My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 124.


__ADS_3

“Semuanya sudah usai. Tidak akan lagi ada masalah setelah ini.” ucap Andrian tenang.


Williams dan Kansha baru saja kembali ke rumah setelah mengadakan konferensi pers itu.


“Tapi papa fikir kamu akan mengacaukannya saat datang kesana.” Lanjut Andrian.


“Aku memang berniat seperti itu. Tapi ternyata aku kekurangan waktu dan hampir saja terlambat. Dan ini karena para penjaga yang disuruh papa. Kenapa sih papa membawa banyak penjaga?” tanya Kansha kesal.


“Papa memang sengaja menempatkan banyak penjaga untuk bisa menghambat kamu. Papa tidak akan pernah membiarkan kamu mengacaukan semuanya.” Tukas Andrian tajam.


“Tapi papa salah strategi.” Ujar Kansha.


“Apa maksud kamu?” tanya Andrian.


“Papa hanya menempatkan dua penjaga di depan pintu masuk alih-alih menempatkan banyak. Padahal itu salah satu tempat yang harus dijaga ketat.” Ucap Kansha.


“Dua penjaga? Papa menyuruh lebih dari dua penjaga untuk berjaga di depan pintu masuk.” Tukas Andrian bingung.


“Hah? Bukan dua?” tanya balik Kansha bingung.


Andrian menggeleng, “Papa tidak bodoh hanya menempatkan dua penjaga disana.”


Kansha jadi bingung sendiri. Jelas-jelas dia hanya melihat dua penjaga saja disana.


“Apa aku salah lihat?” tanya Kansha linglung.


“Sudahlah, itu tidak penting lagi. Yang jelas, masalah ini sudah terselesaikan. Tapi masih ada masalah lainnya.” Ucap Andrian mengalihkan pembicaraan.


“Masalah apa lagi?”


“Soal pembukaan kantormu di Seoul yang sempat tertunda dan pernikahanmu. Papa sebenarnya tidak ingin mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan. Tapi papa ingin memberi saran bahwa kamu lakukan pembukaan kantormu dulu dan setelah itu menyiapkan pernikahanmu.”


Kansha mengangguk-anggukan kepalanya. Kansha sebetulnya hampir lupa tentang kedua urusan itu gara-gara masalah ini. Karena meski hanya dua hari saja, tapi masalah ini sudah berdampak cukup banyak pada perusahaannya hingga Kansha harus bekerja keras untuk memulihkannya.


“Aku akan bicara dengan Alan soal ini.” balas Kansha.


“Kalau begitu kita adakan saja acara makan malam lagi, bagaimana? Selain untuk membahas ini, hubungan antar keluarga juga makin dekat.” Usul Grace yang tiba-tiba saja datang dari mana.


“Haruskah?” Kansha agak ragu.


“Tentu saja!” seru Grace semangat. “Yang namanya mempersiapkan pernikahan itu harus benar-benar dan memakan waktu lama. Belum lagi kalian kan tidak berpengalaman. Kalian bisa menanyakan pada kami.”


Kansha mengangguk. “Kalau begitu, aku akan berbicara dengan Alan. Soal ini dan tadi.”


***


Kini situasi sudah kembali normal. Pemberitaan mengenai Kansha juga sudah hilang. Dan ARC kembali disibukkan dengan pembukaan kantor baru di Seoul.


"Kamu sudah menanyai pada walikota soal ini kan?"tanya Kansha pada Seli disaat rapat.


Seli mengangguk, "Kami sudah mengirimkan surat pada walikota bahkan kepala polisi di Mapo-gu. Jadi untuk keperluan perizinan sudah selesai." jawab Seli.


"Lalu apakah mereka sudah mengkonfirmasi akan datang?"


"Sudah bu. Dan mereka dengan senang hati akan menghadirinya."


Kansha mengangguk lega. Dia harus bersyukur karena memiliki para pegawai yang sangat cakap dan terampil. Bahkan ketika dia mendapat masalah kemarin, para pegawainya tak terpengaruh dan terus bekerja keras mempersiapkan semuanya.


"Kalau begitu saya lanjutkan presentasinya."


Drrt


Di tengah rapat, ponsel Kansha bergetar. Dia curi-curi memeriksanya di bawah meja.


Alvaro


Sibuk?


Kansha membalasnya sambil tetap menengok presentasi Seli.


Kansha


Aku sedang rapat. Ada apa?


Tak lama, datang lagi balasan dari Alvaro.


Alvaro


Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi kalau kamu sibuk, ya sudah tidak apa-apa. Nanti saja.


Kansha


Tunggulah dua puluh menit lagi.


Alvaro


Oke. Kalau begitu aku akan berangkat. Kita bicara di kantormu saja.


Kansha

__ADS_1


Oke


Setelahnya, pesan Kansha hanya dibaca saja oleh Alvaro. Kansha jadi penasaran apa yamh ingin dibicarakan oleh lelaki itu padanya.


Setelah itu Kansha kembali memfokuskan diri memperhatikan presentasi Seli.


***


Ceklek


Alvaro menatap ke arah pintu yang terbuka. Kansha yang sejak tadi dia tunggu baru saja datang. Alvaro langsung berdiri menyambutnya.


"Silaka duduk. Maaf menunggu lama." ucap Kansha tak enak. Perempuan itu lalu duduk di depan Alvaro.


"Tidak apa-apa. Lagipula, aku yang minta bertemu." jawab Alvaro tenang.


"Oh ya, sepertinya kamu sangat sibuk. Ada acara?" lanjutnya.


Kansha mengangguk, "Kantor di Seoul sudah selesai. Dan aku harus mempersiapkan soal acara pembukannya."


"Kamu luar biasa. Selamat ya atas kantor barumu." ucap Alvaro memberi selamat.


"Terimakasih. Silakan datang kalau tidak sibuk ya." ucap Kansha sambil tersenyum.


"Kalau begitu kamu harus memberiku tiket pesawat dan sekotak tteok." canda Alvaro terkekeh


"Ah benar juga! kalau begitu tidak jadi deh. Anggarannya sudah habis." balas Kansha balik becanda.


"Tidak apa-apa. Aku bisa membiayainya sendiri. Lagipula aku lebih sering bolak-balik Jakarta-Seoul akhir-akhir ini." kata Alvaro.


"Kenapa?"


"Untuk berobat tentu saja. Sejujurnya aku ketakutan. Aku tak ingin cacat." ucap Alvaro pelan.


Kansha jadi terdiam. Dia tahu bahwa Alvato menderita karena penyakitnya. Meskipun Akvaro bisa saja hidup tanpa limpa, tapi dia tahu rasanya akan berbeda ketika punya limpa. Belum lagi dengan semua efek sampingnya. Kansha bahkan baru sadar bahwa Alvaro mengurus.


"Sabar ya. Aku yakin kamu kuat. Kamu juga bisa sembuh." hibur Kansha.


"Terimakasih." ucap Alvaro tersenyum.


"Sudah tidak perlu bicarakan itu. Jadi apa tujuanmu datang menemuiku?" tanya Kansha mengalihkan topik.


"Ah iya, aku baru ingat!" seru Alvaro. Kansha tersenyum melihatnya.


"Soal masalah kemarin, aku yakin Aura pelakunya."


"Tentu saja. Siapa lagi yang akan berbuat seperti itu kalau bukan Aura?"


Kansha yang terdiam dan bereaksi aneh mengundang kernyitan bingung di dahi Alvaro.


"Ada apa dengan rautmu?" tanya Alvaro.


"Sejujurnya, awalnya aku juga mengira Aura yang melakukannya tapi tidak ada cukuo bukti. Dan penelfon anonim itu bukanlah Aura. Dia Pak Benny, mantan bossku dulu."


"Tapi bisa saja Aura yang memerintahkannya." sanggah Alvaro.


"Itu juga bisa jadi. Tapi tahukah kamu ada hal aneh yang terjadi?" Alvaro menggeleng.


"Ada Aura saat acara itu. Dia duduk di kursi penonton."


Alvaro terkejut.


"Dan kamu tahu apa yang lebih aneh? Acara itu biasanya tak pernah menelfon seseorang untuk memberi pertanyaan. Dan lagi mereka melakukannya karena pertanyaannya yang ambigu. Belum lagi, pertanyaanya tetap saja ditayangkan meski tidak jelas. Padahal kru produksi bisa saja memilih pertanyaan lain. Tapi ini malah pertanyaan yang tidak jelas yang pada akhirnya menelfon si pemberi pertanyaan."


"Mungkinkah acaranya disabotase?"


Kansha terdiam. Dia juga sempat berfikir seperti itu. Dan nama Aura yang terus terlintas dibenaknya. Tapi mengapa Pak Benny yang menelfonnya? Apakah Aura dan Pak Benny saling mengenal hingga mereka bekerja sama?


"Kamu tahu kenapa aku mengatakan ini padamu? Itu karena Aura sungguhan membencimu setengah mati. Awalnya kufikir dia hanya tidak menyukaimu saja. Tapi makin kesini, tindakannya terus saja mengusikmu. Dia bahkan hampir beberapa kali mencelakaimu."


"Dan aku baru tahu apa penyebabnya. Ternyata Aura membencimu karena Kania."


Tak ada reaksi apapun dari Kansha. Sekedar terkejut atau bingung juga tidak. Dan malah Alvaro yang dibuat bingung.


"Kamu sepertinya tidak terkejut." komentar Alvaro.


"Aku sudah tahu. Kemarin aku bertemu dengannya. Dan dia menceritakan segalanya padaku." balas Kansha.


"Ah begitu." gumam Alvaro. "Aku merasa bahwa ini bukan hanya benci saat kalian kecil saja tapi ini sungguhan berubah jadi dendam. Aku yakin Aura akan melakukan segala cara untuk menyingkirkanmu terlebih dengan adanya masalah kemarin. Aura pasti sangat sensitif saat ini."


Kansha mengangguk menyetujui. "Kania adalah topik yang paling sensitif bukan hanya untukku tapi juga untuknya. Aku dan dia kehilangan Kania di saat kecil. Bagiku Kania yang tiada bagai petir yang menyambar tapi bagi Aura, Kania adalah oksigen dan airnya. Kania mati maka Aura juga merasa mati."


"Kita tidak tahu apa rencana Aura selanjutnya padamu. Tapi aku pesan satu hal padamu. Dan kuharap kamh tidak lupa." ucap Alvaro sungguh-sungguh.


"Apa?" tanya Kansha.


"Jangan pernah membuka pintu sebelum kamu mengeceknya lebih dulu."


***

__ADS_1


Di lain tempat, Alan sedang fokus memerhatikan sesuatu di layar komputer. Dia baru saja mulai melaksakan sanksi indisiplinernya.


"Aku lebih baik mengemudikan pesawat daripada harus membaca ribuan angka yang besarnya setusuk gigi ini. Aku nyaris gila!" rutuk Alan.


Lelaki itu memang sedang menyusun ribuan daftar di perusahaan maskapainya. Dan sudah dua jam, tapi belum juga usai.


Drrt


Alan mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Dia seketika mengembangkan senyum.


"Halo." sapa Alan semangat.


"Kamu semangat sekali menjawabnya." komentar Kansha di seberang telfon.


"Tentu saja. Suaramu bagai angin menyegarkan untukku yang hampir saja jadi botak."


"Ada apa memangnya?"


"Aku sedang menyusun ribuan daftar. Dan anehnya aku sudah melakukannya selama dua jam, tapi ini tidak berkurang sama sekali!" keluh Alan.


Kansha ingin terkekeh geli tapi tidak jadi karena kasihan.


"Aku minta maaf, aku tidak bisa membantumu." ucap Kansha merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, lagipula ini masih lebih baik daripada diskors atau dipecat."


"Kamu seperti ini karenaku. Maafkan aku, Lan."


"Jangan minta maaf. Kamu tidak salah. Aku sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan tugasku. Jadi jangan merasa bersalah ya." ucap Alan lembut.


"Tetap saja kamu--"


"Sudah, jangan dibicarakan lagi ya." sela Alan lembut.


"Baiklah." ucap Kansha mengalah.


"Nah begitu, dong." ucap Alan tersenyum. "Oh ya, kamu menelfonku karena kangen ya?" goda Alan.


"Kamu dan kepercayaan dirimu memang tidak bisa dikendalikan!" rutuk Kansha membuat Alan yang mendengarnya terkekeh.


"Aku menelfonmu karena aku ingin mendiskusikan soal pernikahan kita. Mama bahkan meminta kita untuk mengadakan acara makan malam lagi. Jadi aku ingin menanyaimu tentang ini."


"Kalau seperti itu, aku juga setuju. Tapi masih banyak yang harus kita cocokkan soal ini. Jadi sebelum bertemu dengan orang tua kita, lebih baik kita berdua bertemu dulu."


"Aku setuju. Tapi kapan?"


Alan terdiam berfikir, "Malam ini saja. Aku akan ke rumahmu bagaimana? Sekalian makan malam." usul Alan.


"Kalau begitu ke apartement saja ya. Kalau di rumah, ada papa dan mama."


"Oh jadi ceritanya mau berduaan begitu?" goda Alan usil.


"Jangan sembarangan ngomong! Ya sudah tidak jadi deh." seru Kansha sebal.


"Aku hanya becanda. Tolong jangan marah." pinta Alan.


"Aku menyarankan itu agar kita bisa fokus mendiskusikannya berdua tanpa pengaruh dari luar." jelas Kansha.


"Iya aku tahu. Kalau gitu aku kesana pukul tujuh ya."


"Oke. Aku tunggu ya. Hati-hati, jangan mengebut."


"Baik, putri."


"Bye, pangeran!" pamit Kansha sambil terkekeh geli.


Setelah panggilan terputus, Alan masih saja tersenyum. Dia tidak tahu akan segini dampaknya yang dilakukan Kansha. Dia bahkan sudah merasa bahagia hanya bertelfonan dengan Kansha. Ah, bahagia memang sederhana.


***


Malam tiba, dan Kansha baru saja sampai di apartementnya. Perempuan itu langsung bersih-bersih dan memasak. Tadi Alan memberi pesan bahwa dia dalam perjalanan.


Kansha tengah mencuci sayuran dan bahan-bahan makanan. Setelah selesai, dia langsung memotong-motongnya dan mulai memasak.


Tak berapa lama, Kansha sudah selesai memasak. Perempuan itu langsung menatanya dengan baik di meja makan. Dia tersenyum ketika membayangkan bagaimana ekspresi Alan. Dia jadi tidak sabar.


Ting Tong


Lamunan Kansha langsung buyar kala bel rumahnya berbunyi. Kansha langsung menuju pintu dengan semangat. Dia yakin bahwa Alan sudah sampai.


Ceklek


Kansha langsung membuka pintu dengan senyum mengembang diwajahnya. Dia bahkan tidak mengeceknya lebih dulu melalui celah pintu.


"Halo, Nona. Malaikat mautmu sudah datang."


Mendengar suara yang sangat familier itu membuat Kansha seketika melunturkan senyumannya. Kansha makin membeku kala sebuah pistol ditodongkan dengan keras ke pahanya.


Jadi ini maksud Alvaro untuk jangan pernah membuka pintu sebelum mengeceknya. Karena bisa saja, alih-alih malaikat yang datang, malah sesosok iblis yang datang. Dan Kansha yakin dengan jelas bahwa dia tidak datang untuk bertemu. Perempuan itu datang sebagai malaikat maut.

__ADS_1


__ADS_2