
“Ini mbak.” Aisyah menyerahkan satu foto Azahra pada Aura.
“Dia Azzahra? Usianya masih kurang dari stau tahun. Dimana kamu menemukannya?” tanya Aura meneliti foto itu.
“Aku menemukannya di lacai lemari umi yang terkunci. Dan yang aku ceritakan pada mbak tadi itu jawaban abi.” Kata Aisyah.
Setelah dua hari di Maluku, Aisyah kembali ke Jakarta. Sidang skripsinya sebentar lagi, jadi dia tidak bisa menemani abinya lebih lama. Dan kepulangannya ke Jakarta bukan hanya untuk menyelesaikan skripsinya tapi juga mencari tahu soal Azzahra, kakaknya. Dan Aisyah berfikir hanya Aura, sepupunya yang bisa membantunya. Itu sebabnya begitu mendarat, Aisyah lebih dahulu menemui Aura.
“Jadi apa yang bisa kubantu?” tanya Aura.
“Seperti yang aku katakan, aku ingin tahu dimana keberadaan Kak Zahra. Aku yakin dia masih hidup jadi tolong bantu aku untuk mencarinya.”
“Bukankah kamu bilang, kamu akan kehilangan calon suamimu bila mencarinya? Lalu kenapa kamu malah tetap ingin melakukannya?”
“Aku tahu. Tapi aku hanya ingin mencarinya saja dan memastikan bahwa dia masih hidup. Aku tidak akan menemuinya hanya melihat dari jauh.”
“Kenapa?”
“Bagaimanapun juga, secara tidak langsung, aku berhutang budi padanya. Andai saat itu abi memilih mengejar perampok itu dan menyelamatkan Kak Zahra, aku mungkin sudah tidak ada di dunia. Tapi abi malah memilih menyelamatkan umi yang secara tidak langsung menyelamatkanku.”
“Itu namanya bijak. Merelakan satu hal untuk menyelamatkan dua hal. Abi mu memilih yang tepat.” Kata Aura santai.
“Tapi tetap saja, aku merasa bersalah. Andai saat itu, aku bisa lebih kuat dalam kandungan umi, kak Zahra tetap bersama kami sampai saat ini.” ujar Aisyah pelan.
Aura mendesah pelan, “Jadi aku hanya perlu mencari tahu keberadaanya saja kan?” tanyanya.
Aiyah mengangguk, “Iya, hanya itu.”
Aura mengantongi foto itu kemudian menatap Aisyah, "Serahkan padaku."
***
Alan baru saja sampai di Korea Selatan. Alan memang pilot khusus untuk rute Asia. Dan yang membuat Alan bahagia adalah tentu saja karena Kansha juga ada di negeri yang sama dengannya saat ini.
Acara peresmian pembangunan baru saja selesai. Kansha sangat beryukur bahwa di tengah waktu kritisnya beberapa waktu lalu, kantor ARC di Seoul tetap bisa dibangun dengan lancar. Berinvestasinya Garcx pada ARC membuat kekosongan invenstasi dana tidak lagi bermasalah.
Kansha kini sudah sampai di kamar hotelnya. Dia tengah rebahan di sofa kamar sembari menonton siaran berita terkait peresmian pembangunan ARC tadi siang. Dalam hati, Kansha berdecak bangga.
Tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya. Kansha kemudian bangkit dan mendekati pintu. Dia melihat dari celah dahulu dan ternyata yang mengetuknya adalah seorang laki-laki. Kansha pun membuka pintu dan langsung terkejut begitu melihat ada Alan yang ternyata mengetuk pintu kamarnya.
“Alan? apa yang kamu lakukan disini?”
“Jadi ini benar kamarmu. Kufikir, aku dikadali oleh sekretarismu.” Kata Alan.
“Kamu tahu nomor kamarku dari Seli?” Alan mengangguk.
“Boleh masuk? Seoul sedang dingin-dinginnya saat ini.” pinta Alan dengan memeluk dirinya sendiri.
“Silakan masuk.” Meski masih kebingungan, Kansha tetap menyilakan Alan masuk. Alan benar, suhu Seoul kini minus beberapa derajat. Hal yang wajar karena sudah memasuki musim dingin saat ini.
Alan duduk di sofa sedangkan Kansha menuju dapur. Dia membuat teh dan menyerahkannya pada Alan. Setelah itu dia duduk di depan Alan.
“Jadi bagaimana bisa kamu ada disini? Kamu tidak menyengajakan datang kesini bukan?” selidik Kansha.
“Kalau iya kenapa?” tanya Alan santai sambil meminum tehnya.
“Serius?” pekik Kansha terkejut.
__ADS_1
“Aku becanda. Aku memiliki penerbangan tadi pagi jadi sekalian saja menemuimu. Kenapa? Berharap aku benar-benar sengaja datang mencarimu?” goda Alan dengan mengangkat satu alisnya. Dia tersenyum jahil pada Kansha.
“Matamu!” Alan tertawa. Senang bisa menggoda Kansha.
“Aku melihat acara peresmian itu. Kamu luar biasa.” Puji Alan.
“Terima kasih. Aku lega bahwa pembangunan itu bisa berjalan lagi. Sebelumnya ada masalah tapi sudah tidak apa-apa sekarang.” kata Kansha menghela nafas lega.
“Itu sebabnya kamu pergi mendadak ke Korea dua malam yang lalu?”
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Kansha.
“Aku datang ke kantormu dan resepsionis mengatakan kalau kamu sedang melakukan perjalanan bisnis.”
“Oh, ya begitulah.” timpal Kansha mengendikan bahu.
“Tapi tunggu,” Kansha tiba-tiba menyipit ke arah Alan.
“Apa?” tanya Alan bingung.
“Kamu terlihat dingin padaku ketika terakhir kali kita bertemu. Kenapa sekarang malah bersikap biasa lagi?”
Alan berdeham canggung. Dia memalingkan tatapannya dari tatapan menusuk Kansha. ”Eh, ada monopoli! Kamu senang memainkannya ya?” tunjuknya pada kotak monopoli yang tergeletak di atas laci. Mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu bisa-bisanya mengalihkan pembicaraan, ck, ck.” Decak Kansha kesal.
Alan menyengir, “Ayo main monopoli!” ajaknya. Dia lalu membawa kotak monopoli itu dan membukanya.
“Aku ikuti permainanmu.” Kata Kansha penuh penekanan.
Alan menyengir lagi kemudian menggelar kertas permainan itu dan mulai menyusunnya dengan baik.
“Ampun, ndoro!” kata Alan. dia pun menaruh kembali uang curiannya ke bank.
“Aku ingin tahu bagaimana kemampuan berbisnis seorang Alandra.” Kata Kansha tersenyum miring.
“Kamu tenang saja. Aku selalu pemenangnya untuk urusan seperti ini,” timpal Alan percaya diri.
***
“Kamu tidak akan pulang?” tanya Kansha melipat tangannya di dada. Dia menghela nafas ketika Alan masih rebahan di sofa kamar hotelnya sedangkan waktu sudah mau menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Biarkan aku disini lima menit lagi. Aku ingin menghangatkan diri dulu sebelum keluar dan menghadapi suhu Seoul yang ekstrem di malam hari seperti ini.” kata Alan melenguh.
“Tidak bisa. Pulang sekarang.” Tolak Kansha tegas. Dia memegang kaki Alan dan menyeretnya ke bawah. Alan mengerang dan terpaksa bangun.
“Pulang sekarang. Aku tidak ingin ada pembicaraan yang tidak sedap diantara kita.” Kata Kansha sedikit mengusir.
“Baiklah, aku pulang.” Kata Alan. Dia pun memakai mantelnya dan menuju pintu. Kansha mengikutinya dari belakang.
“Kapan kamu pulang ke Indonesia?” tanya Alan sebelum itu.
“Tidak tahu. Aku belum memastikannya, masih banyak yang harus diurus disini.” Jawab Kansha dengan badan bersender di sisi pintu.
“Ya sudah. Aku pulang dulu.” pamit Alan.
“Hati-hati.” Kata Kansha. Alan mengangguk dan melangkah menuju lift. Setelah memastikan Alan sudah turun, Kansha pun kembali ke kamarnya.
“Aku seperti sedang berselingkuh di kamar hotel.” Gumamnya merasa bersalah. Dia pun memunguti sisa-sisa permainan monopolinya bersama Alan dan merapikannya.
__ADS_1
***
Nana sudah tiga hari di apartement Alfin dan sudah tiga hari gejala maagnya tidak kunjung sembuh. Setiap pagi, pasti Nana akan rutin mengunjungi wastafel untuk mengeluarkan muntahan yang berwujud cairan. Setelahnya Nana pasti akan sangat pusing dan lemas.
Namun pagi ini, Nana hanya mual sedikit hingga dia merasa bahwa maagnya mulai reda. Nana pun membersihkan apartement Alfin hingga tidak sadar bahwa ada suara seperti tombol yang ditekan terdengar. Nana menoleh k sumber suara dengan raut terkejut. Dia pun langsung berlari kocar-kacir ketika pintu terdengar di buka. Firasatnya mengatakan bahwa yang datang tanpa pemberitahuan adalah bundanya Alfin. Nana pun mengembalikan sapu ke dapur dan masuk ke lemari Alfin untuk bersembunyi.
Di dalam lemari, Nana segera mendorong gantungan baju itu namun macet. Dia terus mendorongnya tapi tidak terjadi apa-apa. Dia mulai panik. Mungkinkah, gantungan baju ini tertukar? Karena kemarin—
“Sial, aku lupa menaruh bajuku disini. Sekarang ini tercecer bagaimana ini?” Nana berbisik dengan panik.
Dia mencari gantungan baju yang tepat tapi sialnya semuanya sama. Alfin sengaja menyergamkannya untuk mengecoh orang lain. Tapi Nana malah mengacaukannya. Dia lupa kalau gantungan baju itu adalah kunci menuju ruang rahasia milik Alfin.
Sedangkan di luar, bunda sedang bersih-bersih. Selain datang untuk menaruh makanan bagi Alfin yang selalu lembur, bunda juga sesekali datang tiap minggu untuk membersihkan apartement Alfin. Selesai membersihkan ruang tamu, bunda pun menuju dapur.
Bunda membuka kulkas dan terkejut ketika bahan-bahan makanan yang dia taruh tempo lalu, kini berkurang. Bunda mengernyit bingung, mungkinkah Alfin yang memakannya? Tapikan dia selalu pulang ke rumah tepat waktu.
“Ah, mungkin perasaanku saja.” Kata bunda positif.
Selesai merapikan kulkas, bunda pun bersih-bersih di sekitaran dapur. Ketika ke wastafel, bunda terkejut ketika melihat tumpukan piring kotor. Bunda mengernyit dalam, mungkinkah Alfin tidak membereskannya? Tapi nodanya terlihat baru.
“Ah, mungkin Alfin tadi pagi kesini. Tapi tidak sempat membersihkan.” Monolog bunda. Dia pun menyalakan keran air dan mulai mencucinya.
Di dalam lemari, Nana yang mendengar suara keran air menyala seketika menepuk dahinya. Dia lupa mencuci piring bekas makanannya. Kira-kira bunda curiga tidak ya?
“Sial, terbukalah.” Gumam Nana cemas.
Dia mendorong semua gantungan baju satu persatu tapi tidak berhasil. Nana frustasi. Dia mulai mengerang dengan keras hingga suara pintu terbuka menghentikan kegiatannya. Nana mematung dengan keringat dingin mengalir.
Bunda yang ternyata sudah selesai mencuci piring, datang ke kamar Alfin. Dia terpekik kecil ketika kamar putranya berantakan. Bunda menghela nafas. Sejak kapan putranya yang peduli kebersihan kini malah membuat berantakan kamarnya. Bunda pun tanpa curiga menuju ranjang dan mulai merapikan kasur yang sebenarnya ulah Nana.
Bunda merapikan seprai dan menyusun bantal-bantal. Namun karena dasarnya hidung bunda sensitif, dia mencium bau parfum yang tak biasa.
“Ini bukan bau parfum Alfin.” Fikirnya. Dia mengendus kembali aroma bantal itu. Dan tebakannya makin yakin.
Nana yang berada di dalam lemari, makin panik ketika mendengar perkataan bunda. Tentu saja, itu bukan parfum anaknya. Mana ada lelaki yang memakai parfum girly seperti itu? Nana menghela nafas pelan dengan tangan yang hendak berkacak pinggang. Namun sebelum itu, tangannya malah menyenggol gantungan baju hingga terjatuh.
Klontang
Suara klongtangan gantungan baju berhasil menarik perhatian bunda. Bunda menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari dalam lemari. Bunda yang penasaran suara apakah itu seketika mendekat.
Nana yang didalam lemari, merutuki dirinya habis-habisan. Dia pun segera memungut gantungan baju itu dan menaruhnya kembali. namun ketika sudah menganggantungnya lagi, suara langkah kaki mendekat. Nana mematung dengan jantung berdegup keras.
Suara langkah milik bunda makin mendekat. Nana yang berada di dalam, pasrah. Haruskah ia ketahuan seperti ini? lalu bagaimana saat dirinya nanti bertatapan dengan bunda, haruskah dia menyapa? Bagaimana?
Apa dengan mengatakan, ‘Hai, tante.’? Jangan lupakan dengan senyuman manis pemikat mertua?
Ataukah dia harus berteriak saja kemudian kabur?
Ataukah dia pura-pura pingsan saja dan bilang tidak sadar ada didalam lemari putranya?
Asik dengan pemikiran-pemikirannya, suara derit pintu lemari terdengar. Nana menoleh dengan panik ketika tangan lentik bunda membuka lemarinya. Hingga lemari berhasil dibuka oleh bunda dan Nana seketika menutup matanya.
***
Sebelumnya maafkan aku yang gak upload kemarin🙏 akibat tugas terus menumpuk sedangkan tingkat kemalasanku merajalela jadi kisah ini terabaikan dan kemarin aku baru nulis setengahnya🙏😭
Hari ini gak ada double up, hanya single up aja tapi semoga tetap bisa menghibur dan menemani #stayathome teman-teman di rumah🤗.
Happy Weekend, readers💙
__ADS_1