My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 84.


__ADS_3

Bug


Nana menjerit begitu pukulan berhasil dilayangkan Kansha yang ternyata malah mengenai Ruben. Ruben terduduk seketika.


"Kansha, apa yang kamu lakukan?!" seru Nana kaget. Dia menghampiri Ruben yang memegangi pipi kanannya. Ruben seketika meringis sakit.


"Kak Ruben penyebab semua ini. Lagipula Nana sudah jadi tanggung jawab Kak Ruben dan itu artinya orang yang berhak mendapatkan pukulan adalah Kak Ruben." ucap Kansha santai.


Nana menggelengkan kepalanya, bingung sekaligus masih terkejut dengan tindakan diluar dugaan Kansha. Dia pun bergegas membantu Ruben berdiri.


"Aku menerima pukulanmu. Anggap sebagai permintaan maafku juga." ucap Ruben sedikit meringis.


Kansha menggeleng, "Tidak bisa, itu khusus permintaan maaf Nana. Kalau kakak sih beda lagi." tukas Kansha.


Ruben setuju, dia membungkukan badannya, "Kalau begitu pukul aku lagi."


"Kansha.." Nana memelas. Jangan sampai Kansha benar-benar menonjok lelaki itu sekali lagi.


Kansha melirik pada Nana yang menatapnya penuh permohonan. Kansha menghembuskan nafas pelan.


Kansha mengibaskan tangannya, "Sudahlah, tidak perlu. Aku tidak ingin calon ibu ini menangis hebat lagi." sindir Kansha.


Nana tersenyum sumringah mendengarnya.


"Sebagai gantinya, katakan apa yang harus kulakukan agar kamu bisa memaafkanku." pinta Ruben.


Kansha terdiam berfikir, dia kemudian menatap Ruben. "Pertama, tolong ambilkan sesuatu didalam kulkas."


"Apa itu?" tanya Ruben mengernyitkan dahinya.


"Kakak akan tahu begitu membuka kulkasnya." balas Kansha.


Ruben menurut. Dia langsung menuju kulkas dan begitu dibuka, matanya terbelalak melihat sekotak kue ulang tahun. Ruben seketika tersadar bahwa ini adalah hari ulang tahun Nana. Ruben pun lekas mengambil kue itu.


Di ruang tamu, hanya keheningan yang menyelimuti. Kansha dan Nana saling terdiam. Tidak ada yang ingin memulai permbicaraan, dan Nana merasa makin bersalah.


"Kansha, bagaimana kabarmu?" tanya Nana memecah keheningan.


"Baik, kamu bisa lihat aku masih bernafas didepanmu." balas Kansha.


Nana menghela nafas, "Kansha, kamu masih marah padaku. Benar kan?"


Kansha tak menjawab.


"Karena kamu diam, itu berati iya." pungkas Nana.


"Aku tidak marah, hanya saja masih kecewa. Andai Alvaro tidak keceplosan, aku mungkin sampai saat ini tidak akan tahu kebenarannya." ujar Kansha pada akhirnya.


"Aku tahu, aku mengerti perasaanmu. Kamu berhak kecewa, marah dan kesal padaku. Aku memang sudah egois. Andai keadaanku waktu itu tidak kacau," ujar Nana pelan.


Kansha menatap Nana lurus-lurus, "Sejak dulu, tak peduli sekelam apapun ceritanya, aku selalu menceritakan hal itu padamu. Kamu yang bilang sendiri bahwa kita sama. Bahwa kita harus saling bergantung sama lain. Bahwa kita harus mengatasi kesulitan bersama-sama. Kamu hancur maka akupun hancur. Benar kan?"


"Aku menceritakan segalanya padamu. Kamu pun selalu ada untukku. Dan aku ingin melakukan hal yang sama. Menjadi penopangmu dikala kamu terjatuh. Tapi ternyata ketika menyadari kejadian ini, aku rasa bahwa aku tidak cukup penting untuk kamu percayai."


Nana menggeleng, "Aku yang khilaf disini. Aku sudah menyia-nyiakan persahabatan kita selama bertahun-tahun ini. Aku yang salah."

__ADS_1


"Semuanya sangat sulit untukku. Tepat saat aku menerima hasilnya, fikiranku langsung kacau. Aku tidak bisa berfikir apapun. Hidupku seakan runtuh. Itu sebabnya aku memutuskan menyembunyikannya dari kamu. Aku belum siap mengatakannya. Aku takut. Hubunganku dengan Kak Ruben juga masih sangat renggang." tutur Nana.


Kansha mendesah pelan, sebagai seorang perempuan, dia mengerti apa yang dirasakan oleh Nana. Mungkin bila dia di posisi Nana, dia akan melakukan hal serupa. Hanya saja, dia terlanjur kecewa. Dirinya tak ada disaat Nana merasa hancur. Dirinya malah terus memperhatikan diri sendiri tanpa tahu penderitaan apa yang dialami Nana.


"Aku minta maaf. Aku tidak tahu penderitaanmu seperti apa. Aku egois hanya memikirkan diriku sendiri. Seharusnya aku bertanya padamu. Seharusnya aku memastikan dirimu baik-baik saja." ucap Kansha merasa bersalah.


Nana menggeleng, "Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah disini. Aku yang egois dan tidak mau terbuka padamu. Tapi Kansha, aku benar-benar mengganggapmu berharga untukku."


Kansha mengangguk. Dia mendekati Nana dan langsung memeluk sahabatnya itu. Nana ikut balas memeluk. Mereka menangis bersama.


"Maafkan aku Kansha." isak Nana.


"Aku juga minta maaf telah membentakmu tadi." sahut Kansha terisak.


Ruben yang tengah berjalan sambil membawa kue langsung terkejut tatkala melihat Kansha dan Nana saling berpelukan sambil menangis. Ruben menggaruk kepalanya bingung ingin melakukan apa. Dia melirik kue di tangannya, lilinnya hampir habis.


"Ekhem." suara Ruben menyela pelukan haru mereka. Mereka menoleh pada Ruben yang sedang memegang kue ulang tahun.


"Maafkan aku tapi acara pelukannya bisa ditunda dulu? Lilinnya hampir habis." ucap Ruben merasa bersalah.


Kansha dan Nana menganga bingung tapi sedetik kemudian melepaskan pelukannya.


"Terima kasih." ucap Ruben. Diapun duduk di samping Nana.


"Selamat ulang tahun, Na." ucap Ruben tulus.


"Selamat ulang tahun, Na. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan kaliam berdua cepat menikah ya!" balas Kansha.


Nana tersenyum haru. Dia hampir saja lupa soal ulang tahunnya tapi Kansha dan Ruben masih mengingatnya.


"Terima kasih." ucap Nana terharu.


Nana menutup matanya kemudian menyatukan kedua tangannya, dia berdoa dengan sungguh-sungguh dalam hati. Semenit kemudian, dia membuka matanya.


"Doamu lama sekali." komentar Kansha.


"Banyak yang harus kudoakan dan kusyukuri." timpal Nana bahagia.


Setelah itu aba-aba Kansha dimulai. Nana meniup lilin yang bertuliskan angka 27 itu dengan sekali tiupan. Kansha dan Ruben bertepuk tangan.


"Happy Birthday, Nana!" sorak Ruben dan Kansha. Nana pun tertawa bahagia.


Malam ini, adalah malam paling indah, benar kan?


***


Ruben sedang duduk sendiri di balkon. Di sampingnya ada segelas wine yang sudah setengah. Dia menatap langit malam yang entah kenapa malam ini terasa indah. Ruben tak pernah punya waktu menatap pemandangan seperti ini. Jadinya dia hanya bisa berdecak kagum.


Kemudian Kansha datang, ditangannya ada sebotol air mineral. Dia duduk di samping Ruben.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ruben. Pasalnya Nana juga sudah tidur jadi Ruben kira Kansha pun sudah tidur.


"Insomnia." balas Kansha singkat.


"Kamu harus minum wine atau setidaknya susu coklat agar kamu mengantuk."

__ADS_1


"Kalau aku bawa wine, yang ada aku mabuk. Susu coklat? aku sedang tak ingin mencecap rasa manis yang pada akhirnya akan hilang tertelan di tenggorokan. Dan dalam kasus ini, air mineral adalah yang terbaik."


Ruben terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Merasa masih terkejut dan terkesima acapkali mendengar jawaban tak terduga yang keluar dari mulut Kansha.


"Jadi kakak sudah menetapkan pilihan kakak?" celetuk Kansha.


Ruben mengangguk. "Sejak aku memutuskan menjemput Nana pulang, aku sudah tahu apa yang akan kupilih."


"Syukurlah, aku berani jamin, kakak tidak akan menyesal."


"Jadi kakak sudah mencintainya? Kakak menjemputnya pulang bukan karena kasihan atau tahu ada anak kakak dalam kandungannya kan?"


Ruben terdiam. Dia malah menatap hamparan langit malam Jakarta yang kosong. Kansha melirik Ruben lagi.


"Jangan bilang bahwa kakak..."


"Aku fikir, aku menjemputnya karena dia tengah mengandung anakku dan dia tengah berada dalam keadaan bahaya. Tapi begitu aku melihat wajahnya, aku merasa sungguh lega. Kebingunganku akan perasaanku seakan sudah terjawab. Kehilangan yang kurasakan seperti sudah menemukan jalan pulang. Dan jawaban atas semuanya, adalah Nana. Awalnya aku mencoba mengakalinya dan berargumen, itu hanyalah perasaan khawatir antara adik dan kakak. Tapi aku merasa makin sakit. Hingga ketika melihat air matanya yang jatuh ketika dia meluapkan kesakitannya padaku, aku mulai mengerti bahwa aku mencintainya. Dan bahwa perasaanku bukanlah main-main. Aku akan mati bila dia tidak membalas perasaanku." jelas Ruben panjang lebar.


Kansha menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Dia mendesah pelan.


"Aku bahagia mendengarnya."


Dan pembicaraan itu terhenti bersamaan dengan indera pendengaran seseorang yang mengawasi mereka dibalik dinding balkon. Nana menyandarkan punggungnya. Sebuah senyum seterang bulan terukir di wajahnya.


***


Satu hari setelah kepergian Nana dari desa, Alfin dan rombongannya pun hendak pulang ke Jakarta. Evakuasi korban sudah selesai dan untungnya tidak ada korban yang meninggal dunia. Semuanya hanya menderita luka-luka.


Alfin dan rombongannya meninggalkan Kalimantan pada pukul delapan pagi dan baru sampai di Jakarta pada sore hari. Dia langsung menuju rumah sakit tempatnya bekerja karena mendengar Aisyah dirawat dan keluarganya semuanya berada disana.


Alfin berjalan sambil menyapa para rekan kerjanya yang berpapasan dengannya. Kemudian dia naik ke lantai lima, lantai khusus VVIP. Alfin pun mencari kamar inap Aisyah.


Begitu sampai di depan kamar inap Aisyah, Alfin hendak mengetuk pintu sebelum masuk ketika mendengar pertengkaran Aisyah dengan seseorang. Alfin mendekatkan telinganya bermaksud menguping.


"Abi sudah bilang, jangan cari Azzahra! kenapa kamu tidak mau mendengarkan?!"


Alfin menyadari bahwa Aisyah rupanya sedang bertengkar dengan abinya, Om Zakariya. Tapi siapa itu Azzahra? Alfin rasa dia belum pernah mendengar nama itu. Dan kenapa Aisyah tidak boleh mencari Azzahra? Karena makin penasaran, Alfin lebih mendekatkan telinganya ke daun pintu.


"Abi, kak Zahra itu adalah kakak Aisyah. Apa tidak boleh hanya sekedar mencarinya? Bagaimanapun juga Aisyah ikut bertanggung jawab atas hilangnya Kak Zahra. Aisyah hanya ingin tahu bagaimana keadaan Kak Zahra."


Alfin mengernyitkan dahinya, bingung dengan maksud ucapan Aisyah.


"Tapi tindakan kamu ini sangat berbahaya. Bagaimana kalau sampai keluarga Alandra tahu? Semua yang kita usahakan akan hilang!" Di dalam, Zakariya terdengar amat marah.


"Aisyah tahu, Aisyah hanya ingin tahu dimana keberadaan kak Zahra. Aisyah tidak bermaksud menemuinya. Aisyah hanya merindukannya dan merasa sangat bersalah."


"Aisyah, abi tahu. Abi juga sangat merindukannya dan merasa sangat bersalah telah melakukan hal tidak adil ini pada Zahra. Tapi anggaplah bahwa kakakmu sudah tiada dan hentikan pencarianmu sebelum Alan mengetahuinya." Zakariya memohon.


Alfin menahan nafasnya. Dia terkejut luar biasa mendengarnya. Ada rahasia yang disembunyikan selama ini oleh Om Zakariya pada keluarganya.


Alfin makin mengintip mereka melalui celah-celah pintu. Dia fokus mendengarkan pembicaraan mereka sebelum sebuah tepukan mendarat di bahunya.


Puk


Alfin membeku di tempatnya. Dia lalu melirik ke arah orang itu dan matanya langsung terbelalak kaget.

__ADS_1


"Mas Alan?" pekik pelan Alfin.


"Sedang apa kamu disini?"


__ADS_2