My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 76.


__ADS_3

Alan membawa dua piring pasta ke meja tamu. Aroma sedap pasta membuat Kansha terbuai. Dia asik menatap pasta menggoda itu dan tak lama Alan kembali dengan membawa sepiring ayam goreng. Di tangan kirinya, ada dua botol air mineral yang dia apit. Alan menata itu semua di meja. Kegiatan Alan pun tak lepas dari perhatian Kansha.


"Kamu memandanginya seolah-olah matamu hampir keluar." komentar Alan.


Kansha mencebik kesal mendengar ejekan Alan. "Kamu memang sangat menyebalkan ya." dengusnya.


Alan hanya terkekeh kecil. Dia lalu duduk bersila di depan Kansha. Mereka memang menggunakan meja tamu yang lebih rendah agar bisa makan lesehan. Itu salah satu kesamaan mereka.


"Waah, kamu memasak ini semua?" takjub Kansha. Dia menatap ayam goreng yang lezat itu. "Ayamnya terlihat sangat renyah."


"Tentu saja. Aku tidak bisa mengabaikan permintaan sang ratu hak sepatu yang ingin kulit ayamnya juga renyah." lirik Alan. Sindiran Alan masih mengandung ledekan.


Kansha tak menanggapi. Dia sudah asik mencomot paha ayam dan memakannya dengan lahap.


"Ini enak sekali." puji Kansha memberi jempol.


"Sudah kuduga kamu akan mengatakan itu. Kamu orang keseratus sekian yang berkomentar demikian." ujar Alan percaya diri. "Resepku tak akan pernah mengecewakan."


Kansha hanya berdecak sebal. Alan itu kalau dipuji sedikit pasti langsung terbang. Tapi kasus kali ini Alan memang pantas dipuji. Kansha mengakuinya.


Kansha sudah menghabiskan potongan ayam pertamanya. Dia lalu beralih pada pastanya. Rasa pedas langsung menyerangnya. Sebenarnya rasanya tidak terlalu kuat tapi cukup membuat orang seperti Kansha terbatuk-batuk.


Pernahkah dia bilang bahwa dia tidak bisa makan makanan pedas?


"Uhuk. Uhuk." Kansha terbatuk-batuk. Alan yang melihatnya langsung menaruh alat makannya dan seketika menepuk punggung Kansha. Alan mengira Kansha tersedak.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan panik.


"Aku tidak tersedak. Aku kepedasan!" balas Kansha masih terbatuk-batuk.


Alan seketika menghentikan tepukannya. Dia lalu mengambil botol air dan menyodorkannya pada Kansha dengan panik.


Kansha meminum air itu sangat rakus. Keringat dingin mengalir di wajahnya. Tenggorokannya masih panas begitupun lidahnya. Dan dia yakin sebentar lagi perutnya akan bergejolak.


"Sudah lebih baik?" tanya Alan begitu Kansha sudah menghabiskan satu botol air.


"Shh shhhss, berapa cabai yang kamu masukkan sih? Ssshh, kenapa pedas sekali?!" rintih Kansha mengipas-ngipasi mulutnya.


"Aku hanya memasukkan sedikit." jawab Alan merasa bersalah.


"Tapi ini sangat pedas! Pernahkah aku mengatakan padamu bahwa aku memiliki rasa toleransi yang rendah pada citarasa pedas?" kata Kansha masih terengah-engah.


Alan memutar otaknya. Dia terdiam, mencoba mengingat-ingat apakah Kansha pernah memberitahu hal ini atau tidak. Namun Alan rasa belum. Dia seketika menggeleng.


"Berarti aku yang bodoh disini. Membuat diriku sendiri hampir mati hanya karena sepiring pasta." desah Kansha.


"Kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Alan masih cemas.


Kansha menggeleng, "Aku sudah tidak apa-apa." jawab Kansha.

__ADS_1


Alan menghela nafas lega. "Syukurlah. Maaf aku tidak tahu kalau kamu tidak bisa makan makanan pedas." ucap Alan penuh sesal.


Kansha menggeleng, "Bukan salahmu juga. Aku saja yang ceroboh."


"Kamu mau minum air lagi?" tawar Alan.


"Kamu ada pisang?" tanya balik Kansha. Alan mengangguk. "Boleh aku memintanya?"


"Akan kuambilkan." katanya. Alan pun menuju dapur lalu setelah itu kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah pisang.


"Semoga bisa meredaskan pedasmu." kata Alan menyerahkan pisang itu pada Kansha.


"Terima kasih." ucap Kansha. Dia langsung memakan pisang itu.


"Sama-sama." balas Alan.


Mereka mulai kembali fokus pada makanan mereka. Pasta Kansha sudah disingkirkan oleh Alan jadinya Kansha hanya memakan ayam goreng saja.


Kansha yang tengah menggigit paha ayam, seketika terdiam. Dia menatap Alan.


"Alan, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kansha tiba-tiba.


Alan yang asik makan mengangguk.


Kansha nampak berhati-hati. "Tadi saat di rumah sakit, kenapa kamu membentak Aisyah dan memilih mendengarkan ceritaku?"


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya hal itu?" tanya balik Alan.


Kansha mengendikan bahu, "Hanya penasaran. Aku tidak pernah melihatmu membentak seseorang terlebih lagi Aisyah adalah calon istrimu." ujarnya dengan nada pelan di dua kata terakhir kalimatnya.


"Aisyah sudah melewati batas. Dia terus menyela perkataanmu. Dan aku sangat emosi saat itu mendengar soal Alfin dan Aisyah memperparahnya dengan bersifat kekanak-kanakan." jelas Alan.


Kansha menyembunyikan terbitan senyumnya. Dia berusaha bersikap biasa saja meski ada kupu-kupu berterbangan di perutnya. Perkataan Alan tak lain secara tidak langsung membelanya bukan?


"Lalu kamu sudah dapat kabar dari Alfin?" tanya Kansha. Alan menggeleng.


"Aku sudah menghubunginya sepanjang hari ini, dan tidak ada yang dia angkat satupun." jawab Alan lesu.


Kansha mendesah pelan. Dia juga sudah menghubungi Nana ratusan kali, tapi ponselnya selalu dalam keadaan tak aktif. Entah apa yang terjadi disana. Kansha harao sahabatnya itu baik-baik saja.


"Lalu aku juga boleh bertanya bukan?" celetuk Alan.


Kansha mengangguk.


"Siapa itu Alvaro dan apa hubunganmu dengan Alvaro?" tanya Alan.


Kansha mengernyitkan dahinya, bingung dengan pertanyaan tak terduga Alan.


"Dia hanya teman SMA ku." balas Kansha.

__ADS_1


"Yakin hanya teman SMA mu?"


Kansha mengangguk, "Tentu. Ada apa memangnya?"


"Dia sepertinya menyukaimu."


Kansha hampir tersedak air liurnya sendiri. "Apa?"


"Aku melihatnya. Dia benar-benar menyukaimu."


***


Alfin tengah menunggui Nana yang tengah diperiksa di posko kesehatan. Tadi saat briefing malam, tiba-tiba Nana pingsan dan ada darah yang mengalir dari sela-sela kakinya.


"Bagaimana Rin?" sambar Alfin begitu melihat Ririn, rekan kerjanya sesama dokter selesai memeriksa Nana.


Ririn menatap Alfin dengan marah membuat Alfin bingung dengan reaksi itu.


"Ada apa?" tanya Alfin cemas. "Dia tidak apa-apa kan? Katakan! Nana sakit apa?"


"Bagaimana bisa dokter mengizinkan seorang wanita yang tengah hamil menjadi relawan?!" seru Ririn marah.


Alfin mematung. Dia membelalakan matanya terkejut.


"Ha-hamil? Maksudmu Nana.." Alfin melirik Nana yang masih terbaring dengan mata terpejam.


"Kamu tidak tahu?" Alfin menggeleng.


"Nana hamil dan usia kandungannya masih muda. Dia hampir keguguran."


Alfin menatap Ririn terkejut. "Keguguran?!"


***


"Bagaimana Ken?" tanya Alvaro.


Kenan duduk di kursinya dengan gelisah. Dia lalu menatap wajah sahabatnya itu dengan sedih. Alvaro sudah tahu apa yang terjadi.


"Katakan saja." katanya.


Kenan mendesah pelan. "Kuharap kamu akan tabah mendengarnya."


"Al, kamu mengalami splenomegali."


Alvaro mengernyit. "Penyakit apa itu?"


"Pembengkakan limpa."


Alvaro membeku. Dunianya seakan runtuh.

__ADS_1


__ADS_2