
Sebuah siluet lelaki memakai sweater putih terlihat berjalan keluar dari Incheon Internasional Airport. Lelaki itu sudah ditunggu oleh seseorang berpakaian hitam yang berdiri di depan pintu mobil yang terbuka. Lelaki itu masuk ke dalam mobil diikuti oleh lelaki seperti pengawalnya. Kemudian, mobil mulai melaju meninggalkan bandara.
***
"Thank you for everything." ucap Kansha tulus. Dia berjabat tangan dengan perwakilan Garcx.
"I am happy to be able to work with you. Hopefully in the future we continue to work together." balasnya.
Kansha tersenyum sembari mengangguk, "Sure. Thank you for the opportunity."
Akhirnya perwakilan Garcx meninggalkan aula rapat dan hanya menyisakan Kansha dan orang-orangnya. Kansha duduk lunglai di kursinya dan mendesah lega. Akhirnya setelah perjuangannya selama ini dan rapat yang hampir memakan waktu lima jam, dia bisa mencapai hasil memuaskan.
Kansha dan rombongannya berkendara di jalanan sepi Seoul ketika waktu sudah menunjukkan dini hari. Sepanjang perjalanan, Kansha hanya menatap ke luar jendela mobil. Banyak yang difikirkan di kepala gadis cantik itu.
Alan akan melakukan lamaran besok. Apakah itu berarti aku sudah tidak punya kesempatan?
Pertanyaan dengan satu jawaban jelas yang tak ingin diakui Kansha itu terus bergaung. Kansha dari awal seharusnya tidak boleh terus melabuhkan perasaannya pada Alan. Dirinya seharusnya bisa mengendalikan perasaannya agar tak terus jatuh hati pada lelaki itu. Kansha menelungkupkan kepalanya pada pinggir kaca. Andai waktu bisa dibalik, seharusnya dia tak naik pesawat itu agar tidak bertemu Alan.
Satu jam kemudian, tepat pada pukul dua pagi, Kansha sampai di hotel tempatnya menginap. Mengucapkan selamat malam pada Seli dan setelah itu berjalan masuk kamar dan langsung merebahkan diri. Kansha tak ingat kapan, tapi dia langsung jatuh tertidur.
***
Alan, Alfin dan Aisyah duduk di kamar rawat sembari menunggu bunda siuman. Tadi Alan sudah menghubungi ayah dan mengabarkan terkait bunda yang masuk rumah sakit. Ayah mengatakan akan segera sampai kesana dalam beberapa jam lagi karena ayahnya memang tidak tengah berada di Indonesia. Ayahnya itu sedang terbang ke Inggris sejak dua hari yang lalu.
Tak lama, bunda sadar. Alan, Alfin dan Aisyah langsung bergegas menghampiri bunda. Alfin memberinya minum yang langsung dihabisi bunda.
"Bagaimana perasaan bunda sekarang? Ada yang masih sakit?" tanya Alan masih risau.
Bunda menggeleng pelan. "Alan, jangan salahkan Kansha. Dia tidak bersalah." lirih bunda.
Alan mengerjap. Bagaimana bunda tahu bahwa Kanshalah yang akan disalahkan.
"Tapi bunda pingsan begitu meminum jus buatan Kansha." tukas Alan.
Bunda menggeleng kembali, "Bunda yakin bukan karena itu. Kansha tidak mungkin akan melakukannya." tegas bunda kembali. Dia memiliki firasat yang kuat bahwa Kansha adalah wanita yang baik.
Alan mendesah, "Bunda benar. Bunda mengalami pingsan akibat memakan serbuk kacang. Dan sangat tidak mungkin bila itu dilarutkan dalam jus." katanya.
"Bunda istirahat saja dulu." tambah Alan.
Begitu bunda istirahat, Alan mengajak Alfin dan Aisyah keluar ruangan.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian." lanjut Alan menatap Alfin dan Aisyah.
"Ada apa Mas?" tanya Aisyah.
Alan menoleh, "Ini berhubungan dengan kita."
"Maksud Mas?" tanya Aisyah lagi.
Alan terdiam sesaat, kemudian berucap. "Kurasa, kita harus mengundurkan lamaran kita sampai bunda sembuh." pungkasnya.
Aisyah terdiam di tempatnya. Begitupula Alfin yang memilih tak mencampuri.
"Aku mengerti." balas Aisyah pelan.
"Maafkan Mas, Aisyah. Tapi dengan kondisi bunda yang sekarang, mas benar-benar tidak akan bisa fokus."
"Aku mengerti, Mas. Aku juga sependapat dengan mas. Memang rasanya tidak etis bila kita tetap harus memaksakan lamaran kita sedangkan orang tua kita tengah jatuh sakit. Tapi masalahnya, bagaimana dengan keluarga Aisyah yang akan datang sebentar lagi?"
Soal itu, Alan belum memikirkannya.
"Kita tidak bisa meminta keluargamu kembali pulang. Jadi yang hanya bisa dilakukan adalah menyewa beberapa kamar hotel untuk ditempati sementara hingga menjelang hari-h." usul Alfin.
Alan mengangguk, "Kurasa itu memang satu-satunya jalan."
"Kalau begitu, Aisyah akan menghubungi Abi untuk memberitahukan mengenai hal ini." ucap Aisyah.
***
Sepeninggal Aisyah yang hendak menelfon abinya, Alan dan Alfin kembali ke kamar rawat bunda.
"Mas, mas benar-benar akan mengundurkan acara lamaran itu?" tanya Alfin.
Alan menghembuskan nafas pelan, "Mau bagaimana lagi. Kondisi bunda tidak memungkinkan."
"Kurasa kita harus memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelidiki lebih lanjut tentang Om Zakariya dan juga insiden ini." celetuk Alfin.
Alan mengangguk, "Kamu benar. Alfin, jaga bunda disini dulu. Mas ke rumah dulu."
"Mau apa mas?" tanyanya.
"Mengambilkan beberapa keperluan bunda." jawab Alan tenang.
"Kalau begitu, hati-hati di jalan, mas." Alan mengangguk dan setelah itu berjalan meninggalkan ruangan.
***
__ADS_1
Alan sampai di rumahnya. Begitu masuk, gelas-gelas jus yang awalnya berada di meja, kini tidak ada. Alan mengernyitkan dahinya, mungkinkah Alfin yang menyuruh bibi untuk merapikannya? Alan pun langsung memanggil pembantu mereka.
Bibi datang tergopoh-gopoh menghampiri Alan.
"Mas Alan, bagaimana keadaan nyonya?" tanya bibi cemas.
"Bunda baik-baik saja, bi. Oh ya bi, apa bibi yang membersihkan bekas gelas jus disini?"
Bibi menggeleng, "Bukan, Mas."
Alan mengernyitkan dahinya, bingung. Kalau bukan bibi lalu siapa lagi.
"Ya sudah bi. Bi, Alan minta tolong untuk menyiapkan keperluan bunda di rumah sakit." pinta Alan.
"Baik, Mas. Akan bibi siapkan." angguk bibi.
"Terima kasih ya bi." ucap Alan tersenyum.
***
Usai meminta tolong pada bibi, Alan naik ke kamarnya di lantai dua. Begitu masuk, Alan langsung mengunci pintu dan masuk ke walk in closet-nya. Alan bukan hendak mengganti baju, melainkan menuju sebuah ruangan lain disana. Alan menggeser lemari hitam yang penuh dengan kemejanya dan sebuah ruangan lain muncul. Begitu Alan masuk, lemari itu langsung berputar dan kembali ke posisi semula.
Ruangan itu memiliki sebuah kursi dan meja dimana meja itu tertaruh sebuah komputer. Itu adalah CCTV rahasia yang dipasang Alan di semua sudut rumahnya. Tak ada yang mengetahui hal ini selain dirinya sendiri ksrena memang ukuran kameranya yang kecil dan tak terlihat bila tidak diperhatikan. Melalui CCTV inilah, Alan bisa memonitor seluruh kegiatan di rumah.
Alan langsung menyetel CCTV ruang keluarga tepat di waktu kejadian.
Disana terlihat Kansha membawa sebuah nampan berisi jus dan kopi lalu menaruhnya di meja. Setelah itu nampak Kansha mendongakkan kepala dan langsung berjalan keluar ruang keluarga. Itu pasti disaat, Alfin memanggilnya untuk naik ke lantai 2. Tapi tak lama, setelah itu bunda datang dan langsung meminum tandas jus jeruk tersebut. Kemudian, bunda memegang kepalanya yang pusing dan pingsan tak lama kemudian. Tak lama, Aisyah datang terburu-buru ke ruang keluarga dan menjerit begitu melihat bunda pingsan. Tak lama, dirinya, Alfin dan Kansha yang berada di lantai dua langsung turun dan menghampiri bunda dan Aisyah. Setelah itu, Alan menghentikan video.
Tidak ada yang aneh dari kejadian ini. Semua alibi baik itu dari Kansha atau Aisyah benar adanya. Alan lalu berpindah ke CCTV dapur.
Dia menyetel waktu setelah Alfin menelfonnya. Saat itu di dapur, tidak ada siapapun, Alan mempercepat video.
Pada pukul 11.00, terlihat bunda dan Aisyah memasuki dapur dan langsung berkutat dengan bahan masakan. Sedangkan bibi, diketahui tengah membeli bahan masakan lain untuk acara besok bersama supir bunda.
Pada menit ke dua puluh, Kansha terlihat memasuki dapur. Dia lalu membantu bunda memasak. Sepuluh menit kemudian, bunda keluar dari dapur dan hanya menyisakan Kansha dan Aisyah. Mereka terlihat seperti tengah berdebat. Alan mencoba menerka-nerka apa yang mereka bicarakan melalui gerakan mulut mereka.
"Mbak, jadi tidak tahu malu." ucap Alan terbata-bata. Alan mengernyitkan dahi, bingung dengan maksud ucapan Aisyah.
"Aku sudah mengatakan pada mbak, untuk menjauh dari kehidupan Mas Alan. Tapi kini, karena sudah tidak bisa mendekati Mas Alan secara langsung, mbak memanfaatkan Alfin hingga bisa datang ke rumah ini. Mbak ingin mendapat perhatian siapa? Mas Alan atau bahkan kini bunda?" Alan dengan terbata-bata membaca gerakan mulut Aisyah.
"Bagaimana bisa Aisyah mengatakan hal seperti itu?" gumam Alan bingung.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu sepertinya benci sekali denganku."
Ucapan Kansha mengundang pertanyaan yang sama di benak Alan. Benar, mengapa Aisyah seperti membenci Kansha?
Tapi omong-omong, Alan harus memuji dirinya terlebih dahulu yang handal membaca gerakan bibir seseorang.
"Dengar. Usia kita berbeda dua tahun, dan kamu benar-benar tidak sopan. Sudah berapa kali kubilang, aku tidak berniat merebut calon suamimu."
Apakah itu berarti Kansha dan Alan berdebat tentangnya? Tapi apa alasannya? Mengapa Aisyah bisa mengatakan hal seperti itu?
"Aku tidak akan bilang seperti ini, kalau tidak ada buktinya. Katakan saja, kalau mbak memang menyukai Mas Alan."
Aisyah sepertinya sudah berlebihan. Mana mungkin Kansha menyukainya.
Kansha terlihat diam sesaat. Kemudian mulut Kansha terbuka, Alan mencoba membacanya.
"Iya, aku menyukainya, kamu puas?!"
"APA?" Alan terkejut setelahnya.
Kansha mengatakan dia menyukai dirinya? Benarkah? Mungkinkah Alan salah membaca gerakan bibirnya? Alan kembali memutar mundur tayangan itu. Dia mencoba membaca lagi gerakan bibir Kansha.
"Iya, aku menyukainya, kamu puas?!"
Alan terdiam. Dia tidak salah membacanya. Kansha memang mengatakan itu. Alan terhenyak di kursinya.
Tidak mungkin..
***
Di Seoul, kota pusat ekonomi dan jantung Korea Selatan sudah memasuki waktu pagi. Aroma musim gugur dengan daun-daun oranye berjatuhan melepaskan diri dari sang induk pohon, adalah hal pertama yang Kansha lihat begitu dia membuka jendela kamar hotel. Musim gugur di Negeri Ginseng berarti musim lagu balada, genre sentimental yang pas dengan mantel coklat panjang warga Korea khas musim gugur. Seperti dirinya, yang merasa sentimental akibat insiden kemarin. Dan lebih sentimental begitu sadar bahwa hari ini, pujaan hatinya akan melamar wanita yang dia cintai.
Kansha mengembuskan nafas pelan, lalu mencoba mengirup sebanyak-banyaknya udara musim gugur Seoul. Menenangkan hatinya agar bisa terus menatap ke depan.
Kansha turun ke lobi beberapa menit kemudian setelah bersiap-siap. Dia menghampiri Seli dan dua orang lainnya yang sudah menunggunya. Mereka hendak sarapan sebelum pergi ke kantor.
Usai sarapan, Kansha dan rombongannya menuju calon kantor baru ARC. Kantor itu terletak di Distrik Mapo, salah satu distrik terkenal di Seoul. Kansha rencananya juga ingin membeli apartement sekitaran kantornya nanti agar bila berkunjung, dirinya tidak perlu repot harus menginap di hotel.
Kansha memasuki kawasan calon kantor ARC itu. Bangunan yang sudah rampung adalah di bagian utama. Mereka hendak mengawasi sejauh mana perkembangan kantor itu dibangun.
Mereka bertemu dengan Mr. Haseong, insinyur sekaligus kepala tim pembangunan kantor ARC.
"The development progress has reached 95% faster than expected. The area unfinished is for the Public Relations and Park Office. We will also build a mosque as requested by Mrs. Kansha." ucap Mr.Haseong dalam rapat bersama Kansha.
Kansha mengangguk puas, "So when will this be finished?"
__ADS_1
"Within one month, you can hold an office opening ceremony." ucap Mr.Haseong tersenyum.
Kansha tersenyum mendengarnya, "That's good news."
"Then, after this I will take you a walk to see your new office."
"Sure." balas Kansha.
Kansha, Seli dan manajer utama ARC mengikuti Mr.Haseong melihat-lihat pembangunan kantor yang hampir rampung itu. Dimulai dari lobi dan keseluruhannya, semuanya sesuai dengan permintaan Kansha. Kansha berdecak puas.
"Starting this area, I hope you are careful of building materials. We will see the extent to which your dream garden is built."
Mr. Haseong kemudian berjalan menuju area belakang kantor. Seperti yang dikatakannya, area ini masih penuh dengan bahan material, belum lagi dengan kondisi tanah yang belum mulus. Mereka harus berhati-hati dalam melangkah terutama Kansha dan Seli yang mengenakan sepatu hak tinggi. Ceroboh sedikit saja, mereka akan terpeleset.
"I am always amazed by you, Mrs. Kansha. The average building in Seoul is an existing building. But you even want to build it from the start. It requires a greater cost than only the use of buildings that live."
Kansha tersenyum mendengar pujian yang dilayangkan Mr. Haseong.
"I know this is more expensive but because it has become my dream, I will not regret it. Because this office will be a place where my dreams will slowly be realized."
Mr. Haseong bertepuk tangan mendengarnya.
Usai melihat-lihat, mereka hendak kembali ke lobi. Namun begitu berbalik, kaki Seli tergelincir oleh batu yang tak sengaja dia injak ketika hendak melangkah. Seli pun langsung terjatuh seketika.
Bruk
"Seli!" pekik Kansha kaget. Dia langsung berjongkok di depan Seli.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kansha khawatir.
"Saya tidak apa-apa, bu. Maaf saya ceroboh." jawab Seli sedikit meringis.
Seli lalu dibantu oleh Mr.Haseong dan Arvin, manager umum ARC berdiri. Namun Seli hampir kehilangan keseimbangan lagi.
"Kita ke rumah sakit saja bagaimana?" tawar Kansha. Karena sepertinya kaki Seli terkilir.
Seli menggeleng, "Tidak perlu, bu. Lebih baik kita makan siang saja. Kita harus mengejar penerbangan sore nanti." ucapnya.
Kansha berdecak, "Kamu masih saja memikirkan hal itu."
"Saya benar-benar tidak apa-apa, bu. Kita sebaiknya jangan membuang waktu." balas Seli lagi meyakinkan.
Kansha mau tak mau mengangguk, sekretarisnya itu memang keras kepala. Tapi Kansha jauh lebih keras kepala.
"Kita ke mobil saja. Arvin, tolong bantu Seli berjalan." pinta Kansha. Arvin mengangguk.
"Baik, bu."
Mereka lalu berjalan kembali menuju depan kantor. Ketika sampai di depan mobil, Kansha menoleh pada Mr.Haseong yang mengantarnya.
"Mr. Haseong, thank you for the extraordinary tour. I expect your hard work for the construction of this office."
Mr. Haseong mengangguk, "It has become my job."
"So, see you one more month."
"Be careful on the road and safe flight."
"Thank you."
Usai berpamitan, Kansha dan rombongannya masuk ke mobil. Mereka melambaikan tangan dan dibalas oleh Mr.Haseong. Mobil pun dijalankan dan melaju pergi membelah jalanan kota Seoul.
Di jalan, Kansha melirik Seli yang diam-diam meringis kesakitan. Kansha pun menatap sang supir melalui kaca depan.
"Kita ke rumah sakit dulu."
...------------------...
tok tok tok
SAHURRR📣
...Marhaban ya Ramadhan, teman-teman!!🤗...
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang beragama Muslim🙏😊
Semoga di bulan penuh berkah ini, kita semua diberikan pahala yang berlipat ganda atas kebajikan kita, Aamiin🙏
Tetap #PuasaAtHome dengan semangat yaa! Dan aku berharap, cerita ini masuk ke jadwal harian kalian saat berpuasa nanti, hehe😅
One more, terima kasih untuk semuanya yang sudah setia membaca kisah ini hingga sekarang :))
Jangan lupa vote, koment dan likenya yaa 😊
Aku gak bisa berkata-kata atau berbasa-basi, maafkan akuu :'(
Jadi udah yaa, 😅
__ADS_1
^^^Wasalamu'alaikum :)^^^
^^^~KyGe^^^