
Alan berlari sepanjang koridor rumah sakit. Keringat dingin mengalir di dahinya. Jantungnya berdegup keras karena kekhawatiran yang menggelora. Dia cemas akan kondisi Aisyah.
Alan sampai di ruang inap Aisyah. Di luar sudah ada bunda dan ayah yang tengah menunggu dengan risau. Bunda yang pertama melihat kedatangan Alan langsung menghampirinya dan memeluknya.
"Alan." tiba-tiba bunda menangis. Alan pun mengelus pundak bunda dan menenangkannya.
"Bunda ada apa? Kenapa bunda menangis?" tanya Alan dengan lembut. Dia menghapus bulir air mata di pipi bundanya.
"Alan, hiks. Aisyah, hiks." bunda masih saja terisak. Alan pun makin khawatir.
"Ada apa sama Aisyah bun? Aisyah baik-baik saja kan?"
Bunda tak menjawab. Dia malah lebih membenamkan kepalanya di dada sang putra. Menangis keras hingga membuat Alan memalingkan wajah pada ayah. Bertanya melalui isyarat. Ayah hanya mendesah.
"Yah?"
Ayah mendekat. Dia menatap Alan dengan raut kesedihan membuat Alan makin menduga-duga. Apakah kondisi Aisyah makin buruk? Apakah lukanya makin parah?
"Yah...tolong jawab pertanyaan Alan." pinta Alan.
Ayah menepuk pundak Alan pelan kemudian menghela nafas.
"Aisyah sakit keras." lirih ayah.
Bagai petir yang menyambar tanpa kata-kata. Jantung Alan serasa diremas keras. Kabar itu seolah menulikan telinganya.
"Ayah jangan bohong. Ayah becanda kan?" Alan tak percaya.
"Ayah juga belum tau detail pastinya, Aisyah masih diperiksa dokter. Tapi kabar sementara, Aisyah mengidap kanker otak."
Tubuh Alan melemas. Tungkainya lunglai. Dia tidak percaya dengan pendengarannya. Aisyah..dia mengidap kanker?
"Ayah...ayah yakin? ayah tidak bohong kan? ayah tidak boleh bermain-main dengan penyakit seperti itu!" Maafkan, Alan yang sudah membentak ayahnya seperti itu.
"Nak, ayah tidak berani bermain-main." tukas ayahnya serius.
Alan melepaskan pelukan bundanya. Dia jatuh terduduk di lantai dingin rumah sakit.
"Kita berdoa semoga Aisyah baik-baik saja." ujar ayah berjongkok di depan anaknya dan menepuk pundak Alan.
Alan tak menjawab. Hanya air mata yang mengalir sebagai pertanda kesedihan hatinya. Aisyah, dia wanita yang baik. Sedang diberi ujian oleh Sang Pencipta.
***
Rombongan Alfin sedang makan bersama dengan warga Desa Mauri. Tadi sore, para pemburu di desa membawa hasil buruan mereka. Yaitu celeng. Tapi karena rombongan Alfin rata-rata muslim kecuali Nana dan Rendy, dokter anak rekan kerja Alfin, mereka menolak dengan halus makanan yang terbuat dari daging celeng tersebut. Alhasil, Pak Mari menyuruh menyembelih dua ekor ayam sebagai santapan para tamunya.
Rendy dan Niko sedang asik membakar ayam di depan balai Panjang. Asap putih membumbung tinggi membelah malam. Sedangkan yang lainnya, asik mengobrol dan becanda. Suara bahkan tambah semarak, karena Andi, seorang relawan lain membawa ukulele. Mereka pun bernyanyi bersama dengan warga desa Mauri.
Kemudian Niko datang membawa daging ayam yang sudah dipanggang. Dia lalu menaruhnya di tengah-tengah.
"Wah! emang ya kalau chef beda." puji Alfin. Diantara yang lain, Niko memang paling jago masak.
"Iya dong, bang Niko." ujar Niko menepuk dadanya bangga. "Jangan dimakan dilu tapi, nunggu yang satunya matang." lanjutnya. Dia pun kembali turun ke beranda mengambil ayam satunya yang tengah dijaga Rendi.
"Eh nyanyi dong!" celetuk Erin.
"Boleh-boleh. Mau lagu apa?" tanya Andi. Dia siap dengan ukulelenya.
"Peri Cintaku." timpal Putri. Mereka semua sontak menengok ke arahnya.
"Wah, putri. Lagi relationship beda iman yaa." ledek Erin. Mereka semua ikut meledek Putri.
"Apa sih, pacar saja tidak punya." sanggah Putri.
__ADS_1
"Terus kenapa ingin request itu?" tanya Alfin.
"Ya konsep pacaran beda iman lagi booming sekarang. Cocok saja." balas Putri santai.
"Astaga." Nana geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Mas Alan sama Kansha juga beda iman." bisik Alfin pada Nana yang duduk disampingnya.
Nana menyikut Alfin, "Jangan sembarangan ngomong. Mereka tidak akan pacaran." tukas Nana ikut berbisik.
"Aku kan hanya bilang mereka beda iman bukan pacaran. Lagipula, kalau mereka berpacaran, apa masalahnya denganmu?" bisik Alfin.
Nana menoleh dan melotot kesal pada Alfin. Tindakan mereka itu ternyata dilihat oleh anggota yang lain.
"Kalian bisik-bisik apa sih? asik sekali." goda Andi.
"Tidak ada." jawab Nana singkat.
"Dia bertanya, bisa tidak kalau porsinya dua kali lipat." timpal Alfin santai.
Nana melotot kesal, dia mencubit Alfin."Aku tidak bilang begitu ya!"
"Ya sudah-sudah. Jangan bertengkar. Kamu boleh nambah berapa kali pun. Bebas." lerai Andi. Nana hanya menunduk malu. Meski begitu, dia tetap menoleh sengit pada Alfin. Alfin hanya menjulurkan lidah.
Grrr
Suara gemuruh tiba-tiba terdengar. Semua orang sontak terdiam. Mereka saling berpandangan. Menduga-duga suara apakah itu. Alfin lalu buka suara.
"Bukan suara apapun. Jangan mikir yang aneh-aneh." katanya positif. Semua orang pun menghela nafas lega. Mereka pun kembali melanjutkan kegembiraan.
"Aku ke bawah dulu.Mengecek apakah ayamnya sudah matang atau belum." pamit Alfin. Dia pun bangkit dan berjalan menuruni tangga.
Sampai di pelataran, Alfin melihat Rendy dan Niko masih memanggang ayam. Rendy yang mengipasi api agar terus menyala sedangkan Niko membalik-balikan ayam.
"Belum matang?" tanya Alfin duduk di samping Niko.
"Tadi suara apa? Kalian dengar?" tanya Alfin lagi.
"Dengar kok. Paling hewan. Desa ini dekat dengan hutan kan." timpal Niko santai.
"Bukan dekat lagi, tapi memang ini hutan." imbuh Rendy.
Alfin tersenyum kecil mendengarnya. Dia pun melihat ke kejauhan. Suasananya cukup gelap gulita karena tak ada cukup listrik disini. Satu-satunya penerangan mereka adalah dengan lentera. Listrik hanya tersedia di balai desa.
Grr
Niko dan Rendy menghentikan aktivitas mereka begitupun Alfin yang mematung. Mereka saling berpandangan. Suasana tegang seketika tercipta.
"Jangan bilang hewan buas itu mendekat. Suaranya keras sekali." lirih Rendy merinding ketakutan.
"Kalaupun ada hewan yang mendekat. Para warga pasti akan memberitahu kita." tukas Niko.
Grr
Tiba-tiba tanag serasa bergetar. Alfin berkeringat dingin.
"Sepertinya ini bukan hewan buas." kata Alfin menatap dua rekannya. Rendy dan Niko menelan salivanya.
"Gempa bumi!"
Teriakan Pak Mari menyentak mereka. "Aaa!!" Alfin, Rendy dan Niko sontak berteriak.
Kemudian bagai film dokumenter, tanah berguncang keras diiringi suara gemuruh dan dentuman. Gemuruh itu lama-lama makin keras. Para warga berteriak. Mereka berlarian keluar dengan membawa beberapa barang berharga. Alfin, Niko dan Rendy naik ke Rumah Panjang.
__ADS_1
"Turun sekarang! ada gempa bumi!" teriak Alfin menghentikan kegiatan anggotanya.
"Apa? Gempa Bumi?!" pekik Nana. Alfin mengangguk. Mereka pun berteriak panik.
Alfin menghampiri Nana dan memegang tangannya. "Ayo pergi dari sini." ajak Alfin.
Alfin, Nana dan lainnya segera berlari turun. Mereka berlari bersama para warga lainnya dan mengungsi ke tempat lebih tinggi. Ada bukit seperti padang rumput di sebelah utara desa Mauri ini.
Mereka berlari dengan teriakan yang terus bergema. Anak-anak dan bayi menangis. Suara klontangan benda-benda yang dibawa juga turut menambah suara riuh. Namun yang paling ditakutkan adalah guncangan tanah dan gemuruh yang terus menerus menusuk indra pendengaran mereka.
Pohon-pohon tumbang-tumbang. Rumah-rumah pun runtuh. Dan parahnya menimpa para warga didekatnya.
Sepuluh menit berlari, mereka yang selamat akhirnya sampai di punggung bukit. Suara guncangan pun mereda dan sebagai gantinya desa mereka tenggelam oleh tanah.
Para warga pun menangis melihat desa mereka hancur bahkan ada sanak saudara mereka yang tertimbun tanah ataupun terjebak diantara puing-puing bangunan.
Rombongan Alfin juga ikut menangis. Jantung mereka berdegup cepat dan keras. Setengah bersyukur karena selamat dan setengahnya lagi sedih karena ada korban yang belum selamat.
***
Kansha sedang lembur di kantornya bersama beberapa staf. Mereka harus membahas terkait pelaksanaan pembangunan kantor di Korea Selatan yang baru tahap awal.
"Kantor konstruksi yang disarankan oleh Tuan Williams setuju melanjutkan kerja sama. Dengan berivestasinya Garcx Coorperation, kekosongan keuangan bisa diatasi. Insinyur Lee Seong Gil mengatakan kalau bahan-bahan material sudah sampai di lokasi pembangunan." lapor Ajun.
Kansha menghembuskan nafas lega. Setidaknya sampai kini, tak ada masalah.
"Sampai saat ini tak ada masalah apapun lagi. Dan saya berharap hingga seterusnya. Teruskan kerja keras kalian. Rapat sampai disini. Hati-hati saat pulang. Selamat malam." tutup Kansha. Para staf pun beranjak bangun dan membereskan peralatan mereka. Dan satu persatu keluar ruangan.
Sedangkan Kansha memilih menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Dia mengerang karena tubuhnya kaku sudah rapat berjam-jam.
Tok tok
Seli datang membawa nampan kopi. Dia menghampiri Kansha yang tengah memejamkan mata.
"Ibu, silakan diminum dulu." kata Seli. Dia menaruh kopi itu di atas meja.
Kansha membuka mata, dia pun duduk tegak. "Kamu kenapa belum pulang?" tanya Kansha.
"Sesudah ini saya pulang bu. Ibu juga akan pulang bukan?" Kansha mengangguk.
ting!
Kemudian suara denting notifikasi berasal dari ponsel Seli. Seli mengambil ponselnya di saku blazernya.
"Dari suamimu?" tebak Kansha.
Seli menggeleng dengan tetap melihat ponselnya.
"Ada gempa bumi di Kalimantan Barat." kata Seli.
Kansha menghentikan minumnya. Dia menatap Seli. "Gempa?"
Seli mengangguk.
"Oh." ujar Kansha.
"Ibu tidak terkejut?"
"Tentu saja saya terkejut." jawab Kansha.
"Ibu tidak cemas?" tanya Seli lagi.
"Apa sih maksudmu?" tanya Kansha bingung. Dia meneguk kembali kopi hangat itu.
__ADS_1
"Bukankah Kalimantan Barat tempat sahabat ibu menjadi relawan?"
Kansha menyemburkan kopinya. Dia manatap Seli dengan membelalak kaget.