My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 80.


__ADS_3

“Aku benar-benar bodoh. Baru saja aku berfikir untuk bisa memaafkan kakak tapi mengingat bahwa kakak bahkan tidak menyukaiku sedikitpun membuatku nyaris seperti orang dungu. Harusnya aku tidak berharap apapun. Harusnya aku tidak bertanya hal rendahan seperti itu.” nada suara Nana makin melemah.


Tak ada tanggapan dari Ruben. Nana menghembuskan nafas pelan. Semuanya sudah usai disini. Nana melangkahkan kakinya untuk pergi.


Dia berjalan pelan meninggalkan Ruben. Amat pelan hingga dia berharap Ruben punya waktu untuk mengejarnya. Namun seiring angka langkahnya yang bertambah, Ruben tak juga menyusul. Nana makin tersadar kenyataan. Harapannya mulai hilang tertiup angin lembah.


Hingga ketika harapannya telah di ujung tanduk, sebuah tangan merengkuhnya dari belakang. Nana terkesiap dan membeku. Aroma parfum Ruben yang tercampur keringat seketika memadamkan keputusaasaannya. Air matanya kembali menetes.


“Aku baru menyadari ketika langkahmu berbalik menjauhiku, kurasakan ada sesuatu dalam diriku yang berteriak patah. Na, Jangan pergi, Na. Tapi kalau kamu ingin membalasku, maka berjalanlah kembali dan aku akan mengejarmu. Berlarilah kembali dan akan kupastikan untuk menggapaimu. Dan begitu kamu menoleh ke belakang, ada aku yang menunggumu.” Suara Ruben terdengar lirih diiringi embusan angin.


Nana memejamkan matanya dan menangis terisak. Tubuhnya lalu dibalik oleh Ruben. Bahunya direngkuh oleh tangan hangat Ruben.


“Buka matamu.” Bisik Ruben.


Nana menggelengkan wajahnya dan makin terisak. Dia tak ingin begitu membuka matanya, semuanya hanyalah ilusinya saja. Dia tidak siap menghadapi kenyataan lagi.


Ruben mengusap air mata Nana setelah itu mencondongkan kepalanya dan mencium kening Nana. Nana bergetar hebat. Mimpinya makin menariknya pada ilusi.


“Buka matamu.” Bisik Ruben kembali.


Nana tetap menggeleng hingga Ruben mengelus kedua kelopak mata Nana yang menutup. Perlahan seiring dengan sentuhan halus Ruben pada kelopak matanya, mata Nana terbuka.


Wajah Ruben yang pertama dia lihat, Nana jatuh terduduk dan menangis hebat. ini bukanlah mimpinya. Ruben benar-benar ada dihadapannya.


Ruben ikut mensejajarkan diri. Dia langsung merengkuh bahu bergetar Nana dan mengusapnya perlahan. Menenangkannya dan memastikan pada perempuan dihadapannya ini bahwa dia nyata.


“Aku mencintaimu, Na.” Bisik Ruben.


***


“Ikuti saja apapun yang kukatakan, Alvaro.”


Alvaro terdiam ketika kilasan pertemuannya dahulu bersama Aura kembali bergaung di fikirannya. Entah kenapa, perkataan Aura kembali muncul. tidak ada hubungannya dan tiba-tiba terlintas begitu saja.


“Al, are you okay?” tanya Kenan ketika Alvaro hanya melamun.


Alvaro mengangguk pelan. “Okay. Sampai mana tadi?” tanyanya balik. Berusaha memfokuskan diri pada pembahasan sebelumnya dengan Kenan.


Kenan mendesah pelan, “You’re not okay. Kita tunda dulu pembahasannya. Kamu lebih baik istirahat.”


Alvaro menggeleng, “Tidak, aku baik-baik saja.”


“Kamu yakin?” tanya Kenan dengan nada ragu. Alvaro mengangguk.


“Jadi apa yang dimaksud dengan Sple—apa tadi?”

__ADS_1


“Spelomegali. Pembengkakan limpa.” Koreksi Kenan.


“Yah, apa itu?”


“Splenomegali adalah kondisi yang menyebabkan limpa membengkak secara tidak wajar. Pembengkakannya bisa membuat limpa berbobot 1kg dengan panjang melebihi 20cm.” Jelas Kenan.


“Penyebabnya karena apa?”


“Hasil lab menunjukkan pembengkakan limpamu itu karena disebabkan oleh cedera tumpul pada perut. Cedera tumpul pada perut misalnya karena kecelakaan atau olahraga bahkan benturan dari benda tumpul.”


Alvaro termenung ketika Kenan membahas soal kecelakaan.


“Sebenarnya, aku pernah mengalami kecelakaan saat usiaku 18 tahun.” Alvaro berhenti sejenak untuk menarik nafasnya. “Akibat kecelakaan itu, aku membuat seorang wanita paruh baya harus diamputasi salah satu kakinya.” Lanjutnya.


Kenan menarik nafasnya namun dia tidak bersuara. Alvaro pun melanjutkannya.


“Dan parahnya aku melarikan diri dari tanggung jawab. Ayahku menyuap hakim untuk mengalahkan gugatan korban. Dan karena hal itulah, wanita itu dan anaknya kesusahan. Usahanya hampir bangkrut dan anaknya hampir putus sekolah. Selama beberapa tahun itu, aku sudah menyebabkan kesulitan pada mereka yang tidak bersalah.” Tuturnya pelan.


Kenan terdiam. Menunggu Alvaro melanjutkan ceritanya.


“Dan parahnya, aku mengenal anaknya. Dia satu sekolah denganku dan dia adalah orang yang kusukai. Tapi karena kejadian itu, aku menjauhinya dan berpura-pura tidak mengenalnya. Aku benar-benar tidak sanggup menghadapi wajahnya.”


“Dia tahu kalau kamu penyebab ibunya kecelakaan?” tanya Kenan hati-hati. Alvaro menggeleng.


“Aku pengecut, tidak mau mengatakan yang sejujurnya. Dosa itu terus kubawa selama beberapa tahun ini hingga aku bertemu dengannya kembali. kehidupannya jauh lebih baik dan aku tahu bahwa ibunya sudah melakukan operasi pemasangan kaki palsu. Mereka hidup dengan bahagia. Tapi aku masih belum bisa melupakan dosa itu.”


Alvaro menatap jendela bertutup tirai putih di belakang Kenan sebelum dia menjawab dengan lirih, “Dia Kansha Andara.”


***


Alvaro menyesap tehnya di sebuah kafe. Suasana paginya sangat mendung, kontras dengan langit cerah yang menaungi awan pagi yang menari dengan anggun.


Pembicaraannya dengan Kenan masih membekas diingatannya. Alvaro yang awalnya tak mengakui takdir, kini mulai pasrah. Penyakit ini pantas dia dapatkan akibat karma perbuatan tak bertanggung jawabnya tujuh tahun lalu.


Alvaro merasa belum sanggup mengatakan yang sebenarnya pada Kansha. Dirinya belum siap dibenci oleh Kansha. Dirinya belum siap menjauh dari hidup Kansha kembali. sudah dia korbankan waktu tujuh tahun yang bagai neraka itu merenungi kesalahannya dan membuatnya menghilang dari sisi wanita yang dia cintai.


Dan kalau kalian ingin tahu, bagaimana awal mula Alvaro jatuh hati pada Kansha, maka Alvaro akan dengan senang hati menceritakannya. Dan omong-omong, ini adalah pertama kalinya dia berbagai kenangan indah ini. karena selama ini kenangan ini, hanya tersimpan di otaknya dan selalu dibacakan pada hatinya.


Tujuh Tahun Lalu, 2013


“Shoot! Tembakan tiga poin Alvaro, kapten Tigers mengakhiri pertadingan final menegangkan ini. 65-64. Selamat untuk SMA Pelita sebagai juara 1 pertandingan Basket se provinsi Jakarta!”


Sorakan penuh kebahagiaan menggaung dari seluruh tribun. Alvaro bertos ria dengan anggota tim nya yang lain. Mereka mengelu-elukan kapten kebanggaan mereka itu.


“Good job, Al. Andai kamu tidak menembak didetik-detik terakhir, kita kalah.” Ucap pelatihnya.

__ADS_1


“Itu semua karena kerja sama kita yang bagus.” Balas Alvaro merendah. Pelatihnya menepuk bahunya bangga.


Usai pertandingan final penuh dramatis itu, Alvaro memisahkan diri dengan anggota timnya. Dengan masih berseragam tim, Alvaro melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Dia ingat bahwa ada buku hukum baru yang baru saja tiba. Dan Alvaro harus menjadi orang pertama yang membacanya.


Alvaro sampai di perpustakaan. Dia langsung menghampiri Bu Rini, pustakawan sekolahnya.


“Bu, buku hukum yang judulnya Introducion to the Study of the law of the Constitution, ada?” sambar Alvaro langsung.


Bu Rini yang tengah menulis berkas, langsung tersenyum. Dia lalu kebelakang dan mengambil sebuah buku lumayan tebal dengan cover sedikit kuno. Dia menyerahkannya pada Alvaro.


“Karya Albert Van Dicey?” Alvaro mengangguk semangat. Dia mengambil buku tebal itu dan membalik-baliknya dengan semangat.


“Al, kamu punya indera cenayang ya? Bagaimana bisa kamu tahu bahwa buku ini baru saja tiba dua jam yang lalu?”


Alvaro menggaruk rambutnya malu, “Saya sudah memasan alarm kalau bukunya akan tiba jam 10 ini. Andai tadi pertandingannya cepat selesai, saya pasti datang kesini lebih dulu.”


“Bisa ibu lihat antusiasme mu hingga berlari kesini tanpa mengganti baju. Tidak apa-apa, tidak tercium bau aneh.”


Alvaro terkekeh, “Saya ke ruang baca dulu, bu.” Pamitnya.


Alvaro lalu pergi ke ruang baca yang letaknya di belakang rak buku. Ruang baca ini cukup luas,dan punya banyak fasilitas yang mendukung anak-anak untuk belajar. Dan ini adalah salah satu ruang favoritnya.


Namun begitu Alvaro tiba, tak ada siapapun disini. Hanya seorang perempuan yang tengah membaca buku dengan takzim. Alvaro mendekat dan duduk di belakang perempuan itu.Perempuan itu dengan rambut yang dikuncir kuda dan duduk tegak.


“Kisah percintaan Albatros, seekor burung yang sangat menjaga hubungan monogami dan akan tetap setia meski pasangannya telah tiada. Meski jaraknya terbentang jutaan mil, albatros akan tetap terbang mencari pasangannya yang sudah diyakini olehnya. Kesetiaan Albatros akan dicemooh orang-orang dari dunia fana dimana sayapnya yang lebar akan menghambatnya berjalan. Padahal, sayap merupakan kebanggaan terbesar albatros sama halnya dengan kekayaan yang merupakan kebanggaan para manusia yang tunduk pada kapitalisme. Albatros layaknya manusia yang walaupun memiliki ambisi tinggi tapi tak bisa menemukan sahabat karibnya. Tak dapat menemukan pasangan yang dapat berjuang bersama dan malah harus berjalan sendirian ditengah cemoohan orang-orang. Tema yang ironis dan tragisnya terjadi padaku.” Gumam perempuan itu yang terdengar lirih di telinga Alvaro. Desahannya yang penuh dengan nada lelah menggelitik hati nuraninya.


Tak lama, perempuan itu berdiri dan menutup bukunya. Dia berjalan pelan, Alvaro yang penasaran langsung menutup bukunya dan mengikuti langkah perempuan itu.


Perempuan itu membawanya pada sebuah jendela bidang yang berada di samping kiri ruang baca. Dia tiba-tiba menulis sesuatu pada jendela kaca transparan itu. Alvaro mengintipnya dari balik rak buku besar.


Beberapa saat kemudian, perempuan itu pergi. Ketika sudah aman, Alvaro menuju jendela transparan itu. Dia menghembuskan nafasnya pada jendela itu dan seketika tulisan yang dibuat perempuan itu muncul.


Albatros adalah aku


Alvaro mengernyitkan dahinya bingung. Siapa sih sebenarnya perempuan sentimental itu. Dan mengapa dia menyamakan dirinya dengan burung?


Alvaro pergi menuju meja bu Rini kembali. dia bermaksud meminjam buku hukumnya itu. Ketika tengah diproses, Alvaro tiba-tiba tergelitik ingin bertanya.


“Um, bu Rini.” Panggil Alvaro.


“Ya?” sahut Bu Rini dengan pandangan tetap pada komputernya.


“Siswi tadi itu yang rambutnya kuncir kuda, ibu kenal?”


Bu Rini menoleh, “Oh, maksudnya Kansha? ibu kenal, dia siswi paling rajin yang sering datang ke perpustakaan. Dia juga pintar loh.”

__ADS_1


Alvaro terdiam. Jadi namanya adalah Kansha.


__ADS_2