
Alan mengikuti Kansha menerobos kelebatan hutan. Kansha memang menyuruhnya kesana selepas dari toko kue. Kansha pun tak menjawab pertanyaannya dari tadi. Jadinya Alan hanya bisa mengikuti tanpa tahu apa alasannya.
Kansha tiba-tiba berhenti melangkah. Alan pun turut berhenti. Dia mengernyit bingung.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tandanya sudah habis." gumam Kansha.
"Apa maksudmu?"
Kansha tak menjawab, dia mengibaskan beberapa tanaman rambat setelah itu kembali berjalan. Alan pun kembali mengikuti lagi.
Tak lama, tujuan Kansha sudah sampai. Terdengar Kansha mengembuskan nafas lega. Di belakangnya, Alan berdecak kagum.
"Waah, tempat apa ini?" decaknya takjub.
Apa yang dilihat Alan adalah, sebuah tanah lapang dengan danau hijau di samping kirinya dan sebuah rumah pohon besar yang berada di atas pohon amat besar. Lampu-lampu neon menyala warna-warni meski pun ini masih siang hari.
"Ayo." ajak Kansha. Alan pun mengangguk meski masih takjub.
Kansha dan Alan menaiki undakan tangga yang mengarah menuju rumah pohon. Dan begitu masuk, rumah pohon itu dalamnya sangat luas. Dan yang membuat Alan makin takjub adalah ini bukanlah hanya sebuah rumah pohon saja. Fasilitas didalamnya cukup lengkap, ada meja kayu kecil, lemari kayu kecil, sofa malas dan karpet. Tak hanya itu, beberapa alat makan pun ada.
"Ini milikmu?" tanya Alan menyusul Kansha yang sudah duduk di balkon.
"Awalnya bukan, tapi sejak dua tahun lalu, iya. Aku membelinya." jawab Kansha.
"Kenapa kamu membelinya?" tanya Alan terkejut.
"Ini tempat yang istimewa bagiku. Aku tidak ingin ada yang merusaknya."
"Kenapa?"
"Karena, aku bertemu seseorang yang menyelamatkan hidupku disini. Dia menyelamatkanku dua kali. Rumah ini satu-satunya tempat pertemuan kami." ucap Kansha tersenyum.
"Suatu hari, saat itu, aku, orang tuaku dan Kak Kania, melakukan kemping. Tempatnya ada dibalik danau itu. Tapi saat itu aku sungguh kesal pada orang tuaku, karena terus saja bekerja dan tak mau bermain. Lalu aku tak sengaja tersesat hingga ketempat ini. Aku sangat ketakutan hingga saat itu ada anak laki-laki yang menemukanku dan membawaku kembali ke tempat perkemahan kami." cerita Kansha.
"Kamu tahu siapa laki-laki itu?" tanya Alan.
Kansha menggeleng, "Kami tak sempat berkenalan dan aku hanya ingat wajahnya saja. Tapi dia sangat tampan dan juga baik hati."
"Lalu pertemuan kedua bagaimana? Katanya dia menyelamatkanmu dua kali." tanya Alan penasaran.
"Yang kedua kalinya, saat itu aku masih SMA kelas sepuluh, aku juga sedang mengikuti perkemahan. Aku ingat bahwa aku pernah kesini, oleh sebab itu aku memisahkan diri dan berjalan mencari tempat ini. Saat itu sudah sore hari dan aku tersesat. Aku tidak bisa menemukan tempat ini. Hingga aku bertemu dengan segerombolan laki-laki mabuk. Mereka biasa datang ke hutan untuk melakukan hal tak senonoh dan aku hampir menjadi korbannya. Tapi saat nyawaku sudah di ujung tanduk, ada seseorang yang menyelamatkanku. Yang baru kusadari seseorang itu adalah anak lelaki yang sama saat kecil pernah menolongku." tutur Kansha.
"Itu sebabnya kamu membeli rumah pohon ini? Agar bisa bertemu dengan laki-laki yang pernah menyelamatkanmu?"
Kansha mengangguk mengiyakan. "Aku belum sempat berterima kasih padanya terlebih satu-satunya hal yang kuketahui tentangnya adalah rumah pohon ini. Aku yakin dia akan kembali suatu hari nanti."
"Begitukah." Alan menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, aku lupa, kamu belum tiup lilin." celetuk Kansha. Dia mengeluarkan kotak cupcake beserta lilin putih kecil dari kantung. Setelah itu Kansha menancapkan lilin dan menyalakannya.
"Selamat ulang tahun." ucap Kansha menyodorkan kue kecil tersebut pada Alan.
Alan terkekeh, dia langsung meniup lilin itu.
"Kamu tidak perlu dinyanyikan lagu selamat ulang tahun? Sudah make a wish? " tanya Kansha bingung.
"Tidak perlu dinyanyikan, aku seperti kembali ke masa 10 tahun kalau begitu." balas Alan tertawa.
"Iya deh. Kamu benar. Kalau begitu selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu dan mulai sekarang usahakan minum suplemen atau vitamin agar lututmu tidak nyeri ya!" ucap Kansha tertawa.
"Usiaku masih dua enam tahu." tukas Alan cemberut.
Kansha tersenyum kecil, dia lalu mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah kotak kado kecil yang dihiasi pita putih.
"Hadiahku, bukanya nanti di rumah ya." ujarnya seraya memberikan kotak kado itu ke tangan Alan.
"Terima kasih." ucap Alan tersentuh.
"Makan kuemu. Kita jangan saling lempar kue."
"Kue sekecil ini kenapa harus saling lempar?" Alan geleng-geleng kepala.
Kansha lalu menyuapkan sepotong kue ke mulutnya begitupun Alan. Dalam sekejap dua cupcake kecil itu sudah habis. Mereka menghabiskan kue itu sambil menatap tanah lapang bumi perkemahan di balik danau.
"Kapan Aisyah pulang?" celetuk Kansha.
"Sore ini. Luka dikepalanya sudah sembuh." jawab Alan.
Kansha terdiam sesaat, "Itu berarti kalian sudah memutuskan kapan akan menikah bukan?"
Giliran Alan yang terdiam sesaat, namun setelah itu menganggukkan kepalanya. "Rencananya dua bulan lagi."
Kansha menarik nafasnya, "Secepat itu?"
__ADS_1
"Iya, sebelum kondisi kesehatan Aisyah makin memburuk. Aku perlu menemaninya disisinya." jawab Alan tak menatap Kansha. Sedari tadi mereka berbicara, pandangan mata mereka masing-masing menghadap depan.
"Kamu benar." gumam Kansha.
Tak ada pembicaraan lagi. Hening mendinginkan menyelimuti Alan dan Kansha. Dan tanpa terasa waktu membawa mereka pada penghujung hari. Layung oranye menghiasi cakrawala di ufuk barat.
"Kansha."
"Alan."
Mereka saling memanggil nama satu sama lain.
"Kamu duluan." ucap Kansha mempersilakan.
Alan pun yang pertama berbicara, "Ayo pulang. Sebentar lagi aku harus menjemput Aisyah." katanya.
Kansha menarik pelan nafasnya, bibirnya yang semula terkatup kini membuka untuk berbicara.
"Alan, aku.." Kansha menghentikan ucapannya, dia kembali merasa ragu.
"Ada apa?" tanya Alan mengangkat satu alisnya.
"Aku.."
mencintaimu
Sayangnya satu kata itu hanya tertinggal di tenggorokannya. Kansha menghela nafas frustasi. Dia hampir saja kecolongan lagi.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Alan lagi.
Mata Kansha berkedip pelan, dia lalu menarik nafasnya sekali lagi dan menatap Alan.
"Ayo kita pulang, Lan."
Usai mengatakan itu, bahu Kansha melemas kembali.
***
Nana berjalan lunglai menuju jalan raya di depan rumah sakit. Air matanya terus ia coba susut agar tidak banyak mengundang perhatian orang lain. Gadis itu berjalan selangkah demi langkah. Berjalan penuh luka dan kesakitan. Bukan fisiknya yang hancur, melainkan hatinya. Sudah tak terhitung berapa banyak luka yang ditorehkan pada hatinya. Nana bukanlah masokis, yang amat dengan senang hati terluka.
Nana sampai di pinggir jalan, dia hendak menunggu taksi yang lewat. Tak lama, taksi terlihat dikejauhan. Nana langsung merentangkan tangannya. Tuhan sepertinya membantunya segera pergi darisana.
Nana masuk ke dalam taksi. Dia lalu menutup pintu, dan menyebutkan alamatnya. Dia akan menginap di tempat Kansha.
"Bersedih boleh, mbak, tapi jangan berlebihan apalagi karena lelaki. Air mata mbak terlalu berharga hanya untuk menangisi seorang lelaki brengsek." hibur supir itu. Dia bagai sudah tahu bahwa Nana memang menangis karena lelaki.
"Saya tahu pak. Yang tidak habis saya fikir, kenapa sih saya bodoh sekali? Kenapa saya baru sadar bahwa saya selama ini hidup di dunia imajinasi saya. Orang yang saya cintai, tidak mencintai saya sama sekali." tutur Nana pilu.
"Demi cinta, alasan klise yang membuat semua orang seakan melepas harga diri dan kewarasannya. Tapi mbak, pertengkaran dalam hubungan itu adalah hal yang wajar. Sebelum mbak menyimpulkan bahwa pasangan mbak tidak mencintai mbak, saya sarankan mbak harus memastikannya lebih dulu. Bagaimana kalau itu hanyalah salah paham? Saya yakin mbak tidak mau menyesal di kemudian hari."
Nana terdiam sesaat. Perkataan supir taksi itu membuatnya merenung kembali. Dia larut dalam fikirannya hingga dia tersentak ketika mobil di rem mendadak.
Ctit!
Nana terkejut. Lamunannya buyar.
"Ada apa pak?" tanya Nana kaget. Untungnya tadi tangannya ada di depan perutnya. Semoga janinnya terlindungi.
"Ada mobil yang tiba-tiba menghadang kita, mbak." tunjuk supir itu pada sebuah mobil hitam.
Lalu terlihat seseorang berjaket denim, keluar dari balik pintu mobil hitam tersebut. Nana menyipitkan matanya. Dia merasa familiar dengan postur itu. Tapi dia tidak bisa melihat jelas, akibat sisa air mata yang membayang di matanya. Nana mengusap-usap matanya.
"Mbak kenal?" tanya supir taksi itu.
Belum sempat Nana menjawab, kaca mobilnya, diketuk seseorang dari luar. Nana menoleh dan matanya bertemu pandang dengan
.
.
.
Ruben?
***
"Bagaimana perayaan ulang tahunnya?" Alfin bertanya sambil menyesap jus mangganya.
"Kurasa kamu sangat merindukanku hingga terus memintaku bertemu." Kansha malah mengatakan hal lain.
Alfin terkekeh kecil, "Aku hanya penasaran terkait kencan kalian berdua. Mas Alan? Jelas dia tak akan mau menjawab, makanya aku ke kamu." balas Alfin.
"Kencan? Kamu membuatku seperti selingkuhan Alan." seru Kansha kesal.
"Aku tidak mengatakan itu. Kenapa kamu berfikiran seperti itu? Otakmu negatif sekali sih." decak Alfin.
__ADS_1
"Lalu mau bagaimana lagi. Alan sudah punya calon istri dan aku baru sadar bahwa aku menghabiskan setengah hari ini dengannya." ucap Kansha lirih.
Alfin terdiam sesaat, "Kamu mencintainya, jangan terus menyalahkan perasaanmu." ucapnya.
Kansha mendongak, raut wajahnya terkejut sekali.
"Aku tahu semuanya. Soal perasaan kalian satu sama lain, aku tahu. Kalian sama sama saling mencintai tapi tidak bisa mengutarakannya karena keadaan." ucap Alfin.
"Apa sejelas itu?" gumam Kansha, "Aku memang mencintainya, tapi Alan tidak mungkin." lanjutnya skeptis.
"Justru yang membuatku ragu adalah kamu. Kufikir kamu tidak mencintainya. Kalau Mas Alan sih, sudah sangat jelas. Tindakannya padamu selama ini sangat terlihat jelas bahwa dia memiliki perasaan denganmu."
"Tidak mungkin." sangkal Kansha.
Alfin akhirnya mengendikkan bahunya, "Memang belum pasti sih. Tapi sebagai sesama laki-laki yang sudah hidup bersama selama dua puluh tiga tahun ini, aku memiliki firasat yang kuat."
"Aku hampir terbuai dengan kata-katamu." dengus Kansha.
"Tapi kemana kamu saat aku dan Alan makan siang? Kamu melarikan diri kan?" Kansha mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak. Aku memang ada urusan saat itu, makanya aku pergi dulu. Aku tengah menyelidiki masalah itu."
"Lalu apa yang kamu dapatkan?" tanya Kansha penasaran.
"Tidak banyak sih, tapi hal ini membuatku semakin yakin bahwa Om Zakariya memang membohongi keluargaku."
Lalu mengalirlah cerita soal perbincangannya denyan sang bunda. Kansha mendengarnya dengan seksama.
"Bagaimana menurutmu?"tanya Alfin usai menceritakan semuanya.
"Orang tuaku sepemikiran dengan kakekmu, katanya aku memang harus mencari pasangan yang merupakan anak pertama." komentar Kansha.
"Kenapa?" tanya Alfin.
"Katanya anak pertama lebih bisa bertangung jawab karena saat itu dia memiliki adik. Maka dia pun akan bertanggung jawab pada istrinya."
"Kamu fikir anak kedua tidak bisa begitu? apa yang salah dengan anak kedua?!" seru Alfin kesal.
"Kenapa kamu malah kesal padaku?! Itu kan hanya pemikiran orang tuaku, bukannya aku!" semprot Kansha.
Alfin tersentak, "Aku kan..hanya merasa tidak adil." gumam Alfin.
"Jadi selanjutnya apa?" tanya Kansha kembali ke topik.
"Aku harus mengatakan ini pada keluargaku terutama Mas Alan. Tapi aku masih tidak yakin, apa alasan sebenarnya Om Zakariya menyembunyikan ini dari keluargaku. Aku yakin alasannya tak akan sesederhana itu "
"Kamu bilang, Aisyah punya kakak kandung kan?" tanya Kansha. Alfin menganggukan kepalanya.
"Namanya Azzahra Zakariyanissa." lanjutnya sambil menunjukan foto Azzahra.
Kansha sedikit tersentak, entah kenapa dia merasa bayi itu mirip sekali dengan figurnya ketika bayi.
"Dia lahir 1 Mei, tahun 1995." tambah Alfin.
Kansha menganggukan kepalanya, bukan dia berarti. Tahun lahirnya memang sama tapi bulan dan tanggalnya berbeda.
"Aku juga lahir di tahun yang sama, begitupun Alan. Kami hanya berbeda tiga bulan. Dia lebih muda." kata Kansha.
"Kamu kapan memang?"
"Februari. Aku juga empat bulan lebih tua dari Alan."
"Oh begitu."
"Jadi dia belum ditemukan?" tanya Kansha lagi.
Alfin menggeleng, "Sepertinya begitu. Azzahra menghilang saat bayi. Dan katanya dia ditaruh di depan gerbang sebuah rumah. Ini rumahnya." Alfin menscrool layar ponselnya yang kemudian menampilkan sebuah rumah mewah yang agak kuno. Meski sudah rusak, tapi warna cat dan arsitekturnya masih terlihat jelas.
Kansha mengernyit. Dia seperti pernah melihat rumah ini. Tapi dimana, dia lupa.
Hingga sebuah kilasan masuk tanpa permisi pada otaknya. Gambaran rumah bercat bata yang persis sama. Foto dia saat kecil yang difoto di depan rumah. Dan sebuah mobil yang mengangkut barang-barang terparkir didepan rumah. Semuanya berada di satu rumah. Rumah bata merah itu.
Kansha menarik nafasnya, mungkinkah..
... -----------------...
Aku minta maaf atas ketidak jelasan dalam hal update🙏 Aku belum bisa membagi waktuku, dan inspirasi nulis kadang datang, kadang seset kayak baju kekecilan🙏😭 Jadi dengan beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk mempunyai jadwal update. Karena aku juga lagi nulis cerita baru yang inspirasinya malah terus ngalir kayak keran bocor. Untuk jadwalnya akan diperbarui di blurb. Tapi sebagai preview saja.
Aku akan up cerita ini, setiap SELASA, KAMIS, SABTU dan MINGGU.
Maafkan aku sekali lagi🙏 Dan semoga masih suka dengan cerita ini. 💙
^^^Salam, ^^^
^^^^^^KyGe^^^^^^
__ADS_1