My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 41. Mulai Bertindak


__ADS_3

Kansha terus menelfon Alan bahkan hingga malam menjelang, namun nomor Alan terus tidak bisa dihubungi. Kekhawatirannya makin memuncak. Hingga untuk telfon ke sekian kalinya, ada yang mengangkat.


“Halo?” sambar langsung Kansha.


Tak ada jawaban di seberang telfonnya, membuat Kansha mengernyit.


“Halo, Alan?”


“Ini Aisyah.” Rupanya yang mengangkatnya adalah Aisyah. Kansha terkejut.


“Bagaimana keadaan Alan? Dia baik-baik saja?” tanya Kansha.


Hening sebentar kemudian suara Aisyah terdengar berkata, “Mbak, berhentilah peduli dengan Mas Alan. Mbak bilang tidak akan merebut Mas Alan, tapi mengapa kini malah mengkhawatirkan kondisi Mas Alan. Kalau mbak seperti ini, yang ada akan membuat Mas Alan salah paham dengan perhatian mbak.” Kata Aisyah.


Kansha terdiam kemudian menghembuskan nafas pelan, mengusir sesak dihatinya. “Katakan, apa Alan baik-baik saja?” tanya Kansha mengabaikan perkataan Aisyah.


“Aku punya hak untuk tidak menjawab, kan?”


Kansha memejamkan matanya sebentar, berusaha menenangkan emosinya. Setelah tenang, dia berkata dengan sabar, “Aku mengkhawatirkannya sebagai seorang teman, jadi tolong katakan.” Ucap Kansha penuh penekanan.


“Dia baik-baik saja. Dia sedang sibuk menemaniku. Sudah kan? Aku tutup.”


“Eh halo! Halo!” terlambat, Aisyah sudah menutup telfonnya. Dia tidak memberikan kesempatan Kansha untuk berbicara.


“Dasar menyebalkan.” Desis Kansha kesal.


Namun setidaknya, Alan baik-baik saja. Jadi dirinya tidak perlu khawatir lagi.


***


Sementara itu, begitu Aisyah menutup telfon, dia langsung memegang ponsel Alan dengan erat. Mengusir rasa bersalah karena mengangkat telfon tanpa izin. Kemudian, dia membuka log panggilan, dan menghapus semua daftar panggilan Kansha seolah-olah Kansha tidak pernah menelfon Alan.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Aisyah segera menaruh ponsel Alan di nakas, kemudian berdiri seolah-olah tidak terjadi apa-apa..


“Aisyah, sejak kapan kamu disana?” tanya Alan terkejut.


Alan yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut ketika Aisyah berada di kamarnya. Untung saja, dia sudah berpakaian lengkap, coba kalau tidak? Entah apa yang akan terjadi.


“Ah, maaf tadi Aisyah masuk ketika Mas Alan berada di kamar mandi. Ini Aisyah tadi mau menyampaikan pesan bunda, katanya mas harus turun ke bawah untuk makan malam.” Ujar Aisyah disertai senyuman.


Alan mengangguk, “Oh, oke. Mas kesana sebentar lagi. Dan lain kali, ketuk pintu dulu sebelum masuk, dan ketika mas sedang tidak ada di kamar, jangan main masuk sembarangan.”

__ADS_1


Aisyah terdiam. Mengapa Alan tiba-tiba menegurnya seperti itu. Padahal, dia tidak pernah ditegur meski masuk ke kamar Alan ketika Alan tak ada di kamar. Ada apa dengannya? Alan seperti sudah berubah.


“Oh iya, Mas. Aisyah mengerti, maafkan Aisyah.” Ujar Aisyah pelan.


“Tidak apa-apa, tapi jangan diulangi lagi. Mas takut, bila kita berdua di kamar seperti ini, nantinya mengundang kesalahpahaman.” Kata Alan. Aisyah mengangguk dengan pelan.


Lalu Alan fokus mengeringkan rambutnya. Setelah selesai, dia hendak keluar kamar, namun terkejut ketika Aisyah ternyata masih berada di kamarnya.


“Aisyah, mengapa kamu masih disini?” tanya Alan.


Aisyah yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya. Dia meremas jari-jarinya pelan. Dia gugup dengan apa yang ingin dia katakan pada Alan.


“Aisyah?” tegur Alan ketika Aisyah malah melamun.


“Oh iya mas?” sahut Aisyah terkesiap.


Alan menghembuskan nafas pelan, “Kamu selalu saja melamun ketika ditanya. Kamu ada masalah?” tanya Alan dengan sabar.


Aisyah menggeleng, dia lalu berkata ragu-ragu. “Sebenarnya, ada yang ingin Aisyah tanyakan pada Mas Alan.” Alan mengangkat alisnya.


“Soal pernikahan kita, apa mas sudah punya pemikiran akan dilangsungkan kapan?” tanya Aisyah dengan nada pelan namun terselip nada tegas juga.


Alan terhenyak. Dia lalu menatap Aisyah yang kini menunduk kembali. Alan mendesah. “Kamu sudah menyelesaikan skripsimu?” tanya Alan tidak nyambung.


“Apakah ada hubungannya skripsi Aisyah dengan pernikahan kita?” tanya Aisyah bingung. Dia mendongak pada Alan.


Alan seketika mengangguk. “Mas tidak ingin menganggu pendidikanmu. Kamu terlambat masuk kuliah karena harus menjaga almarhumah umi mu dan kini kamu bisa berkuliah, jadi selesaikan dengan baik kuliahmu dahulu. Mas tidak mau mengacaukan impianmu.”


Aiyah kembali menunduk, “Aisyah tidak masalah bila Aisyah tidak bisa menggapai impian Aisyah, asal sama Mas, Aisyah akan baik-baik saja.”


“Tidak, Aisyah. Setiap orang memiliki jalannya sendiri. Kamu harus memilih jalanmu sendiri, jangan hanya karena mas, kamu tidak memiliki tujuan. Kalau sampai itu terjadi, Mas akan menjadi orang paling brengsek di dunia.” Sanggah Alan tegas.


Aisyah mengangguk, “Aisyah mengerti , Mas. Kalau begitu Aisyah turun dahulu.” Pamit Aisyah. “Assalamu’alaikum.”


“Waalaikum salam.” Balas Alan.


***


Pagi tiba, suasana hati Kansha tengah memburuk dan itu semua dirasakan oleh semua pegawai ARC. Bos mereka tidak dalam suasana baik, Kansha bahkan sudah memarahi dua orang pegawainya. Ini semua imbas kemarin malam.


Tok tok


Seli, sekretarisnya masuk dengan tenang. dia menunduk sopan pada Kansha.

__ADS_1


“Maaf, bu investor dari Korea Selatan sudah datang.” Lapor Seli.


Kansha menghentikan pekerjaannya. “Suruh mereka masuk dan hidangkan wine.”


Seli mengangguk lalu undur diri.


Kemudian, tak lama, Seli datang dengan dua orang bersetelan hitam. Kansha menyambutnya dengan sopan.


“Welcome to Indonesia in my small office.” Sambut Kansha ramah.


Tiga orang ber jas itu tertawa. “Its big, you’re too low.” Katanya.


“I’m Kansha, director of ARC. Nice to meet you, sir.” Ucap Kansha memperkenalkan diri.


“Nice to meet you too. I have heard about you from Presidentate Williams. I’m Lee Han-seong.”


“Nice to meet you Mr. Lee.” Sambut Kansha ramah.


“I’m Shin Moon-hwi.” Ucap yang satunya memperkenalkan diri.


Kansha menyambut jabatan tangannya dan berkata ramah, “Nice to meet you Mr.Shin.”


Kansha tersenyum lalu menyilakan tamunya duduk. “Please, sit down.”


Kansha dan para tamunya sudah duduk, kemudian Seli datang membawa tiga gelas yang sudah terisi wine dan satu botol wine penuh lalu dibelakangnya ada pegawai lain yang membawa camilan. Setelah disajikan, mereka berdua undur diri.


Kemudian dimulailah perbicangan bisnis mereka.


***


Di lain tempat, Alan yang hendak ke bandara, masuk ke mobilnya. Ketika dia hendak memakai sabuk pengaman, matanya terpaku pada syal putih di kursi penumpang. Alan terdiam, mengingat kepunyaan siapa syal ini karena itu tidak mungkin miliknya, dia tidak memiliki syal seperti itu.


Flashback on


“Kamu mengapa memakai syal?” tanya Alan begitu Kansha masuk ke mobil.


“Tadi suhunya dingin sekali jadi aku memakai syal.” Jawab Kansha.


“Lepaskan saja, sekarang sudah tidak terlalu dingin.” Saran Alan.


Kansha mengangguk kemudian melepaskannya dan menaruhnya di sela-sela kursinya. Begitulah syal itu bisa ada. Rupanya Kansha yang meninggalkannya dan lupa mengambilnya.


Flashback Off

__ADS_1


Alan keluar dari mobilnya kemudian kembali masuk ke rumah. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam mobil dengan membawa goodybag kecil. Dia memasukkan syal Kansha ke goodybag itu. Setelah selesai, dia menjalankan mobilnya menuju suatu tempat.


__ADS_2