
Setelah bunda merestui hubungan Alan dan Kansha. Alan dan Kansha makin dekat satu sama lain. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan siang bersama. Alan juga nampak nyaman dengan Kansha. Kansha bukanlah perempuan yang keras kepala, dia lembut dan penyayang serta dewasa. Namun sampai saat kini, Alan belum juga mengungkapkan perasaannya. Hingga Kansha juga tak berani berharap tinggi. Seperti yang dia katakan pada bunda, mencintai Alan sudah membuatnya merasa cukup.
Di siang hari yang terik dengan suhu hampir menyentuh angka tiga lima derajat, Kansha dan Alan sedang makan siang bersama. Mereka makan siang di restoran dekat danau yang pernah mereka datangi sebelumnya. Mereka berbincang ringan sembari makan.
Kemudian ponsel Kansha bergetar. Sebuah notifikasi masuk ke emailnya. Kansha mengeceknya dengan satu tangan. Email itu berasal dari Nana. Sahabatnya itu mengirimkan sebuah lampiran.
Begitu dibuka, Kansha terbelalak terkejut hingga dia menjatuhkan sendok yang tengah dia pegang. Alan mengernyit bingung tatkala melihat Kansha yang terdiam bak patung.
“Ada apa?” tanya Alan.
Kansha terkesiap. Dia menatap dengan mata masih terbelalak pada lelaki didepannya itu. Dia lalu membalikkan ponselnya ke arah Alan. Mata Alan menyipit.
“Sahabatmu akan menikah minggu ini?” tanya Alan.
Kansha mengangguk meski masih terkejut, “Kapan Nana mempersiapkannya? Kenapa aku baru diberi tahu sekarang?” kini Kansha merasa dikhianati.
“Mungkin Nana sedang sibuk jadi dia tidak sempat memberitahumu.” Ucap Alan menenangkan.
“Sesibuk apapun, dia seharusnya masih ingat aku. Dia tidak perlu memberitahuku secara langsung, dia bisa memberitahu lewat telfon!” Seru Kansha kesal. “Dan parahnya, dia mengirimiku undangan tanpa basa-basi apapun lewat email, seakan-akan aku ini hanyalah seorang rekan kerja.” Lanjutnya dongkol.
“Kalau begitu telfon Nana. Minta penjelasan padanya.” saran Alan.
Kansha menuruti saran Alan. Dia mendial nomor Nana. Telfonnya langsung diangkat oleh Nana.
“Kamu menganggapku sahabat atau tidak?” semprot Kansha tanpa basa-basi.
Nana meringis di seberang telfon, “Aku minta maaf Kansha. aku sungguh sibuk dan saking sibuknya, aku lupa memberitahumu. Tapi aku sudah memberitahumukan meski lewat email. Seharusnya kamu jangan marah lagi.” Cicit Nana.
Kansha mendengus, “Kamu memberitahu lewat email? Astaga, formal sekali hingga aku merasa kamu seperti menganggapku sebatas rekan kerja.”
“Bukan begitu Kansha. Serius, tadinya aku ingin mengirimi undangannya langsung padamu, tapi aku tidak sempat. Ada masalah dengan wedding place yang sudah kami rencanakan jadinya aku dan Kak Ruben terbang lebih dulu. dan kalau aku mengirimu lewat paket, aku yakin akan sampai dalam beberapa hari. Jadinya aku mengirimnya lewat email.” Jelas Nana.
“Wah, bahkan kalian melakukan persiapan tanpa sepengetahuanku. Aku jadi merasa tidak enak tidak membantumu. Tapi aku baru sadar bahwa kamu sendiri tidak meminta bantuanku.” sindir Kansha masih kesal—amat kesal.
“Maafkan aku, Kansha. Ini murni kesalahanku, aku mengerti kamu marah. Maafkan aku, sungguh.” Ujar Nana memelas.
Kansha menghela nafas, dia selalu takluk dengan nada memelas dari Nana.
“Sudah lupakan. Jadi apa peranku di pernikahanmu nanti?” tanya Kansha dengan nada lebih kalem.
“Nah, aku ingin kamu jadi bridesmaidku.” Balas Nana semangat.
“Jadi aku hanya perlu mendampingmu saja kan?”
“Tentu. Pokoknya kamu harus berada di pernikahanku dari awal hingga akhir!”
“Ya sudah. Oh ya, apa kamu tidak akan mengadakan bridal shower?” tanya Kansha.
Nana terdiam sesaat membuat Kansha mengernyitkan keningnya.
“Aku sudah tidak lajang Kansha. Aku menikah untuk menutupi kehamilanku.” Lirih Nana.
“Na, jangan mengatakan hal seperti itu. seakan-akan kamu terpaksa menikah karena calon anakmu. Lagipula kalian sudah saling mencintai kan? Seharusnya itu bukan lagi masalah.”
“Tetap saja, Kansha. aku masih merasa tidak enak pada Kak Ruben meski dia bilang sudah mencintaiku.”
“Kalau begitu bicarakan itu dengan Kak Ruben. Kalian harus menjadi satu orang dalam memecahkan tiap masalah. Dan kamu jangan menanggung beban lagi. Bagilah kerisauanmu pada Kak Ruben.” Saran Kansha.
Nana mendesah, “Yah, karena aku tengah mengandung, fikiranku harus lebih positif. Ya sudah ya Kansha, aku harus makan siang dulu, Kak Ruben dari tadi manggil terus.” Ucap Nana kembali ceria.
“Yasudah.”
“Kansha, jangan lupa bawa calon suamimu ya ke pesta pernikahanku. Awas saja, kalau kamu masih sendiri!” peringat Nana.
“Tenang saja. Aku sudah punya calonnya.” Balas Kansha menatap Alan.
“Baguslah kalau begitu. Sudah ya, aku tutup. Bye Kansha.” pamit Nana.
“Bye!”
Telfon sudah ditutup oleh Nana. Kansha lalu meletakkan ponselnya ke meja. Dia lalu beralih menatap Alan.
“Nana akan mengadakan wedding di Lombok Utara, kamu mau hadir?” tanya Kansha.
“Apa aku diundang?” tanya balik Alan.
__ADS_1
Kansha mengendikkan bahunya, “Kamu bisa dianggap kenalanku, lagipula Nana juga kenal denganmu.”
Alan mengangguk-angukan kepalanya.
“Bagaimana?” tanya Kansha penuh harap.
Alan mengangguk ringan, “Tentu saja aku harus datang, bukankah tadi kamu bilang akan membawa calon suamimu?”
Telinga Kansha memerah, begitupun pipinya. Apakah Alan sadar bahwa yang dia maksud adalah dirinya? Astaga, Kansha merutuki mulutnya yang selalu berkata tanpa banyak berfikir.
“Itu..aku..” Sial, Kansha tidak tahu harus membalas apa.
Alan terkekeh melihat betapa menggemaskannya Kansha saat tersipu.
“Tidak apa-apa. Toh perkataanmu benar adanya.” Tandas Alan tersenyum manis.
Kini Kansha yang mematung dengan ucapan Alan.
***
Alan pulang ke rumahnya tepat sepuluh menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Dia langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Alan keluar kamar dan menuju kamar adiknya.
Dia mengetuk pintu kamar namun tidak ada sahutan dari dalam. Dia lalu membuka pintu sedikit, terlihat Alfin yang sedang fokus bermain PS. Alan langsung menyelonong masuk.
“Sudah hampir masuk waktu maghrib, kenapa malah bermain game?” tegur Alan sembari duduk di sofa.
Alfin yang sedang duduk di karpet seketika menjawab, “Masih ada waktu lima menit lagi. Aku ingin membunuh semua musuhku dahulu.” Ucapnya kembali fokus pada permainannya.
“Kamu sudah dengar bahwa Nana akan menikah?”
Alfin menghentikan jari-jarinya yang tengah menekan tombol di stik, setelah terdiam sesaat, dia langsung kembali bermain.
“Sudah.” Balasnya pendek.
“Kamu akan datang?” tanya Alan lagi.
“Harus, karena Nana mengancamku.” Jawab Alfin.
“Mas, ingin melamar Kansha disana.”
“Mas ingin melamarnya dan menjadikan dia istri mas.” Ulang Alan.
Alfin melemparkan stik PS nya ke sembarang arah. Dia lalu bergegas duduk di samping Alan.
“Mas serius? Mas tidak sedang kerasukan kan?” tanya beruntun Alfin.
“Mas serius. Mas sudah memikirkannya cukup lama.” Balas Alan.
Alfin menaruh punggung tangannya di kening Alan, “Mas tidak panas.” Komentarnya.
Alan berdecak sebal, “Tentu saja. Kamu fikir mas sedang bercanda? Bukankah itu tujuan rencana kalian? Membuat mas menyadari perasaan mas pada Kansha.”
“Mas kalau mas melakukan hal itu akibat rencanaku dan Kansha, sebaiknya jangan. Aku tidak ingin Kansha terluka lagi.” Tukas Alan.
“Tidak, kamu salah paham. Awalnya mas tidak yakin dengan perasaan mas pada Kansha. Mas merasa kesal ketika dia lebih dekat denganmu bahkan Alvaro. Mas merasa sangat marah ketika melihat dia menangis karena mas. Tapi mas takut. Mas tidak bisa menduakan Aisyah meskipun itu dalam hal perasaan. Jadi mas menahan semuanya dan terus mendikte fikiran mas bahwa mas hanya suka sebagai teman pada Kansha.”
“Tapi begitu mas dengar perbincangan kalian saat di rumah beberapa waktu lalu, mas sadar, bahwa mas menyukainya. Mas mencintainya dan tidak ingin kehilangannya. Jadi mas memutuskan untuk melamarnya.”
Alfin terdiam mencerna semua ucapan Alan. Dia lalu tersenyum bahagia dan menepuk pundak Alan.
“Alfin senang karena mas sadar dengan perasaan mas sendiri. Apapun keputusan mas, Alfin dukung.” Ucap Alfin.
Alan tersenyum senang mendengarnya, “Terima kasih Alfin, karena kamu sudah membantu mas.”
“Sama-sama mas. Sebagai seorang adik, aku ingin mas mendapatkan yang terbaik. Dan sejak awal aku bertemu Kansha dan kenal dengannya. aku tahu bahwa dia memang ditakdirkan untuk mas. Dan terbukti bukan? Seberat apapun masalah kalian, seberapa seringpun kalian terpisah dan menjauh, Tuhan punya jalannya sendiri untuk mendekatkan kalian berdua.”
Alan tersenyum mengangguk. Benar, dimulai dari pertemuannya dengan Kansha di pulau, dia yakin bahwa dia memang sudah ditakdirkan bertemu dengannya. Semua masalah dan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, menambah daftar panjang jalinan takdirnya dengan Kansha. Dan Alan harap, mereka memang berjodoh. Baik untuk hidup maupun untuk mati.
“Tapi mas, bagaimana dengan keyakinan kalian?” celetuk Alfin. Dia tiba-tiba teringat hal itu.
Alan terdiam sesaat lalu menatap Alfin, “Mas akan menghormati apapun keputusan Kansha mengenai keyakinannya.” Pungkasnya.
Alfin tersenyum mendengarnya, “Mas memang lelaki luar biasa.” Pujinya. Dia menepuk pundak Alan dengan bangga.
Dia bahagia bahwa Alan adalah kakaknya. Kakaknya memang tidak pernah memaksakan sesuatu. Dia selalu bijak dalam mengambil keputusan. Dan selalu setia hingga akhir pilihannya.
__ADS_1
***
D-1 Wedding ...
Kini Alan, Alfin dan Kansha sudah berada di pesawat. Mereka akan terbang ke Lombok untuk menghadiri pernikahan Nana. Meski dilangsungkan dalam prosesi kristen, Alan dan Alfin tetap menghadirinya sebagai wujud toleransi antar umat beragama. Terlebih acaranya tidak dilaksanakan di Gereja, melainkan di depan hamparan laut biru Lombok Utara. Jadi Alan dan Alfin harus menghadirinya untuk memberi selamat.
Alan dan Alfin duduk berdampingan, sedangkan Kansha berada di depan mereka. Alan dan Kansha sama-sama berdoa dalam hati agar diberikan perlindungan atas keselamatan mereka. Mereka berharap pesawat tidak jatuh lagi. Bahaya--
Setelah beberapa jam mengudara, kini Alan, Kansha dan Alfin sudah sampai di Mataram. Mereka memang sengaja memilih melandas di Mataram agar perjalanan menuju lokasi pernikahan hanya dua jam dengan jalur darat.
Setelah berkendara hingga dua jam dengan dijemput oleh orang suruhan Ruben, mereka sampai di salah satu resor di Pantai Sire. Dan Nana serta Ruben menyambut mereka di depan Resor.
Begitu turun, Kansha langsung menuju sahabatnya itu. Mereka berpelukan dengan erat. Setelah cukup lama, Kansha melepaskan pelukannya.
“Selamat datang di salah satu pantai surga tersembunyi di Lombok.” Ucap Ruben.
“Pantainya sangat bagus, tadi kita berkendara melewatinya dan sepanjang mata memandang, semuanya nampak biru.” Timpal Alan takjub.
“Iya dong, ini pilihanku.” Imbuh Nana sombong.
“Pantas ingin jauh-jauh.” Gerutu Alfin pelan namun mampu didengar oleh Nana.
“Apa kamu bilang?” Nana berkacak pinggang.
“Apa?.” balas Alfin santai.
“Sudah-sudah, kalian pasti capek. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian beristirahat beberapa jam lagi.” Ruben buru-buru mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya Kansha, Alan dan Alfin masuk ke dalam resor mengikuti calon pasangan itu. dan begitu masuk, interior resor amat membuat mereka takjub. Langit-langit yang tinggi dengan cat sebiru laut. Kaca jendela yang besar dengan pemandangan laut terbentang luas.
“Kansha, kamu ikut denganku.” Ajak Nana.
Kansha lalu mengikuti langkah Nana menuju kamarnya. Sedangkan Alan dan Alfin dituntun oleh Ruben.
Kansha dan Nana sampai di sebuah pintu putih dengan gantungan kerang di atasnya. Begitu pintu dibuka, sebuah kasur ukuran queen langsung menarik perhatiannya. Belum lagi dengan kaca jendela dan balkon di samping kanannya. Kansha berdecak kagum.
“Resor ini sangat mengagumkan.” Decak Kansha.
“Ini rekomendasi dari salah satu teman Kak Ruben.” Jawab Nana.
Nana tiba-tiba langsung menarik tangan Kansha duduk di ranjang.
“Aku sudah membicarakannya dengan Kak Ruben dan apa yang menjadi jawaban kak Ruben membuatku sangat lega.” Ucap Nana bahagia.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Kansha penasaran.
“Dia tidak menyalahkanku soal kehamilanku, dia malah senang karena adanya kehamilanku, Kak Ruben bisa menyadari perasaannya padaku. Dia bilang, dia sangat bahagia akan menikahiku. Dan tidak sabar menjadi suamiku!” pekik Nana bahagia.
Kansha tersenyum senang, “Nah lihat kan? Kalau kamu mau berbicara, pertanyaanmu terjawab dengan baik. Aku juga sudah lihat tatapan Kak Ruben tadi. Dia menatapku sangat berbeda kini. Dulu kurasa dia menatapku seperti tengah memujaku. Dan kini, dia menatapku seperti seorang teman atau kakak. Dan yang paling membuatku senang adalah dia yang menatapmu penuh cinta.” Ucap Kansha.
Nana mendesah lega, “Aku sangat lega sekarang. Cintaku selama enam tahun itu terbalas. Memang benar ya, kalau kita sabar menunggu, maka hasilnya akan baik. Aku tidak menyesal mencintainya diam-diam.”
“Seharusnya kamu lebih berani agar kamu tidak menunggu selama itu.” tukas Kansha.
“Tapi hasilnya mungkin tidak akan sebaik ini. Bagaimanapun ini adalah hadiah yang Tuhan beri atas kesabaranku, benar kan?”
Kansha mengangguk mengiyakan.
“Aku senang kamu bahagia, Na.” Pungkas Kansha tersenyum lembut.
“Oh ya, bagaimana denganmu? Apakah Alan sudah menyatakan perasaannya?” celetuk Nana semangat.
Raut Kansha kini sedikit mendung, membuat Nana ikut merasa sedih.
“Alan ternyata sama dengan kak Ruben, selalu membuat kita menunggu dengan putus asa.” Gerutu Nana.
“Alan baru saja batal dengan Aisyah. Dia mungkin masih perlu waktu. Aku tidak apa-apa.” Tukas Kansha.
“Tapi Kansha, kamu mau sampai kapan seperti ini? kamu bilang, aku harus lebih berani agar tidak menunggu terlalu lama. Dan kini kamu harus melakukannya, minta kejelasan dari Alan terkait hubungan kalian.” Ucap Nana berapi-api.
“Na, tidak semudah itu.” tukas Kansha, “Aku masih belum tahu perasaannya padaku makanya aku ragu-ragu untuk mengambil keputusan.”
Nana melunak, dia lalu menepuk tangan Kansha pelan. “Aku mempertaruhkan semua keberuntunganku bahwa Alan benar-benar mencintaimu.”
Kansha tersenyum lembut, "Dan aku akan mempertaruhkan apapun yang kupunya bahwa cintaku akan menuju akhir bahagia ."
__ADS_1