My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 74.


__ADS_3

Kansha memejamkan matanya. Dia seketika menyesal karena malas diajari bela diri oleh Nana ditambah dia yang sok jual mahal karena kesal pada Alvaro. Dan parahnya, lelaki itu tidak mengejarnya dan malah meninggalkannya. Dia bersumpah akan menghajar Alvaro begitu mereka bertemu lagi nanti.


Para lelaki mabuk itu makin mendekatinya, hampir mengungkungnya dengan tubuh Kansha yang sudah tersudut. Kemudian tiba-tiba suara tonjokan terdengar. Kansha merasa tangannya ditarik dan pundaknya dirangkul seseorang. Tak ada bau alkohol yang tercium ditubuhnya, bisa dipastikan dia bukan bagian dari para lelaki mabuk brengsek itu. Kansha membuka matanya dan langsung terbelalak terkejut mendapati Alan yang berdiri di sampingnya. Nama yang tidak dia harapkan datang, datang menyelamatkannya.


“Alan?” seru Kansha terkejut.


Alan tidak menjawab. Lelaki itu tetap menatap ke arah para lelaki mabuk itu. Rahangnya mengetat dan wajahnya memerah. Alan dipastikan tengah menahan amarahnya.


“Siapa kamu?” sentak seorang laki-laki mabuk itu. Dia menatap marah pada Alan yang sudah menonjoknya tadi.


Alan tidak menjawab, dia langsung menonjok kembali pipi lelaki itu. lelaki itu terjerembab jatuh. Teman-temannya merasa kesal hingga mulai mengepung Alan. perkelahian pun tak terelakkan.


Alan membawa Kansha menjauh. Kansha menatap takut dan khawatir. Dan Alan tahu.


“Tutup matamu dan jangan buka sebelum hitungan ke 100.” Perintah Alan. Kansha menggeleng takut. Dia takut terjadi sesuatu pada Alan terlebih Alan hanya sendirian. Dan lelaki itu harus melawan tujuh orang dewasa.


“Jangan khawatir. Mereka hanyalah sekumpulan orang mabuk. Mereka tak punya tenaga sama sekali.” Ucap Alan menenangkan Kansha.


Alan menganggukkan kepalanya sekali pada Kansha bermasuk meyakinkannya. Kansha mengangguk meski enggan. Alan tersenyum tipis.


“Sekarang tutup matamu.” Titahnya. Kansha pun menutup matanya.


“Satu,” begitu Kansha mulai menghitung, Alan langsung berlari menerjang lawannya.


Alan seketika dikeroyok. Ternyata meski mereka mabuk, tenaga mereka masih sama kuatnya. Namun Alan memiliki kemampuan bela diri yang hebat. mereka bukanlah tandingannya. Alan terus menerjang lawan-lawannya. Memukulnya di wajah hingga menendang perutnya.


Suara pukulan, tonjokan dan tendangan terdengar bagai nyanyian kematian di telinga Kansha. Sungguh, dia sangat benci melihat adegan perkelahian. Meski matanya ditutup, Kansha masih menggigil ketakutan. Wanita itu terus menghitung, dalam hatinya, dia cemas pada Alan.


“Lima puluh,” terdengar suara debuman keras di depannya. Kansha menjerit kecil. Dia terisak takut-takut itu Alan. Ingin dia membuka matanya namun Alan telah melarangnya sebelum hitungan keseratus.


“Delapan puluh tiga.”


“Delapan puluh empat.”


Kansha terus menghitung meski dengan suara sesenggukan. Suara gemetar.


“Seratus.” Begitu angka terakhir diucapkan, Kansha langsung membuka matanya. Dia berlari menghampiri Alan dengan menangis.


Grep


Kansha langsung menerjang Alan yang berdiri sempoyongan dengan luka lebam dimana-mana. Kansha menangis di pelukannya. Dia takut kehilangan Alan. Alan sempat mematung sesaat, namun setelahnya membalas pelukan Kansha. bisa dirasakan Kansha menangis hebat karena pundaknya yang bergetar. Dan para lelaki brengsek itu sudah babak belur dan lari tunggang langgang.


“Hiks, hiks.” Isak Kansha.


Alan mengelus punggung Kansha pelan, “Aku tidak apa-apa. Jangan menangis.” Ucapnya lembut.


Kansha melepaskan pelukannya, tanpa diduga dia menampar pipi Alan yang lebam. Alan mengaduh sakit.


plak


“Aw! Kansha kenapa menamparku?” pekiknya.


“Menurutmu? Aku sungguh benci melihat adegan perkelahian dan mendapati dirimu berkelahi dan terluka seperti ini membuatku nyaris gila.” Seru Kansha dengan mata melotot kesal meski terus air mata terus mengalir.


“Lalu aku harus membiarkan mereka menyentuhmu begitu? Luka begini tidak ada apa-apanya dengan kehormatanmu yang hampir direnggut!” seru Alan kesal.


Kansha terdiam. Dia kembali berkaca-kaca. Hatinya amat tersentuh. Ketika tadi dia berfikir hidupnya akan tamat ditangan para lelaki itu, siapa sangka Tuhan mengirim penyelamatnya. Lelaki yang dia cintai dalam diam dan dalam sakit, muncul dan menolongnya bagai keajaiban.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alan khawatir melihat Kansha yang terus menangis.


Kansha menggeleng, dia menghapus air matanya. “Harusnya aku yang bertanya, apa kamu baik-baik saja?” tanya balik Kansha. dia meneliti tubuh Alan terutama wajahnya yang penuh lebam.


“Sebenarnya tadi tidak apa-apa, tapi pipiku berdenyut sakit karena tadi ditampar oleh seorang wanita.” Jawab Alan setengah menyindir.


“Aaaa, Alan! hiks, hiks, maafkan aku.” Tiba-tiba Kansha kembali menangis. Alan amat terkejut. Dia pun memeluk Kansha lagi dan menenangkannya. Dan Kansha malah semakin menangis hebat.


***

__ADS_1


Usai drama menguras air mata itu, Kansha dan Alan tengah duduk di depan minimarket yang buka 24 jam. Kansha tengah mengobati wajah Alan yang penuh luka dengan obat merah.


“Tahan sedikit.” Ucap Kansha. dia mengoleskan obat merah ke sudut bibir Alan yang robek. Alan meringis.


“Sedikit lagi, tahan ya.” Kata Kansha ikut meringis. Dia membuka plester dan menempelkannya ke pipi Alan.


“Maafkan aku, kamu akan jadi jelek dalam beberapa hari.” Kata Kansha merasa bersalah. Dia menatap Alan dengan menyesal.


“Tidak apa-apa. Jadi jelek ya jelek saja.” Balas Alan tenang.


“Tapi kamu masih tetap tampan sebenarnya meski penuh lebam.” Sahut Kansha tanpa fikir panjang. Dia terus menatap lebam di pipi kiri Alan. “Tapi yang ini terlalu parah, kamu harus ke apotik dan membeli salep.” Lanjut Kansha mendongak menatap Alan.


“Ada apa?” tanya Kansha bingung ketika Alan hanya terdiam menatapnya.


Alan hanya terdiam tidak menanggapi. Dia malah terus menatap wajah Kansha. Hidung mancungnya dan wajahnya yang putih berseri membuat wanita itu terlihat sangat jelita. Entah kenapa acapkali menatap Kansha, dia selalu merasa tenang dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah anggun itu . Sudah beberapa kali dia kedapatan menatap Kansha hingga membuatnya melanggar batasnya ketika bersama Kansha. Dan entah kenapa, dia tak kapok. Entah kenapa, dia juga tidak tahu.


“Kamu seperti boneka.” Gumam Alan tanpa sadar.


Kansha mengernyit heran, “Apa maksudmu?” tanyanya.


Alan terkesiap. Dia tanpa sadar mengagumi wajah Kansha.


“Tidak ada.” Alan seketika berdiri. “Ayo pulang, aku antar.” Katanya menoleh dengan canggung pada Kansha.


Kansha hanya mengangguk meski masih sedikit bingung.


***


Alan membonceng Kansha dengan motor ninjanya. Kansha awalnya bingung bagaimana cara menaikinya namun Alan membantunya. Dan disinilah mereka, di depan rumah Kansha yang berdiri megah. Pagar hitam yang menjulang tinggi menutup pandangan mereka pada pemandangan mewah di dalamnya.


Kansha turun dari motor Alan dengan pelan. Alan pun mematikan mesin motornya dan membuka helmnya.


“Terima kasih ya Alan kamu sudah membantuku dari para orang mabuk itu dan juga mengantarku pulang.” Kata Kansha tersenyum.


“Sama-sama. Lain kali jangan pergi sendirian seperti itu terlebih ketika malam hari.” Pesan Alan.


Alan tersenyum melihatnya. “Masuklah.” Titahnya.


Kansha mengangguk, dia menghampiri gerbang kecil tempat orang masuk ke rumah. Kansha lalu merogoh tasnya. Kansha yang awalnya tersenyum kemudian mengeryit ketika kunci yang dia cari tidak ada. Kansha melepaskan tas nya dan mengacak-acak isinya. Kuncinya tetap tidak ada!


“Ada apa Kansha?” tanya Alan bingung ketika Kansha mengeluarkan seluruh isi tasnya.


“Kuncinya tidak ada.” sahut Kansha frustasi.


“Tidak ada?” seru Alan. Dia turun dari motor dan lekas menghampiri Kansha.


“Kurasa tertinggal di laci kantor. Aku selalu menaruhnya disana alih-alih di tas.” Jawab Kansha merasa kesal.


“Kantor? Tapi ini sudah larut malam, kantormu pasti sudah dikunci.” Balas Alan.


“Coba ingat-ingat, adakah yang memegang kunci lain selainmu?” tanya Alan.


Kansha mencoba mengingat-ingat. Dia menjentikan jarinya, “Bi Inah! Alasan aku selalu menaruh kunci di laci kantor karena Bi Inah memegang kunci lain dan selalu membuka gerbang untukku,” jawab Kansha.


“Kalau begitu telfon dia.” Titah Alan.


Kansha mengambil ponselnya dan baru mengetikkan nama pembantunya, Kansha berhenti. Alan bingung.


“Mati aku!” lirihnya.


“Ada apa?”


“Ponselku mati.” Kata Kansha melirik Alan.


Alan terdiam dengan terkejut. Dia tak percaya bahwa Kansha bisa seceroboh ini. Astaga, Alan tidak tahu harus berkata apa.


“Jadi bagaimana?” tanya Alan.

__ADS_1


Kansha menggeleng pelan, “Aku tidak tahu. Aku benar-benar ceroboh.” Lirihnya menyesal.


Alan mendapat ide, “Kalau begitu gunakan ponselku, berapa nomor pembantumu?” tanya Alan.


Kansha menganga. Dia baru terfikirkan sekarang. Kansha pun mengambil ponsel Alan dan mulai mengetikkan nomor Bi Inah yang untungnya dia hafal.


Kansha lalu menelfonnya. Panggilannya tersambung dan langsung diangkat oleh Bi Inah. Kansha berseru senang.


“Bi! Aku Kansha!” seru Kansa senang.


“Hoam, iya non. Ada apa menelfon?” suara Bi Inah nampak lemas. Dia sepertinya baru bangun tidur.


“Maaf kan aku bi, karena menganggu tidur bibi.” Ringis Kansha.


“Tidak apa-apa, non. Ada apa ya?”


“Bi, tolong bukakan pintu untukku. Aku lupa membawa kunci dan kuncinya ada di laci kantorku.” Pinta Kansha memelas.


“Loh, non. Kok bisa ceroboh sekali sih.”


“Makanya bi. Tolong bukakan pintu untukku.” Pinta Kansha lagi.


“Tapi bagaimana ya non, bibi kan sedang pulang kampung.”


Jawaban Bi Inah membuatnya membeku. Tangannya kaku hingga dia tak sengaja melepaskan ponsel Alan yang untungnya langsung ditangkap oleh Alan sebelum jatuh ke tanah.


“Kansha.” seru Alan horror. Ponselnya hampir saja hancur berkeping-keping.


“Ada apa?” tanya Alan bingung ketika melihat Kansha yang diam saja.


“Aku kacau, Lan.” Lirihnya menoleh pada Alan. “Aku lupa kalau Bi Inah sedang pulang kampung.”


Alan terbebelak kaget. Yang bisa dia lakukan hanya mendesah pelan.


“Kamu pulang saja dulu. Aku tidak apa-apa.” Kata Kansha pelan ketika melihat reaksi Alan atas tindakannya yang ceroboh.


“Lalu kamu tetap disini sendirian hingga pagi begitu? Itu sama saja aku menyelamatkanmu dari kandang singa dan menaruhmu di kandang buaya.” Balas Alan sedikit kesal.


“Ya mau bagaimana lagi. Rumahku terkunci begitupun kantorku.” Timpal Kansha frustasi.


“Oh ya, dimana kunci kantormu?” tanya Alan.


Kansha seolah tersadar. “Kunci kantorku, ada di dalam mobilku!” pekiknya.


“Mobilmu dimana sekarang?” tanya Alan semangat,


“Mobilku..ada di, sial, mobilku di rumah sakit!” pekiknya.


“Rumah sakit?” ulang Alan.


Kansha mengangguk, “Iya rumah sakit tempatku menemuimu. Aku memarkir mobilku di basement rumah sakit.”


“Lalu bagaimana kamu bisa berada disana?” tanya Alan bingung. Pasalnya, jarak rumah sakit dan halte bus tempat Alan bertemu dengan Kansha tadi lumayan jauh.


“Itu karena..” Kansha berfikir, dia tidak mumgkin mengatakan dia bersama Alvaro. “Itu karena aku menumpang mobi temanku, kami berencana pergi hang out dan ternyata aku lupa bahwa aku membawa mobil dan malah ikut bersama temanku.” Ujar Kansha berbohong. Sebenarnya alasannya adalah dia sangat panik terhadap Nana jadinya dia ikut saja masuk ketika Alvaro masuk ke mobil miliknya. Dia lupa bahwa dia membawa mobil.


Alan tampak curiga. Tatapannya menyelidik pada Kansha. Kansha mencoba bersikap sebiasa mungkin. Hingga Alan akhirnya melunakkan tatapannya.


“Alan, bisa antarkan aku dulu ke rumah sakit?” pinta Kansha.


“Baik, ayo.” Angguk Alan. Kansha tersenyum senang. Dia langsung mengekori Alan naik ke motornya.


Namun begitu Alan menghidupkan mesin motornya, dia terdiam. Ada banyak fikiran yanh tiba-tiba menghampirinya.


“Kita ke apartementku saja.” celetuk Alan. Tanpa menunggu jawaban Kansha, Alan langsung memakai helmnya.


“Apa Lan? Eh, tunggu!" seru Kansha amat terkejut. Perkataan Alan sungguh diluar dugaan.

__ADS_1


Namun Alan terus mengendarai motornya dan tak mengindahkan seruan Kansha yang bingung sekaligus terkejut.


__ADS_2