
Rombongan Kansha sampai di Rumah Sakit Hangeung. Seli langsung diperiksa oleh dokter. Kansha menemaninya.
Seli mencoba menggerakan kaki kirinya yang terkilir dan terdengar sebuah suara saat sendi kakinya digerakan. Seli meringis kesakitan.
"The injury is quite severe because when moved the joint makes a sound. It seems that because you wear high heels on uneven terrain causes a higher level of risk. I have already treated it and it might be causing some uncomfortable pain in the meantime."
Perkataan dokter membuat Kansha menatap Seli yang kini kakinya sedang digips oleh perawat. Kalau begitu caranya, Seli mungkin tidak bisa naik pesawat disaat kakinya cedera. Seli mungkin bisa saja naik pesawat tapi pasti rasanya tidak akan nyaman.
"We have to take a plane this afternoon, can it still be?" tanya Kansha.
"Of course, I will provide a medical letter regarding this but since this cast is in place for less than 48 hours, usually the cast has to be separated by lengthening it to avoid swelling during the flight." balas dokter tersebut.
Kansha merenung. Rasanya tetap tidak akan nyaman bagi Seli.
"Thank you, doc."
"Don't forget to redeem the mediciene in the pharmacy. Get well soon." balas dokter.
Usai pemeriksaan, Kansha, Seli dan Arvin duduk di salah satu kursi di lobi.
"Saya akan menebus obatnya dahulu. Arvin, tolong jaga Seli." ucap Kansha.
"Baik bu." balas Arvin.
Kansha pun meninggalkan mereka dan berjalan menuju apotik. Tak lama, Kansha sampai, dia menunggu di kursi yang disediakan.
"Mrs. Seli Devita." panggil apoteker.
Kansha bergegas bangkit dan menghampirinya. Kansha lalu dijelaskan tentang obat-obat apa saja dan bagaimana cara meminumnya. Setelah itu, Kansha mengucap terima kasih dan tinggal membayar pengobatan.
Begitu berbalik, Kansha yang sedang fokus pada obat-obat Seli, tertabrak oleh seseorang. Obat-obat Seli jatuh berserakan ke lantai.
bruk
"Oh, sorry." kata orang itu. Dia berjongkok ikut memungut obat-obatnya yang turut berserakan.
"It's oke. This is your medicine." Balas Kansha hendak memberikan obat orang tersebut namun begitu Kansha menoleh, wajahnya berubah kaget.
"Alvaro? Sedang apa kamu disini?" seru Kansha kaget. Dia menyadari bahwa lelaki yang menabraknya adalah Alvaro.
Sedang apa lelaki ini disini? Dan obat? Obat-obatan siapa ini?
Kansha langsung merebut kembali kantung obat Alvaro.
"Kansha? Tolong kembalikan." pinta Alvaro yang awalnya merasa terkejut melihat kehadiran Kansha kini berubah panik kala obat-obatannya berada di tangan Kansha.
Kansha bergegas berdiri, "Katakan padaku dulu, sedang apa kamu disini? Dan obat-obatan apa ini?" todong Kansha.
Alvaro turut berdiri, dia menatap Kansha. "Tolong kembalikan." pinta Alvaro.
"Katakan padaku dahulu, obat apa ini? Kamu sakit?" tanya Kansha sembari mengacungkan kantung obat itu.
Lalu mata Kansha teralih pada sebuah benda yang dipegang Alvaro, "Dan apa ini?" Kansha langsung merebut amplop berlogo rumah sakit dari tangan Alvaro. Alvaro tak sempat mencegahnya.
"Kansha, kembalikan sekarang!" tekan Alvaro mulai kehilangan kesabaran.
"Jawab dulu pertanyaanku." balas Kansha tak mau kalah.
Alvaro menghembuskan nafas pelan, dia tidak percaya bahwa Kansha amat keras kepala akhir-akhir ini.
"Kamu sendiri sedang apa disini?" tanya balik Alvaro mengalihkan topik.
"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan. Aku tahu ada yang kamu sembunyikan." balas Kansha.
"Darimana kamu tahu ada yang kusembunyikan? Bisa saja kamu yang malah punya rahasia."
Kansha menyipitkan matanya, "Aku datang kesini karena sekretarisku terkilir dan ini obat miliknya. Sudah puas?"
"Sekarang katakan, sedang apa kamu disini? Dan obat serta amplop apa ini? Kamu sakit?" todong Kansha.
Alvaro menggeleng dengan senyum hangat khasnya, "Aku hanya sakit biasa." jawabnya.
"Jangan bohong. Kalau hanya sakit biasa, tidak mungkin kan kamu sampai jauh-jauh ke Korea." sanggah Kansha.
"Aku sedang traveler, wajar kan?" balas Alvaro enteng.
Kansha menatap tajam Alvaro, "Jadi kamu tidak akan jujur padaku? Baiklah, ada banyak dokter yang bisa kutanyai soal obat ini." pungkasnya.
Kansha tanpa kata kemudian berjalan pergi mencari dokter yang bisa dia tanyai. Alvaro yang melihatnya panik bergegas mengejar Kansha. Namun terlambat, Kansha malah sudah sampai di depan apotik. Gadis itu berencana menanyakannya pada apoteker.
"Hello, sorry disturbing. I want to ask what medicine is this?" tanya Kansha pada salah satu apoteker.
Apoteker itu mengambil obat yang ditunjukkan Kansha kemudian membaca nama obatnya.
"This is a mediciene to prevent infection due to swelling of the spleen." balas apoteker itu.
Mata Kansha terbelalak, pembengkakan limpa katanya?
"So, can you explain what the letter is?" Kansha menyodorkan amplop Alvaro berlogo rumah sakit tersebut ke tangan apoteker.
Apoteker itu menerimanya kemudian membukanya dan membaca sebuah lembar kertas. Ekspresinya yang serius membuat Kansha tak bisa menebak apa yang terjadi.
Tak berapa lama, apoteker itu menyerahkan amplop itu lagi pada Kansha dan berkata, "Splenomegali. Patients named Alvaro suffered from spleen swelling diseases due to accident trauma." jelas apoteker itu.
"WHATS?!" seru Kansha terkejut bukan main. Jadi Alvaro benar-benar sakit?
"Is this a severe illness?" tanya Kansha lagi cemas.
"Kansha!" suara Alvaro menghentikan pembicaraan Kansha dan apoteker itu. Kansha menoleh ke belakang, terlihat Alvaro datang tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Sorry." ucap Alvaro pada apoteker itu kemudian Alvaro langsung membawa Kansha pergi.
"Lepaskan aku!" sentak Kansha. Alvaro melepaskan cekalannya.
"Splenomegali. Jelaskan apa itu padaku!" tuntut Kansha.
Alvaro mendesah frustasi "Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku bahkan masih bingung." balas Alvaro.
"Kamu fikir aku akan percaya?" seru Kansha kesal.
"Aku benar-benar serius. Aku hanya diminta datang kesini oleh dokterku karena disini jauh lebih berpengalaman terkait penyakit itu. Aku harus membahas soal prosedur operasi." ucap Alvaro tanpa sadar keceplosan.
__ADS_1
"Operasi? Separah itu?" seru Kansha terkejut.
"Ma-maksudku..tentu tidak terlalu parah. Aku hanya membahas kemungkinannya saja." balas Alvaro terbata-bata.
Kansha mendesah keras. Dia memegang rambutnya saking frustasinya.
"Kansha, jangan terlalu difikirkan. Aku tidak apa-apa. Ini bukan penyakit yang serius. Kalaupun aku harus kehilangan limpaku, aku masih bisa hidup." ucap Alvaro menenangkan.
"Pembengkakan limpa? operasi? tanpa limpa? Dan kamu masih setenang itu? Kalau aku sih pasti bakal nyaris gila." sentak Kansha makin kesal.
"Untungnya bukan kamu yang mengalaminya." timpal Alvaro tersenyum.
"Jadi, apa yang dikatakan dokter?" tanya Kansha serius.
"Aku hanya disuruh berobat rutin, untungnya penyakit ini tidak terlalu parah." jawab Alvaro.
Kansha menghela nafas, dia maju selangkah kemudian tangannya terangkat menepuk kepala Alvaro pelan. "Kamu sedang diuji. Kamu harus tetap tegar." hibur Kansha.
Alvaro terdiam. Tepukan pelan Kansha dengan jarak sedekat ini membuat hatinya menghangat. Alvaro tak sebetulnya tenang, adakalanya dia cemas dengan penyakit ini. Di saat seperti ini, dia memang membutuhkan dukungan. Dan Kansha melakukannya untuknya.
"Kamu menepuk kepalaku seperti ibu pada anak saja." komentar Alvaro becanda.
Raut Kansha berubah kesal, "Aku sedang serius, kamu malah becanda. Ck ck."
"Maafkan aku. Tapi kamu memang sudah waktunya punya anak. Kamu makin menua." ejek Alvaro.
Kansha kesal, tangannya kembali terangkat ingin mencubit Alvaro tapi tidak jadi akibat ponselnya yang bergetar.
Drrt
Kansha mengambil ponselnya yang dia kantungi di saku blazernya.
"Telfon ini menyelamatkanmu dari cubitan mautku." jutek Kansha sebelum menjawab telfon. Alvaro hanya terkekeh.
***
Alfin menjauh dari kerumunan orang-orang yang menjenguk bunda. Dia sudah berpesan pada Aisyah untuk menjaganya sementara dirinya keluar mencari makan siang.
Alfin sampai di cafe Mawar, dia sedang menunggu kakaknya, Alan yang masih dalam perjalanan. Sambil makan, Alfin menghubungi Kansha.
Panggilannya langsung diangkat oleh Kansha.
"Halo." sapa Kansha di seberang telfon.
"Kansha, ini aku Alfin. Apa aku menganggumu?" balas Alfin.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu, kenapa kamu menghubungiku. Acaranya sudah selesai?"
"Acara apa?"
Hening sesaat dari sana,
"Lamaran kakakmu."
Alfin menghembuskan nafas pelan, "Mas Alan mengundurkan acaranya."
Kembali hening. Kansha terdiam sesaat sebelum menjawab,
"Tentu saja. Tapi kurasa Mas Alan juga merencanakan sesuatu. Aku tidak tahu pastinya." jawab Alfin.
"Aku minta maaf. Ini semua salahku."
Alfin menghela nafas panjang, "Sejujurnya, aku yakin ini bukan salahmu. Entah kenapa aku rasa ada orang yang ingin menjatuhkanmu."
"Kalau aku boleh jujur juga, aku tidak mungkin melakukan itu pada bunda. Dan aku yakin sebenarnya orang itu awalnya ingin menargetkanku."
Usai mendengar perkataan Kansha, Alfin mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Kamu tahu, karena aku juga alergi kacang."
Alfin terkejut. Dia membelalakan matanya. Jadi secara tidak langsung, Kansha memang tidak mungkin tersangkanya. Ataukah benar yang dikatakan Kansha, bahwa sebenarnya Kanshalah target awalnya.
"Kalau begitu, mungkinkah Aisyah? Tapi Aisyah tahu kalau bunda alergi kacang. Dia tidak mungkin ingin mencelakai bunda. Kalaupun iya, dia tidak mungkin membuatnya sejelas itu." tukas Alfin bingung.
Kansha lagi-lagi terdiam.
"Kamu ingat apa kata dokter? Bukan kacang yang jadi penyebnya tapi serbuk yang mengandung kacang. Kurasa Aisyah tidak tahu bahwa itu adalah serbuk kacang."
Alfin tertegun. Benar juga. Tapi kalau seperti itu, artinya..
"Mungkinkah, ada seseorang yang membantu Aisyah?"
***
Alan langsung ke rumah sakit begitu dia selesai memeriksa CCTV. Wajahnya berubah dingin usai mengetahui siapa tersangkanya. Alan sampai saat ini tidak mengerti, alasan apa yang membuat orang itu tega melukai bundanya. Mereka sudah menghabiskan masa suka duka bersama, tapi dengan teganya dia berbuat seperti itu pada bundanya.
Kemudian Alan bertemu dengan dokter Nadine, dokter yang merawat Aisyah. Mereka bertukar sapa.
"Pak Alan, ada yang saya ingin katakan soal keadaan Aisyah." ucap dokter Nadine ragu-ragu.
"Ada apa ya dok?" tanya Alan bingung.
"Kita bicara di ruangan saya saja." ucap Dokter Nadine.
Dokter Nadine dan Alan berjalan menuju ruangan Dokter Nadine. Setelah sampai, Dokter Nadine menyilakan Alan untuk masuk.
"Silakan duduk, Pak Alan." ucap Dokter Nadine sembari duduk di kursinya. Alan pun duduk.
"Soal penyakit Aisyah." Dokter Nadine berkata dengan begitu ragu. Alan jadi menebak-nebak apa yang ingin dikatakan dokter cantik berambut sebahu itu.
"Dia baik-baik saja? Atau penyakitnya makin parah?" Alan seketika merasa cemas.
"Saya tahu, bahwa hasil lab nya belum keluar. Tapi saya sudah satu kondisi sebenarnya." tandas Dokter Nadine.
"Bagaimana dok?" tanya Alan penasaran.
"Saya minta maaf sebelumnya merahasiakan hal ini atau malah membohongi Anda. Tapi Aisyah tidak sakit sama sekali."
Ucapan Dokter Nadine membuat Alan membeku.
"Saya awalnya tidak ingin melakukan hal tercela ini, membohongi keluarga pasien terkait kondisi yang sebenarnya. Tapi saya terpaksa. Sepupu rekan kerja saya mengancam saya untuk melakukannya. Ayahnya adalah pemegang saham terbesar di rumah sakit ini. Dia mengancam saya memanipulasi hasil pemeriksaan Aisyah atau saya dipecat dari sini. Rekan kerja saya tidak tahu soal adanya ancaman ini. Dia juga meminta saya untuk tidak melakukannya lagi." tutur Dokter Nadine merasa bersalah.
__ADS_1
"Maka dari itu, meski saya pada akhirnya dipecat, saya tetap akan memberitahukan kebenarannya pada Anda. Saya malu dengan profesi mulia ini." lanjutnya.
Alan terhenyak di kursinya. Dia merasa dihantam kenyataan. Aisyah, sejak kapan gadis polos itu berani melakukan kebohongan bahkan sebesar ini? Terlebih ada orang yang membantunya. Alan merasa amatlah kecewa.
"Tadi Anda bilang, sepupu rekan kerja Anda yang mengancam Anda melakukannya? Siapa?" tanya Alan.
"Namanya Aura. Saya tidak tahu nama lengkapnya." Jawab Dokter Nadine.
Alan mengernyitkan dahinya, dia sepertinya pernah mendengar nama ini. Bahkan dia merasa familiar.
Tunggu..
Alan tersadar sesuatu.
Kansha!
***
Alan berjalan cepat menuju ruang rawat bunda. Begitu masuk, hanya ada Alfin seorang diri yang sedang bermain game.
"Dimana Aisyah?" tanya Alan.
Alfin mempause gamenya lalu menoleh pada kakaknya itu, "Aisyah sedang keluar dengan keluarganya yang baru saja datang. Mas Alan kenapa lama sekali? Keluarga Aisyah terus menanyakan mas."
"Aku bahkan menunggu mas di cafe tapi mas tidak datang-datang." lanjutnya.
"Telfon Kansha, dan tanyakan soal Aura." ucap Alan tak mengindahkan jawaban Alfin.
"Ada apa mas?" tanya Alfin bingung.
"Telfon saja." tegas Alan.
"Oh oke." Alfin menurut meski bingung.
***
Kansha, Seli, Arvin dan Alvaro sedang dalam perjalanan menuju hotel. Mereka sepakat mengundurkan penerbangan karena kondisi Seli yang tidak memungkinkan. Alvaro juga ikut dengan mereka.
Di perjalanan, ponsel Kansha berdering. Dia menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Alfin sebagai pemanggilnya. Kansha pun menjawabnya.
"Halo." sapa Kansha.
"Halo, Kansha. Maaf aku menganggu?"
"Tidak, ada apa?"
"Aku ingin menanyakan kamu sesuatu soal Aura."
Kansha mengernyit, "Aura? Darimana kamu tahu soal Aura?" tanya Kansha bingung.
Alvaro yang mendengar nama Aura disebut, seketika menolehkan kepalanya.
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di telfon.
"Apakah sepupu Aura ada yang bekerja di rumah sakit?"
Kansha terdiam. Ini suara Alan.
"Kansha?"
Kansha tersadar dari keterdiamannya.
"Aku tidak tahu soal itu. Tapi tunggu sebentar."
Kansha menutup speaker ponselnya dan menatap Alvaro yang duduk disampingnya.
"Apakah ada sepupu Aura yang bekerja di rumah sakit?" tanya Kansha.
Alvaro mengangguk, "Iya ada. Dia teman kampusku."
"Oh oke."
"Iya ada." jawab Kansha pada Alan.
"Namanya?"
Kansha kembali menoleh pada Alvaro. "Namanya?"
"Kenan." meski bingung, Alvaro tetap menjawabnya.
"Namanya Kenan." jawab Kansha lagi pada Alan.
"Apakah ayah Aura adalah pemegang saham terbesarnya?" tanya Kenan lagi.
"Kurasa aku pernah mendengar hal itu." Kansha mencoba mengingat-ingat. Tak lama, dia menjentikkan jarinya, "Ah iya, beberapa waktu lalu, ayah Aura dan papaku sempat menjalin kerja sama. Katanya perusahaan Aura mengalami defisit hingga dua digit, jadi dia meminta bantuan papaku atau kalau tidak, semua saham di rumah sakit yang menjadikannya pemegang saham terbesar akan dijual." jelas Kansha.
Begitu Kansha menjawab, tak ada tanggapan lagi dari Alan. Kansha bertambah bingung.
"Halo, Alan? Ada apa kamu tiba-tiba bertanya soal itu?" tanya Kansha.
"Halo Kansha, ini aku, Alfin. Mas Alan baru saja pergi tiba-tiba." Ternyata Alfin yang menjawabnya.
"Ah begitu." desah Kansha agak kecewa.
"Maafkan aku, tapi kamu bertanya soal kenapa Mas Alan tiba-tiba bertanya soal itu, aku juga tidak tahu. Dia hanya menyuruhku menghubungimu." ucap Alfin.
"Tidak apa-apa aku mengerti. Alan mungkin masih marah padaku." timpal Kansha lesu.
"Kuharap kamu memakluminya. Ada banyak hal yang terjadi pada Mas Alan belakangan ini. Kuyakin, dia akan membaik padamu tak lama lagi." hibur Alfin.
Kansha mengangguk pelan, "Aku juga berharap demikian."
"Oh ya, kapan kamu akan pulang?"
"Besok pagi."
"Kalau begitu, safe flight ya. Aku tutup dulu."
"Terima kasih. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
__ADS_1
Tut