My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 138.


__ADS_3

Di sebuah tempat luas, dengan nuansa serba putih. Bunga-bunga cantik bercampur harum memenuhi aula di sepanjang jalan. Dan sebuah lagu beralunan lembut melengkapi keseluruhan dengan nuansa bahagia.


Di pintu masuk dengan gerbang putih berliuk-liuk, berdiri Nana dan Seli berpakaian kebaya dusty pink modern dengan sanggul cantik. Wajah dua perempuan yang rupawan itu terhias senyuman bahagia. Menyambut para tamu yang datang ke hari bahagia itu.


"Selamat datang." sambut Nana sembari menerima kotak kado sedang untuk kedua pengantin dari salah satu tamu."Terima kasih." lanjutnya mempersilakan para tamu untuk memasuki aula pernikahan.


"Ini sudah hampir waktunya. Apa rombongan Alan belum tiba?" tanya Nana sambil menatap jam tangannya.


"Seharusnya mereka tiba lima menit lagi bila tidak macet." balas Seli.


"Pengantinnya sudah siap?" tanya Nana pada Aisyah yang kebetulan lewat. Gadis berhijab itu nampak anggun dengan kebaya panjang modern berwarna dusty pink dan rok batik coklat.


"Sudah, mbak." jawab Aisyah.


"Bagaimana-bagaimana?" seru Seli dan Nana penasaran.


"Pokoknya hasilnya memuaskan. Pengantinya benar-benar cantik!" seru Aisyah antusias.


"Wah, rasanya jadi tidak sabar." seru Nana.


Lalu Seli mendapat telfon dari Alvaro. Lelaki itu sedang berjaga di depan gedung untuk menyambut keluarga Alan.


"Baik, kamu langsung saja antar ke ballroom."


Setelah menutup telfon, Seli langsung mendapat tatapan penasaran dari Nana dan Aisyah.


"Rombongan pengantin pria sudah datang." beritahunya.


"Waaa!!" pekik Nana dan Aisyah antusias.


"Kita siap-siap. Aisyah kamu kedalam saja. Dampingi Kansha." ucap Nana.


Aisyah mengangguk, "Kalau begitu aku kedalam ya mbak. Mau sekalian beri tahu bahwa Mas Alan sudah datang. Pasti kakak tambah deg-degan." ucapnya terkekeh.


"Yasudah, sana-sana." pekik Nana tambah antusias.


"Tapi kenapa aku juga gugup ya? Padahal yang nikah bukan aku." ucap Nana sambil mengipasi wajahnya.


"Mungkin mbak ingin menikah lagi." canda Seli.


"Enak saja!" kilah Nana. "Kecuali kawin, saya mau berapa kalipun." lanjutnya centil.


Seli terkekeh geli mendengar ucapan Nana yang tidak disaring itu.


***


Di sisi lain, Alvaro yang sedang menunggu rombongan Alan langsung berdiri dengan tersenyum tipis kala melihat mobil Alan dan iring-iringannya mendekat. Alvaro dan Ruben langsung berdiri tegap.


Lalu Alfin muncul, dengan batik coklat seragam dengan keluarga besarnya. Bunda dan Ayah juga keluar dari mobil dengan pakaian senada. Terakhir, Alan keluar. Dan langsung menyihir semua tamu di luar dengan ketampanannya.


"Selamat datang. Mari." Alvaro dan Ruben mengapit Alan dari kanan kiri sedangkan Ayah, bunda dan Alfin berada di belakang. Berbagai barang seserahan pun tak lupa dibawa. Mereka masuk ke dalam ballroom dengan perasaan gugup.


"Kamu tidak tampak gugup. Minum obat penenang?" celetuk Alvaro.


Alan mengangguk, "Aku meminumnya tadi di mobil."


Tak lama, mereka sudah sampai di depan pintu ballroom. Nana dan Seli menyambutnya .


"Santai saja. Tidak akan lama kok. Semangat!" bisik Ruben memberi semangat.


Alan menganggukan kepalanya dan sekali lagi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum kakinya melangkah ke aula pernikahan.


***


Langkah tegas Alan melangkah menuju meja akad. Semua tamu seketika terpesona. Tersihir akan ketampanan Alan yang tersenyum menawan. Laki-laki pemilik punggung tegap itu duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan. Berhadapan langsung dengan seorang penghulu dan wali hakim. Alan juga sempat bertukar senyum dengan calon mertuanya, Andrian dan Grace yang duduk berdampingan.

__ADS_1


Kemudian di belakang Alan, sebuah pintu terbuka. Semua tamu langsung menatap ke satu arah. Seorang perempuan cantik berkebaya putih berjalan anggun didampingi Bu Sari dan Aisyah. Andrian dan Grace langsung tersenyum lebar kala melihat Kansha datang.


Setelah itu Kansha dibawa duduk di samping Alan. Dan seketika jantung calon pasangan ini meletup-letup. Alan bahkan tidak mengalihkan pandangannya meskipun merasa Kansha sudah duduk disampingnya. Dia hanya tidak mampu untuk melepaskan diri dari kecantikan Kansha kalau dia berani menoleh.


Kini akad sudah di mulai. Semuanya langsung terdiam dan suasana khidmat mengambil alih ballroom.


"Baiklah, bissmillahirrahmanirrahim." wali hakim menjabat tangan Alan dengan mantap, "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Kansha Andara Williams binti Zakariya dengan seperangkat alat shalat, uang tunai sebesar 15 juta rupiah dan berlian lima belas karat dibayar tunai."


Dan semua kilasan perjalanan mereka kembali terputar.


“TOLONG! ADA MAYAT DISINI!”


“Siapa yang kamu sebut mayat?"


“Kamu masih hidup?”


“Tentu saja aku masih hidup."


--


“Omong-omong siapa namamu?"


“Kansha.”


“Alandra.”


--


“Menurut kamu, makanan apa yang bisa kita makan?” tanya Kansha pada Alan yang berjalan di depannya.


“Apapun, selain batu dan tanah.” Jawab Alan acuh.


“Kalau kuberi ulat, mau?” tawar Kansha terkekeh.


“Kamu berniat menjadikan gubuk kita serasa restoran begitu?”


“Ide bagus. Jadi kalau kita terdampar lagi, kita tidak perlu khawatir kelaparan lagi.”


“Dasar gila.” decih Kansha. Alan tertawa keras.


--


"Kenapa kamu melihatku terus?" tanya Alan bingung.


"Karena kamu tampan. Dan begitu memesona. Perempuan manapun, tak akan bisa lari dari pesonamu." jawab Kansha.


Alan mengerutkan dahinya bingung. "Kamu sedang memujiku?" tanyanya.


"Siapa lagi lelaki didepanku selain kamu?"


--


"Jawaban apa yang ingin kamu dengar?"


"Apapun yang keluar dari mulutmu."


Kansha terdiam sebentar, Dia lalu menatap Alan. "Asal kamu mau berjanji sesuatu padaku."


"Apa?"


"Jangan pernah coba mengartikan jawabanku saat ini dan percepat pernikahanmu dengan Aisyah."


"Nomor satu bisa kupertimbangkan. Tapi untuk nomor dua, kenapa? Aku ingin tahu alasan nya."


"Karena..."

__ADS_1


Kansha menatap Alan. Tubuhnya mendekat dan tiba-tiba, dia mencium bibir Alan.


Cup


--


"Mau kemana kamu? Minta maaf padanya sekarang." tegasnya dengan nada dingin.


"Aku tidak punya hak untuk meminta maaf dan tidak akan pernah melakukannya."


Alan menyentak bahu Kansha dengan keras membuat Kansha meringis sakit, "Awshh, sakit."


"Minta maaf atau kulaporkan perbuatanmu saat ini juga." desisnya.


"Lakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi yang jelas, aku tidak salah sama sekali." Usai mengatakan itu, Kansha menyentak tangan Alan k**emudian pergi tanpa sepatah kata lagi.


--


“Tidak perlu. Tapi aku ingin menggantinya dengan permintaan lain.” Tukas Alan.


Kansha menatapnya penuh kebingungan.


“Apa?”


“Tolong ganti sekarung kausku, dengan suatu hal yang bisa kurasakan seumur hidupku.”


“Apa itu?”


“Menikah denganku.” Tandas Alan.


--


"Saya terima nikah dan kawinnya Kansha Andara Williams binti Zakariya dengan mas kawin tersebut tunai." suara lantang Alan menggema di seluruh ballroom.


"Bagaimana saksi?"


"SAH."


Semua orang mendesah lega dan mengucap syukur tak terkecuali Alan dan Kansha. Pasangan yang baru sah ini saling menatap penuh cinta. Senyuman bahagia terlukis sangat jelas di wajah mereka.


Menikah denganku dan jalani masa tua bersamaku.


Dan Alan mewujudkan impiannya.


"Aku berhasil memperisterimu." bisik Alan.


...----...


...And Yap! Happy Ending akhirnya:))...


...But last not last.....


...Kisah mereka baru saja dimulai....


Oh ya tadi ada banyak adegan flasback dan aku sengaja nambahin biar kesannya lebih terasa aja. Tapi kalau gak nyaman boleh di skip!:(


Terakhir, terima kasih ya masih setia dengan karya ini. Btw, ini hampir tamat loh tinggal beberapa part penghabisan lagi. (Tolong nantikan karya kedua ya!🙈)


Segitu saja dulu. Semangat ya untuk hari kamisnya! Stay healthy and keep smile!


😊🙏💙🖤


^^^Salam,^^^


^^^KyGe^^^

__ADS_1


__ADS_2