My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 122.


__ADS_3

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Andrian begitu terkejut.


“Ada seorang penelfon anonim yang mengungkapkan soal Nona Kansha yang bukan anak kandung Williams dan membunuh Nona Kania. Kini Nona Kansha dihujani kebencian dan harga saham ARC turun drastis.” Jawab Kevin.


Grace menganga syok. Dia berpandangan pada suaminya yang terlihat kesal dan masih terkejut.


“Itu sebabnya Kansha tidak membalas telfonku, dia pasti—“ Grace tiba-tiba saja bertambah cemas. “Pa, kita harus pulang sekarang!” serunya panik.


“Jangan panik dulu, ma. Kamu sudah mencari tahu bagaimana keadaan Kansha sekarang?” tanya Andrian menoleh pada Kevin.


“Nona Kansha terakhir diketahui meninggalkan stasiun televisi pada pukul sebelas pagi. Tapi setelah itu keberadaaannya tidak bisa dilacak lagi. Jadi kami tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.” Jelas Kevin.


Brak


“Kau seharusnya mencarinya!” teriak Andrian marah sambil menggebrak meja.


“Saya sudah mengutus beberapa pengawal untuk mencari keberadaan Nona Kansha.” ucap Kevin tetap tenang.


Tapi Grace tak merasa tenang. Dia sangat khawatir akan kondisi sang putri terutama mentalnya. Dia takut insiden percobaan bunuh diri di rumah sakit dahulu terjadi lagi.


“Apa yang harus kita lakukan, pa?” tanya Grace cemas setengah mati.


“Pertama, cari keberadaan Kansha dan laporkan keadaannya padaku. Cegah dia melakukan tindakan berbahaya apapun. Kedua, blokir semua pemberitaan itu dan pastikan tak ada wartawan yang merilis berita itu lagi.” Titah Andrian tegas.


Kevin mengangguk, “Baik pak.”


“Apa kita sebaiknya pulang saja, pa? Aku cemas dengan Kansha.” ujar Grace.


“Siapkan tiket penerbangan saat ini juga.” titah Andrian menuruti kemauan istrunya.


“Saya sudah menyiapkannya. Anda bisa pulang sekitar satu jam lagi.” Balas Kevin.


Andrian dan Grace bernafas lega, “Terimakasih Kevin.” Ucap Grace.


***


Pagi tiba, dan Kansha sedang dalam kondisi tak baik-baik saja. Dia terus dihantui mimpi buruk semalaman. Dia bermimpi didatangi Kania yang marah dan kecewa padanya. Di mimpinya Kania berusaha mencekiknya dan cekikannya terasa sangat nyata. Alhasil karena mimpi buruk itu, Kansha tak tidur semalaman. Dia sangat ketakutan bila harus bertemu Kania di mimpi semenakutkan itu.


Kansha sampai di kantornya. Dan sejak dirinya melangkahkan kaki ke lobi, terasa ada yang aneh. Para pegawainya melihatnya canggung dan terus berbisik setelah membungkuk hormat padanya. Namun Kansha terus mengabaikannya dan bersikap biasa saja meskipun bisik-bisik pegawainya tetap terdengar di belakang punggungnya.


“Selamat pagi, Bu.” Sapa para pegawainya begitu Kansha hendak masuk ruangannya.


“Pagi.” Sapa balik Kansha singkat. Setelah itu langsung masuk ke ruangannya tanpa senyum sama sekali.


Sedangkan para pegawai yang tadi menyapa Kansha seketika berkerumun dan langsung membicarakannya.


“Bu Kansha seperti bukan tipikal orang yang akan membunuh saudarinya sendiri.” Komentar perempuan berblazer pink.


“Iya, tapi bisa juga itu benar. Soalnya dia kan bukan anak kandung Williams.” Timpal seseorang lain.


“Hati siapa yang tahu coba? Mungkin saja kan dibalik kelembutan wajahnya, dia sebenarnya memang seorang yang jahat. Zaman sekarang, kalau demi uang dan jabatan, semua cara dilakukan meskipun itu dengan membunuh.” Timpal seorang pegawai pria.


Brak


Tiba-tiba semua pegawai berjengit kaget kala sebuah meja digebrak keras. Mereka langsung menoleh ke sumber suara. Ada Seli yang sedang membawa setumpuk berkas menatap mereka dengan datar. Dan Seli lah yang menggebrak meja tadi.


“Jika kalian ingin terus bergosip, silakan angkat kaki dari perusahaan.” Ujar Seli datar.


Semua pegawai yang mendengarnya langsung ketakutan dan segera membubarkan diri kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sedangkan Seli langsung masuk ke ruangan Kansha dengan setumpuk berkas yang dibawanya.


Tok Tok


“Masuk.” Ucap Kansha yang ada di dalam.


Setelah mendapat izin, Seli masuk ke dalam ruangan.


“Ini berkas-berkas yang harus ibu tandatangani.” Ucap Seli menyerahkan setumpuk berkas tadi ke atas meja Kansha.


Kansha membuka salah satu berkas dan melihat-lihatnya tapi tak berapa lama dia langsung menutupnya. Perempuan itu menatap Seli yang berdiri dengan raut datar padanya.


“Kamu tidak akan bertanya?” tanya Kansha.


“Tidak. Itu hak ibu. Saya tidak bisa mencampuri apapun.” Jawab Seli mengerti maksud pertanyaan direkturnya itu.


Kansha mendesah pelan, “Saham kita anjlok, benarkan?”


Seli mengangguk, “Sekarang nilainya berada di ambang stabil. Bukan hanya saham kita tapi saham Williams dan anak grupnya juga anjpok tapi tidak separah kita. Kalau berita ini sudah selesai ditangani, semuanya akan kembali stabil.” Ucap Seli sambil menyerahkan tabnya yang berisi grafik saham ARC pada Kansha. Terlihat garis merah yang menandakan turunnya nilai saham yang menukik tajam.


Setelah memeriksanya sendiri, Kansha langsung mengembalikan tab pada Seli.


“Ada lagi?” tanya Kansha.


Seli terdiam sesaat lalu akhirnya menyerahkan selembar berkas yang langsung diterima Kansha.


“Apa ini?” tanya Kansha sambil membaca berkas itu dan seketika dia terdiam.


“Ini surat dari Asosiasi Keluarga Indonesia. Mereka meminta agar Ibu turun dari jabatan Ibu dan meminta maaf secara tulus atas tindakan Ibu. Dan untuk memperkuat bukti mereka, mereka mengajukan petisi yang sudah ditandatangani lima ribu orang.” jelas Seli dengan nada hati-hati.


Kansha terhenyak di kursinya, “Kenapa mereka bertindak hanya dengan opini seseorang dan tanpa bertanya padaku.” Lirih Kansha.


“Saya sudah meminta pihak website untuk menghapus petisi itu.” ucap Seli.


“Kalaupun dihapus, apakah mereka akan berhenti?” Seli terdiam tidak bisa menjawabnya.


“Saya punya saran tapi saya tidak yakin ibu akan melakukannya.” Sela Seli serius.


“Saran apa?”


Seli terdiam sesaat, “Gelar konferensi pers dan klarifikasi kebenaran berita ini. Hanya itu satu-satunya cara untuk menenangkan hati masyarakat.”


Kansha sontak menggeleng, “Tidak. Saya tidak mau.” tolak Kansha.

__ADS_1


“Bu.” Sela Seli tak setuju.


“Seli, akan ada jalan keluar lain. Saya akan mencari jalan kelarnya tapi tidak dengan konferensi pers.” Tandas Kansha.


Seli kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu bahwa direkturnya sekeras kepala ini. Lagipula apa ada jalan lain?


“Saya permisi, bu.” Pamit Seli memilih keluar ruangan.


Kansha mengangguk pelan. Dia tahu Seli kecewa pada keputusannya dan dia memakluminya.


“Seli, Tunggu.” Cegah Kansha ketika Seli hendak keluar ruangan.


Seli berbalik begitu namanya dipanggil lagi, “Ada apa, bu?” tanyanya.


“Apa kamu percaya pada berita itu?” tanya Kansha serius.


“Semua orang pasti akan percaya apalagi bila ada sebuah bukti yang mendukungnya. Begitupun saya. Saya tidak percaya pada opini saja. Saya juga perlu bukti.” Jawab Seli.


“Dan saya tidak memberikan itu jadi kamu tidak percaya pada saya?”


Seli tidak mengangguk maupun menggeleng, “Masyarakat sekarang sangat mempercayai berita itu apalagi tidak ada penyangkalan dari ibu. Seperti yang saya bilang, mereka percaya karena ada buktinya.”


“Tapi saya tidak bisa melakukan konferensi pers.” Lirih Kansha.


“Kalau begitu ibu setuju dengan pemberitaan itu dan membiarkan masyarakat terus mengecam ibu.”


Kansha menghela nafas pelan, “Sedikit saja, ada orang yang tidak langsung percaya. Sedikit saja.”


“Tidak ada jalan lain bu. Untuk meraih kepercayaan sedikit saja dari segelintir orang yang tidak langsung percaya, ibu harus bertindak. Tidak ada cara lain selain melakukan konferensi pers. Katakan kebenarannya dan jangan terus diam saja.” Ujar Seli.


“Saya tidak bisa melakukannya.” Tolak Kansha menggeleng.


“Kenapa?” tanya Seli.


“Saya tidak bisa memberitahumu.” Tukas Kansha.


Seli membuang nafas kasar. “Ibu jangan terus diam dan membiarkan masyarakat terbuai dengan opini tidak benar. Ibu yang tahu kebenarannya dari berita ini dan seharusnya ibu mengatakannya. Jangan diam saja. Karena dampak dari pemberitaan ini sangat besar. Ibu tidak boleh egois dan hanya memikirkan diri sendiri.” Tukas Seli.


“Kamu boleh keluar.” Ucap Kansha mengusir halus Seli.


Seli pada akhirnya mengalah. Dia mengangguk menuruti perintah Kansha.


“Kalau begitu saya permisi.” Pamit Seli sembari mengangguk hormat. Setelah itu perempuan dengan rambut dikuncir kuda itu berbalik hendak keluar.


“Maaf, ini semua gara-gara saya.” Ucap Kansha pelan membuat Seli tidak jadi membuka pintu.


Seli mengeratkan pegangannya pada daun pintu namun setelah itu kembali pegangannya kembali melonggar.


“Orang tidak peduli pada alasannya. Tidak peduli apa yang terjadi saat prosesnya nyatanya mereka lebih memedulikan hasilnya. Dengan diamnya ibu, itu sama saja secara tidak langsung ibu mengakui bahwa ibu bersalah.” Ujar Seli setelah itu membuka pintu ruangan Kansha dan keluar ruangan.


Sepeninggal Seli, Kansha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia menghela nafas berat.


***


Pasangan Williams baru saja mendarat dari bandara dan langsung memanggil Kansha datang ke rumah. Dan seperti yang bisa ditebak, mereka meminta Kansha agar mengadakan konferensi pers mengenai pemberitaan ini.


Tapi lagi-lagi untuk alasan yang tidak diketahui, Kansha menolaknya mentah-mentah.


“Kansha, tidak ada cara lain. Kita harus membersihkan namamu. Lagipula ini adalah berita tidak benar.” Sanggah Grace.


“Tapi tidak dengan konferensi pers! Aku tidak mau melakukannya.”


“Kenapa kamu tidak mau?” tanya Andrian.


Kansha hendak menjawab tapi tidak jadi dan pada akhirnya hanya diam tidak bisa menjawab.


“Lihat? Kamu tidak memiliki alasan apapun untuk menolaknya. Jadi turuti saja perintah kami.” Tandas Andrian.


“Tidak! Aku tidak akan.” Tolak Kansha keras. “Kalian tidak bisa melakukannya tanpa seizinku.” Lanjutnya.


“Kansha, ini bukan hanya demi kebaikanmu tapi demi kebaikan semuanya. Akibat pemberitaan tidak benar ini, semua terkena dampaknya. Saham ARC dan Williams jatuh. Produk yang akan diluncurkan pun mengalami penundaaan. Kemudian ribuan pengguna berbayar portal berita ARC juga memutuskan keluar. Mereka menganggap bahwa direketur ARC yang selama ini selalu menggaungkan kebenaran dari sebuah berita ternyata seorang munafik! Dia menyembuyikan fakta besar dari masa lalunya.” Jelas Andrian.


“Dan Kevin, apalagi dampak kerugiannya?” tanya Andrian menoleh pada sekretarisnya.


“Kerugian yang lain adala—“


“Aku tahu tentang itu semua, pa.” Sela Kansha memotong ucapan Kevin. “Tapi aku benar-benar tidak mau melakukan konferensi pers.”


“Lalu kalau kamu tidak ingin melakukannya, apa ada cara lain? Katakan.” Tantang Andrian.


“A-aku—“Kansha jadi terbata-bata.


“Ada?”


“Saat ini memang belum ada, tapi aku yakin pasti akan ada. Tidak perlu dengan melalui konferensi pers.” Jelas Kansha yakin.


Grace dan Andrian kehabisan kata-kata. Kansha—dia terlalu tidak terduga.


“Kansha, satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah dengan menjelaskan duduk persoalannya dan mengungkapkan fakta sebenarnya. Kalau kita tidak melakukannya, maka opini negatif tentang kita akan terus ada. Dan itu semua bisa berdampak pada perusahaan.” Tekan Andrian.


“Aku tahu, tapi aku sungguh tidak mau melakukan konferensi pers.” Ujar Kansha gusar.


“Kenapa?”


Kansha jadi gelagapan. Dia ditanya kembali tapi dia tidak tahu harus membalas apa.


“Lihat, kan? Kamu bahkan tidak memiliki alasannya.” Ujar Andrian tak percaya.


Kansha membasahi bibir bawahnya lalu menatap Andrian, “Aku pasti akan menemukan cara lain. Tolong percayalah padaku dan jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku.” Pinta Kansha.


Andrian berdecak, “Berani sekali kamu memerintah?!”

__ADS_1


“Aku tidak memerintah, aku hanya memohon agar papa tidak melakukan apapun dahulu. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini.” mohon Kansha.


Andrian tak menjawabnya. Dia terlalu kecewa atas keputusan Kansha yang dianggapnya tak rasional itu.


“Aku memiliki rapat sebentar lagi. Aku pergi dulu.” pamit Kansha.


Karena tak mendapat tanggapan apapun, Kansha akhirnya memutuskan pergi setelah mengangguk hormat.


Sepeninggal Kansha, Grace langsung menoleh pada suaminya.


“Apa yang harus kita lakukan, pa?” tanyanya pada Andrian yang terlihat masih kesal itu.


Andrian tak menjawabnya, dia malah berbicara pada Kevin yang berada didekatnya.


“Hubungi semua awak media. Saya akan mengadakan konferensi pers besok.” Titah Andrian.


Dan bukan Andrian namanya bila tidak bertindak menuruti aturan.


***


Kansha baru saja selesai rapat di sebuah restoran dan kini sedang berjalan kembali ke mobilnya tapi ketika beberapa langkah lagi, dia terhenti. Mobilnya tiba-tiba saja dipenuhi oleh cat-cat tak dikenal.


“Apa ini?” gumam Kansha syok. Dia menatap tak percaya pada mobilnya yang sudah berubah warna itu.


Pluk


“Aw!” serunya. Dia mengaduh sakit karena sebuah lemparan mengenai lehernya. Dia meraba lehernya dan langsung kaget bahwa benda yang dilempar ke lehernya itu adalah sebuah telur mentah.


“Hei!” seru seseorang dari belakang.


Kansha berbalik dan langsung membelalak kala melihat lima orang perempuan menatapnya dengan penuh kebencian. Di tangan mereka tergenggam telur mentah.


“Ada apa ini? Tunggu, jadi kalian yang sudah mengotori mobil dan melempar telur tadi?” tanya Kansha marah.


“Seorang pembunuh berkedok malaikat pantas mendapatkannya.” Hina mereka.


“Apa maksudnya ya? Kalian benar-benar lancang!” seru Kansha kesal.


“Kamu yang lancang, dasar pembunuh! Hanya demi harta, kamu tega membnnuh kakakmu.”


“Dia bahkan bukan kakak kandungnya.”


“Dasar siluman!”


Hinaan demi hinaan terus dilontarkan pada Kansha oleh para perempuan tak dikenal itu.


“Sudah, lebih baik kita serang saja dia. Dia harus diberi ganjaran atas perbuatannya.”


Pluk


Pluk


Tiba-tiba Kansha dilempari telur-telur. Kansha berteriak dan mencoba menghindar tapi beberapa telur mengenainya dan pecah.


“Tolong!” seru Kansha. “Hentikan!”


Tapi para perempuan itu tidak berhenti dan terus menyerangnya tanpa ampun.


“Tolong! Satpam! Satpam!”


Tiba-tiba seseorang berteriak dan tiga orang satpam datang berlari ke tempat kejadian. Para perempuan itu terkejut dan langsung lari kocar-kacir berusaha dikejar oleh satpam.


Sedangkan Kansha langsung bernafas lega. Sambil mengelap wajahnya dengan tisu. Diam-diam dia merutuki. Kenapa sih dia tidak belajar bela diri dulu dengan Nana? Jadilah ketika dia dalam kondisi seperti tadi, dia bisa melawan.


Ketika Kansha sedang sibuk membersihkan noda telur itu, sebuah sapu tangan terulur ke hadapannya. Kansha mendongak dan matanya bertemu dengan mata Aisyah.


"Terima kasih." ucap Kansha menerima sapu tangan Aisyah dan kembali membersihkan pakaiannya.


"Mbak tidak apa-apa? Maaf Aisyah terlambat menolong." ucap Aisyah merasa bersalah.


"Jadi kamu yang tadi memanggil satpam?" Aisyah langsung mengangguk.


"Terimakasih." ucap Kansha singkat.


"Sama-sama, mbak."


Tapi setelah itu tidak ada pembicaraan apapun lagi. Tapi Aisyah terlihat ragu.


"Mbak, Aisyah sudah melihatnya. Mbak baik-baik saja?" tanyanya hati-hati.


Kansha mengangguk, "Untungnya saya hanya dilempari telur bukan batu." canda Kansha.


"Apa ada yang bisa Aisyah bantu?" tanya Aisyah tetap serius.


Kansha menghentikan kegiatannya, dia lalu menatap Aisyah, "Bantu?" tanyanya bingung.


Aisyah mengangguk, "Aisyah merasa bersalah karena tidak membantu mbak disaat mbak sedang kesulitan. Seharusnya sebagai seorang keluarga, Aisyah harus--"


"Keluarga?"sela Kansha mengernyit mendengar kata keluarga diucapkan oleh Aisyah.


Aisyah mengangguk, "Iya, mbak. Mungkin mbak masih membenci kami tapi kita tetaplah sebuah--"


"Kita bukan keluarga. Saya tidak pernah menganggapnya begitu." potong Kansha.


Aisyah tersentak, "Mbak.."


"Aisyah, sudah saya bilang bahwa saya bukan lagi Azzahra. Azzahra sudah tiada, dia dimusnahkan sendiri oleh keluarganya. Saya Kansha Andara Williams. Dan kita bukanlah keluarga. Jadi hentikan imajinasimu." tekan Kansha.


"Aisyah tahu mbak berkata seperti ini karena masih terluka dengan ucapan Abi. Aisyah minta maaf atas nama Abi." ujar Aisyah.


Kansha tersenyum kecil, "Andai maaf berlaku, maka penjara tidak akan penuh." ucapnya dingin. Setelah itu Kansha mengembalikan sapu tangan Aisyah yang sudah kotor oleh noda telur.

__ADS_1


"Ini seperti perasaanku. Mau dicuci seberapa lamapun meski sampai tidak ada lagi noda, tapi baunya masih tercium. Ingat, luka dari seorang keluarga akan lebih sulit hilang dibanding luka dari tusukan pisau." ucap Kansha setelah itu pergi meninggalkan Aisyah. Dia masuk ke mobilnya yang penuh cat itu dan melajukannya pergi.


Sepeninggal Kansha, Aisyah menghela nafas. Dia menatap sapu tangannya. Entah apa yang harus dia lakukan agar Kansha mau memaafkannya. Tapi Aisyah tidak menyerah, dia harus mendapat maaf Kansha bagaimanapun caranya.


__ADS_2