My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 105.


__ADS_3

Ceklek


Kansha menoleh pada pintu kala ada seseorang yang membukanya dari luar. Dia Nana.


"Selamat pagi, putri tidur." sapanya riang.


"Pagi, jam berapa ini?" tanya Kansha.


"Jam delapan. Kamu tidur cukup lama, kufikir kamu hanya pingsan, tapi kamu tertidur hingga 13 jam.” kata Nana terkekeh. Dia menyibak gorden lalu duduk di samping Kansha.


“Aku pingsan?” seru Kansha terkejut.


Nana mengangguk, “Iya, kamu tidak ingat?" tanya balik Nana.


Kansha menggeleng.


"Aku begitu terkejut begitu Alan membopongmu sambil berlari terengah-engah. Dia terlihat khawatir sekali.” lanjut Nana.


Kansha terdiam bingung. Jadi kejadian itu bukan mimpinya semata tapi sungguhan? Tapi kenapa dia tidak ingat apapun?


“Bagaimana bisa aku pingsan?” tanya Kansha bingung.


Nana mengendikkan bahunya, “Mana kutahu. Kamu yang mengalaminya kok malah bertanya padaku.” Balas Nana.


“Aku tidak ingat. Kufikir, kejadian itu hanya mimpiku saja.” jelas Kansha.


“Kejadian apa?” tanya Nana penasaran.


Kansha menoleh pada Nana yang menatapnya penuh rasa keingintahuan, dia ragu-ragu mengatakannya.


“Katakan saja. Jangan menyembunyikan rahasia dariku.” Desak Nana.


Kansha mau tak mau mengatakannya. “Aku dilamar oleh Alan.”


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 det—


“APA?!”


Teriakan Nana yang menggelegar membuat kuping Kansha pengang seketika.


“Bisakah teriakanmu sedikit dikendalikan?” pinta Kansha menutup kedua kupingnya.


“Bukan Kansha—maksudku, kamu yakin dilamar oleh Alan? Atau kamu melantur sekarang akibat cintamu tidak dibalas-balas?!” tanya beruntun Nana.


Bahu Kansha jadi melemas, “Aku juga merasa ini hanya angan-anganku. Bagaimana bisa Alan melamarku? Aku bahkan memimpikan Alan menciumku.” Desah Kansha frustasi.


“Cium? Kalian berdua berciuman?” pekik Nana. Kansha mengangguk lemah.


“Aku dan khayalanku memang tidak bisa dipisahkan.” Rutuknya lalu menunduk sambil memegang kepalanya. Rambutnya yang acak-acakkan menjuntai ke bawah.


Nana menahan senyumannya kala melihat wajah Kansha yang penuh rasa frustasi itu. Sebenarnya dia sudah tahu tentang kejadian kemarin, hanya saja sangat seru untuk menjahili Kansha. Kapan lagi kan--


“Kansha, sudah kubilang jangan berbuat terlalu banyak. Bagaimana kalau kamu tidak bisa move on dari Alan?” tanya Nana khawatir.


“Sebesar apapun usahaku untuk melupakannya, maka semakin besar cintaku padanya.” Kansha mendesah keras, “Kurasa aku sudah jadi budak cinta.” Lanjutnya.


Nana berusaha mati-matian menahan tawa. Sepanjang hidupnya mengenal Kansha, dia tidak pernah melihat raut sahabatnya sefrustasi itu. Karena selama ini Kansha dikenal sebagai perempuan dengan ekspresi paling tenang dan tak terbaca. Nana bahkan selalu melakukan tebak-tebakkan untuk menebak apa yang dirasakan sahabatnya itu.


“Yang sabar ya, kamu pasti bisa.” Hibur Nana menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Dia ingin mengatakan sebenarnya tapi fikiran jahilnya masih menguasai.


“Kamu mandi dulu gih lalu turun untuk sarapan.” Lanjut Nana.


“Aku tidak bisa,” balas Kansha.


“Kenapa?” tanya Nana bingung.


“Setelah apa yang kuperbuat, bagaimana aku bisa menghadapi muka Alan lagi.” Desah Kansha lemah.


Nana menggigit bibir bawahnya, menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak. Astaga, ada apa dengan otak Kansha hari ini? bagaimana bisa dia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi? Nana merasa kasian sekaligus geli.


“Tetap saja, kamu harus sarapan. Kalian juga harus segera get out dari sini agar aku dan Kak Ruben bisa melakukan bulan madu.” Ujarnya terkikik di akhir.


“Aku lupa kalau kamu sudah menikah. Bagaimana malam pertamamu? Kak Ruben tidak terkejut dengan apa yang kamu miliki kan?” tanya Kansha.


Nana menggeplak kepala Kansha membuat Kansha mengaduh. “Sakit! Kenapa kamu malah memukulku?” serunya meringis.


“Habisnya fikiranmu melantur kemana-mana.” Dengus Nana.


“Melantur apa sih? Memangnya pertanyaanku salah ya? Atau..” Kansha merubah rautnya menjadi senyum licik, “Kamu pasti berfikir yang tidak-tidak, benar kan!”


Muka Nana memerah, dia menghindari tatapan Kansha, “Jangan sembarangan ngomong! Aku tidak berfikir yang aneh-aneh.” sangkalnya.


Kansha terkekeh karena berhasil mengerjai Nana.


“Sebaiknya kamu segera mandi lalu turun untuk sarapan.” Titah Nana mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa mengalihkan pembicaraan?” goda Kansha sambil terkekeh.


Nana melotot, “Usiaku satu tahun diatasmu kalau kamu lupa.” Peringat Nana.


Kansha menghentikan kekehannya, dan langsung menutup mulutnya.


“Segera mandi!” Titah Nana lagi kini serius.


Kansha mengangguk patuh, “Baik, Senior.” Ucapnya.


Nana kemudian bangkit berdiri, namun sebelum keluar kamar, dia melirik bunga mawar yang berada di dalam vas.

__ADS_1


“Omong-omong, bunganya cantik.” Ucapnya.


“Oh,” Kansha ikut melirik bunga mawar itu. Dia tidak tahu harus berkata apa.


“Bunga itu asli, dia saksi mata atas kejadian kemarin.” Lanjut Nana.


“Apa maksudmu?” tanya Kansha bingung.


Nana hanya tersenyum misterius, “Kalau kamu ingin tahu, segera turun ke lobi.”


Usai mengatakan itu, Nana langsung keluar kamar tanpa menjelaskan lebih lagi. Kansha tak sempat mencegahnya karena Nana keburu sudah pergi.


Lama Kansha terdiam. Otaknya bekerja menerjamahkan maksud dari Nana, Seakan tersadar sesuatu, dia melirik bunga mawar itu.


“Mungkinkah..”


Tiba-tiba Kansha melengkungkan senyumnya.


“Yes!! Itu sungguhan! Aku dilamar oleh Alan!! Wohooo!” teriak Kansha kegirangan.


Kansha lalu segera menyambar handuk dan secepat kilat menuju kamar mandi. Dia terus cekikikan dan tak jarang tersipu karena dia sungguh dilamar oleh Alan.


Di sisi lain, Nana yang ternyata belum pergi, tersenyum geli mendengar teriakan girang Kansha dari luar. Dia menggelengkan kepalanya. Kansha mungkin hebat dalam bisnis, tapi pengetahuannya soal cinta, masih sepolos bayi.


Nana melirik ke arah pintu yang berada di belakang tubuhnya sebelum pergi dari kamar Kansha. Perempuan dua puluh enam tahun itu sepanjang jalan terus melengkungkan senyuman. Dia bahagia bahwa kisah cinta sahabatnya itu menemui akhir bahagia.


***


Kansha bersiap-siap selama tiga puluh menit. Waktu yang cukup lama dibanding kebiasaannya sebelumnya. Itu tak lain karena dia baru saja dilamar oleh lelaki yang dicintainya dan Kansha merasa harus tampil lebih menarik dan lebih rapi dari biasanya.


Perempuan itu turun ke lobi untuk sarapan. Di kejauhan, dia sudah lihat beberapa orang tamu undangan yang tengah sarapan. Diantaranya ada Nana dan Ruben yang sudah sangat lengket semenjak dinyatakan sah. Lalu ada Alfin yang tengah mengobrol dengan calon suaminya. Menyebut Alan calon suaminya, membuat pipi Kansha memerah. Tapi dia tidak salahkan? Toh, Alan memang meminangnya untuk menikah.


Kansha lalu berjalan mendekat, dan Alan yang pertama kali bertatap muka dengannya. Kansha seketika merasa malu. Tiba-tiba dia ingat dengan insiden pingsan itu. Astaga, mau ditaruh dimana mukanya.


Alan yang menyadari Kansha datang langsung bergegas berdiri. Dia menghampiri Kansha dan menatapnya khawatir.


“Kamu sudah baik-baik saja?” tanyanya.


Kansha mengangguk pelan, “Aku sudah baik-baik saja.” Balasnya pelan karena malu setengah mati.


Alan menghembuskan nafas lega, “Syukurlah kalau kamu sudah tidak apa-apa. Aku sangat khawatir begitu kamu tak sadarkan diri. Jadi aku memanggil dokter.” Ucapnya.


“Kamu memanggil dokter?” seru Kansha terkejut.


Alan mengangguk, “Kata dokter kamu hanya kelelahan akibat faktor pekerjaan dan stress.”


“Oh benarkah?” gumam Kansha. Dalam hatinya, dia merasa tersentuh bahwa Alan begitu mencemaskan kondisinya.


“Aku minta maaf karena membuatmu khawatir.” Lanjut Kansha merasa bersalah.


Alan menggeleng, “Seharusnya aku yang minta maaf. Aku seharusnya bisa membantu kesulitanmu dan berusaha mengurangi bebanmu. Aku yakin bahwa sebagian stress yang kamu alami berkaitan dengan masalahku. Maafkan aku Kansha.” Alan terlihat amat menyesal.


Kansha tersenyum menenangkan, “Kamu tidak perlu minta maaf. Aku sudah banyak merepotkanmu dan membuatmu selalu berada di kondisi sulit.”


Alan tersenyum lembut, “Bagiku entah di kondisi paling sulitpun, asal denganmu, aku tidak masalah harus mengalaminya.”


Baru Kansha hendak membuka mulutnya, suara dehaman seseorang menghentikannya.


"Lebih baik cepat sarapan. Kami tidak mau melihat drama menggelikan di pagi hari." ucap Alfin.


Alan dan Kansha terlihat malu. Dan tambah malu bahwa interaksi mereka diperhatikan semua orang. Mereka menatap Alan dan Kansha dengan senyuman geli. Sepertinya kabar itu sudah menyebar. Kansha bahkan melihat beberapa teman kampusnya cekikikan menatapnya.


"Yah, itu benar. Kalian merebut semua perhatianku dan Kak Ruben. Sebaiknya kalian segera beri tanggal pasti." timpal Nana.


"Kakak juga siap jadi penerima tamu." tambah Ruben.


Kansha berdeham singkat, dia lalu buru-buru duduk di samping Nana. Alan yang melihat Kansha malu-malu, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dan itu dilihat oleh Alfin yang merasa jengah dengan cinta khas masa puber kakaknya.


"Calon pengantin dimohon duduk. Jangan terus tersenyum kayak orang gila." celetuk Alfin lagi.


Semua orang yang mendengarnya tertawa. Adik Alan itu memang tidak habis menggoda Alan.


Alan yang merasa malu segera duduk kembali.


"Lihat kan, kejadian kemarin sungguhan." bisik Nana pada Kansha.


"Aku sangat bersyukur kalau itu nyata. Semuanya gara-gara aku yang tiba-tiba pingsan." balas Kansha berbisik.


Nana tersenyum geli, "Makanya nanti pas lamaran resminya, minum vitamin dulu sama susu, biar tidak kehilangan energi. Jangan lupa tidur yang cukup." saran Nana.


"Siapa yang tahu bahwa aku akan dilamar Alan?! Aku bahkan hampir menyerah karena dia tidak kunjung memperjelas hubungan kami." seru Kansha pelan.


Nana hanya terkekeh pelan lalu kembali fokus pada makanannya. Kansha juga kembali memakan makanannya. Mereka sarapan dengan tenang.


***


"Sampai jumpa, Na. Have fun ya!" ucap Kansha memeluk Nana.


Mereka tengah di bandara. Seperti yang dikatakan oleh Nana tadi pagi, Kansha, dan semua tamu undangan memang akan pulang hari ini meninggalkan Ruben dan Nana yang akan melakukan bulan madu beberapa hari disana.


"Kamu juga ya. Safe flight kabarkan kalau sudah landing." ucap Nana.


"Iya nanti aku kabarkan tiga bulan lagi." balas Kansha terkekeh.


Plak


Nana menggeplak kepala Kansha, "Sekali lagi kamu mengatakan lelucon itu, kupanggang mulutmu!" ancam Nana kesal.


Kansha hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya yang tadi dipukul oleh Nana, "Ibu hamil memang sensitif. Tidak bisa dibecandai sedikitpun." gerutu Kansha.


Nana berkacak pinggang sambil melotot, "Karena setelah mengatakannya, kamu langsung menghilang selama sebulan. Kali ini kamu mengatakannya lagi, mau menghilang berapa lama?!"


Kansha memelas, "Aku becanda, Na. Jangan dibawa serius. Aku jadi takut dengan omonganmu. Bagaimana kalau itu terkabul?"


"Itu sebabnya jangan katakan yang aneh-aneh." balas Nana melunak. "Aku tidak ingin kehilanganmu lagi untuk kedua kalinya." lanjutnya.

__ADS_1


Kansha menanggapinya dengan membawa Nana ke pelukannya, "Aku berjanji tidak akan lagi." ucapnya sambil mengelus punggung sahabatnya.


"Berjanjilah kamu tidak boleh meninggalkanku lagi." tuntut Nana.


Kansha mengangguk, "Aku berjanji, asal doamu juga selalu menyertaiku."


"Itu pasti." ucap Nana mantap.


Setelah berpamitan cukup lama, Kansha, Alan dan Alfin akhirnya masuk ke pesawat. Nana dan Ruben mengantarkan mereka sampai pesawat lepas landas.


Namun pandangan Nana masih terpaku pada landasan terbang yang tadi beberapa saat pesawat yang ditumpangi Kansha lepas landas. Entah kenapa perasaannya kembali tak enak. Dan sikap Nana yang tak biasa itu disadari oleh Ruben.


"Mereka akan baik-baik saja, termasuk Kansha." ucap Ruben.


Nana mendesah, "Tapi perasaanku jadi tidak enak lagi. Ini perasaan yang persis sama saat aku melepas Kansha ketika tragedi itu terjadi."


Ruben mendekap Nana dan berkata dengan nada lembut, "Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah."


***


Aura seperti biasa tengah bersama Aisyah. Beberapa hari belakangan ini, hubungannya dengan papanya terus memburuk. Aura bahkan sudah tidak pulang ke rumah, dia sepenuhnya telah menetap di apartementnya.


Itu karena papanya kembali berulah. Dia terus mengungkit soal mamanya yang katanya jalang dan matre. Lelaki paruh baya itu bahkan merasa menyesal telah membesarkan Aura yang dianggapnya parasit yang tidak menguntungkan. Dan itu semua membuat Aura merasa sakit hati. Dia bahkan sudah tidak peduli pada papanya lagi.


Selama papanya belum berubah, maka Aura tidak akan kembali ke rumah.


Di sisi lain, Aisyah duduk dengan anggun sambil membaca buku. Dia membaca dengan tenang tentang sejarah Islam di Indonesia. Masa kuliahnya juga hampir usai, jadi Aisyah punya banyak waktu luang.


Beralih ke Aura yang saat itu sedang bermain ponsel sambil chatting dengan temannya, mendapat kabar mengejutkan dari grup alumni semasa SMA nya.


Maldiva : Gila-gila, setelah bertahun-tahun tidak bertemu Kansha, kini aku menyaksikan Kansha dilamar kekasihnya!


Andra03 : Maksudmu saat pesta pernikahan Kak Nana dan Kak Ruben kan? Aku juga dengar dari sepupuku yang menghadiri pesta pernikahan mereka. Kansha katanya dilamar sangat romantis.


Leli : Beruntungnya! Andai aku disana, kurasa aku akan menjerit!


OchiSiregar : Aku dapat foto lelakinya, astaga dia ganteng!!!


OchiSiregar send a picture


Leli : Darimana kamu dapat fotonya? Aaa, andai dia belum taken :((


OchiSiregar : Kakakku satu maskapai dengannya, dia pilot.


Maldiva : Ini sih paket lengkap :(


Devi Andira : Breaking News! Katanya mereka akan menikah dalam waktu dekat


Leli : Astaga serius??


OchiSiregar : Padahal ketika teman yang lain nikahan, aku tidak seexcited ini. Mungkin karena Kansha yang kita kenal semasa SMA sangat berbeda dengan sekarang.


Andra03 : Iya, dia semakin cantik :3


Maldiva : @KanshaAndara, tolong konfirmasinya :'


Leli : Kalau kalian akan menikah, jangan lupa undang aku ya!


Dan masih banyak pesan lainnya yang sudah terlanjur malas dibaca oleh Aura.


"Dasar tidak punya kerjaan." dengus Aura.


"Ada apa, mbak?" tanya Aisyah kala melihat raut Aura yang kesal.


Aura menatap Aisyah tanpa raut apapun, "Kansha akan menikah." tandasnya.


"Menikah?" seru Aisyah terkejut. "Dengan siapa? Jangan bilang dengan Mas Alan." lanjutnya was-was.


Aura mengangguk, "Parasit itu tidak boleh bahagia." desisnya.


Aisyah terhenyak di kursinya, "Jadi Mas Alan sungguhan menyukai Mbak Kansha? Apa aku sudah tidak punya kesempatan lagi?" lirihnya. Hatinya hancur seketika begitu mendengarnya.


"Kamu tidak dengar apa yang kuucapkan? Kubilang, parasit itu tidak boleh bahagia." tandas Aura kesal.


"Apa yang akan mbak lakukan? Tolong mbak, jauhkan Mas Alan darinya." pinta Aisyah.


"Kamu tenang saja, aku sudah punya rencana." pungkas Aura tersenyum licik.


***


Kansha kini sedang berbaring di kamarnya. Dia baru saja landing beberapa jam lalu. Dan begitu, ponselnya bisa dipakai lagi, dia langsung menghubungi Nana. Kansha yakin ibu hamil itu sangat khawatir padanya.


Dan benar saja, Nana langsung memberondongnya dengan serentetan pertanyaan. Dia bahkan meminta Kansha mengiriminya foto dimana dia sekarang. Nana rupanya masih trauma.


Setelah menenangkan Nana bahwa dia baik-baik saja, Kansha langsung menutup telfon. Dia mengalami jet lag lagi setelah sekian lama.


Ting


Matanya yang memejam seketika terbuka kala notifikasi ponselnya berbunyi. Tanpa mengubah posisi, Kansha membuka ponselnya. Rupanya ada sebuah email masuk.


Kansha membaca isi email tersebut berikut sebuah berkas yang turut dilampirkan. Begitu selesai membacanya, dia seketika terduduk tegak.


Kansha kembali membaca lamat-lamat isi email itu. Setelah memastikan dia tak terlewat satu katapun, Kansha terdiam. Ponselnya terlepas dari genggamannya.


...Hasil Tes DNA atas nama Kansha Andara Williams dan Aisyah Zakariyanissa...


...----------------...


Aku sebagai Author mau mengucapkan terima kasih atas dukungannya selama ini ya. Berkat teman-teman pembaca, karyaku dan performaku meningkat sedikit demi sedikit. Dan ini kali pertama aku merasa bahwa tulisan ini dihargai meskipun masih amburadul. Terima kasih semuanya🙏😭


Aku berjanji akan lebih baik lagi untuk menulis setiap partnya. Maaf karena selalu terlambat up dan membuat kalian menunggu🙏


Terima kasih sekali lagi, dan semoga tetap suka ya dengan kisah ini🤗 Mohon bantuannya🙏💕


^^^Salam,^^^

__ADS_1


^^^...KyGe...^^^


__ADS_2