My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 61.


__ADS_3

“Selamat Bu Adindra, Anda hamil.”


Nana mematung. matanya mengerjap dengan gemetar. Hatinya bergemuruh tak menentu. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan ketika mendengar berita ini. Entah senang atau jsutru sedih, dia tidak bisa mendekskripsikannya. Ini terlalu cepat dan datang di waktu yang salah. Tidak--Saat hubungannya dengan Ruben memburuk.


“Dokter yakin?” tanya Nana dengan nada gemetar.


Dokter Mila mengangguk. “Usianya masih kecil jadi perlu dijaga dengan baik. Dan saya melihat bahwa kadar stress ibu cukup tinggi, harap dikurangi dan jangan selalu banyak fikiran. Karena itu semua akan berakibat pada kandungan ibu.”


Nana menghela nafas pelan. Bagaimana bisa dia tidak stress. Belakangan ini, masalah terus datang bertubi-tubi. Nana merasa ini bukanlah waktu yang tepat.


“Dok, boleh saya minta satu hal?” tanya Nana.


“Silakan.” Dokter Mila mengangguk.


“Tolong, rahasiakan kabar kehamilan saya.” Pinta Nana menatap Dokter Mila.


***


Aisyah tengah berjalan dengan melamun. Setelah pertemuan terakhirnya dengan Aura, Aisyah merasa pemikirannya tak menentu. Pencarian Azzahra, sang kakak sudah menguras fikiran dan tenaganya.


“Apa yang akan kamu lakukan bila Azzahra masih hidup?”


Satu pertanyaan Aura mengusik fikirannya.


“Aku hanya akan melihatnya dari jauh dan memastikan bahwa hidupnya jauh lebih baik.”


“Kamu tidak akan menemuinya?”


“Aku belum sanggup kehilangan semuanya bila aku bertemu dengannya.” Gumam Aisyah menjawab pertanyaan Aura di fikirannya.


Aisyah menuruni tangga namun karena tidak melihat ke depan, dia tergelincir dan jatuh berguling ke tangga. Aisyah terus menjerit minta tolong bersamaan dengan tubuhnya yang terus berguling.


Kemudian Alan muncul dari pintu depan dengan berlari, dia membulatkan matanya ketika melihat Aisyah tergeletak di bawah tangga.


“Aisyah!” teriak Alan. Dia berlari menghampiri Aisyah yang meringis kesakitan.


“Mas Alan.” ringis Aisyah menahan sakit.


“Kita ke rumah sakit sekarang. Bertahanlah.” Setelah mengatakan itu, Alan langsung membopong Aisyah dan membawanya ke mobil. Di rumah memang tidak ada siapa-siapa kecuali Aisyah yang sendirian dan Alan baru saja sampai rumah tadi.


Setelah mendudukan Aisyah di kursi, Alan langsung tancap gas ke rumah sakit tempat Alfin bekerja.


Usai sampai di rumah sakit, Alan langsung berteriak memanggil tenaga kesehatan. Mereka muncul membawa brangkar dorong. Aisyah pun dibaringkan disana. Setelah itu, mereka membawa Aisyah diikuti Alan dari belakang.


***


“Sikunya hanya mengalami pendarahan ringan. Punggungnya memiliki sedikit memar tapi memang akan terasa sakit bila harus berjalan. Usahakan berjalan seperti biasa, jangan terlalu membungkuk atau nanti pinggang akan terasa sakit. Resepnya sudah saya tulis, silakan tebus di apotik.” Kata dokter.


“Terima kasih dokter.” Ucap Alvaro.


Alvaro pun mengambil kertas resep itu kemudian memapah Kansha kembali. Mereka pun berpamitan.


“Kami permisi, dok.”


Alvaro memapah Kansha yang sikunya sudah diperban itu menuju apotik. Alvaro mendudukan Kansha di kursi kosong sedang ia menuju loker obat.


“Tunggu disini dulu.” kata Alvaro.


Kansha mengangguk, “Terima kasih, Al.” Ucap Kansha tulus. Alvaro membalasnya dengan tersenyum.


Alvaro pun mengantri di loker obat. Setelah menunggu beberapa menit, nama Kansha Andara dipanggil. Alvaro pun maju dan mengambil obat Kansha. Setelah selesai, dia menghampiri Kansha.


“Ini salep dan obat untukmu. Oleskan salep tiga kali sehari begitupun obatnya.” Kata Alvaro memberitahu instruksinya.


“Aku mengerti.” Ujar Kansha mengangguk.

__ADS_1


“Tadi Nana menyuruh kita bertemu di lobi bukan? Ayo kita kesana.” Kata Alvaro. Dia pun memapah Kansha kembali dan mereka menuju lobi menemui Nana.


***


Nana tengah duduk menunduk di kursi lobi. Dia menghela nafas, fikirannya masih tertuju pada pembicaraannya dengan dokter Mila.


Flashback On


“Kenapa ibu ingin merahasiakan kehamilan ibu?” tanya dokter Mila.


“Itu..karena saya sedang bertengkar dengan ayah dari anak ini. saya rasa kehamilan ini hanya akan memperburuk hubungan kami. Jadi saya ingin merahasiakannya sementara waktu.” Balas Nana parau.


“Ibu, anak ibu tidak salah apapun. Dan lagi, ayahnya harus tahu mengenai keberadaan calon anaknya. Dan menurut saya, justru dengan kabar kehamilan ibu, hubungan anda berdua akan membaik.” Saran Dokter Mila.


Nana menggeleng tidak setuju, “Andai memang keadaannya semudah itu. Tapi hubungan kami terlalu rumit. Saya tidak ingin menambah bara pada api yang tengah berkobar.” Kata Nana. “Tolong, bantu saya dokter.” Lanjut Nana memegang tangan dokter Mila. Menatapnya dengan keputuasaan mendalam.


Dokter Mila mendesah lalu mengangguk. “Itu hak ibu untuk merahasiakannya atau tidak. Tapi saya tidak bisa memalsukan hasil lab pada dokumen pemeriksaan.”


“Tidak apa-apa. Tulis yang sebenarnya saja tapi bila ada orang yang menanyai tentang saya, tolong rahasiakan semuanya.” Pinta Nana.


Dokter Mila mengangguk. “Baik bu.”


Flashback Off


Nana menatap map hasil pemeriksaannya. Dia melipatnya menjadi sangat kecil dan menaruhnya ke sling bag miliknya. Dia harus menyembunyikan berkas ini di tempat yang tidak diketahui orang terutama Kansha dan terlebih Ruben.


“Na, apa yang kamu lakukan disini?” tanya seseorang.


Nana mendongak, dia terkejut ketika melihat keberadaan Alfin dengan ponsel ditelinganya. “Alfin?”


Alfin mendesah, “Iya, ini aku. Alfin, dokter paling tampan di Rumah Sakit Pelita.” Ujar Alfin narsis.


Nana mendengus. Dia mual mendengar segala kenarsisan dokter gila itu.


Alfin kemudian duduk di samping Nana. “Jadi kamu sedang apa disini? Kamu sakit?” tanya Alfin. Nana hendak membuka mulutnya namun Alfin menyela kembali, “ Ah, tidak mungkin juga. Masa banteng gampang sakit.” Lanjut Alfin menjawab pertanyaannya sendiri.


“Aku serius sekarang. Kamu sakit?” tanya Alfin menghadapkan tubuhnya ke depan Nana.


“Tidak, aku hanya melakukan pemeriksaan saja.” Balas Nana acuh,


“Syukurlah. Akan sangat merepotkan para dokter bila harus mengobati banteng sepertimu.” Ucap Alfin dengan nada pelan.


“Apa kamu bilang?!” seru Nana dongkol.


“Apa? Aku tidak bilang apapun.” Sangkal Alfin.


Nana mendengus kesal. Bertemu Alfin berarti harus menyediakan stok kesabaran yang banyak.


“Oh ya, aku ingin menanyakan kamu sesuatu.” Kata Alfin serius.


“Apa?”


“Aku melihat daftar relawan yang akan bergabung di acara pengobatan gratis lusa. Ada namamu disana.”


“Oh itu.”


“Kapan kamu mendaftar? Kok aku tidak tahu padahal aku adalah ketua timnya.”


“Kamu ketua timnya?” tanya Nana tidak percaya. Alfin mengangguk.


“Rumah sakit ini kekurangan dokter waras apa gimana, bisa-bisanya nunjuk dokter gila bin narsis jadi ketua tim.” gerutu Nana pelan.


“Apa kamu bilang?” seru Alfin kesal.


“Apa?” sahut Nana nyolot.

__ADS_1


“Dasar nenek sihir.” Ejek Alfin mendengus.


“Kamu tuh kakek gayung!” ejek balik Nana kesal. Alfin hanya mencibir sebagai balasannya membuat Nana mengayunkan tasnya ke kepala Alfin.


“Ekhem, sayang-sayangannya agak kejam ya si mas dan mbaknya.” Ucap seseorang dengan nada geli.


Nana dan Alfin menoleh, ada Kansha yang tersenyum menggoda dan Alvaro yang tersenyum kecil.


“Kansha? Ada apa dengan sikumu?” tanya Alfin terkejut ketika melihat Kansha dipapah oleh lelaki asing.


“Oh, hanya kecelakaan kecil.” Jawab Kansha santai. Dia pun duduk di tempat Alfin tadi duduk dengan dibantu oleh Alvaro.


“Hati-hati.” ucap Alvaro.


“Kenapa tidak diteruskan acara sayang-sayangnya?” tanya Kansha menggoda.


“Sayang-sayangan apa? Matamu buta atau gimana? Jelas-jelas nenek sihir ini sedang menganiayayaku.” Tukas Alfin kesal. Nana melotot dan berkacak pinggang dibalas dengan peletan lidah oleh Alfin. Kansha hanya menggelengkan kepala dengan senyum geli.


“Oh ya, Na. Bagaimana hasilnya?” tanya Kansha menoleh pada Nana. Alvaro dan Alfin pun ikut menatap Nana.


“Kalian lihatnya biasa saja dong. Seperti ingin memakan aku hidup-hidup saja.” Ucap Nana merinding.


“Hasil apa?” sela Alfin.


“Ingin tahu saja.” Ucap Nana nyolot. “Aku negatif.” Lanjut Nana pelan dengan menunduk.


“Tatap aku, Na.” Titah Kansha.


Nana mendongak, matanya bersibobrok dengan mata Kansha yang menatapnya lurus-lurus. “Aku..negatif.” ulang Nana dengan nada meyakinkan. Dia harus bisa membuat Kansha percaya dengan kebohongannya.


Kansha melunakan tatapannya, dia pun menghela nafas lega. “Baguslah. Aku lega.” Ucapnya.


Kansha sebenarnya bukan tidak mau ada kehidupan lain di tubuh Nana, dia sebetulnya akan senang bila ternyata dia sebentar lagi akan menjadi tante. Tapi masalahnya, saat ini memang bukan waktu yang tepat. Kansha juga tidak akan menjamin apakah masalah Nana dan Ruben bisa diselesaikan dengan kehadiran calon bayi mereka. Mungkin Ruben memang akan bertanggung jawab, tapi bukan berarti luka Nana akan sembuh. Nana justru akan semakin menderita karena harus hidup tanpa penjelasan dari si pembuat luka hanya demi calon bayi yang dikandungnya. Kansha tidak mau itu terjadi.


“Negatif apa sih? Hamil? Nana hamil?” celetuk Alfin mengagetkan Kansha dan Nana. Mereka menatap Alfin dengan tatapan horor.


“Jangan menatapku begitu dong.” Ucap Alfin mengangkat kedua tangannya.


“Jangan sok ikut campur.” Dengus Nana.


Lalu suara berisik datang dari pintu masuk. Sebuah brangkar tengah didorong oleh beberapa perawat. Alfin, Nana, Kansha dan Alvaro sontak melihatnya. Ada seorang wanita yang berhijab tengah meringis kesakitan. Dan dibelakang mereka ada ALAN!


“Mas Alan?” seru Alfin terkejut. Kansha dan Nana sontak berdiri. Begitupun Alvaro.


Alan berhenti ketika melihat kehadiran Kansha disana dengan siku diperban. Tatapan Alan lalu jatuh pada lelaki disamping Kansha, dia Alvaro. Alan lalu memusatkan tatapannya lagi pada Kansha. Mereka saling berpandangan sebelum suara Aisyah memecah perhatian Alan.


“Mas Alan!” panggil Aisyah dengan meringis kesakitan.


Alan tersentak, dia pun sontak menoleh pada Aisyah yang berhenti beberapa langkah darinya. Alan lalu menoleh kembali pada Kansha.


“Mas Alan!” panggil Aisyah lagi.


Alan menoleh pada Aisyah lalu menghampiri Aisyah dan mendorong bagian belakang brangkarnya diikuti perawat yang lain. Mereka pun berlari menuju ruang UGD.


Kansha mendesah pelan ketika melihat Alan yang hanya menatapnya tanpa penjelasan apapun. Tapi kalau difikir-fikir, siapa dirinya hingga merasakan kecemburuan? Dia bukan siapa-siapa Alan dan wanita dalam brangkar itulah pemilik hati Alan. Kansha menampar hatinya sendiri untuk tidak menenggelamkan rasa cemburu yang tak seharusnya ada.


“Kansha? kamu tidak apa-apa?” tanya Nana pelan. Dia menoleh pada Kansha yang hanya diam.


Kansha mengangguk pelan. “Aku memangnya kenapa.” Jawab Kansha terkekeh garing. “Ayo pulang.” Ajak Kansha pelan.


Kansha pun melangkah maju. Tangannya otomatis dipegangi oleh Alvaro.


“Aku bisa sendiri.” Tolak Kansha menatap Alvaro. Alvaro pun melepaskan rangkulannya. Kansha pun kembali berjalan menatap ke depan.


Nana dan Alvaro yang melihatnya mengikuti Kansha tanpa suara. Sedangkan Alfin mendesah pelan.

__ADS_1


“Ini nih jadinya kalau saling membohongi perasaan masing-masing.” Decaknya. Alfin kemudian berlari menyusul Alan.


__ADS_2