My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 131.


__ADS_3

Kansha dan Alvaro berjalan berdampingan keluar dari kantor polisi. Mereka saling terdiam. Meski sebenarnya banyak hal yang ingin lelaki itu tanyakan pada Kansha. Tapi Alvaro ragu bagaimana memulainya.


Di depan kantor polisi, Kansha tiba-tiba berhenti membuat Alvaro juga berhenti melangkah. Kansha lalu menoleh, "Lakukan hal yang terbaik untuk menghukum Aura. Aku ingin dia sadar bahwa semua hal yang telah dia lakukan adalah salah. Aku ingin dia belajar dari konsekuensinya." ucapnya.


Alvaro mengangguk, "Aku bisa dipastikan Aura dihukum sesuai perbuatannya. Aku juga berharap dengan hukuman ini, dia bisa dewasa setelah keluar nanti."


Kansha mengangguk setuju. Dia juga berharap demikian. Bagaimanapun kita tidak bisa menumpukkan semua kesalahan pada Aura. Aura menjadi seperti sekarang, bukan hanya karena dirinya sendiri melainkan bagaimana dia tumbuh di lingkungan yang membentuk kepribadiannya saat ini.


"Kansha." panggil Alvaro.


Kansha menoleh, "Ada apa?"


"Aku ingin bertanya, apa maksudmu dengan semua aset mendiang papanya akan dikembalikan lagi pada Aura? Bukankah dalam surat kuasa hukum, jelas bahwa semua kekayaannya diberikan pada yayasan Williams?"


Kansha tak langsung menjawab, dia malah memalingkan wajahnya ke depan lagi.


"Papanya mengubahnya di saat terakhir. Awalnya beliau memang ingin menyerahkan semuanya pada yayasan kami, tapi dia berubah fikiran. Beliau merasa Aura mungkin tidak merasa adil dan atas apa yang dia lakukan selama ini pada Aura, setidaknya Aura harus diberi sedikit sebagai kewajibannya menjadi orang tua. Dan beliau ingin Aura belajar dan dewasa sepeninggalnya, maka beliau meminta orang tuaku untuk mengelolanya sampai Aura siap." jelas Kansha.


"Lalu di surat warisannya, jelas-jelas itu diberikan pada yayasan tanpa terkecuali."


"Itu surat palsu. Papanya sengaja membuat duplikat palsunya untuk melihat bagaimana tanggapan Aura."


"Lalu dimnana yang aslinya?"


Kansha mengendikkan bahunya tidak tahu.


"Hanya itu yang kutahu. Selebihnya orang tuaku yang mengetahuinya."


Alvaro mengangguk mengerti.


"Oh ya, kamu datang kesini naik apa?" tanya Alvaro.


"Taksi." balas Kansha singkat.


"Lalu bagaimana pulangnya?" Kansha tak menjawab apapun.


Karena Kansha tak menjawab, Alvaro berkata lagi, "Bagaimana kalau aku yang mengantarmu?" tawarnya.


Baru saja Kansha hendak membuka mulut, terdengar bunyi klakson mobil di depan mereka.


Tit


Alvaro dan Kansha menoleh bersamaan ke arah mobil di depan mereka yang baru saja berhenti. Alan keluar dari mobil dan langsung menghampiri Kansha.


"Sudah selesai?" tanyanya.


Kansha mengangguk menjawabnya. Setelah itu dia menoleh pada Alvaro.


"Alan sudah menjemputku. Terimakasih atas kerja kerasmu untuk kasus ini dan terimakasih atas tawarannya." ucap Kansha tersenyum kecil.


"Ayo, Lan." setelah itu mengajak Alan pergi.


Alan mengangguk dan membiarkan Kansha pergi lebih dulu. Dia membuka pintu penumpang untuk Kansha. Setelah Kansha masuk, dia menutup pintunya. Lalu menoleh singkat pada Alvaro dan mengangguk kecil sebagai sapaan dan permisi. Alvaro pun balas mengangguk. Setelah itu Alan langsung masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya keluar pelataran kantor polisi.


Usai ditinggal sendiri, Alvaro hanya mendesah pelan. Dia melihat mobil Alan yang menjauh hingga tak kelihatan lagi.


"Sepertinya, sudah tak ada kesempatan untukku menggapai hatimu, Kansha." lirihnya.


***


"Apa saja yang kamu bicarakan dengan Aura?" tanya Alan ketika mereka masih di jalan.


"Hanya beberapa hal yang perlu diluruskan." balas Kansha.

__ADS_1


"Semuanya sudah usai, kamu tidak perlu lagi membawa beban apapun." ucap Alan menoleh pada Kansha.


Kansha menghela nafas lega, "Aku senang semuanya berakhir. Meskipun bukan akhir yang bahagia."ucapannya melirih pada kalimat terakhir.


"Kamu sudah memaafkan semuanya, kan?" tanya Alan dengan hati-hati.


Kansha menganggguk, "Sebenarnya cukup sulit untukku. Tapi tidak ada gunanya memendam perasaan apapun lagi. Orang tuaku yang membenciku lebih dari sepuluh tahun saja, mampu menghilangkan kebenciannya padaku. Dan aku juga harus melakukannya. Terkadang, di balik sebuah tragedi, selalu ada pembelajaran yang bisa dipetik. Kita harus tersiksa untuk mendapatkan akhir yang bahagia." tutur Kansha menatap Alan.


Alan tersenyum kecil mendengarnya, "Aku yakin, Om Zakariya akan bahagia disana."


Kansha mengangguk, "Aku juga. Di luar dari kesalahannya, dia sudah cukup menderita. Saatnya bahagia untukknya. Aku harap dia bertemu dengan ibuku juga." harapnya.


"Oh ya, Kansha." celetuk Alan mengalihkan pembicaraan karena Kansha sudah mulai emosional.


"Apa?" tanya Kansha.


"Setelah ini ada yang mau kamu lakukan?"


Kansha menatap Alan dengan tersenyum. Dia menyadari bahwa Alan sengaja mengalihkan pembicaraan agar dirinya tak terbawa suasana dan kembali sedih.


"Kenapa hanya tersenyum?" tegur Alan ketika menoleh.


Kansha menggeleng, "Antarkan aku ke rumah Aisyah. Katanya ada yang ingin dia berikan padaku."


***


Mobil Alan sampai di rumah Aisyah. Tapi sebelum turun, Kansha menoleh pada Alan.


"Katamu kamu memiliki urusan." ucapnya.


Alan mengangguk, "Aku akan menguris cuti untuk pernikahan kita."


Kansha mengangguk dengan senyuman di wajahnya, "Kalau begitu pergilah. Terimakasih sudah mengantarku."


"Entahlah, rencananya aku ingin menginap semalam disini."


"Menginap? Disini?"


Kansha mengangguk. "Aisyah yang memintaku. Katanya dia takut sendirian di rumah."


"Ya sudah kalau begitu."


"Kamu mau menitip salam padanya?" tawar Kansha.


Alan terdiam lalu menggeleng, "Tidak usah." balasnya.


Kansha mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku turun dulu. Hati-hati di jalan."


"Kamu juga ya. Kabari bila ada apa-apa."


Kansha mengangguk. Dia pun lekas turun dari mobil. Dan setelah berpamitan untuk terakhir kalinya, mobil Alan pun mulai meninggalkan pelataran rumah Aisyah.


Ceklek


Kansha berbalik kala sebuah pintu terdengar dibuka. Aisyah muncul dengan gamis putih lebarnya.


"Kakak bersama Mas Alan?" tanyanya.


Kansha mengangguk.


"Apa Mas Alan mengatakan sesuatu untukku? Atau menitip salam?"


Kansha menggeleng. Aisyah menghela nafas.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kansha bingung.


"Sepertinya Mas Alan masih membenciku. Sejak kejadian itu, Mas Alan selalu saja menghindariku. Bahkan ketika pemakaman Abi, Mas Alan tidak berbicara denganku sepatah katapun. Hanya Alfin yang berbicara padaku untuk menyampaikan pendapat Mas Alan."


"Mungkin hanya perasaanmu saja." tukas Kansha.


"Tidak, Mas Alan sungguhan menghindariku. Padahal Aisyah sudah menyadari kesalahan Aisyah. Dan meminta maaf." keluh Aisyah.


"Kalau begitu tinggal tunggu waktu saja. Atau berbicaralah dengannya." saran Kansha.


Aisyah mengangguk. "Ayo kak, masuk." ajak Aisyah.


Kansha pun mengikuti Aisyah masuk ke dalam rumah.


"Aisyah sedang memberesi barang-barang Abi, dan ternyata sangat banyak. Aisyah rasa Aisyah tidak sanggup untuk melakukannya sendiri, makanya Aisyah minta bantuan kak Zahra." ujar Aisyah.


Kansha mengangguk.


Aisyah pun membawa Kansha ke kamar utama. Kamar dimana orang tuanya pernah tidur di masa hidup mereka.


Lalu perhatian Kansha teralihkan pada sebuah figura yang membingkai foto usang di atas lemari kayu kecil. Kansha terus menatapnya hingga Aisyah yang menyadarinya langsung menceletuk.


"Itu adalah potret umi sewaktu muda dulu. Di masa mudanya, umi sangat cantik. Pantas Abi menyukainya. Dan kakak tahu apa yang menariknya?" Kansha menggeleng tidak tahu.


"Aisyah bisa melihat kemiripan kakak dengan umi!" seru Aisyah antusias.


Kansha tak menanggapinya. Dia malah makin menatap foto itu. Memperhatikan tiap sudut wajah Nafisa di masa mudanya. Dan Kansha setuju dengan Aisyah. Beberapa fitur wajahnya memang mirip Nafisa.


Kansha lalu beralih ke foto lain. Kali ini juga foto usang yang menampilkan orang tuanya dalam pakaian pengantin.


"Itu saat mereka menikah. Aisyah bisa merasakan betapa bahagianya mereka lewat senyuman mereka yang terulas." ucap Aisyah.


Kansha mengangguk mengiyakan dalam hati.


Dan terakhir, pandangan Kansha jatuh pada sebuah buku kecil berwarna putih usang seperti diari yang tergeletak begitu saja di meja kerja.


Aisyah mengikuti pandangan Kansha dan seketika tersenyum, "Itu adalah buku diari umi. Sejak muda, umi sangat suka menulis, dan anehnya umi tidak pernah menyembunyikan buku diarinya. Beliau membiarkan kami membacanya. Dan setelah membacanya, kami selalu tertawa terpingkal-pingkal." kenang Aisyah terkekeh.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Kansha.


"Tiap kali kami membaca tulisan umi, kami selalu saja tertawa. Tulisan umi berisi kepolosan masa muda umi. Umi memang masih sangat polos saat itu." kenangnya.


"Kalian pasti bahagia." komentar Kansha segera memalingkan pandangannya dari buku diari itu.


Aisyah melunturkan senyumnya mendengar tanggapan kakaknya yang terkesan skeptis itu. Dia pun jadi terdiam.


Kansha lalu membuka sebuah lemari kayu. Di dalamnya terdapat banyak gamis Nafisa serta kerudungnya.


"Pakaiannya masih bersih dan terawat." ucap Kansha.


"Sejak umi meninggal, ini kali pertama lemari itu dibuka lagi." celetuk Aisyah.


Kansha tak perlu bertanya lebih lanjut, dia sudah paham.


Kansha pun menutup lemari Nafisa dan beralih menuju lemari Zakariya. Mereka memang memiliki lemari terpisah.


Dan begitu dibuka, tiba-tiba sebuah kotak kado jatuh begitu saja dan tergeletak di lantai.


Kansha memungutnya dan langsung membukanya. Sebuah kerudung segi empat bermotif dan sepucuk surat berada di dalamnya.


Kansha dan Aisyah saling berpandangan. Kansha seakan bertanya apakah Aisyah tahu soal ini atau tidak. Dan Aisyah hanya mengendikkan bahunya pertanda tidak tahu.


Kansha pun membuka surat itu dan kalimat pertama dalam tulisan tangan itu membuatnya bergetar.

__ADS_1


Assalamu'alaikum, Azzahra sayang..


__ADS_2