My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 54.


__ADS_3

“Maaf, bu Kansha sedang dalam perjalanan bisnis.”


Alan memutuskan pendangannya lebih dulu dan menatap resepsionis itu, “Kemana?” tanyanya.


“Beliau baru saja terbang ke Korea Selatan tadi malam.” Jawabnya.


“Dia tidak memberitahuku.” Gumam Alvaro yang dapat didengar oleh Alan.


“Bukankah dia pergi besok? Lusa baru peresmiannya.” Ujar Alvaro bingung.


“Memang benar, tapi ada masalah jadi Bu Kansha pergi terlebih dahulu.” Timpal resepsionis.


Alvaro mengangguk mengerti. “Terima kasih, aku akan menghubunginya nanti saja.” Katanya. Alvaro pun pamit pergi. Namun saat hendak berbalik, Alan menghentikannya.


“Mau minum kopi?” ajak Alan.


***


Alan dan Alvaro kini tengah berada di coffe shop yang dekat dengan kantor Kansha. Sudah lima mneit sejak mereka sampai dan belum ada pembicaraan apapun. Alan yang sudah meminum setengah gelas akhirnya memulai pembicaraan.


“Saya Alan. kamu masih ingat?” tanyanya.


Alvaro mengangguk, “Saya ingat kamu datang ke pesta reuni. Saya Alvaro.”


“Kamu masih ingat ternyata.” Kata Alan mengangguk. “Jadi aku ingin tahu ada urusan apa kamu dengan Kansha?” tanya Alan tanpa basa-basi.


“Kamu sendiri? Ada urusan apa mencarinya?” tanya balik Alvaro.


“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengannya.” Jawab Alan.


“Maka saya juga.”


“Apa yang mau kamu bicarakan?”


“Suatu hal. Tapi tunggu kenapa kamu bertanya? Apa hubunganmu dengan Kansha?” tanya Alvaro.


Alan berdeham, “Saya hanya penasaran. Lagipula kalau kamu tidak akan menjawab ya sudah.” Katanya pura-pura sedikit acuh.


“Saya seorang pengacara dan tengah menangani suatu kasus, kebetulan Kansha membantu saya jadi ada yang saya ingin diskusikan dengannya terkait perkembangan kasus.”


“Kasus apa?”


“Kamu tidak tahu? Apa Kansha tidak pernah menceritakan ini padamu?” alan menggeleng.


“Wajar sih, ini kasus penting. Tidak perlu memberitahu orang lain yang tidak memiliki kepentingan.” Entah kenapa, nada Alvaro bagi Alan seperti ejekan. Alan berdeham mengalihkannya.


“Kamu sendiri, apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Alvaro.


“Oh bukan masalah penting juga. hanya pembicaran antar teman.” Balas Alan.


“Oh..teman.” kata Alvaro mengangguk-angguk.


“Kenapa?”


“Tidak ada.” Alvaro menggeleng. “Saya harus kembali ke kantor. Terima Kasih atas kopinya.” Pamit Alvaro kemudian. Dia mengangguk singkat sebagai bentuk kesopanan dan meninggalkan Alan seorang diri.


Alan bersandar di kursi cafe dan mengernyit bingung, “Apa aku punya saingan?” gumamnya.


***


“Papa sudah tahu mengenai masalah ini. jangan khawatir papa akan mendukungmu sebisa papa. Papa pastikan kamu tidak akan rugi.” Kata Andrian berdiri di depan Kansha yang tengah duduk di sofa kamar hotelnya.


Pagi tadi, Andrian memang langsung terbang ke Korea menyusul putrinya setelah mendapat kabar dari Kevin. Dia sudah mempelajari masalah ini dan menganalisisnya.

__ADS_1


“Aku tidak takut soal tuntutan itu. Tapi masalahnya bagaimana dengan perkembangan kantor baru ini? kami sama sekali tidak punya investor!” kata Kansha frustasi.


“Soal itu sudah papa fikirkan. Kamu tenang saja. Gagalnya kerja sama dengan perusahaan Han Seong bukan berarti tidak ada kerja sama lainnya.” Kata Andrian. Dia lalu merogoh saku jasnya dan mengeluakan sebuah kartu nama mewah.


“Ini direktur eksekutif dari Garcx Coorperation, kamu bisa datang dan berbicang dengannnya.” Kata Andrian sembari menyerahkan kartu nama itu ke tangan Kansha.


“Dia setuju untuk berinvestasi?” tanya Kansha penuh harap.


“Belum tentu juga. papa hanya memberikan jalannya, sisanya tergantung kamu. Berhasil atau tidaknya itu adalah tanggung jawab kamu.”


“Terima kasih pa!” ujar Kansha senang.


“Sama-sama. Jangan menyerah karena masalah sepele ini. batalnya kerja sama itu sering terjadi. Bukan hal besar, kamu hanya perlu mencari kerja sama yang lain. Jadi jangan cemas.” Kata Andrian memberi nasihat.


“Aku tahu. Aku terbawa suasana karena lusa nanti acara peresmian. Aku sempat frustasi dimana harus mencari investor sedangkan pembangunannya dua hari lagi.”


“Papa tahu. Papa bahkan pernah mengalami hal yang jauh lebih daripada ini. saat itu perusahaan masih kecil, tidak sebesar sekarang. Pihak investor selalu membatalkan kerja sama, mereka bahkan membatalkannya dua jam sebelum pembukaan, papa sangat frustasi. Untungnya saat itu ada perusahaan yang berbaik hati mau berinvestasi dengan papa.” Cerita Andrian.


“Benarkah? Perusahaan apa itu?” tanya Kansha penasaran.


“Perusahaan mereka bergerak di bidang perhotelan dan real estat. Perusahaan mereka juga sering berinvestasi pada perusahaan kecil yang sedang berkembang. Tahu siapa pemiknya?” kansha menggeleng.


“Pemiliknya itu kakek kamu.” Bisik Andrian.


Mata Kansha membulat, “Maksud papa, kakek Brian? Ayah mama?” tanya Kansha terkejut. Andrian mengangguk.


“Akibat kerja sama itu juga, papa kenal dengan mama dan akhirnya menikah.” Lanjut Andrian tersenyum.


“Wah, luar biasa. Berarti saat itu mama bisa dibilang orang berada sedangkan papa—“


Andrian mengangguk mengerti maksud Kansha, “Papa saat itu miskin. Dan mamamu adalah pewaris perusahaan kakek Brian. Tapi karena kami saling jatuh cinta, papa nekat melamarnya. Papa fikir Kakek Brian tidak akan menyetujuinya tapi rupanya dia setuju. Dia bahkan mengajukan untuk melakukan proses mergerisasi. Jadilah perusahaan papa dan perusahaan kakek Brian disatukan dan menggunakan nama Williams. Williams itu nama gabungan nama belakang kami. Andrian Willis dan Grace Amber. Jadilah sekarang Andrian Williams dan Grace Williams. Kamu adalah generasi Williams pertama setelah kami.”


“Wah, romantis! Kufikir itu hanya ada di drama-drama. Sangat mustahil ada yang tidak memedulikan kekayaan di zaman sekarang. Kalian memang rolemodel ku untuk percintaan.” Puji Kansha mengacungkan jadi jempolnya.


Andrian tertawa dan mengacak rambut Kansha, “Makanya segera menikah. Papa dan mama tidak sabar ingin menimang cucu.” Titah Andrian.


“Tidak ada yang seperti papa di dunia ini. papa hanya satu-satunya.” Kata Andrian percaya diri.


“Kalau begitu aku akan menikahi papa di kehidupan berikutnya.” Gurau Kansha.


“Kamu sudah janji, jangan ingkar loh ya!” kata Andrian ikut bergurau. Mereka pun tertawa bersama.


***


Huek huek


Sudah berulang kali Nana bolak-balik ke wastafel dan hanya memuntahkan cairan saja. Dia merasa mual tapi tak ada yang keluar selain cairan. Kepalanya pusing dan lemas.


Huek huek


“Kurasa maag ku kambuh.” Kata Nana lemas. Dia bersandar di dinding. Wajahnya pucat karena terus muntah belum sarapan.


Setelah agak mendingan, Nana keluar dari toilet dan mengambil ponselnya. nana menghidupkan ponselnya yang sudah dia matikan beberapa hari ini. ada banyak pesan dan panggilan yang masuk namun tak dia pedulikan. Dia memesan bubur melalui gofood. Sembari menunggu, Nana merebahkan diri di sofa. Kepalanya sangat pusing dan perutnya terus bergejolak. Dia lemas.


Tak lama, bel berbunyi. Nana kemudian bangkit dan melangkah pelan ke arah pintu. Bubur pesanannya sudah sampai, dia pun membayarnya. Nana kemudian ke dapur dan menuangkan bubur ke dalam mangkuk.


Nana makan dalam diam di meja dapur. Setelah menghabiskan sarapannya, Nana meminum obat maag nya. Setelah itu, kembali masuk ke kamar dan merebahkan dirinya.


Sambil berselimut, Nana mengecek pesan dan panggilan yang masuk ke ponselnya, rata-rata dari Kansha dan Ruben.


Anda Kansha 190


Kak Ruben 208

__ADS_1


Nana mendesah pelan. Dia tersentuh dengan kepedulian Kansha dan Ruben hingga menelfonnay ratusan kali. Kemudian dia membuka aplikasi chattingnya. Dan ribuan pesan langsung membludak. Semua lagi-lagi dari Kansha dan Ruben.


Nana pun membuka pesan Ruben terlebih dahulu.


Kak Ruben


Na, kamu dimana?


Kakak minta maaf atas kejadian semalam.


Kamu dimana? Kakak mencarimu kemana-mana. Tolong angkat telfonku.


Kakak mohon Na, jangan menghilang begitu saja.


Na, kamu ada dimana? Sudah makan?


Malam ini akan turun hujan, kamu berada di tempat nyaman bukan?


Na, jangan buat kakak khawatir. Katakan kalau kamu marah, tampar kakak, tonjok kakak, asal jangan pergi begitu saja.


Na, kakak tahu kakak salah dan sudah melewati batas. Kejadian semalam kakak akui, kalau kakak kehilangan kendali dan tidak bermaksud menodaimu. Tolong pulang Na, kita bicarakan baik-baik. Kakak akan bertanggung jawab padamu. Tolong pulang Na.


Nana menutup ponselnya dan mendekapnya ke dadanya. Air mata mengalir di pipinya yang mulus. Rentetan pesan Ruben yang sarat kekhawatiran membuat benteng pertahanannya runtuh. Ingin sekali Nana berlari pulang dan mendekap Ruben. Tapi akal sehat juga masih menabuh genderang perang. Dia harus bertahan agar tidak jatuh pada kesakitan yang sama. Dia dan Ruben bagaikan kutub utara dan selatan, berjauhan, saling memunggungi dan tak akan bersatu.


Diringi aliran air matanya, perlahan Nana masuk ke alam mimpi.


***


Alfin sedang berjalan di koridor rumah sakit. Dia membalas sapaan hangat dari para pasien yang berpapasan dengannya. Alfin pun sampai di depan resepsionis. Para perawat berdiri menyambutnya.


“Dokter Alfin, operasinya sudah selesai? Dokter tampak kelelahan.” Kata salah satu perawat namanya Hana, dia sudah lama menyukai Alfin.


“Sudah.” Balas Alfin singkat.


“Dokter pasti lelah bukan? Saya ambilkan air minum ya.” Kata Hana hendak pergi.


“Tidak usah. Apa jadwal saya sore ini?” tanya Alfin menghentikan Hana.


“Dokter hanya ada satu operasi lagi. Setelah itu tidak ada.” balas Hana profesional. Alfin mengangguk-angguk.


“Dokter kan punay waktu luang, kebetulan sore saya selesai shift, bagaimana kalau kita makan bersama? Atau nonton? Ada film baru di bioskop.” Ajak Hana penuh harap.


“Maaf, saya tidak bisa. Saya punya kencan.” Tolak Alfin.


Raut berseri Hana luntur seketika, “Kencan? Kencan sama siapa?” tanya Hana terkejut.


Alfin menatap Hana, “Dengan bunda saya.” Setelah mengatakan itu Alfin pergi. Hana terhenyak di kursinya. Dia hampir mendapat serangan jantung,


***


Kansha sampai di restoran bergaya Prancis di Seoul, Korea Selatan. Dia datang bersama Seli dan Toni, General Manager. Kansha dan timnya duduk dengan gugup. Mereka akan bertemu dengan perwakilan dari Garcx Coorperation.


Sepuluh menit kemudian, dua orang berpakaian jas masuk ke ruangan. Kansha dan timnya langsung berdiri menyambut. Setelah berbasa-basi dan berjabat tangan, mereka pun duduk.


"Saya sudah melihat prestasi ARC dan terkait pembangunan kantor baru di Seoul. Saya rasa itu adalah peluang gemilang untuk melangkah ke pasar Asia." kata Gerald, direktur eksekutif Garcx.


"Terima kasih pak. Saya juga berharap sama. ARC ingin mengembangkan pangsa bisnis di bidang jurnalistik ke luar Indonesia. Lusa kami akan melakukan peresmian pembangunan. Tapi karena--" timpal Kansha berhenti.


"Itu sebabnya saya bertemu dengan Anda. Saya tertarik untuk ikut berinvestasi. Garcx butuh media partner untuk mengembangkan berita seputar bisnis kami. Dan ARC adalah pilihan yang tepat." kata Gerald.


"Terima kasih pak, saya jamin Anda tidak akan kecewa." kata Kansha senang.


"Mari bersulang untuk menandai kerja sama kita." ajak Gerald.

__ADS_1


Gerald berdiri dan mengangkat gelasnya diikuti Kansha dan lainnya. Mereka saling beradu sebagai penanda kerja sama menguntungkan.


"Chers."


__ADS_2