My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 86.


__ADS_3

Janji Ruben ternyata benar. Dia benar-benar akan menikahi Nana dan kini mulai mengurus persiapan pernikahan.


Malam itu, seusai bercakap dengan Kansha, Ruben langsung mendatangi Nana dan tahu bahwa Nana menguping pembicaraannya dengan Kansha. Saat itu juga, Ruben melamar Nana. Dan Nana tentunya dengan amat bahagia langsung menerima lamaran dari lelaki impiannya.


Kini sepasang insan yang tengah dimabuk asmara itu, tengah berada di sebuah cafe. Mereka akan bertemu dengan seorang WO yang akan mengurusi pernikahan mereka nanti.


Tak lama, seorang perempuan berblazer marron datang menghampiri mereka. Perempuan itu adalah WO yang ditunjuk Ruben.


"Saya Maria, Wedding Organizer." kata perempuan itu memperkenalkan diri.


"Saya Ruben dan ini calon istri saya." sahut Ruben sambil melirik Nana.


"Nana." timpal Nana.


"Jadi konsep pernikahan seperti apa yang Mbak Nana dan Mas Ruben inginkan?" tanya Maria tanpa basa-basi.


Ruben melirik Nana, "Saya ikut keinginan calon istri saya." sahutnya.


Nana terdiam berfikir, kemudian mulai berkata, "Sebenarnya, ada konsep pernikahan yang saya impikan untuk pernikahan saya." katanya.


"Apa itu?" tanya Maria penasaran.


Nana terdiam lagi, agak ragu mengatakannya sih. Tapi dia beranikan saja.


"Saya ingin konsep pernikahan di pantai."


Maria menganggukan kepalanya, "Ada rekomendasi Mbak Nana mau dimana lokasinya?"


"Saya pernah tanya-tanya pada beberapa teman saya yang sudah menikah, katanya Pantai Sire sudah punya daya tarik tersendiri untuk dijadikan lokasi pernikahan."


Ruben mengernyitkan dahinya, "Pantai Sire?" tanyanya. Dia baru pertama kali mendengarnya.


"Pantai Sire terletak di Lombok Utara. 35 Km dari Kota Mataram atau satu jam perjalanan." timpal Maria.


"Lombok? Lombok, Nusa Tenggara? Kamu yakin? Kamu tidak bisa naik pesawat." tukas Ruben.


"Kandunganku memang masih muda tapi kuat. Aku masih bisa naik pesawat." sanggah Nana.


"Tapi akan berbahaya. Masih banyak pantai yang tidak perlu ditempuh dengan jalur udara." tukas lagi Ruben.


"Tapi aku maunya disana. Aku sudah banyak searching. Lokasinya bagus dan cocok untuk wedding. Apalagi lokasi itu tidak terlalu ramai, privasi kita juga bisa lebih terjaga." sahut Nana lagi.


"Aku tahu. Tapi masalahnya kandungan kamu masih muda. Bagaimana kalau ada apa-apa?"


Nana berdecak, "Sudah kubilang aku mampu. Kamu tak ingat aku terbang ke Kalimantan Barat? Tidak terjadi apa-apa tuh." balas Nana sebal.


"Kamu kan pingsan, lupa?" sahut lagi Ruben.


"Aku pingsan karena kelelahan ikut evakuasi korban, bukan habis terbang!" tukas Nana lagi.


Ruben dan Nana terus saja berdebat. Maria memperhatikan kedua pasang muda mudi dengan sabar. Dia sudah biasa melihat pasangan yang bertengkar karena berselisih pendapat.


"Pokoknya tidak boleh!" tegas Ruben tanpa negoisasi lagi.


"Tidak mau, aku maunya tetap di Pantai Sire!" Seru Nana tidak mau kalah.


"Tidak Nana, sekali tidak tetap tidak!" geleng Ruben.


Nana menggeleng, "Aku maunya disana!" ujar Nana teguh.


"Ti--"


"Stop!"


Akhirnya Maria tak tahan. Dia menyela ucapan Ruben. Ruben dan Nana berhenti berdebat. Maria tersenyum.


"Lokasi pernikahan mau dimana saja. Tidak perlu jauh-jauh atau dengan harga mahal. Yang terpenting adalah khidmat dan kesahannya." ujar Maria lembut.


"Tapi saya ingin disana. Saya sudah lama ingin melakukan pernikahan disana. Berjalan di atas altar bunga-bunga beralas pasir putih dengan pemandangan laut lepas dan landskap Gunung Rinjani." timpal Nana menerawang. Sebuah senyum terlukis dibibirnya.


Ruben menghembuskan nafas pelan, merasa bimbang. Di satu sisi, dia ingin mewujudkan impian Nana tapi di sisi lain, Nana sedang mengandung, Ruben tidak mau terjadi apa-apa dengan Nana dan calon anaknya.


"Kalau Mas Ruben masih ragu akan keinginannya Mbak Nana. Saya sarankan kalian berkonsultasi dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan aman tidaknya melakukan perjalanan udara jarak jauh. Biar nanti saya yang akan membuat janjinya." saran Maria.


Ruben mengangguk setuju, "Begitu lebih baik. Agar semuanya jelas dan pasti." ucapnya melirik Nana.


Nana juga mengangguk setuju, "Saya setuju."


drrt


Ponsel Ruben bergetar. Panggilan masuk datang dari omnya. Ruben dengan sopan meminta izin menjawab telfonnya.


"Halo, om." sapanya.

__ADS_1


"...."


"Aku sedang berada di luar. Ada apa ya om?" tanya Ruben sedikit bingung. Pasalnya suara omnya terlihat panik dan cemas.


"Diana kecelakaan dan dia memanggil-manggil nama kamu."


Ruben membulatkan matanya, "Apa?!" serunya terkejut.


Nana menatap Ruben yang nampak terkejut setelah menerima telfon.


"Ada apa?"


Ruben tak menjawab, dia terdiam sesaat. Setelah itu menatap balik Nana.


"Diana kecelakaan dan memanggil-manggil namaku." tandasnya.


Nana tersentak. Cobaan apa lagi ini?


***


Alfin masuk diam-diam ke dalam kamar inap Aisyah yang kosong. Aisyah tengah melakukan konsultasi dengan dokter bersama Alan dan Om Zakariya. Kesempatan ini dimanfaatkan Alfin untuk menyelidiki rahasia yang disimpan Aisyah. Dia beranggapan bahwa Aisyah menyembunyikan buktinya di kamar rawatnya.


Begitu masuk, Alfin langsung menggeledah kasur Aisyah, dia mengangkat bantal yang biasa dijadikan alas tidur Aisyah, namun tidak ada apapun disana. Alfin bahkan melepas sarung bantal, kalau-kalau disembunyikan disana.


Selesai mencari di kasur, Alfin beralih menggeledah nakas. Dia membuka satu demi satu laci, namun kosong. Alfin pun beralih menuju lemari kecil.


Lemari itu dibuka Alfin dan hanya berisi baju-baju Aisyah saja. Alfin terus menggeledahnya hingga tangannya menemukan sebuah amplop coklat yang berada di bawah baju Aisyah. Alfin langsung mengambilnya.


Alfin bergegas membuka amplop coklat itu. Sambil terus melirik ke arah pintu, dia mulai membaca satu persatu isinya.


Alfin membaca suatu kalimat yang satu katanya di cetak tebal,"Azzahra Zakariyanissa, putri pertama Zakariya ditemukan masih hidup." gumam Alfin.


Alfin lalu mengambil selembar foto yang diduga adalah Azzahra sewaktu kecil. Alfin membalik foto itu dan sederet tulisan menarik perhatiannya.


...Azzahra Zakariyanissa...


...1 mei 1995...


Alfin lalu menemukan foto lainnya, seperti gambar sebuah rumah yang nampak kosong dan sebuah foto seorang wanita seperti pembantu rumah tangga yang menggendong bayi dalam balutan selimut biru langit. Di bawah kaki wanita itu ada keranjang berbentuk kerang laut berwarna putih. Bisa Alfin simpulkan itu adalah Azzahra.


Alfin tak punya waktu untuk membaca semuanya. Dia memutuskan memotretnya.


Tap


Alfin membeku ketika suara langkah dan beberapa suara terdengar. Wajahnya pucat pasi menyadari itu adalah suara Alan dan Zakariya yang tengah mengobrol. Berarti waktu konsultasi Aisyah selesai. Dan Alfin harus segera membereskannya lagi.


Ceklek


Alfin menoleh ke arah pintu. Dia mengambil ponselnya dan bergegas duduk di sofa.


***


Alvaro kini tengah berada di rumah sakit. Dia langsung menuju ruangan temannya, Kenan untuk kembali berdiskusi mengenai penyakitnya.


tok tok


Alvaro mengetuk pintu tapi Kenan tidak menyahut. Akhirnya dia pun memilih masuk saja.


Namun ketika dia masuk, Kenan rupanya sedang bercakap mesra dengan seorang dokter perempuan. Saking asiknya, mereka tidak menyadari kehadiran Alvaro yang menonton keintiman mereka.


tok tok


Alvaro kembali mengetuk pintu. Hingga perhatian kedua dokter itu terarah padanya. Kenan membelalakan matanya terkejut dengan kehadiran Alvaro.


"Sejak kapan kamu disana?" tanyanya panik.


"Baru sekitar dua menit, gelora percintaan kalian sungguh membara ya." komentar Alvaro membuat dokter wanita itu dan Kenan tersipu malu.


Alvaro terkekeh, dia lalu menghampiri Kenan, "Jangan bereaksi sok polos begitu. Aku mengerti yang kamu rasakan. Aku juga pernah muda."


"Aku pergi dulu." bisik wanita itu di telinga Kenan. Kemudian dia bergegas keluar.


"Jadi apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kenan berusaha biasa saja.


"Dia siapa? kekasihmu?" tanya balik Alvaro.


"Bukan, dia hanya rekan kerja." sanggah Kenan.


"Rekan kerja? Kamu bercanda?" Alvaro tertawa.


"Dia hanya berkonsultasi padaku soal pasiennya yang memintannya berpura-pura dia sakit parah."


"Dan setelah itu kalian.." Alvaro mengangkat alisnya, menggoda sahabatnya itu.

__ADS_1


"You know lah.." kekeh Kenan.


"Tapi apa maksudmu dengan pasien yang berpura-pura menderita sakit parah?" tanya Alvaro rupanya penasaran.


"Sebenarnya aku maksudku sepupuku yang memintanya melakukan itu untuk sepupunya. Sepupunya itu sudah memiliki calon suami tapi tengah dalam perempuran dengan orang ketiga. Jadi untuk mempertahankannya, dia berpura-pura sakit parah." jelas Kenan.


"Memangnya bisa seperti itu?" tanya Alvaro tak habis fikir.


"Tentu saja tidak. Makanya aku memintanya untuk tak melakukannya lagi."


"Siapa nama pasien itu?" tanyanya lagi.


"Aku tidak bisa mengatakannya tapi karena kamu sahabatku, akan kuberi tahu. Tapi ingat, jangan memberitahu siapapun." peringat Kenan.


Alvaro mengangguk, "Kamu tahu sendiri kan aku tidak suka bergosip." tukas Alvaro.


"Namanya Aisyah." pungkas Kenan.


"Aisyah? Aku tidak mengenalnya." balas Alvaro.


"Tentu saja tidak. Jangankan kamu, aku juga tidak, padahal katanya dia termasuk sepupu jauhku."


Ceklek


Suara pintu dibuka membuat Kenan dan Alvaro melirik ke arah pintu. Sedetik kemudian, muncul Aura. Alvaro terperanjat.


"Kak Ken." sapa Aura belum sadar ada Alvaro disana.


"Al, ini sepupuku yang kuceritakan tadi.Aura, ini Alvaro, teman kampus kakak."


Aura yang mendengar nama Alvaro disebut seketika menoleh. Ekspresinya terlihat biasa saja, kontras dengan raut terkejut Alvaro.


"Aku mengenalnya. Kami teman SMA." timpal Aura santai. Dia lalu duduk di hadapan Alvaro.


"Benarkah, kok kakak tidak tahu? Alvaro juga tidak pernah mengatakan kalau kamu sudah kenal Aura." tukas Kenan kaget.


"Itu hanya kebetulan. Aku tidak tahu bahwa kamu bersepupu dengan Aura."


"Aura ini sepupu dari pihak ibuku."


"Jadi apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kenan menatap Aura.


"Soal.."


"Kalau kamu membahas mengenai masalah sepupumu itu, kakak tidak akan melakukannya lagi. Kakak tidak akan membantumu lagi." tolak langsung Kenan.


"Aku bahkan belum selesai berbicara." protes Aura, "Aku tidak akan membawa nama kakak. Cukup hubungkan aku saja dengan dokter itu."lanjutnya.


Kenan menggeleng tegas, "Kamu tahu itu melanggar aturan kan? Itu ilegal, kami tidak bisa melakukan hal seperti itu."


"Ayolah kak, aku tidak meminta kakak melakukannya untukku. Aku hanya perlu dokter itu saja. Dia kan yang menanganinya." pinta Aura. Dia menatap penuh permohonan pada Kenan.


Kenan mengembuskan nafas pelan, dia pasti akan luluh bila Aura sudah bersikap seperti itu.


"Sekali ini saja. Dan kakak tidak akan bertanggung jawab soal masalah ini." peringat Kenan.


Aura mengangguk senang, "Aku janji."


"Satu lagi, segera sudahi, bagaimanapin ity ilegal dan pembohongan publik."


Aura mengangguk sabar, "Iya kak, iya. Ini demi kebaikan. Kalau masalahnya sudah beres, akan kutangani segera."


Kemudian Aura bangkit berdiri, hendak meninggalkan ruangan. Tapi sebelum itu dia menoleh pada Kenan.


"Kak, kamu ada yang perlu dibicarakan dengan Alvaro?"


"Iya kenapa?" tanya balik Kenan bingung. Alvaro ikut menoleh.


"Tidak apa-apa." balas Aura tenang. "Aku pergi ya." pamitnya.


"Hati-hati." sahut Kenan. Aura melambaikan tangannya sekali tanpa berbalik sebagai balasannya.


Alvaro pun menghembuskan nafas lega karena Aura sudah pergi. Tapi fikirannya tak tenang. Dia penasaran dengan pembicaraan Aura dan Kenan. Mungkinkah itu terkait soal pasien bernama Aisyah?


Drrt


Alvaro terkesiap ketika suara notifikasi menyadarkannya. Dia membuka ponselnya dan satu pesan dari Aura membuatnya terdiam.


Aura


Setelah selesai, ayo minum kopi bersama. Aku tunggu di parkiran.


Alvaro tahu, itu bukan sekedar hanya minum kopi belaka.

__ADS_1


...--------------...


Alan dan Kansha gak muncul dulu ya. Kita perlu ngelurusin dulu masalahnya, hehe.


__ADS_2