My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 65.


__ADS_3

Alan dan Kansha sampai di restoran yang dekat sebuah danau. Mereka makan siang dengan nikmat.


“Aku tidak percaya kamu menguasai hacking.” Kata Kansha.


“Aku hanya mengetahui sedikit. Tidak sejago itu kok.” Tukas Alan merendah.


“Dari kapan kamu belajar programming seperti itu?”


“Sejak SMP. Aku sangat menyukai barang-barang elektronik dan aku pintar membuat sesuatu. Makanya aku tertaik mempelajari bahasa pemorograman. Meski otodidak, lumayan lah.”


“Pantas ketika di pulau dulu, kamu pintar membuat alat.”


Setelah itu tak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Tak lama, Alan dan Kansha sudah selesai makan. Alan lalu mengajak Kansha untuk mengayuh perahu kayu di danau.


Alan dan Kansha kini tengah berada di atas perhau kayu yang disewa Alan. Mereka berlayar mengarungi danau hijau yang sangat luas. Suasananya cukup damai dan sejuk. Tak akan ada yang percaya bahwa ini berada di Jakarta.


“Bagaimana keadaan Aisyah?”


“Dia sudah membaik.”


“Lukamu sendiri bagaimana?” tanya balik Alan menatap perban di tangan Kansha.


“Tinggal beberapa hari lagi dan lukanya akan mengering.”


“Soal di lobi itu..” Alan menatap Kansha.


"Eh Alan ayo berfoto!" sela Kansha. Alan mengerti, Kansha tak ingin membicarakannya. Jadi Alan menurut apa yang dilakukan Kansha. Kemudian Alan mengangguk.


Kansha mengeluarkan ponselnya dan memposisikannya di tengah mereka.


"Siap. Satu Dua. Chesse." .


Jepret


Alan dan Kansha tersenyum lebar begitu foto diambil. Kansha melihat hasilnya dengan puas.


"Lumayan." ucap Kansha menunjukkan hasilnya pada Alan.


Alan mengangguk setuju. "Aku masih terlihat tampan." ujar Alan. Kadar kenarsisannya muncul. Kansha hanya mendengus. Meski dalam hati mengakui...


"Kamu mulai tertular virus Alfin. Narsis sekali." cibir Kansha. Alan hanya tertawa.


Suasana danau yang tenang menenangkan hati Kansha. Dia menatap Alan yang asik mengayuh dengan tenang. Jantungnya masih berdegup kencang acapkali melihat wajah Alan yang terpahat rupawan. Kansha akui, ada dalam hatinya rasa ingin memiliki Alan seutuhnya. Namun logikanya masih menguasai, pemilik hati Alan bukanlah dia. Dia tak berhak dan tak boleh mengambil milik seseorang. Dia tak boleh egois, sebagai sesama perempuan, dia harus mengerti rasanya direbut. Aisyah terlalu sempurna dari pad dirinya. Dan Alan sangatlah serasi dengan perempuan anggun seperti Aisyah.


Kansha terus menatap Alan. Menatapnya penuh pemujaan dalam diam. Sedangkan Alan yang merasa Kansha terus memerhatikannya, menoleh pada Kansha. Dan Kansha tak bergeming meskipun Alan sudah menangkap basah dirinya. Dia tak ingin sedetikpun kehilangan waktu tak menatap wajah Alan. Entah kapan ini akan terulang lagi, Kansha hanya ingin menghabiskan semua waktu yang tersisa saat ini juga.


"Kenapa kamu melihatku terus?" tanya Alan bingung.


"Karena kamu tampan. Dan begitu memesona. Perempuan manapun, tak akan bisa lari dari pesonamu." jawab Kansha.


Alan mengerutkan dahinya bingung. "Kamu sedang memujiku?" tanyanya.


"Siapa lagi lelaki didepanku selain kamu?"


Alan berdeham pelan. Dia sedikit malu mendengar pujian Kansha yang tanpa gagap diucapkan padanya. Pipinya tersipu. Wajahnya tanpa sadar memerah.


"Kamu sangat menggemaskan ketika malu." ucap Kansha dengan tersenyum geli.

__ADS_1


"Siapa yang malu? Aku hanya merasa kamu sangat aneh. Tiba-tiba memuji di depan orangnya." tukas Alan.


"Aku memang seperti itu. Maafkan aku kalau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya lebih suka mengungkapkan semuanya di depan orang itu sendiri." Aku juga tidak tahu kapan akan punya kesempatan seperti ini lagi. Tambah Kansha dalam hati.


"Kamu juga cantik. Betapa beruntungnya lelaki yang akan menikahimu." puji Alan balik.


Kenapa tidak kamu saja lelaki beruntung itu, batin Kansha.


"Alan, ada yang ingin kutanyakan padamu." ucap Kansha.


"Silakan."


"Kapan pernikahanmu dengan Aisyah?"


Alan mematung. Dia terdiam terkejut ketika pertanyaan itu terulang kembali dari mulut Kansha. Alan jadi bertanya-tanya apa maksud gadis itu menanyainya pertanyaan serupa seperti waktu itu.


"Kenapa kamu selalu menanyakan hal itu?"


"Aku hanya ingin tahu." balas Kansha.


Alan menghela nafas. "Kalau semuanya sudah pasti, aku akan mengirimu undangannya." kata Alan.


Kansha tersentak. Bagaimana bisa dia menghadiri pernikahan lelaki idamannya sendiri. Tapi itu mungkin lebih baik. Lebih cepat Alan menikah maka hatinya tak akan semakin egois.


"Percepatlah pernikahanmu. Aku menunggu undanganmu." kata Kansha tegar.


Suasana hening seketika. Alan tak bereaksi apapun. Hingga desahan nafas berat Alan terdengar.


"Kansha sebenarnya apa sih yang mau kamu coba sampaikan? Aku tidak mengerti sama sekali." Akhirnya Alan meledak. Dia bertanya-tanya kenapa Kansha seperti selalu mendesak pernikahannya dengan Aisyah. Apa niat sebenarnya gadis didepannya ini? Akankah memang Kansha tak menyukainya?


"Aku tidak memiliki niat atau maksud apapun. Hanya ingin segera melihatmu menikah dengan bahagia." Kansha mencoba menjawab tenang meski dia bingung kenapa Alan tiba-tiba meledak.


"Bagaimana bisa..kamu menanyakan hal seperti itu?" ujar Kansha mulai gugup.


"Aku memang terlihat seperti lelaki cuek dan tidak peka, Tapi aku tahu arti setiap tatapan yang orang lain tunjukkan padaku. Termasuk kamu..kamu yang selalu menatapku diam-dian dengan mata hangatmu." ujar Alan dengan nada setengah berbisik. Meski begitu suaranya terhantarkan dengan baik oleh semilir angin ke telinga Kansha.


Kansha tersentak kaget. Alan benar-benar tidak bisa berbasa-basi. Dia fikir, itu pertanyaan TTS yang ada jawabannya. Semudah itu mengatakannya? Dan jawaban apa yang ingin Alan dapatkan darinya?


"Jawaban apa yang ingin kamu dengar?"


"Apapun yang keluar dari mulutmu."


Kansha terdiam sebentar, Dia lalu menatap Alan. "Asal kamu mau berjanji sesuatu padaku."


"Apa?"


"Jangan pernah coba mengartikan jawabanku saat ini dan percepat pernikahanmu dengan Aisyah."


"Nomor satu bisa kupertimbangkan. Tapi untuk nomor dua, kenapa? Aku ingin tahu alasan nya."


"Karena..."


Kansha menatap Alan. Tubuhnya mendekat dan tiba-tiba, dia mencium bibir Alan.


Cup


Alan membeku. Kansha menempelkan bibirnya di bibir Alan. Dan setelah itu melepaskannya.

__ADS_1


"Apa maksud tadi..." Alan terkejut sekali hingga tidak bisa berfikir.


Kansha menatap Alan dengan tenang. Seolah kejadin tadi bukanlah hal penting. "Kamu sudah berjanji untuk tidak bertanya. Dan segera percepat pernikahanmu. Aku tak ingin menjadi tidak rela nanti." Ujar Kansha menatap Alan dengan raut tak terbaca.


***


"Gotcha."


Aura tersenyum puas melihat hasil yang diberikan orang-orang suruhannya. Dia membalik-balik lembaran foto dimana Alan dan Kansha tengah tertangkap basah berduaan tanpa sepengetahuan Aisyah. Belum lagi dengan satu foto yang amat tak terduga. Aura tersenyum licik. Kehancuran Kansha sudah didepan mata.


"Kerja bagus dan sekarang siapkan mobil." titah Aura.


"Anda mau kemana?" tanya asistennya.


"Kemana lagi kalau bukan menemui sang penjaga pintu. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk membukanya sekarang." kata Aura dengan raut licik.


***


Aisyah sedang membaca buku di kamar inapnya ketika Aura masuk dengan membawa sebuket bunga. Aisyah menutup buku dan menyambut Aura dengan tatapan hangat.


"Mbak Aura." sapa aisyah gembira.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Aura duduk di kursi disamping ranjang setelah menaruh buket bunga itu di atas nakas.


"Aku sudah membaik, mbak. Terima kasih karena sudah mau menjengukku." ucao Aisyah tulus.


"Sama-sama. Lagipula sekalian aku ingin menyampaikan dua buah kabar."


"Dua buah kabar?"


Kansha mengangguk, "Satu kabar baik dan satu kabar buruk. Kamu mau mendengar yang mana dulu?"


"Apa saja tak masalah. Lagipula aku pasti akan mendengar kedua-duanya."


"Kalau begitu, kita mulai dari kabar baik dulu." Aisyah mengangguk.


Aura lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah map coklat. Aura menyerahkannya pada Aisyah.


Aisyah menerimanya dan langsung membukanya. Di dalam hanya ada selembar foto beserta sebuah alamat dibaliknya.


"Itu adalah rumah dimana mereka menaruh Azzahra saat kejadian itu." kata Aura.


"Benarkah? Jadi Kak Zahra tinggal disini?" Tanya Aisyah gembira.


Aura menggeleng. Aisyah melihatnya menjadi bingung.


"Azzahra memang diletakkan di deoan gerbang rumah itu tapi soal dimana keberadaan Azzahra kini, aku tidak tahu. Menurut beberapa tetangga mereka, penghuni rumah itu sudah pindah beberapa tahun lalu. Dan tidak tahu pindah kemana."


Bahu Aisyah kembali merosot. Rasa bahagia yang hampir muncul tergantikan dengan rasa kecewa. Semuanya masih abu-abu. Aisyah mulai kehilangan optimis.


"Kalau begitu, namanya. Siapa nama pemilik rumahnya?" tanya Aisyah.


Aura terdiam. Dia menatap Aisyah dengan raut penuh pemikiran. Seulas senyum terlukis. "Namanya Wili dan keberadaannya tidak diketahui." ujar Aura dengan raut tak terbaca.


"Wili? Ada lagi petunjuk mengenai Wili ini?" Aura menggeleng. Aisyah menghela nafas.


"Sekarang kita ke kabar kedua." kata Aura. Aisyah menoleh dan memerhatikan Aura yang tengah mengeluarkan amplop lain.

__ADS_1


Aisyah langsung menerimanya. Begitu melihat apa isinya, Aisyah tiba-tiba mematung. Amplop dan isi-isinya jatuh berserakan di ranjangnya.


__ADS_2