My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 44. Reuni Berujung Petaka


__ADS_3

Tuk tuk


Kansha mengalihkan tatapannya dari ponsel dan menatap ke sumber suara. Dia yang awalnya tersenyum seketika melunturkan senyumnya. Matanya menatap takut dan terkejut.


“Hai, Kansha. Lama tidak bertemu.”


Kansha tidak menjawab, dia malah jadi gemetaran sekarang. Sedangkan orang itu duduk tanpa permisi di depan Kansha.


“Kamu makin cantik sekarang. Pasti sudah punya uang kan? Jangan sampai kamu numpang lagi.” Hina orang itu dengan senyum meremehkan.


Kansha mendongak dan menatap tajam, “Untuk apa kamu kesini?” tanyanya.


“Awalnya aku kesini untuk membeli kopi, siapa sangka bertemu teman lama yang sangat kurindukan. Jadi aku menghampirimu untuk menyapa.” Katanya santai.


Kansha mengalihkan pandangannya. Lalu tiba-tiba, orang itu mengeluarkan sebuah kartu undangan.


“Ada untungnya juga membawa undangan ini, siapa tahu bertemu seseorang dan tidak disangka malah dapat jackpot.” Undangan itu dia letakkan di meja. “Jangan lupa datang, anak pungut.” Lanjutnya.


Dia lalu bangkit namun sebelum pergi, dia mencondongkan badannya ke arah Kansha, menatap penuh senyuman menjijikan pada Kansha yang memilih mengalihkan pandangannya.


“Pastikan kamu datang ya. Jangan lupa.” Bisiknya dengan nada terkesan mengancam.


***


Alan keluar toilet setelah mencuci tangan namun ketika hendak ke mejanya, langkahnya terhenti ketika Kansha tengah berbicara dengan seorang wanita. Namun ekspresinya aneh dan terlihat tidak senang. Kemudian tak lama, wanita itu pergi setelah menaruh sesuatu di meja. Alan pun menghampiri Kansha.


“Siapa dia? Temanmu?” tanya Alan sembari duduk. Namun Kansha tak menjawab.


Alan lalu melihat undangan itu, dia langsung mengambilnya. “Wah, undangan reuni SMA. Ternyata itu teman SMA mu.” Kata Alan dengan nada ringan tanpa melihat ekspresi Kansha yang sudah keruh.


“Aku ke toilet dulu.” pamit Kansha lekas pergi. Alan yang melihat sikap aneh Kansha hanya mengernyit bingung.


Alan menunggu Kansha dengan bermain game. Kemudian Bu Sari datang sembari membawa kentang goreng dan soda. Alan pun menghentikan permainannya.


“Ini ibu bawakan cemilan.” Kata Bu Sari ramah.


“Terima kasih bu. Saya jadi sungkan, ibu tadi membawa banyak makanan.” ucap Alan tersenyum sopan.


“Tidak apa-apa. Ibu malah senang.” Ujar Bu Sari tersenyum. Kemudian senyumnya luntur ketika matanya menangkap kartu undangan reuni milik Kansha.


“Ini--" kata Bu Sari dengan raut penuh pertanyaan pada Alan.


“Ini milik Kansha bu. Dia ternyata sekolah di Cipta Pelita? Setahu saya itu sekolah swasta pertama yang berubah status jadi negeri.” Timpal Alan. Namun Bu Sari tidak menanggapinya, dia malah beraut khawatir.


“Ibu, ada apa?” tanya Alan menyadari raut keruh Bu Sari.


Bu Sari duduk di depan Alan membuat Alan makin penasaran. “Apa Kansha sudah melihat undangan ini?” tanyanya dengan cemas. Alan mengangguk.


“Bahkan tadi ada temannya yang memberikannya.” Imbuh Alan. Mendengarnya, Bu Sari terkejut.


“Memang kenapa bu?” tanya Alan bingung.


Bu Sari menghela nafas, “Hidup Kansha saat SMA tidak terlalu menyenangkan. Saat itu Kansha tidak punya apa-apa untuk dijadikan sebagai perlindungan. Teman-temannya tahu bahwa Kansha anak sebatang kara dan tinggal dengan saya yang bukan siapa-siapanya hingga mereka menyebutnya anak pungut.”


Alan membeku. Pernyataan Bu Sari membuatnya terkejut setengah mati. Hidup Kansha memang tidak mudah sejak dulu. Sudah tersiksa saat kecil dan hidup terpisah dari keluarga, dia juga mendapatkan bullying saat sekolah.


“Saya selalu heran tiap Kansha pulang ke rumah dengan basah kuyup dan rambut-rambut acak-acakan. Awalnya dia beralasan kalau itu gara-gara sehabis berolahraga hingga berkeringat tapi itu selalu berulang. Saya yang curiga, ditambah Kansha menjadi sangat pendiam membuat saya memberanikan diri datang ke sekolahnya tanpa pemberitahuan. Disitulah saya menyaksikan sendiri Kansha yang tengah dibully.” Tutur Bu Sari dengan meneteskan air mata.


“Setelah mengetahui itu, saya bilang sama Kansha untuk pindah sekolah, namun Kansha tidak mau. dia bilang tinggal beberapa bulan lagi.”


Alan terdiam setelah cerita Bu Sari usai. Dia menghembuskan nafas pelan. Alan tidak pernah melihat Kansha yang pernah menjadi korban perundungan. Kansha justru terlihat hebat dan tangguh. Memang, proses menyakitkan di masa lalu akan membentuk jati diri kita. Bukannya menjadi orang lemah, Kansha malah memilih menjadi kuat agar tak diinjak kembali.


****


Kansha masuk ke dalam toilet. Dia mencuci mukanya dengan kasar berkali-kali. Setelah itu, dia menatap wajahnya dalam pantulan cermin. Ingatan akan masa SMAnya muncul kembali ke permukaan.


Flashback On


“Makanya, kalau jadi anak itu yang agak beruntung sedikit dong. Sudah tidak punya orang tua malah numpang sama orang asing. Orangnya bego lagi, mau-maunya menampung anak miskin seperti kamu!” hina salah satu siswi perempuan. Dalam ingatannya, namanya adala Aura. Siswi populer yang kaya raya dan cantik namun suka merundung siswi yang lemah dan miskin.


“Iya, kenapa sih tidak mati saja? Kamu menyusahkan kalau hidup terus!” timpal Dina. Dia menjambak rambut Kansha dengan keras.


“Dia kan pengin jadi reporter. Pengen masuk Tv. Jadi sebelum tercapai, tidak mau mati dulu.” tambah Rena tertawa.

__ADS_1


Suasana toilet perempuan diisi oleh suara tertawaan yang menjijikan di telinga Kansha. Dia berusaha melawan namun kembali kalah jumlah.


“Kalau begitu Aura, dia kan mau masuk tv. Tapi wajahnya kusam dan jelek, bagaimana kalau kita membantunya sedikit?” tukas Rena dengan nada licik.


“Benarkah?” Aura tersenyum licik. “Kalau begitu, ambilkan sebuah air ajaib untuk mengubah upik abu ini menjadi cinderella.” Titah Aura dengan senyum manis.


Dina dan Rena langsung mengambil air pel-an yang kotor. Mereka menyerahkannya pada Aura.


“Baik, kalian sudah siap? Sebentar lagi kita akan melihat, transformasi upik abu menjadi cinderella. Satu—“ Aura mulai mengangkat embernya ke depan wajah Kansha. Kansha menutup matanya erat.


“Dua—“


“Tiga.”


Byur


Setelah itu tak ada yang diingat Kansha, yang ia ingat hanyalah suara tawa meremehkan dan menyebalkan dari mereka.


Flashback Off


Kansha terengah-engah ketika kenangan menakutkan itu muncul kembali. Dia menarik nafas kemudian menghembuskannya. Traumanya yang dulu kembali muncul.


Tak ingin berlama-lama, Kansha segera keluar dari toilet kemudian menghampiri mejanya dengan langkah pelan.


Alan yang melihat Kansha mendekat dengan muram lantas beranjak berdiri.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alan melihat penampilan Kansha yang acak-acakkan. Kansha menggeleng pelan.


“Kamu sudah selesai makan kan?” alan mengangguk. “Ayo pulang.” Ajak Kansha mendahului Alan.


Alan menatap punggung muram itu dengan pandangan tak terbaca.


***


Kansha sampai di rumahnya. Dia melihat jam dinding, dan sudah menunjukkan angka lima sore. Ada dua jam tersisa sebelum pesta reuni itu. Dia kini bimbang, haruskah datang dan mendapat perlakuan tidak mengenakkan lagi, ataukah tidak datang dan Aura akan menerornya lagi. Kansha mengusap rambutnya kasar. Dua pilihan itu sama-sama ekstrem resikonya.


Sedikit cerita, Kansha memang sempat menjadi pendiam. Dia merasa antipati terhadap orang asing. Dia takut akan dijahati lagi. Namun semenjak bertemu Nana, dia berubah. Dia yang awalnya lemah dan rapuh, kini ingin menjadi seperti Nana. Bebas tanpa merasa takut. Tangguh tanpa merasa ada beban. Nana mengajarinya banyak hal. Bisa dibilang, pertemanannya dengan Nana lah yang membentuknya menjadi pribadi seperti sekarang.


Kansha melihat ada tulisan di kertasnya dan begitu dia baca, bibirnya melengkungkan senyuman.


Alan bilang tidak ada gunanya terus bersembunyi. Jadilah cantik dan tunjukkan wajahmu dengan berani. Tantang orang-orang yang pernah menginjakmu. Buat mereka bertekuk lutut dibawah kakimu.


Kansha tersenyum haru. disaat dirinya membutuhkan dukungan, ada Alan yang selalu menjadi alasannya memberanikan diri. Iya, Alan benar, tidak ada gunanya bila terus takut, yang ada mereka akan bertambah senang melihat ketidak berdayaannya. Kansha menghapus setetes air matanya yang turun. Dia menatap pantulan wajahnya dengan berani sebelum kemudian memoleskan bedak ke wajahnya.


Malam ini, akan Kansha tunjukkan bagaimana Upik Abu menjadi Cinderella.


***


Kansha datang ke sebuah hotel mewah tempat dilaksanakannya reuni itu. Gadis dengan dress selutut itu menghembuskan nafas pelan. Dia merasa gugup dan takut. Kepercayaan dirinya yang meningkat tadi, kini seolah menciut begitu menginjakkan kaki di hotel.


Kansha menghampiri meja tamu dan mencari namanya. Kemudian menandatanganinya sebagai kehadiran. Belum ada yang menyadari siapa dirinya. Itu membuat Kansha sedikit tenang.


Perlahan, Kansha masuk ke dalam ballroom. Begitu pintu terbuka, atensi semua orang langsung mengarah padanya. Banyak yang terpekik kecil ketika menyadari ada seseorang yang luar biasa cantik tengah melangkah anggun. Banyak yang berseru memujinya namun mereka tidak tahu jika itu adalah Kansha. Kansha yang merasa mulai percaya diri, mengangkat dagunya keatas.


Kansha sampai di tengah aula. Aura, Dina dan Rena juga menghentikan pembicaraan mereka ketika Kansha berdiri di hadapan mereka. Tangan Kansha mulai dingin dan berkeringat tatkala Aura yang mengenakan gaun hitam tersenyum manis ke arahnya.


“Well, aku tidak menyangka kalau kamu benar-benar datang. Aku sangat senang. Dan tentunya selamat datang, Kansha.” Kata Aura dengan senyum jahatnya. Begitu mendengar wanita itu adalah Kansha, semua orang terkejut. Tentu saja, yang ada diingatan mereka Kansha adalah gadis pendiam dengan penampilan culun yang selalu dirundung. Tidak disangka kini, dia berubah menjadi wanita super cantik.


“Kamu sudah mengundangku. Bagaimana bisa aku tidak datang.” Balas Kansha tenang meski tidak bisa menutupi kegugupannya.


Aura mengangguk puas. “Yah, itu tindakan yang bagus. Bagaimanapun kami merindukanmu.” Katanya mendekati Kansha. Kansha mundur beberapa langkah.


“Jangan mundur begitu dong. Aku ingin lebih dekat berbicara denganmu.” Kata Aura. Kansha tak menanggapinya.


“Well, karena semua sudah disini. Kita mulai saja pestanya. Oh ya, akan ada penghargaan untuk alumni yang berprestasi semasa sekolah loh.” Ucap Aura lantang sambil menatap Kansha dengan licik, Dia pun menarik tangan Kansha untuk duduk didekatnya.


Penampilan demi penampilan ditampilkan dan selama itulah Kansha duduk kaku di antara kelompok Aura. Aura memang terlihat tidak mengindahkannya namun tetap saja Kansha merasa khawatir. Dia tidak tahu apa yang direncanakan oleh wanita ular seperti Aura itu.


Lalu seorang pembawa acara naik ke panggung. “Halo, saya Deri, masih ingat dong? Vokalis tampan nan gagah di Indie Band.” Ucapnya diiringi oleh seruan riuh.


“Oke-oke, fans harap tenang ya. Deri si dokter tampan ini akan membacakan beberapa penghargaan untuk para teman kita yang pernah membuat masa sekolah kita menjadi menyenangkan dan menghibur. Penasaran siapa saja?” pertanyaannya disambut suara riuh serentak.


“Oke, penghargaan pertama yang pastinya untuk ketua OSIS kita yang sudah mengabdi pada sekolah selama satu tahun. siapa lagi, kalau bukan Alvaro! Untuk direktur tampan kita, silakan maju ke panggung.” Panggil Deri.

__ADS_1


Seorang lelaki muda dan tampan dengan setelan jas hitam maju dengan gagah. Rambutnya yang tertata rapi dan lesung pipinya yang menawan berhasil mendatangkan keriuhan dari kalangan perempuan. Alvaro, lelaki berdarah Indonesia-Jerman ini maju dan memberikan sambutan.


“Terima kasih semuanya atas penghargaan ini. Sebenarnya ini tidak perlu juga, saya menjadi Ketua Osis karena ingin mengabdi pada sekolah dan berupaya membantu para siswa menyalurkan aspirasinya. Saya mengucapkan terima kasih karena sudah membantu dan mendukung saya selama masa kepemimpinan saya dulu.” Kata Alvaro. Dia lalu turun dengan tetap diiringi tepukan tangan membahana.


“Yah, orang ganteng memang beda ya. Reuni SMA saja sudah seperti konser boy band.” Komentar Deri yang disusul gelak tawa.


“Oke, penghargaan selanjutnya untuk salah satu teman kita yang sudah mengharumkan nama sekolah. Jadi bukan hanya ketiak kita yang bisa harum, tapi sekolah juga. Kita sambut, Kansha Andara si jenius Bahasa!” seru Deri.


Kansha terkesiap. Dia enggan berdiri namun suara tepuk tangan dan tatapan semua orang mengarah padanya. Belum lagi Aura yang menatapnya penuh atensi meskipun senyuman manis tersungging dibibirnya.


Kansha pun mau tak mau maju ke atas panggung. Setelah menerima sebuah plakat dan sebuket bunga, Kansha memberikan sambutan.


Kansha berbicara dengan nada gugup, “Emm, saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini. yang mengharumkan sekolah itu bukan hanya saya saja tapi masih banyak orang yang berjasa lainnya. Sekali lagi terima kasih.” Usai memberikan sambutan, Kansha lekas-lekas turun.


Namun ketika hendak kembali kakinya dijegal oleh Aura yang tengah memegang minuman. Alhasil Kansha jatuh dengan minuman mengguyur kepalanya. Semua orang di ruangan seketika terkejut.


“Sorry, aku tidak sengaja! Kamu tidak apa-apa?” seru Aura pura-pura panik. Dia mengulurkan tangannya. Kansha menerimanya namun sektika terjatuh lagi.


“Yaampun! Maaf, tanganku licin.” Kata Auura dengan tatapan licik.


Kansha mendesah, dia sudah tahu ini akan terjadi. Seketika dia menyesal datang. Harusnya dia tidak datang dan membiarkan Aura menerornya.


Byur


Kansha menutup matanya ketika air jus mengguyurnya lagi. Kali ini datang dari Dina.


“Upss! Maaf aku tidak lihat kamu ada di lantai. Harusnya kamu bangun tadi.” Kata Dina pura-pura merasa bersalah.


“Ya ampun Dina! Makanya kalau mau pergi itu jangan membawa minuman, kalau kena orang lagi gimana?” tanya Aura pura-pura marah. Dia mengambil gelas Dina yang masih tersisa minuman, dan mengguyurnya lagi ke Kansha.


“Ah maaf, kufikir ini tempat sampah!” seru Dina terkejut dengan menghina.


Kansha mengepalkan tangannya, dia sudah muak dengan perlakuan rendahan Aura dan teman-temannya. Dia seketika berdiri dan menampar Aura keras.


Plak


Semua orang disana terkejut termasuk Aura yang membeku karena tiba-tiba ditampar. Saking kerasnya tamparan itu, pipi Aura langsung lebam. Aura memegang pipinya dan menatap Kansha penuh amarah.


"Apa-apaan ini?!" pekik Aura marah.


“Sudah cukup, aku muak! Kamu fikir menyenangkan menindas orang lain! Hanya karena kamu lebih tinggi, hanya karena kamu kaya, dan hanya karena ayah kamu adalah pejabat, jadi kamu bisa seenaknya melakukan hal rendahan ini pada orang lain? Andai ayahmu tahu kelakuanmu, dia akan sangat malu terhadapmu. Ah aku lupa, kamu bahkan tidak dianggap manusia di rumah.” Hina balik Kansha.


Aura kini sudah sangat marah. Dia langsung menampar balik Kansha dengan sama kerasnya.


Plak


“Apa kamu bilang? Sekali lagi kamu bilang!”


"Kubilang, ayahmu akan malu terhadapmu!" teriak Kansha.


Plak


“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi tutup mulutmu!” teriak Aura emosi.


Aura terus menampar bolak-balik pipi Kansha. Semua orang sudah berusaha menghentikannya namun Aura nampak kesetanan.


Kansha masih tak puas, meski kini sudut bibirnya sudah robek. Dia kembali berkata dengan nada menghina, “Ini yang membuat ibumu bunuh diri, karena dia malu punya anak iblis sepertimu!”


“Tutup mulutmu, dasar jalang!!”


Aura makin panas. Dia bukan hanya menampar Kansha namun juga menendangnya dan memukulnya. Kansha tak melawan meskipun kini dia babak belur.


"Aura sudah, kamu hampir membunuhnya!" cegah Dina. Dia dan Rena memegangi Aura namun Aura jadi sangat kuat. Dia seketika bisa melepaskan diri.


Aura yang kalap mengedar ke sekeliling. Dia menemukan sebuah botol anggur kosong.


"Kamu ingin tahu rasanya pergi ke neraka bukan? Akan kutunjukkan." ucapnya jahat.


Dia dengan segera mengangkat botol berat itu dan hendak memukulkannya pada kepala Kansha. Semua orang berseru panik.


Prang


Seseorang menepisnya dan botol itu terlempar ke sisi kosong dan langsung pecah.

__ADS_1


__ADS_2