My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 25. Trauma


__ADS_3

Alan sedang berjalan-jalan dengan kakinya memakai kruk. Setelah kemarin dia berlari bagai kesetanan dan lupa bahwa kakinya cedera membuat cederanya bertambah parah. Kemarin, Kansha sukses membuatnya kehilangan kendali.


Alan berjalan menuju taman untuk sekedar menghirup nafas segar. Dia sumpek bila harus berdiam di kamar inapnya, belum lagi ia tidak diperbolehkan bertemu dengan Kansha karena kondisi perempuan itu yang masih tidak stabil.


Namun niat hati hanya ingin sekedar berjalan-jalan, apadaya ia melihat sebuah pemandangan tidak biasa. Di salah satu kursi taman, nampak adik tengilnya tengah berbincang dengan Kansha. Alfin yang duduk di kursi taman sedangkan Kansha duduk di kursi roda. Entah membicarakan apa yang jelas mereka nampak senang. Alan mendekat cepat-cepat menghampiri mereka.


“ALFIN!” teriak Alan.


Alfin dan Kansha tersentak dan menoleh kaget pada Alan yang cemberut. “Apa sih Mas? Mengagetkan saja.” Ucap Alfin acuh.


Alan berdeham dan menormalkan suaranya, “Fin, kamu dicari perawat katanya ada jadwal operasi.” Ucap Alan.


“Jadwal operasi? Aku tidak punya jadwal operasi apapun hari ini.” timpal Alfin bingung.


“Oh benarkah?” Alan pura-pura acuh. Alfin mengangguk.


“Kalau gitu kamu harus periksa pasien kamu, jangan sampai makin parah nantinya harus operasi.” Tukas Alan.


Alfin mengernyit, "Aku sudah memeriksa para pasien ku tadi. "Ucap Alfin.


"Ah benarkah?" Kini Alan tengah berfikir harus mengarang alasan apa lagi untuk Alfin.


Alfin yang menyadari raut panik Alan mengerti bahwa Alan tak ingin dirinya berduaan dengan Kansha. Hanya saja dia tidak bisa mengatakan alasannya.


Alfin terkekeh dalam hati ketika ide mengerjai Alan terlintas dalam benaknya, "Mas Alan sedang apa disini? Bukankah kata dokter Ravi gak boleh kemana-mana? Mengapa malah berkeliaran?" tanya Alfin.


"Sudah lebih baik kok lagian sesak bila harus berada di kamar seharian. " jawab Alan. "Oh ya kalian sudah saling mengenal?" tanya Alan mengalihkan topik.


“Kami sudah kenalan tadi.” Jawab Alfin mengangguk.


Alan mengangguk, “Baguslah.” Kata Alan sedikit kesal sebenarnya.


Drrt


Ponsel Alfin bergetar, ada pesan masuk bahwa dia harus melakukan pengecekkan pasien sesi dua. Alfin memasukkan kembali ponselnya dan menatap Kansha.


“Maaf, Kansha. Aku harus pergi, ada pengecekkan pasien sebentar lagi.” Ucap Alfin sedikit menyesal.


Kansha mengangguk, “Tidak masalah, pasien kamu jauh lebih penting.” Ucap Kansha.


Alfin mengalihkan pandangannya pada sang kakak yang memasang raut senang, “Aku pergi, Mas.” Kata Alfin penuh penekanan.


“Silakan. Selamat bekerja ya.” Kata Alan senang. Alfin menggeleng lalu beranjak pergi meninggalkan Alan dan Kansha.


Seusai kepergian Alfin, hanya ada Alan dan Kansha saja. Alan menatap canggung pada Kansha yang duduk tenang di atas kursi rodanya. Alan berjalan tertatih duduk di kursi yang tadi diduduki Alfin.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan kamu?” celetuk Alan.


Kansha mendesah pelan lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi roda, “Sedikit lebih baik.” Jawab Kansha pelan.


"Syukurlah, jangan melakukan tindakan bodoh seperti kemarin. Kamu tidak tahu bagaimana kami jantungan ketika mendengarnya." kata Alan.


"Katanya , kemarin kamu berlari kesetanan mencari keberadaanku. Kamu juga menungguiku selama 3 jam." kata Kansha menatap Alan.


"Oh itu," Alan menggaruk kepalanya, "Itu karena aku sangat khawatir. Kau tidak seperti dirimu jadi itu membuatku khawatir." jawab Alan.


"Memangnya aku orang seperti apa hingga kau mengatakan aku tak seperti diriku?"


"Kau--" Alan terdiam, dia lalu menatap Kansha yang masih menatapnya dan menunggu jawabannya, "Gadis yang paling berani yang pernah kutahu. Gadis yang paling tangguh yang pernah kukenal dan gadis yang paling jenius yang pernah kutemui."


Kansha terdiam mendengar jawaban Alan, dia tidak menduga dengan jawaban Alan.


"Itu pujian tertinggi yang kudapatkan tahun ini." timpal Kansha tertawa. Alan ikit tersenyum.


"Hari ini aku ada jadwal konseling dengan salah satu psikolog." kata Kansha. Dia kini menatap pada air mancur taman. Suara air membuatnya tenang.


"Psikolog?" ulang Alan.


Kansha mengangguk, "Aku memang tidak gila, tapi harus kuakui kalau mentalku sedikit terganggu."


"Aku tahu. Kufikir aku tak memiliki trauma apapun. Buktinya ketika aku menceritakannya padamu, aku baik-baik saja. Tapi saat kemarin," Kansha menjeda ucapannya, dahinya mengerut. "Aku bahkan sudah tidak sadar menancapkan jarum itu ke nadiku."


"Kamu harus menceritakan segalanya pada psikolog nanti dan cobalah berfikir rasional lain kali."


"Aku seorang reporter, tentu saja aku harus berfikir rasional. Kemarin aku hanya sedikit kehilangan kendali."


Alan menghembuskan nafas pelan, "Kehilangan kendali membuatmu hampir kehilangan nyawa."


"Aku juga tidak mau lagi." Kansha menggeleng tidak mau, "Rasanya sangat menyakitkan ketika hidupmu berada di ambang hidup dan mati. Aku tak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya."


"Itu sebabnya bunuh diri bukan jalan terbaik. Kamu belum waktunya meninggal dan dengan bunuh diri, kamu memaksa menghilangkan nyawamu sendiri. Tentu rasanya jauh lebih menyakitkan."


"Kamu bicara seolah pernah melakukan saja." kata Kansha geli.


"Kamu ini!" seru Alan kesal. Tawa Kansha pecah.


***


"Perkenalkan saya Marisa." ucap seseorang wanita berusia tiga puluhan. Dia tersenyum ramah pada Kansha.


"Saya Kansha." jawab Kansha.

__ADS_1


"Saya sudah dengar sedikit dari orang tua kamu. Tapi saya belum mendengar keseluruhannya, kamu mau menceritakannya?" tanya Marisa lembut. Dia tidak boleh memaksa Kansha, biarkan semuanya perlahan dan atas kemauan Kansha sendiri.


Kansha menghembuskan nafasnya pelan, "Saya--"Kansha terdiam. Entah kenapa dia tak sanggup menceritakannya.


"Tenang saja. Jangan dipaksakan, buat dirimu nyaman. Saya akan menunggu."


Mendengarnya, Kansha mencoba menceritakan kembali, "Saya telah membunuh kakak saya sendiri." sebuah kalimat itu akhirnya meluncur dari mulutnya.


"Tolong!"


"Tolong, Kansha!"


Seruan Kania yang patah-patah terdengar perlahan oleh Kansha. Kansha mencoba menyelamatkan kakaknya namun dirinya juga sedang di ambang kematian.


"Kansha tolong!"


Suara Kania yang menyayat hatinya, menghantuinya kembali.


"Kansha, kamu tidak apa-apa?" tanya Marisa ketika melihat pasiennya itu berkeringat dingin.


"Saya membunuhnya. Saya biarkan dia bertaruh nyawa untuk saya. " jawab Kansha gemetaran.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Marisa.


"Suara itu, saya takut. Saya merasa bersalah." kata Kansha menitikkan air matanya. Suara Kania terus terngiang-ngiang di telinganya.


Marisa mengelus bahu Kansha dengan lembut, "Tidak apa. Jangan takut, biarkan kenangan itu menyelamimu. Rasakan sensasinya, rasakan kembali perasaan apa yang dulu kamu rasakan, dan kamu akan lebih cepat sembuh." kata Marisa memberikan dorongan.


***


Ruben terus berjalan-jalan dengan gelisah di depan kamar inap Kansha. Nana yang duduk melihatnya hanya menghela nafas pelan. Mencoba mengusir kegundahan hatinya.


"Apa Kansha akan baik-baik saja?" gumam Ruben khawatir.


"Dia akan baik-baik saja. Justru dengan terapi seperti ini, dia bisa sembuh." jawab Nana.


"Kakak gak tahu, kalau dia punya trauma sebesar itu. Kakak fikir, dia sudah melupakan kenangan menyakitkan itu. Selama ini dia tak pernah membahasnya sekalipun."


Nana menghela nafas, "Siapa yang bisa melupakan kenangan menyakitkan seperti itu? Dan meski tidak membahasnya bukan berarti sudah hilang. Kejadian itu ketika Kansha berusia 5 tahun, dia masih polos dan kepalanya merekam segalanya dengan baik."


Giliran Ruben menghela nafas, "Andai kita tahu lebih awal, keadaanya tak mungkin seperti ini."


"Tetap saja, ada hal baik dari semua kejadiaan ini." tukas Nana. Ruben menoleh.


"Orang tuanya juga merasa bersalah dan mencoba memperbaiki hubungan mereka. Meski aku tak yakin apakah Kansha akan menerimanya."

__ADS_1


__ADS_2