannya. Alan makin melotot.


"Alan!" Teriak Kansha.


Alan berjengit kala mendengar teriakan maha dasyat dari Kansha yang berdiri tepat disampingnya. "Salah lagi ya?" tanya Alan polos.


Kansha berkacak pinggang, "Kamu mau bikin omelet atau goreng garam?" sentak Kansha kesal.


"Hehe." Alan hanya bisa menggaruk tengkuknya.


"Tidak usah diteruskan. Biar aku yang masak." tandas Kansha hendak mengambil alih wajan di atas kompor tapi tangan Alan langsung menghentikannya.


Kansha mendesah kasar, "Kita harus sarapan, mas suami. Dan aku akan mati dini kalau harus makan masakan kamu yang kaya akan yodium itu."


"Kalau begitu kita bisa beli sarapan dari luar saja." saran Alan.


"Kalau begitu kamu yang beli." ucap Kansha.


"Tidak mau makan di luar saja?" tawar Alan. Kansha seketika menggelengkan kepalanya.


"Malas."


Alan mengangguk mengerti, "Ya sudah, kamu mau makan apa?"


Kansha terdiam sesaat lalu mulai menunjukkan tatapan nakalnya. Alan yang melihatnya entah kenapa merasa ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi sebentar lagi.


"Aku ingin makan bubur polos tanpa apapun kecuali ayam tapi ayamnya harus digoreng sampai renyah tapi jangan sampai ada minyak yang menempel dan harus panas, lalu--"


"Tunggu." Alan cepat-cepat menginterupsi sebelum Kansha makin ngawur.

__ADS_1


"Apa?" sahut Kansha bingung.


"Sayang, kita hanya sarapan bukan mau bikin hajatan. Lagipula mana ada tukang bubur yang goreng ayamnya mendadak?" ujar Alan dengan nada hati-hati.


Kansha berkacak pinggang dengan mata melotot marah, "Baru segini saja kamu sudah mengeluh. Kamu cuma merasakan capek saja beberapa bulan tapi aku yang paling banyak menanggung beban. Baru hamil muda saja aku sudah mual tidak ketulungan apalagi nanti ketika kandunganku makin besar. Dan kamu bisanya mengeluh saja, terus kalau kandungan aku sudah besar lantas kamu mau tinggalkan aku sendirian karena tidak kuat, begitu?!"


"Bukan begitu." geleng Alan cepat. "Kamu salah paham."


"Apa yang salah paham?!" sentak Kansha.


"Ya sudah, aku minta maaf ya. Aku tidak akan mengeluh lagi. Aku janji akan berusaha memenuhi semua idam kamu." ucap Alan lembut. "Tapi ini sungguh ngidam kan?" tanyanya dengan nada amat hati-hati.


Kansha yang baru saja berniat menyunggingkan senyum seketika cemberut dan langsung menjitak kepala Alan.


"Ini surat wasiat, puas?!" semprot Kansha lebih keras.


Alan meringis kecil melihat kemarahan Kansha yang sudah tidak bisa ditanggung lagi.


"Maaf ya sayang. Jadi kamu minta apa saja tadi?" Alan kembali fokus pada pembicaraan mereka sebelumnya agar Kansha tidak marah-marah lagi.


Raut Kansha seketika berubah cerah, "Tadi bubur kan ya, terus aku mau cakue goreng dengan sambal tomat, lalu corn dog jangan pakai sosis tapi pakai jagung asli ditengahnya terus mau bajigur juga, aku pernah lihat di tv, katanya bajigur enak kalau diminum hangat-hangat. Terus aku juga mau pecel lele tapi jangan ikan lele harus ikan mas. Sambal kacang atau apa sih namanya agak banyak ya tapi jangan banyak-banyak juga, sedikit saja. Terus aku juga mau pancake dari Hotel H sama kue keringnya juga. Eh, milkshake dari cafe Z juga lagi hits loh, aku juga mau ya. Terus---"


Dan Alan hanya bisa terdiam. Semua yang dikatakan Kansha bagaikan masuk ke kuping kanan keluar kuping kiri. Tak ada yang masuk pada otaknya satu huruf pun. Perkataan Kansha bagaikan ucapan yang menghipnotisnya untuk mengosongkan fikiran.


"Kamu harus bawakan itu semua dalam waktu satu jam. Kalau bisa kurang, minimal lima belas menit sudah ada. Ingat, ada saja yang kurang, aku potong jatah bulanan kamu."


"Jatah?" Alan hampir bertanya dengan nada nyaris linglung.


"Iya, jatah adik kamu. Aku kurangi lima puluh persennya." jawab Kansha sambil menunjuk area bawah Alan dengan dagunya.


Alan seketika membulatkan matanya, dia menatap horor Kansha.


"Sayang, jatah adik aku tidak bisa dikurangi sedetikpun atau dia bakal depresi akut!" serunya khawatir.


"Kalau begitu laksanakan permintaan aku."


Alan mengangguk tegas, "Kakanda undur diri dulu. Assalamu'alaikum." pamitnya dan berjalan keluar rumah dengan langkah tegas.


Tapi begitu sampai di pelataran rumah, kaki Alan seketika melemas.


"Bagaimana bisa aku mencari makanan dengan jumlah hampir lima belas jenis?" gumamnya frustasi.

__ADS_1


Yah, selamat datang di neraka untuk dirinya sendiri. Jalan keluar untuk bebas hanya satu, menuruti kemauan sang ratu dan tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Atau kalau tidak, lupakan soal kesejahteraan adik kecilnya dan lupakan soal psikisnya yang runtuh jika Kansha sudah mengultimatum perang dingin sebulan!


__ADS_2