
"Bunda bagaimana Alfin?" tanya Alan cemas.
Alfin masih memeriksa denyut nadi bunda, setelah selesai dengan nada panik, dia menatap Alan.
"Kita harus bawa bunda ke rumah sakit." ucapnya.
Alan cepat tanggap. Dia langsung membopong bunda sedangkan Alfin berlari ke luar untuk menyiapkan mobil. Aisyah dan Kansha juga menuju mobil.
Semuanya panik, dan Aisyah masih menangis. Di sisi lain, Kansha diselimuti kekhawatiran sekaligus kebingungan.
Mereka sampai di rumah sakit tempat Alfin bekerja. Bunda langsung dibawa oleh perawat yang sudah siaga. Mereka membawa bunda ke unit gawat darurat.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" seru Alan begitu mereka sampai di depan pintu UGD. Mereka tidak bisa masuk kedalam.
"Ini semua pasti ulah mbak Kansha." cetus Aisyah.
Alan dan Alfin tersentak kaget. Semua mata menatap Kansha.
"Apa maksudmu? Jangan menuduh sembarangan." bela Alfin.
"Aku tidak menuduh sembarangan. Begitu aku ke ruang tamu, bunda sudah terkapar di lantai. Dan aku menyadari bahwa di salah satu gelas jus buatan mbak Kansha sudah kosong. Itu artinya bunda yang meminumnya. Aku yakin, di dalam jus itu ada racunnya." tuduh Aisyah menatap sengit Kansha.
Kansha tersentak. "Apa? Untuk apa aku menaruh racun disana?" tukas Kansha tak terima.
"Tunggu, darimana kamu tahu bahwa itu adalah racun?" sela Alfin.
Raut wajah Aisyah sedikit tersentak namun kemudian kembali tenang, "Aku hanya menebak. Tapi kalau bukan racun, mengapa bisa bunda pingsan?" balas Aisyah.
"Tapi aku sama sekali tidak menaruh racun apapun! Kenapa aku harus melakukannya?" sahut Kansha mulai kesal.
"Bisa saja kan, mbak melakukannya untuk menyingkirkan aku. Aku tahu mbak akan melakukan segala cara agar bisa memiliki mas Alan!" seru Aisyah.
Kansha terbelalak, "Ucapanmu sungguh tidak masuk akal." tukasnya.
Kansha kini menyipitkan matanya, "Justru aku curiga, melihat reaksimu yang ketakutan dan terlihat berlebihan, membuatku yakin kamu tahu yang terjadi."
"Mungkinkah, ada yang menyabotase?"
Pupil gadis berhijab itu sedikit melebar membuat Kansha makin memusatkan perhatian padanya. Dia yakin ada sebuah trik mengenai kejadian ini. Dan Kansha bertekad menyelidikinya.
"Apa yang mbak bicarakan? Sudah salah seharusnya mbak mengaku dan bertanggung jawab. Bukannya malah berkelit dan melimpahkan kesalahan." sinis Aisyah.
"Tentu aku akan bertanggung jawab tapi aku yakin ini bukanlah kesalahanku. Aku yakin ada oknum tak bertanggung jawab yang mencoba menfitnahku." tandas Kansha.
Aisyah makin terlihat kesal. "Mbak seha--"
"BERHENTI." desis Alan. Aisyah menghentikan ucapannya.
"Seharusnya kalian jangan terus berdebat." sela Alfin menyadari bahwa Alan tengah emosi.
"Aku akan menyelidiki ini sampai ke akarnya dan akan kutemukan siapa pelakunya." desis Alan menahan emosi.
Semua yang ada disana seketika menahan nafasnya. Melihat sisi lain dari Alan yang menakutkan.
"Aku sudah menyuruh beberapa orang mengamankan rumah dan barang apapun yang terlihat mencurigakan. Mereka sedang menyelidikinya." ucap Alfin.
Kansha dan Aisyah saling memerhatikan reaksi satu sama lain. Dan Kansha menyadari bahwa Aisyah memang aktris yang baik. Dia mampu menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Tak lama, dokter keluar. Alan, Alfin, Kansha dan Aisyah seketika berdiri.
"Bagaimana keadaan bunda saya dok?" tanya Alan cemas.
"Tenang, mas. Biarkan dokter Kevin bicara dulu." ucap Alfin menenangkan. "Bagaimana Vin?"
"Kondisi pasien sudah stabil. Tinggal menunggu beberapa saat lagi agar pasien siuman." balas dokter.
"Lalu kenapa dia bisa pingsan?" tanya Alan masih kalut.
"Itu karena pasien memakan makanan alergian dengan berlebihan." jawab dokter.
"Alergian?"
Dokter mengangguk, "Di dalam darahnya, ditemukan beberapa zat yang terkandung dalam kacang. Sepertinya pasien memakan kacang dalam jumlah yang tidak bisa ditoleransi."
Alan dan Alfin terhenyak. Begitupun Kansha yang mendengarnya. Kalau memang begitu faktanya, berarti bunda tidak pingsan akibat jus buatannya. Melainkan karena memakan kacang yang membuatnya alergi secara berlebihan.
"Tapi seingat saya, tidak ada makanan yang mengandung kacang. Kami juga tahu bahwa bunda kami alergi dengan kacang." sahut Alfin.
"Orang itu pasti menyabotase makanannya. Dokter bilang ada semacam zat di dalam darahnya. Itu berarti bukan dalam bentuk kacangnya, mungkinkah serbuknya?" Kansha menatap orang disekelilingnya.
__ADS_1
Dokter mengangguk, "Itu bisa jadi."
"Jadi kapan bunda saya bisa siuman?" tanya Alan.
"Sekitar satu jam lagi. Sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah mengurusi administrasi."
"Terima kasih, Vin." ucap Alfin menepuk bahu rekan kerjanya itu.
"Sama-sama. Semoga pasien segera sembuh." balasnya.
"Kalau begitu saya permisi." Dokter Kevin pun kembali ke dalam UGD.
"Aku akan mengurus administrasinya." ucap Alfin. Alan mengangguk.
Sepeninggal Alfin, hanya ada Kansha di tengah-tengah mereka. Alan duduk menyandarkan punggungnya ke punggung kursi. Kepalanya pusing memikirkan kejadian ini. Dia juga belum mengabari ayahnya. Fikirannya terlanjur kalut.
drrt
Kansha mengambil ponselnya yang bergetar. Suara panggilan masuk dari sekretarisnya, Seli. Kansha menjauh sedikit sebelum menerima telfon.
"Halo." sapa Kansha.
"Ibu dimana?" tanya Seli.
"Saya di rumah sakit. Ada apa?"
"Rumah sakit? Ibu sakit?"
Kansha menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan begitu. Aku hanya sedang menjenguk kerabat. Ada apa?"
"Syukurlah kalau ibu baik-baik saja. Penerbangannya akan dimulai setengah jam lagi bu. Kita harus segera ke bandara."
Kansha menepuk dahinya pelan, hampur lupa bahwa dia harus berangkat siang ini. Tapi masalahnya, bunda belum siuman. Dia tidak bisa pergi begitu saja. Tapi dirinya juga tidak bisa membatalkan penerbangannya.
"Seli, bisakah penerbangannya diundur besok?" tanya Kansha.
Hening sejenak, kemudian Seli berkata dengan nada serius, "Maaf bu, tapi kalau ibu membatalkan penerbangan sekarang, maka ibu tidak akan mendapatkan kesempatan untuk merampungkan kantor ARC yang baru."
Kansha memejamkan matanya. Ya, dia tahu kedatangannya ke Seoul kali ini sangat penting. Dan dia tidak bisa membatalkannya begitu saja. Semua usaha yang dia perjuangkan selama ini akan sia-sia.
"Saya mengerti." desah Kansha.
"Tidak usah, saya bisa sendiri." tolak Kansha.
"Maaf bu, tapi saya sudah dalam perjalanan. Saya akan tiba sebentar lagi."
Kansha menghela nafas, sekretarisnya memang sangat tanggap. Dia sudah tahu apa yang harus diperbuat. Kansha juga tidak bisa apa-apa bila Seli sudah dalam perjalanan kesini.
"Saya tidak tahu harus senang atau tidak memiliki sekretaris setanggap kamu." cetus Kansha.
"Saya berharap ibu senang."
Kansha tersenyum mendengarnya, "Kamu langsung saja ke UGD."
"Baik bu."
Kansha menutup telfonnya. Dia lalu berjalan mendekati Alan dan Aisyah yang masih duduk di posisi sama. Kini dia harus memirkan cara bagaimana meminta izin.
Tak lama Alfin datang. Kansha merasa seperti melihat penyelamat.
"Kansha, aku bertemu dengan sekretarismu." kata Alfin.
"Cepat sekali dia datang." gumam Kansha. Dia bahkan belum dua menit menutup telfon.
"Pergilah, Kansha. Tidak apa-apa." lanjut Alfin tahu apa yang difikirkan Kansha.
"Tapi..aku merasa tidak enak. Bagaimanapun, bunda seperti itu ada hubungannya denganku. Setidaknya aku harus menunggunya hingga sadar." ucap Kansha merasa tidak enak.
"Bunda tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menungguinya. Pekerjaanmu lebih penting dan menyangkut ribuan pegawaimu." saut Alfin.
Di saat Kansha masih terlihat ragu, dari kejauhan terlihat seseorang berblazer serba putih berjalan bersama dua lelaki berjas hitam. Mereka menuju ke tempat Kansha.
"Sekretarismu sudah datang." ucap Alfin.
Kansha menoleh ke belakang. Kemudian kembali menatap ke depan. "Aku benar-benar minta maaf." ucapnya penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Pergilah." angguk Alfin.
Kansha mengangguk. Dia sempat menatap Alan yang masih duduk menunduk. Menghembuskan nafas pelan, Dengan berat hati, Kansha melangkah pergi.
__ADS_1
"Ucapkan permintaan maafku pada bunda. Aku akan menjenguknya begitu aku pulang." ucap Kansha. Alfin mengangguk.
Kansha menghampiri Seli. Seli diam saja tidak berusaha mencampuri urusan direkturnya itu. Mereka pun melangkah pergi.
Baru saja beberapa langkah, suara dingin Alan menghentikan mereka.
"Berhenti." seru Alan yang kini berdiri.
"Setelah apa yang terjadi, kamu pergi begitu saja?" tanya Alan sembari berjalan menuju Kansha.
"Mas.." Alfin mencoba menghentikan Alan.
Kansha diam saja.
"Apa kamu tidak memiliki hati nurani?" desis Alan.
"Alan..aku.." Kansha terbata-bata. "Aku harus segera pergi."
"Kemana? Disaat seperti ini, kamu lebih mementingkan pekerjaanmu? Lebih mementingkan uang-uangmu?"
Kansha menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu. Aku juga ingin tinggal. Tapi ini sangat penting." Kansha mencoba menjelaskan.
"Lebih penting daripada nyawa seseorang?"
Kansha menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Bukan seperti itu maksudku."
"Mas." Alfin melangkah maju. Dia harus menengahi sebelum kejadian yang lebih besar lagi.
"Kansha harus pergi sekarang karena itu menyangkut masa depan ARC dan ribuan karyawannya. Mas harus mengerti. Keadaan ini juga bukan salah Kansha." bela Alfin.
"Kenapa kamu selalu membelanya? Kamu menyukainya?"
Alfin membelalak, dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran Alan.
"Aku membelanya karena memang itu kenyataannya." seru Alfin.
"Aku tahu kamu mengatakan itu karena kamu menyalahkanku." timpal Kansha.
"Kansha, kamu harus pergi sekarang." tukas Alfin.
"Kalau kamu pergi, maka benar bahwa kamu memang bersalah." tegas Alan.
Kansha kini diambang keraguan begitu mendengar pernyataan Alan.
"Bu, waktunya tinggal sepuluh menit lagi." celetuk Seli.
Kansha makin terjepit waktu. Dia tidak tahu apa yang harus dia pilih atau lakukan.
"Kansha, pergilah." seru Alfin.
"Kalau kamu pergi, aku akan kecewa padamu." tukas Alan dingin.
"Ibu tidak bisa melewatkan ini. Begitu kita terlambat, maka usaha kita selama bertahun-tahun menjadi perusahaan maju, akan gagal." imbuh Seli.
"Kansha, tidak apa. Pergilah. Seli benar. Pekerjaan dan masa depan perusahaanmu jauh lebih penting." bujuk Alfin.
"Ayo bu." ajak Seli.
Kansha mau tak mau mengangguk membuat Alan menatapnya makin dingin.
"Maafkan aku, Alan." ucapnya.
Kansha menatap Seli kemudian mulai berjalan pergi diikuti Seli dan lainnya. Alan tak percaya di tempatnya.
"Kamu sungguh mengecewakanku." desis Alan.
Kansha menghentikan langkahnya begitu mendengar pernyataan Alan. Matanya bergetar.
Tanpa berbalik, Kansha berkata. "Begitu aku kembali. Akan kubuktikan bahwa aku tidak bersalah."
"Pergilah. Aku tidak lagi percaya." tandas Alan.
Kansha menitikan air matanya. Untuk kedua kalinya, Alan tidak percaya padanya. Dan untuk kesekian kalinya, hatinya harus tegar. Kansha pun kembali berjalan hingga punggungnya menghilang ditelan kejauhan.
Begitu Kansha pergi dan tak berbalik lagi, membuat Alan makin frustasi. Dia duduk lemas di lantai marmer yang dingin.
Bukannya dia egois menahan Kansha. Tapi dia hanya ingin mempercayai hatinya bahwa Kansha memang tidak bersalah. Tapi melihat tindakan Kansha hari ini, membuat kepercayaan Alan mulai goyah.
Entah, dia harus mempercayai Kansha atau tidak. Alan hanya tidak mau salah langkah lagi.
__ADS_1