
Alfin memarkirkan mobilnya di carport begitu tiba di rumah. Setelah menutup pintu mobil, Alfin segera masuk.
Alfin langsung menuju dapur dan menemukan sang bunda tengah mengaduk sup. Alfin pun menghampiri bunda.
"Assalamu'alaikum bun." sapa Alfin sembari tersenyum.
Tatapan bunda yang awalnya tertuju pada panci dengan uap mengepul itu langsung mendongak, "Eh, anak bunda sudah pulang. Waalaikum salam. Kenapa tidak mengabari kalau sudah pulang?" Bunda lalu mematikan kompor sebelum memeluk anak bungsunya itu.
"Kemarin bun, maaf aku tidak mengabari. Aku hanya mengatakan kepulanganku pada Mas Alan. Soalnya kata Bibi, bunda sama ayah ada acara keluarga di Bogor." balas Alfin.
"Iya, anaknya adik ayah mau akikahan anak pertamanya. Kita sebagai keluarga harus hadir." sahut Bunda.
Alfin tersenyum. Sebenarnya, dia daritadi tak henti-hentinya merasa amat lega. Alan menjaga janjinya untuk tidak memberitahu perihal tempatnya menjadi relawan terkena bencana pada ayah terlebih bundanya. Bundanya itu cukup parno dan masih traumatis akibat tragedi pesawat jatuh yang menimpa kakaknya setahun lalu itu.
"Kamu duduk saja dulu. Bunda mau menyelesaikan dulu masakan bunda. Soalnya bunda dengar, Aisyah akan pulang sore ini." ucap bunda antusias.
"Iya bun." timpal Alfin. Lelaki itu menuju ruang keluarga meninggalkan sang bunda yang kini kembali berkutat dengan sendok sup.
Di ruang keluarga, Alfin tengah berfikir keras. Bagaimana caranya menanyakan hal itu pada bunda. Bagaimanapun, dia harus bisa mengorek informasi. Agar potongan teka-teki ini bisa menarik benang merahnya. Dia tidak mau Alan terus terbohongi jikalau benar Aisyah dan Zakariya benar menyembunyikan sebuah kebenaran.
"Alfin, kamu sudah makan?" tanya bunda yang datang dari arah dapur.
Alfin menggeleng, "Belum bun, Alfin tidak lapar." balasnya.
"Mm, bunda, ada yang ingin Alfin tanyakan." lanjutnya.
Bunda duduk di dekat Alfin, "Bertanya soal apa?" tanyanya.
"Soal.." Alfin terlihat ragu.
"Soal? Tanya saja, tidak apa-apa." ujar bunda.
Alfin memperbaiki posisi duduknya, kemudian lantas mengucap"Ini soal perjodohan yang dilakukan Aisyah dan Mas Alan."
"Iya, kenapa?" tanya bunda bingung. Tiba-tiba putra bungsunya itu menanyakan hal seacak itu.
"Alfin hanya penasaran, bagaimana bisa mereka akhirnya dijodohkan? Maksud Alfin, ini sudah zaman modern, kenapa masih ada hal-hal seperti itu?"
"Oh itu. Jadi awalnya kakek kamu dan kakeknya Aisyah itu bersahabat karib. Mereka membuat suatu janji bahwa anak cucu mereka yang berlawan jenis harus dijodohkan. Kita dari daerah yang daerah yang sama dimana tradisi mengatakan janji harus ditepati agar keluarga kita diberkahi. Tapi saat ayahmu lahir, keluarga Aisyah juga melahirkan anak laki-laki yaitu Om Zakariya. akhirnya janji itu belum bisa dipenuhi. Tapi alhamdulillah setelah menunggu kembali, Alan dan Aisyah lahir hingga janji itu bisa diwujudkan." cerita Bunda.
"Tapi..ada satu syarat yang berlaku saat itu." lanjut bunda.
"Syarat apa bun?" tanya Alfin penasaran.
"Orang yang berhak dijodohkan harus merupakan anak pertama. Karena kakek kamu dan kakek Aisyah percaya bahwa bila pasangan yang sama-sama anak pertama, akan menciptakan kestabilan dalam pernikahan karena berada dalam kondisi serupa."
"Teori itu sedikit..." Alfin berucap sangsi.
"Namanya juga kepercayaan kolot. Tapi karena janjinya seperti itu, kita harus tetap mewujudkannya. Itu adalah amanat dari almarhum kakek kamu." timpal Bunda.
"Terus bunda, bagaimana kalau sebenarnya Aisyah bukanlah putri pertama? Akankah perjodohan itu batal?"
Bunda mengernyitkan dahinya bingung, "Apa maksud kamu?"
Alfin tersadar. Dia segera menggelengkan kepalanya. "Seandainya bun, aku tidak benar-benar mengatakannya." kilah Alfin.
"Ya kalau seperti itu, maka perjodohannya harus batal karena tidak memenuhi syarat yang sudah dibuat." jawab bunda. "Tapi kan Aisyah memang anak pertama dan anak satu-satunya, kenapa harus dibatalkan, benar kan?" lanjut bunda.
"Jadi bunda hanya tahu bahwa Om Zakariya hanya memiliki Aisyah saja?" tanya Alfin.
"Tentu, siapa lagi memangnya?" tanya balik Bunda.
__ADS_1
Alfin terdiam. Jadi Aisyah bukanlah putri pertamanya dan kakak kandung Aisyah yang menghilang disembunyikan rapat-rapat oleh Om Zakariya. Karena Om Zakariya tahu kalau sampai keluarganya tahu bahwa Aisyah bukanlah putri pertamanya, maka perjodohan akan batal. Tapi kenapa? Kenapa Om Zakariya melakukannya? Seharusnya dia tak masalah bila perjodohan itu batal. Entah kenapa Alfin merasa alasan Om Zakariya tak sedangkal itu. Dia pasti punya alasan yang lebih besar.
"Alfin, kenapa kamu melamun?" tegur Bunda.
Alfin terkesiap, "Tidak ada bun. Bun, Alfin ke kamar duluan ya."
"Ya sudah, nanti turun makan siang ya." pesan bunda.
"Iya bun. Alfin ke atas dulu." pamit Alfin. Lelaki itu naik tangga menuju lantai dua.
Melihat sikap putranya, Alfin, bunda menggelengkan kepalanya. Setelah itu kembali berlalu menuju dapur.
***
Alan dan Kansha masuk ke toko kue. Mereka langsung disambut oleh sapaan ramah pegawai toko.
"Kamu pilihlah kue yang kamu suka." ucap Kansha sambil menatap satu persatu kue yang berada di etalase.
"Tunggu, kenapa kita kesini? Dan kenapa aku harus memilih kue yang aku suka?" tanya Alan bingung.
"Alfin bilang, hari ini adalah ulang tahunmu. Jadi aku membawamu kesini." jawab Kansha polos.
Alan mengerjap singkat, kemudian lantas menahan tawanya.
"Jadi aku boleh memilih kue apapun kan?" tanyanya menyembunyikan tawanya.
"Tentu. Sekalian dengan hadiahnya." angguk Kansha.
Alan mengernyitkan dahinya, "Hadiah? Apa yang bisa dijadikan hadiah di toko kue?"
"Apa saja. Terserah yang kamu inginkan." balas Kansha.
Alan hanya bisa tersenyum, dia lalu melihat-lihat etalase. Tatapannya tertuju pada sebuah cupcake berwarna hijau muda dengan buttercream putih diatasnya.
"Cupcake ini? kamu yakin?" tanya Kansha mengernyit. Alih-alih kue yang besar, Alan hanya mau sebuah cupcake kecil?
"Usiaku sudah tak lagi muda. Lagipula aku bukan anak-anak, cupcake itu cukup untukku."
"Ya sudah. Mbak cupcake itu dua buah ya. Sekalian dengan lilin kecil." ucap Kansha pada pegawai toko.
"Untuk apa lilin? Aku tak perlu meniup lilin." cegah Alan malu.
"Kue birthday tak akan lengkap tanpa lilin." tukas Kansha. Alan menggelengkan kepala mendengarnya.
Alan memilih menjauh ketika Kansha sedang membayar, dia pergi ke sudut dan matanya tertuju pada deretan lilin aromatherapi. Alan menyalakan salah satu lilin sampel. Aroma harum dan menyegarkan menggelitik hidungnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" celetuk Kansha yang sudah berada di sampingnya.
"Cium baunya. Aromanya sangat menyegarkan sekaligus menenangkan." jawab Alan membuka matanya.
Kansha menghirup aroma lilin itu lalu mengangguk. "Iya" ucapnya singkat.
"Ini kuenya, mbak." salah satu pegawai menghampirinya dan menyerahkan paperbag.
"Terima kasih." ucap Kansha.
Drrt
Alan mengambil ponselnya yang bergetar, "Aku keluar duluan untuk menjawab telfon." pamitnya. Kansha mengangguk mengizinkan.
Sepeninggal Alan, Kansha terdiam berfikir dengan mata tertuju pada lilin yang tadi dinyalakan Alan. Setelah itu, Kansha tiba-tiba memanggil pegawai toko.
__ADS_1
***
Nana dan Ruben tengah berada di rumah sakit. Setelah telfon dari omnya, Ruben memang langsung menuju rumah sakit. Lelaki itu berjalan tergesa-gesa diikuti Nana dibelakangnya. Dan selama itulah, Ruben tak menengok ke arahnya.
Mereka sampai di ruang gawat darurat. Disana, sudah ada omnya dan seorang wanita paruh baya yang Ruben kenali sebagai ibunya Diana.
"Om, tante. Bagaimana dengan Diana?" tanya langsung Ruben begitu menghampiri mereka.
"Diana ada di dalam. Kondisinya kritis." jawab omnya.
"Aku izin ke dalam, tante." ucap Ruben. Ibu Diana mengangguk sambil masih menangis.
"Ayo, Na." ajak Ruben. Nana terlihat ragu, namun tak urung mengangguk. Nana mengikuti Ruben masuk.
Di dalam, Diana tengah terbaring lemah dengan berbagai selang yang tersambung ke badannya. Air matanya menetes begitu menangkap siluet tubuh Ruben.
"Ruben." panggil Diana parau. Dia meminta Ruben mendekat.
Diana yang awalnya tersenyum seketika mengernyitkan dahinya melihat Ruben tak sendiri. Disampingnya ada Nana.
"Aku sekarat Ruben." Diana kembali berbicara dengan Ruben. Dia tak memedulikan kehadiran Nana sama sekali.
"Kurasa aku tidak bisa bertahan lagi." ucap Diana sesenggukan.
"Diana, jangan bilang seperti itu. Aku yakin kamu bisa. Bertahanlah, oke?" kata Ruben khawatir.
Karena bagi Ruben, terlepas dari kelakuan Diana soal mengejar cintanya, Diana tetaplah sahabatnya sedari kecil. Mereka tumbuh bersama-sama. Mengejar impian bersama-sama. Mereka sudah seperti satu tubuh. Diana sakit, maka Ruben pun akan merasakannya.
"Aku mohon, bertahanlah. Kamu adalah sahabatku sejak kecil. Maafkan aku yang sudah berbuat kasar padamu selama ini." kata Ruben merasa bersalah.
Diana menggeleng, "Aku yang salah bukan kamu. Selama ini aku sudah merusak persahabatan kita karena aku yang mencintaimu. Maaf, selama ini aku haya mementingkan diri sendiri tanpa tahu kamu merasa tidak nyaman. Aku minta maaf." Diana menangis sesenggukan. Tak dipedulikan rasa sakit pada seluruh tubuhnya. Kehadiran Ruben sudah cukup menghibur sakitnya. Hatinya terasa hangat tatkala Ruben masih peduli padanya.
"Aku rasa, hidupku sudah tak lama lagi." lirih Diana.
"Diana, jangan bilang seperti itu." tegas Ruben.
"Aku memiliki permintaan terakhir, bisakah kamu mengabulkannya untukku?" pinta Diana menatap Ruben dengan mata berlinang membuat Ruben tak tega.
"Katakan." tandas Ruben.
"Katakan bahwa kamu mencintaiku dan akan menemaniku di saat-saat terakhirku. Aku ingin menikah denganmu sebelum aku tiada."
Ruben membeku. Begitupun Nana yang sedari tadi menahan sakit hatinya. Nana menatap Ruben dengan mata berkaca-kaca.
katakan tidak, kumohon, jangan kabulkan permintaannya. batin Nana memohon.
Mata sayu Diana melemah, "Aku tahu, itu tidak mungkin. Kamu tidak mencintaiku. Bisa-bisanya aku masih berharap hal semustahil ini." tukas Diana lirih.
"Tidak, Diana. Bila itu yang kamu inginkan, asal kamu sembuh, aku akan melakukannya." ucap Ruben.
Nana membeku dibelakangnya. Buku persiapan pernikahan yang dia genggam, seketika terlepas.
bruk
Nana menarik nafasnya. Dia tak percaya dengan pendengarannya. Air matanya yang susah payah ia tahan, menetes. Hatinya kembali hancur berkeping-keping.
"Aakuu.." lirih Nana. Sayang, Ruben tak mendengar lirihannya.
"Aakuu...tunggu di luar." lanjutnya lemah. Nana buru-buru keluar ruangan.
Nana berlari begitu dia sudah sampai di luar. Tak dipedulikannya tentang kondisinya. Yang dia tahu, dia kini kembali hancur. Dan Nana tak yakin, akankah ini bertahan lebih lama lagi atau tidak.
__ADS_1
Haruskah dia kehilangan Ruben lagi?