My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 62.


__ADS_3

Mereka sudah sampai di unit gawat darurat. Alan dihadang oleh perawat untuk tidak masuk.


“Tolong, jangan tinggalkan aku mas.” Ucap Aisyah pelan dengan air mata mengalir.


Alan menganggguk, “Bertahanlah.”


Aisyah mengangguk kemudian Aisyah dibawa ke ruangan. Setelah itu pintu ditutup, Alan pun duduk di kursi yang disediakan.


Tak lama, Alfin muncul. Dia duduk di dekat Alan. Alan mendongak menatap adiknya.


“Ada apa sama Aisyah mas?” tanya Alfin.


“Dia jatuh terguling dari tangga,” jawab Alan singkat.


Alfin terkejut, “Keadaannya bagaimana?”


Alan menggeleng, “Dia baru saja masuk.” Alfin mengangguk mengerti.


Alan dan Alfin terdiam. Alfin sibuk dengan pemikirannya sedangkan Alan sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam fikirannya. Lama diam, Alan akhirnya menoleh pada Alfin.


“Fin.” Panggil Alan.


Alfin menoleh, “Apa mas?”


“Mas lihat tadi tangan Kansha diperban. Dia kenapa?”


“Oh itu. Kansha bilang dia mengalami kecelakaan kecil.”


“Kecelakaan?” mata Alan membelalak. Alfin mengangguk.


“Bagaimana keadaannya sekarang? Dia terluka parah?” tanya Alan dengan nada cemas.


“Tidak. Dia bilang hanya terluka di siku dan sedikit memar di punggung. Sisanya dia baik-baik saja.” Jawab Alfin menenangkan hati Alan.


“Syukurlah kalau begitu.” Desah Alan lega.


“Oh ya, Mas.” Panggil Alfin. “Laki-laki asing yang disamping Kansha itu siapa? mas kenal?” tanya Alfin penasaran.


Raut Alan sedikit berubah, “Kenapa kamu bertanya?”


“Ya soalnya dia dan Kansha terlihat cukup dekat. Begitupun interaksinya dengan Nana.”


“Kamu memangnya tidak bertanya dia siapa?” tanya Alan sedikit memalingkan muka.


Alfin menggaruk kepalanya, “Aku lupa. Keasikan ribut sama Nana.” Ucapnya menyengir.


Alan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. “Awas ntar jodoh.” Ledek Alfin.


“Aku dan dia? Hah, terfikir saja tidak. Bisa mati muda kalau aku menikah dengannya.” Dengus Alfin.


“Kamu tidak pernah mendengar pepatah benci jadi cinta?” goda Alan.


Alfin berdecih, “Aku tidak benci padanya. Aku hanya kesal dengan sikapnya yang selalu mengajakku perang mulut.”


“Tapi kenapa kamu membawanya menginap di apartementmu?”


“Itu karena..” Alfin memalingkan mukanya. “Dia..tidak punya tempat tinggal saat itu. Aku mengasihaninya yang ingin kabur ke luar negeri hanya memakai sandal rumah. Jadi kubawa dia menginap sementara. Lagipula apartement itu kosong. Lumayan kan ada tukang bersih-bersih meski nyatanya dia membuat rumahku tambah berantakan.” Gerutu Alfin pada akhir kalimatnya.


“Kalian memang pasangan serasi.” Komentar Alan tertawa.


Alfin memutar bola matanya malas.


***

__ADS_1


Alvaro, Kansha dan Nana sedang dalam perjalanan. Sepanjang perjalanan hanya kebisingan jalan raya yang meramaikan perjalanan mereka. Sedang di dalam mobil tidak ada yang bersuara. Alvaro berkali-kali bertukar pandangan dengan Nana begitu melihat Kansha yang pendiam tak biasanya. Kansha hanya asik melihat keluar jendela.


Mobil yang dikemudikan Alvaro sampai di sebuah gedung apartment. Mereka bertiga pun masuk dan menuju salah satu unit. Itu adalah apartement Alvaro yang tak terpakai setelah dia lulus kuliah.


Suasana apartement itu terlihat luas dan rapi. Barang-barang termasuk dekorasi sangat terlihat khas lelaki. Alvaro lalu membawa mereka berdua ke kamar utama. Nana pun menaruh barang-barangnya di kamar. Setelah itu menuju ke ruang tamu kembali.


“Maaf ya, apartementnya memang sangat kecil. Aku membelinya sewaktu kabur dari ayahku dulu memakai uangku sendiri jadi tidak banyak yang bisa dibeli.” Ucap Alvaro tidak enak.


“Kamu bilang apa sih. Jelas-jelas ini lebih dari cukup. Untuk ukuran satu orang yang tinggal, ini sangat sempurna.” Puji Nana.


“Aku senang mendengarnya.” Balas Alvaro tersenyum.


“Kansha.. menurutmu ini bagus bukan?” tanya Nana. Tak ada tanggapan dari Kansha membuat Nana menoleh. Kansh rupanya sedang melamun.


“Kansha.” Nana menyikut Kansha.


Kansha mengerjap kaget, “Iya apa?” tanyanya.


Nana menghela nafas pelan, “Kamu melamun apa?”


“Aku tidak melamun kok.” Balas Kansha menyentuh kedua pipinya dengan punggung tangan.


“Jangan bohong. Kamu pasti memikirkan soal kejadian di rumah sakit tadi kan?” tebak Nana.


“Kamu ngomong apa sih. Sok tahu.” Tukas Kansha berkelit.


Nana berdecih, dia lalu kembali menoleh pada Alvaro. “Terima kasih ya Al sudah mau mengizinkanku tinggal disini sementara. Tenang saja, hanya dua malam. Lusa nanti aku akan pergi menjadi relawan di Kalimantan.” Ucap Nana.


Kansha tersentak kaget, “Oh ya, aku lupa soal itu. Kamu serius mau berangkat?” tanya Kansha menoleh pada Nana.


“Aku yakin. Aku juga negatif bukan jadi tidak akan ada masalah.” Aku juga sudah meminta obat penguat rahim pada dokter Mila, tambah Nana dalam hati.


“Iya sih. Tapi dengan situasi yang sekarang, kondisimu pasti sangat tidak menguntungkan. Kamu masih yakin mau tetap ikut?” tanya Kansha lagi. Dia khawatir pada keadaan jasmani Nana terutama psikisnya juga. Pertengkarannya dengan Ruben pasti banyak menguras energi Nana.


Nana menyentuh kedua tangan Nana. Dia menggenggamnya dengan lembut dan menatap mata sahabatnya itu dengan yakin. Bermaksud meyakinkannya bahwa dia bulat pada keputusannya.


Kansha terdiam berfikir. Apa yang dikatakan Nana memang benar. Tapi tetap saja dia khawatir. Nana akan berada jauh di pedalaman. Tanpa sinyal internet dan penerangan sama sekali. Lalu bagaimana bila terjadi sesuatu? Kansha tak berani membayangkannya.


“Kansa, biarkan Nana melakukan apa yang dia yakini. Itu adalah hak Nana dan kehidupan Nana. Mungkin bisa saja Nana mendapatkan terapi mental disana dan Nana akan jauh lebih baik ketika kembali.” Ujar Alvaro membantu meyakinkan Kansha yang masih ragu.


“Ya, Kansha.” bujuk Nana menggoyang-goyangkan tangan Kansha dan menatapnya memelas.


Kansha menatap Nana dan menghela nafas, “Jam berapa penerbanganmu? Aku akan mengantarmu.” Kata Kansha.


Nana melengkungkan senyumnya. “Jam sepuluh pagi.”


***


Malam menjelang, Alvaro dan Kansha sedang beristirahat di minimarket. Mereka sedang makan semangkuk mie dengan kopi dingin. Lumayan mengenyangkan.


“Ini jauh lebih baik daripada makan di restoran.” Desah Kansha senang.


“Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan mie instant.” Timpal Alvaro. Dia lalu meminum kopinya.


“Ini namanya surga dunia. Kenikmatan yang bisa dinikmati mulai dari lima ribuan saja.” Tukas Kansha bahagia.


Alvaro tersenyum, “Sepertinya kamu penggila mie instant.”


Kansha menghentikan makannya dan menerawang, “Saat aku kuliah dulu. Aku sangat ingin makan seperti teman-temanku. Mereka makan di kafe, menghabiskan uang mereka tanpa perlu khawatir tentang hari esok. Ketika melihat mereka makan daging, aku juga ingin. Tapi aku tidak bisa membelinya hingga pelarianku ya ke mie goreng.” Tutur Kansha sembari tertawa. Alvaro jadi ikut tertawa mendengar cerita menyedihkan sekaligus lucu itu.


“Aku minta maaf harusnya aku tidak tertawa tapi ini cukup lucu.” Ujar Alvaro menyeka air mata nya yang keluar.


Kansha terkekeh, “Hah, kalau mengingat masa-masa itu, aku jadi sangat merindukannya. Itu benar-benar seperti titik terendahku.” Ujar Kansha mendesah.

__ADS_1


“Ada satu yang membuatku penasaran. Bukankah kamu adalah putri pasangan Williams tapi kenapa kamu..” Alvaro tak melanjutkan ucapannya. Kansha otomatis mengerti.


“Sejak SMA, hubunganku dengan kedua orang tuaku memburuk. Itu sebabnya aku membuang nama margaku waktu itu. Aku hidup menumpang dengan waliku hingga lulus SMA. Tapi sejak kuliah aku memutuskan hidup mandiri hingga hubunganku membaik kembali dengan kedua orangtuaku. Belum lama, sekitar setahun terakhir ini.” jelas Kansha.


“Kalau boleh tahu...apa masalahnya?” tanya Alvaro penasaran.


Kansha tersenyum kecil, “Aku tidak bisa memberitahumu karena terlalu pribadi. Yang jelas hal itu juga yang membuatku merasa bersalah hadir diantara mereka.”


Alvaro mengangguk mengerti.”Apapun masalah itu. Kamu sudah menyelesaikannya dengan baik. Kerja bagus.” Puji Alvaro.


Kansha tersenyum manis, “Terima kasih, pengacara Alvaro.”


Alvaro ikut tersenyum.


“Oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu lagi.” Celetuk Alvaro lagi.


Kansha yang tengah menyeruput mie mendongak pada Alvaro.


“Lelaki tadi itu Alan bukan? Orang yang membawamu keluar ketika pesta reuni.” Tanya Alvaro.


“Bagaimana kamu tahu namanya?”


“Aku bertemu dengannya di kantormu ketika kamu terbang ke Korea waktu itu.”


“Ah begitu.” Kansha mengangguk. “Dia memang Alan. Kenapa?”


“Apa hubunganmu dengannya?” tanya Alvaro.


“Kenapa bertanya?” tanya balik Kansha dengan dahi mengernyit.


“Sepertinya dia menyukaimu. Kamu juga menyukainya?”


Kansha tersenyum kecil, “Kamu terlalu jauh berfikir. Hubungan kami tidak seperti dugaanmu. Kami hanya berteman. Lagipula dia sudah memiliki calon istri.” Kata Kansha dengan nada pelan.


“Calon istri?”


Kansha mengangguk. “Perempuan yang berada di brangkar itu, dia adalah calon istrinya.”


"Benarkah?" tanya Alvaro terkejut. Kansha mengangguk.


"Kufikir kalian memiliki hubungan lebih. Cara dia menatapmu sangat berbeda. Jelas dia menyukaimu. Tapi ternyata dia sudah memiliki calon istri."


"Tapi apa kamu menyukainya?"


Kansha menoleh terkejut pada Alvaro. Dia tersenyum kecil menyembunyikan perasaannya yang bergemuruh.


"Aku tidak mungkin dan tidak bisa menyukainya. Aku akan dicap pelakor nanti." ujar Kansha tertawa garing.


"Selain belajar hukum, aku juga belajar psikology. Aku tahu kamu berbohong." kata Alvaro menatap Kansha.


Kansha mengerjap pelan, "Tidak masuk akal. Aku jujur dengan perkataanku."


"Kamu memang jujur, tapi pada logikamu bukan pada hatimu. Kamu seperti berdiri di tepi jurang, melompat masuk atau berlari menjauh. Logikamu mengatakan untuk berlari menjauh tapi hatimu tidak. Dia ingin kamu melompat masuk. Meski berbahaya, tapi disana kamu akan mendapat pembenarannya."


Kansha tersenyum kecil, "Mencintainya adalah sebuah pembenaran yang salah. Meski diberi negatif, dia mungkin akan positif tapi dalam harfiah, dia justru makin salah. Apalagi diberi positif, realiasasinya akan jauh lebih keliru. Itu lah hukum alam di dunia manusia." kata Kansha menatap ke arah jalan. Jalanan itu lengang tak seperti biasanya.


"Kalau begitu, cari pembenaran yang lain." ucap Alvaro.


"Apa maksudmu?"


Malam makin larut. Angin berhembus pelan mengantarkan gelombang suara Alvaro pada telinga Kansha.


"Cari lelaki lain yang bertanda sama untuk menjadikannya positif."

__ADS_1


Kansha tertawa kecil, "Siapa?"


"Aku." ujar Alvaro menatap Kansha dalam.


__ADS_2