My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 59.


__ADS_3

Aura tengah berada di sebuah cafe. Dia tengah menunggu Aisyah. Sambil menyesap kopi, Aura teringat dengan kejadian sebelum dia datang kesini.


Flashback On


“Ini adalah kabar terkini mengenai Azzahra.” Kata Joe, bawahannya. Joe menaruh sebuah dokumen di hadapan Aura.


Aura mengambilnya dan membaca-bacanya. Dia kemudian menutup dokumen itu dan menatap Joe, “Kamu yakin bahwa dia bukan orangnya?”


“Saya belum bisa memastikannya. Tapi seperti yang Nona tahu, untuk garis wajahnya sama persis dengan Azzahra. Tetapi itu bisa jadi hanya kebetulan mengingat saya belum melihat kecocokan antara mereka berdua.” Jawab Joe.


Aura mengangguk, “Kabari aku terus perkembangannya. Dan oh ya, rahasiakan hal ini. jangan masukkan ke dalam dokumen dan kirim yang aslinya padaku.”


“Baik, Nona.”


Flashback Off


Aura terus menyesap kopi panasnya. Dia kemudian terkekeh kecil ketika menyadari bahwa pemikirannya sangat lucu.


Kemudian bel terdengar, Aisyah masuk ke kafe dan langsung menghampiri Aura yang duduk di tepi jendela besar.


“Maaf mbak, Aiyah terlambat. Aisyah tadi harus bimbingan dengan dosen dulu.” kata Aisyah.


Aura menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.” Ujar Aura tersenyum.


Aisyah mengangguk, “Jadi ada apa mbak? Mbak menyuruh Aisyah kesini karena ada perkembangan terbaru soal kak Zahra?” tanya Aisyah.


“Kamu benar.” Sahut Aura mengangguk.


“Benarkah? Jadi apa kabarnya mbak?” tanya Aisyah penasaran. Dia mencondongkan tubuhnya kedepan.


Aura tak menjawab, dia mengeluarkan dokumen dengan sampul kertas dan menyerahkannya pada Aisyah.


“Ini apa mbak?” tanya Aisyah bingung. Dia mengambil dokumen itu.


“Baca saja.” Titah Aura. Aisyah pun langsung membacanya. Matanya membelalak terkejut.


“Jadi benar bahwa Ka Zahra masih hidup? Dimana dia sekarang mbak?” tanya Aisyah gembira.


“Azzahra memang sudah dipastikan masih hidup tapi aku tidak tahu dia ada dimana sekarang. Seperti yang tertulis disana, kalau para perampok itu menaruh Azzahra di depan rumah seseorang. Namun aku tidak bisa melacak pemiliknya karena pemiliknya sudah pergi dari rumah itu dulu sekali.” Jawab Aura tenang.


“Tapi setidaknya Kak Zahra masih hidup, aku lega sekali.” Timpal Aisyah menghela nafas lega.


“Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku juga tidak bisa menjamin bahwa Azzahra masih hidup sampai sekarang.” Tukas Aura membuat Aisyah menatapnya terkejut.

__ADS_1


“Kenapa mbak?”


Aura melipat tangannya dan menyenderkan tubuhnya di sandaran kafe, dia menatap Aisyah, “Azzahra saat ‘kejadian itu’ memang masih hidup. Para perampok bayaran itu disuruh penyewanya untuk membuang Azzahra atau kalau perlu membunuhnya. Dan alih-alih membunuhnya, para perampok itu malah menaruh Azzahra di depan rumah orang asing. Mereka setidaknya masih punya hati untuk tidak merengut nyawa anak tak bersalah. Tapi saat ditelusuri kelanjutannya, aku tidak bisa menemukan fakta penjamin bahwa Azzahra masih bertahan hingga sekarang. Tapi menurut orang-orangku, ada kemungkinan dia masih hidup. Entah di panti asuhan, di jalanan atau bahkan hidup di keluarga kaya.”


Aisyah menghela nafas, batu yang tadi terangkat seperti jatuh lagi menimpa dadanya. Jadi kesimpulannya, Azzahra memang masih tak bisa dipastikan apakah masih hidup atau tidak.


“Kamu tenang saja. Aku dan orang-orangku akan mencarinya hingga semuanya jelas. Kalau Azzahra masih hidup, aku akan menemukan tempat tinggalnya. Dan kalau Azzahra memang sudah meninggal, aku akan mencari dimana makamanya.” Kata Aura dengan nada hati-hati di ujung kalimatnya.


Aisyah mengangguk pelan, “Aku tidak masalah apakah Kak Zahra memang masih hidup atau malah sudah meninggal. Asalkan aku tahu dimana keberadaannya, aku sudah sangat lega.” Timpal Aisyah. “Tolong, bantu aku mbak.” Pintanya.


Aura mengangguk, “Akan kuusahakan.”


***


Brak


Nana menoleh ketika suara pintu terdengar dibuka keras dan matanya makin membelalak kaget kala yang datang dan berdiri dihadapannya adalah Ruben. Nana mundur selangkah dan air matanya hampir meleleh.


“Na.” Bisik Ruben memanggil nama Nana. Nana yang dia rindukan dan kini berdiri masih sama cantiknya di hadapannya.


“Jangan mendekat.” Kata Nana mengangkat tangannya ketika Ruben hendak mendekat. Ruben pun berhenti.


“Aku datang kesini untuk meluruskan masalahku dengan kakak mengenai kejadian malam itu.” kata Nana tanpa basa-basi. Dia tidak menatap Ruben alih-alih memalingkan muka ke dinding dibelakang Ruben.


“Na..soal itu, aku..”


Nana menghembuskan nafasnya pelan. Setelah tenang, dia pun mulai berbicara kembali. Meski masih tak menatap Ruben.


“Kejadian malam itu, anggap sebuah kekeliruan diantara hubungan kita..” Nana mengangkat tangannya lagi ketika Ruben hendak memprotes, “Aku tidak menyuruh melupakannya. Hanya psikopat yang bisa melupakan kejadian seperti itu. Aku hanya bilang bahwa itu adalah kesalahan dan kuharap kita tak perlu mengungkitnya lagi. Anggap bahwa itu tidak pernah terjadi.”


“Na..” Ruben hendak berkata namun Nana lagi-lagi memotong ucapannya.


“Hanya itu cara agar aku bisa menghadapi kakak! Hanya itu cara ku agar aku tidak kehilangan muka didepan kakak. Dan hanya itu...cara agar kita bisa kembali seperti dulu.” kata Nana berbisik.


Ruben mendekat hendak menyentuh tangan Nana, namun Nana menepisnya.


“Tolong, jangan berbuat melebihi batas.” Desisnya.


“Apakah kita tidak bisa berbicara soal malam itu? berbeda denganmu yang ingin berpura-pura semuanya tak terjadi. Tapi aku? Tidak! Kita harus memperjelas masalah itu.” kata Ruben sedikit berseru.


“Untuk apa kita membahasnya? Penjelasan apa lagi yang ingin kakak dengar? Jawaban apa lagi yang kakak inginkan?!” seru Nana marah. Air matanya menetes.


“Na..aku minta maaf atas kebodohanku dan tindakanku. Tapi Na,” Ruben mengambil tangan Nana, “Izinkan aku menyelesaikan kesalahpahaman ini.”

__ADS_1


“Kak, tidak ada yang perlu diselesaikan lagi. Semuanya sudah usai. Malam itu..kakak sudah tahu, kakak sudah melihat dan kakak sudah mengerti! Biarkan aku hidup tenang lagi dan jangan menambah luka yang ada.” ujar Nana dengan tatapan penuh luka.


“Aku sudah menodaimu dan kamu bilang tidak ad ayang perlu diselesaikan? Aku merasa seperti pria brengsek yang sudah menodai kesucianmu.” Ujar Ruben. Matanya kini menyolot marah.


“Bukan kakak, tapi aku. Aku sendiri yang menyodorkan diri aku ke kakak. Aku yang sudah kehilangan kewarasan karena kakak tidak mempercayaiku sama sekali. Aku yang bodoh disini. Aku yang salah!” teriak Nana.


“Na, kita sama-sama salah. Jadi izinkan kakak untuk bertanggung jawab.” Pinta Ruben menggenggam kedua tangan Nana kali ini.


Nana memberontak ingin melepaskan, namun Ruben malah memeluk Nana tanpa izin. Nana makin memberotak mencoba melepaskan diri. Kenangan malam itu menghantamnya lagi. Dia gemetar ketakutan.


“Lepaskan kak! Lepaskan aku!” seru Nana sambil memukul-mukul punggung Ruben. Namun Ruben tetap bergeming.


Nana terus meronta meminta melepaskan diri. Dan semakin erat pelukan Ruben pada Nana.


"Lepaskan aku." bisik Nana menangis.


Bug


Hingga sebuah tendangan menghampiri kaki Ruben. Ruben mengaduh dan melepaskan pelukannya. Ruben dan Nana terkejut ketika melihat ada Kansha dan Alvaro yang tadi menendang Ruben.


“Kansha...” kata Ruben terkejut.


Kansha tidak membalas, dia menghampiri Nana menarik Nana kembali ke tempat dimana Alvaro berdiri. Kansha menyembunyikan Nana di belakang tubuhnya.


“Dasar brengsek.” Umpatnya pada Ruben.


“Kansha, aku bisa menjelaskannya.” Ujar Ruben panik. Dia maju mendekati Kansha. Alvaro segera memasang badannya melindungi Kansha.


“Siapa kamu?!” tanya Ruben kesal pada Alvaro.


“Jangan menyentak dong. Selain cabul, kamu juga pemarah ya.” Balas Alvaro santai.


“Apa kamu bilang?” Ruben maju mendekati Alvaro. Dia menarik kerah Alvaro.


“Ruben, lepaskan!” teriak Kansha. Ruben pun menyentakkan kerah Alvaro dengan keras.


“Aku benar-benar tidak menyangka kalau kakak seperti ini aslinya. Aku bahkan merasa jijik memanggilmu dengan sebutan kakak. Aku rasa keputusanku menolak lamaran kakak adalah keputusan tepat.” Kata Kansha penuh penekanan.


Ruben melemas, jantungnya makin panik. Menyadari bahwa Kansha salah paham padanya. Dia ingin merangsek maju, namun Alvaro menghalanginya. Sedangkan Kansha makin mengeratkan dekapannya pada Nana yang gemetaran.


“Cukup sekali kakak menyakiti sahabatku dan jangan harap untuk melakukannya lagi karena aku tidak akan pernah membiarkannya. Jangan hubungi kami lagi sebelum kakak instropeksi diri!”


Setelah mengatakan itu, Kansha langsung membawa Nana keluar. Ruben hendak mengejar Kansha namun lagi-lagi Alvaro menghalangi.

__ADS_1


“Jangan bertindak bodoh lagi, bung. Tenangkan dirimu dan fikiranmu. Kita bukan laki-laki jantan bila kita menyakiti hati perempuan hingga menangis ” Ujar Alvaro. Dia menepuk pundak Ruben sekali dan meninggalkan ruangan.


Ruben hanya terdiam di tempatnya. Kakinya melemas bersamaan tubuhnya yang meluruh ke lantai. Dia hancur.


__ADS_2