My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 108.


__ADS_3

Ceklek


Kansha membuka pintu apartementnya. Apartement yang dia beli susah payah setelah bekerja menjadi reporter selama tiga tahun di ARC. Di tempat inilah, Kansha mencurahkan mimpinya. Namun setelah dia dan orang tuanya kembali tinggal bersama, apartement ini sudah tak dia tempati sejak saat itu.


Kansha masuk dengan lunglai. Apartement itu gelap tak seperti biasanya karena itu yang memang dia inginkan. Dia bahkan tidak perlu repot-repot menyalakan lampu.


Kansha lalu menuju dapur, dan mengambil sebotol air minum dari kulkas. Isi kulkas itu tak ada apa-apa kecuali sebuah botol air minum yang tadi Kansha ambil. Kansha lalu menutup pintu kulkas kemudian kembali berjalan menuju ruang tamu.


Kansha menghidupkan televisi, menyetel channel apa saja yang ada. Kemudian melemparkan diri duduk di atas karpet. Dan meminum air dengan rakus. Setelah selesai meredakan kehausannya, Kansha menaruh botol minum itu ke meja tanpa menutup botolnya.


“Aisyah, sudah abi bilang beberapa kali, jangan pernah lagi mengungkit soal Azzahra! Azzahra sudah tiada, berhentilah mencarinya!”


Kansha kembali meneteskan air matanya kala ucapan Zakariya terngiang di kepalanya. Kansha—dia mulanya tak percaya dengan hasil tes DNA itu. Tentu saja, tes itu bisa saja keliru, dia dan Aisyah tak mungkin bersaudari. Tapi begitu dokter mengatakan bahwa golongan darah Aisyah O negatif sama sepertinya, Kansha mulai sedikit bimbang. Dan ditambah mendengar percakapan Aisyah dan Zakariya serta ucapan Zakariya yang kejam, membuat Kansha merasa hatinya merasa tersayat. Hingga Kansha mau tak mau mengakui kenyataan bahwa dia memang sakit hati oleh Zakariya, ayah kandungnya.


Sebenarnya Kansha tidak mengerti satu hal pun. Mengapa hidupnya begitu menyedihkan. Dia pernah dibenci oleh Grace dan Andrian, yang padahal mereka adalah orang tua angkatnya. Dan kini, setelah tahu kebenaran asal usulnya, dia juga dibenci oleh orang tua kandungnya dan saking teganya, tak ingin mengakuinya dan menganggap dia sudah tiada. Tapi kenyataannya, Kansha masih ada dan masih sehat. Dia tidak mati seperti anggapan Zakariya.


“Sebenarnya apa salah Kak Zahra hingga abi ingin menghilangkannya dari hidup kita? Kak Zahra menghilang itu karena kesalahan kita. Andai abi lebih memilih mengejar para perampok itu untuk menyelamatkan Kak Zahra, maka Kak Zahra masih ada hingga sekarang.”


“Kalau abi lebih memilih menyelamatkan Azzahra, maka kamu dan nyawa umi akan melayang. Abi tidak ingin kehilangan dua nyawa sekaligus hanya untuk menyelamatkan satu nyawa!"


Yah, dia sepertinya memang sudah ditakdirkan tak ada dalam keluarga Zakariya. Peristiwa perampokan itu yang disertai penculikannya menjadi penanda bahwa dia memang harus menghilang. Ditambah Zakariya, ayahnya tidak menyelamatkannya sama sekali. Dan sejak kejadian itu, ayahnya malah berusaha menghapusnya dalam ingatan semua orang. Menghapusnya dari kartu keluarga, agar tak ada jejak digital tentangnya sama sekali. Memilih menganggap bahwa dia memang tidak pernah ada.


Tapi apa kesalahannya hingga ayahnya tega melakukan itu? Apa dosanya yang masih bayi harus mengalami itu semua? Mengapa ayahnya tak mencarinya lebih lama? Dan mengapa, dia harus mengalami semua kepahitan ini?


“Lebih baik menyakiti satu orang untuk menyelamatkan dua orang. Bagi abi, umi dan kamu sama berharganya. Dan abi tidak ingin kehilangan lagi.”


Sepertinya Kansha sudah tahu jawabannya.


Dan Kansha juga tak ingin kehilangan lagi. Baginya, hanya keluarga angkatnya yang berharga untuknya. Dia tidak perlu Zakariya atau siapapun. Dengan Grace dan Andrian, dia merasa sudah cukup. Meski mereka hanyalah orang asing yang tiba-tiba menjadi orang tuanya, tapi mereka tidak sejahat itu padanya. Grace dan Andrian memberikan kasih sayang padanya saat kecil, tidak seperti orang tua kandungnya.


Kansha makin terisak. Dia masih sakit hati atas perkataan Zakariya. Ingin dia meneriakkan pada ayahnya, bahwa dia juga tak butuh dirinya! Dia masih bisa hidup meski tanpa Zakariya. Bila Zakariya menganggapnya sudah tak ada, maka jangan salahkan Kansha bahwa dirinya juga menganggap Zakariya tidak pernah ada.


Merasa dia makin melemah, Kansha akhirnya merebahkan diri di atas karpet. Memeluk dirinya sendiri dalam keremangan. Air matanya tak berhenti mengalir meski matanya telah memejam.


***


Keesokan paginya, Alan yang baru saja landing setelah terbang belasan jam, merenggangkan tubuhnya yang kaku. Dia lalu berjalan sambil menyeret koper keluar bandara. Sepanjang jalan, dia bertukar sapa pada sesama rekan kerjanya.


Dia lalu masuk ke dalam parkiran dan menuju mobilnya. Setelah memasukkan koper ke bagasi, dia masuk ke kursi pengemudi. Namun sebelum menjalankan mobinya, dia terlebih dahulu menghubungi seseorang yang amat dia rindukan.


Maaf , nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.


Alan mengeryitkan keningnya kala ponsel Kansha tak bisa dihubungi. Dia menatap jam di layar ponselnya, masih pukul sembilan pagi. Apakah Kansha belum bangun?


Alan lalu mencoba menghubunginya lagi, tapi jawaban yang sama terdengar. Alan berfikir positif, mungkin saja Kansha memang belum bangun. Dan ponselnya bisa saja dalam keadaan tidak aktif.


Alan lalu memilih mengirim pesan pada Kansha.


Alan


Selamat pagi, putri tidur. Kamu sudah bangun? Aku menghubungi ponselmu tapi tidak bisa. Kalau sudah membaca pesan ini, hubungi aku ya. Aku ingin bertemu denganmu.


Setelah selesai mengetik, Alan menekan enter dan pesan pun terkirim.


Alan lalu menaruh ponselnya kembali dan mulai menghidupkan mesin. Dia lalu mulai menjalankan mobilnya keluar bandara.


Alan mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Setelah parkir di carport, dia lalu mengeluarkan koper dari bagasi, lalu menutup pintu bagasi dan berjalan masuk rumah.


“Assalamu’alaikum.” Sapa Alan begitu menginjakkan kaki di dalam rumah.


Tapi tak ada jawaban apapun. Dia mengernyitkan dahi, kemana semua orang rumah? Bukankah ini weekend, semua orang seharusnya berada di rumah.


Alan lalu berjalan menuju ruang keluarga, dia lalu bertemu Alfin yang berada di pertengahan tangga.


“Mas, sudah pulang?” tanya Alfin.


Alan mengangguk, “Sudah. Oh ya, bunda sama ayah dimana?” tanya balik Alan.


Alfin menunjuk sebuah ruangan di balik ruang keluarga, “Bunda didapur kalau ayah, dia sedang ada pertemuan dengan teman-temannya.” Jawab Alfin.


“Oh begitu.” Alan mengangguk-anggukan kepalanya.


“Bunda dari kemarin saat mas berangkat, sudah sangat bersemangat. Beliau tidak henti-hentinya mengoceh tentang menu masakan apa yang akan dimasak saat malam nanti. Apakah minumannya cocok untuk Kansha? Apakah Kansha suka pedas? Kansha datang pukul berapa? Dan lain-lain.” cerita Alfin.

__ADS_1


Alan terkekeh mendengarnya, memang setelah pertemuannya dengan Kansha, dia langsung mendatangi bunda dan ayahnya untuk mengungkapkan maksudnya. Dia memang tidak bilang bahwa dirinya dan Kansha sudah menjalin hubungan, dia hanya bilang bahwa Kansha akan datang ke rumah besok malam. Dan seperti yang ditebak, bunda jadi orang pertama yang antusias.


“Kalau begitu, mas ke dapur dulu.” Alan lalu melepaskan genggamannya pada koper dan mendorong koper ke arah tangga, “Tolong bawa ke kamar ya.” Pinta Alan tersenyum manis. Lalu Alan berlalu begitu saja.


“Mas merepotkan.” Decak Alfin. Dia terpaksa turun tangga dan mengambil koper Alan.


Namun sebelum naik, dia terlebih dahulu melihat tangga yang menjulang dihadapannya.


Alfin lalu menatap koper Alan, “Untung kopernya kecil, coba kalau besar, aku langsung encok.” Rutuk Alfin. Dia lalu mengangkat koper Alan dan membawanya naik tangga satu persatu.


***


Alan masuk ke dapur, suara celotehan bunda bersama bibi sangat riuh. Aroma masakan kue tersebar harum di seluruh penjuru ruangan.


“Assalamu’alaikum, bundaku.” Sapa Alan manis. Dia mencium tangan bunda


“Eh Waalaikumsalam, putra bunda. Kamu baru pulang?” sapa balik bunda.


“Iya bun. Oh ya Bunda lagi bikin kue ya?” tanya Alan menatap loyang-loyang kue dihadapannya.


“Iya, untuk nanti malam, Kansha kan mau datang.” Jawab bunda tetap fokus pada adonan kuenya.


“Bunda perhatian sekali, terima kasih ya.” Ucap Alan tulus.


“Sama-sama. Kansha kan calon menantu bunda, benar kan?” ucap bunda mengerling.


Alan hanya mengusap tengkuknya malu. Bunda yang melihatnya terkekeh. Dia berhasil menggoda putranya.


“Oh ya Bunda ingin bertanya padamu, makanan apa saja yang disukai Kansha?” tanya bunda menoleh pada putranya.


Alan terdiam sebentar, “Sebenarnya aku tidak terlalu tahu bun, tapi Kansha sangat suka dengan ayam bakar. Dia juga suka makanan berkuah seperti sup.” Jawab Alan.


Bunda mengangguk-anggukan kepalanya, “Ya sudah bunda masak itu saja untuk nanti malam.”


“Terima kasih bun.” Ucap Alan lagi.


“Sama-sama.” Balas bunda tersenyum.


Kemudian bunda kembali fokus membuat adonan kue, disampingnya, masih ada Alan yang belum beranjak. Lelaki itu seperti tengah banyak fikiran.


“Iya, nak?” sahut bunda dengan tetap tak mengalihkan pandangannya.


“Soal ayah..apa ayah akan merestui hubungan kami?” tanya Alan khawatir.


Bunda menghentikan kegiatannya, dia lalu menatap Alan yang rautnya dipenuhi kekhawatiran. Bunda lalu tersenyum.


“Alan, semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya apalagi soal memilih pasangan anaknya, semua orang tua memiliki standarnya masing-masing untuk memilih yang terbaik.” Jelas bunda.


“Jadi bagaimana bun?”


“Ayah bukan orang yang berfikiran kolot. Meski mungkin beliau nanti akan terkejut mengetahui bahwa kamu akan membawa calon istri yang berbeda keyakinan denganmu, tapi bunda yakin, ayah akan memilih keputusan yang bijak. Dan bunda harap, kamu mau menerima keputusannya.”


Alan masih tak bisa lega. Dia tahu bahwa ayahnya memang bukan orang yang kolot, tapi tetap saja masalah restu ayahnya masih menganggunya. Bukan karena dia sudah memiliki calon istri lain disaat batalnya pernikahannya dengan Aisyah belum lama, tapi permasalahan mengenai perbedaan keyakinan yang membuatnya tak bisa menebak apa keputusan sang ayah.


Melihat putra sulungnya yang masih khawatir, bunda mengelus pipi Alan membuat Alan mengalihkan pandangannya padanya.


“Jangan khawatir, kalau kamu dan Kansha memang sudah ditakdirkan berjodoh, maka seberat apapun rintangannya, kalian pada akhirnya akan bersatu. Itu adalah hukum Allah yang pasti.” Hibur bunda.


“Alan juga berharap demikian bun. Kami sudah melalui banyak rintangan bersama. Banyak masalah yang terjadi di antara kami. Dan banyak perpisahan yang telah kami lalui. Alan hanya ingin agar Alan dan Kansha menemui titik akhir perjalanan cinta kami. Alan ingin membahagiakan Kansha yang selama ini selalu sedih karena Alan.” ucap Alan.


“Kamu sangat mencintainya?” tanya bunda.


Alan mengangguk mantap, “Sangat bun. Alan sangat mencintainya. Dan Alan menyesal karena tidak menyadari perasaan ini sebelumnya.”


Bunda tersenyum mendengarnya, “Bunda berdoa untuk kebahagiaan kalian.” Ucapnya sambil mengelus lemburt surai milik Alan.


***


Seorang perempuan berpakaian serba hitam turun dari mobil dengan membawa sebuket bunga. Perempuan berkacamata hitam itu menatap pandangan didepannya. Sebuah tanah lapang yang didalamnya ada banyak gundukan dengan papan putih di atasnya. Itu tak lain adalah sebuah pemakaman.


Lalu dikejauhan, ada seseorang yang sama berpakaian hitam seperti tengah memberi isyarat padanya. Wanita itu berjalan mendekat.


“Bu Kansha.” sapa orang itu. Dia seorang lelaki berkepala pelontos dan berperawakan tinggi. Kacamata hitam juga bertengger di wajahnya.

__ADS_1


“Yang mana?” tanya Kansha tanpa basa-basi.


Lelaki itu lalu menunjuk sebuah makam yang terawat tak jauh dari tempatnya berdiri. Makam itu hanya dilalui tiga makam dari tempatnya.


“Kamu yakin?” tanya Kansha memastikan.


“Saya yakin bu. Saya sudah memeriksa apa yang ibu minta. Makam itu tercatat atas nama Nafizah, istri Pak Zakariya yang meninggal empat tahun lalu.” Jelas lelaki itu.


Kansha mengangguk. “Terima kasih atas kerja kerasmu. Aku sudah mentransferkan uangnya.” Ucap Kansha.


“Baik bu, terima kasih.” Balas lelaki itu membungkuk hormat.


“Kamu boleh pergi.” Ucap Kansha datar. Lelaki itu mengangguk.


“Saya permisi bu.” Pamit lelaki itu kembali membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Kansha seorang diri di tengah pemakaman.


Usai sepeninggal anak buahnya, Kansha menatap makam yang tadi ditunjuk oleh suruhannya. Kaki kanannya mulai melangkah. Dia melangkah perlahan demi perlahan, meresapi setiap tanah merah yang dia injak. Dan selama itulah, air matanya mulai menitik pelan. Hingga Kansha berada satu langkah di depan makam itu. Air matanya sudah tak terbendung lagi.


Kansha tak mampu mendekat, dia hanya mampu berdiri kaku di depan makam itu. Membaca apa yang ada di papan nisan.


“Nafizah Khumaira binti Abdul Aziz. Lahir : 2 Maret 1975. Wafat..” Di setiap kalimatnya, Kansha tak berhenti terisak, hingga Kansha tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Bruk


Kansha akhirnya ambruk. Dia terduduk di tanah dan menangis sejadi-jadinya. Suasana pemakaman yang sepi itu hanya diisi oleh tangisan menyayat hati Kansha. Kansha tak kuasa menahannya lagi, dia menumpahkan semuanya. Buket bunga itu terlepas di tangannya.


Cukup lama Kansha hanya menangis hingga dia akhirnya hanya sesenggukan. Kansha berupaya berdiri kembali. Dia berdiri dengan sekuat tenaganya. Buket bunga itu kini sudah ada dalam genggamannya lagi. Kansha akhirnya maju selangkah lagi, tubuhnya sudah berada di samping makam ibu kandungnya.


“Halo, ma?” Kansha tak tahu harus memanggil apa. Dia juga berusaha mengendalikan tangisannya.


“Aku tahu bahwa kau mungkin tidak mengenalku. Aku hidup dengan nama lain selama dua puluh tiga tahun. Tapi aku adalah Azzahra. Azzahra, putrimu.” Lanjut Kansha terisak.


“Selama ini, aku tinggal bersama orang tua angkatku yang sempat membenciku. Karena aku membunuh putri kandung mereka. Awalnya kufikir, mereka adalah orang tua kandungku hingga suatu hari aku mengetahui bahwa aku hanyalah anak angkat mereka. Pantas saja mereka membenciku belasan tahun. Aku, yang hanya seorang anak angkat tapi tidak tahu diuntung malah mencelakakan anak kandung mereka. Sejak saat itu hidupku menyedihkan.” Tutur Kansha. Entah apakah Nafizah akan mendengar atau tidak, Kansha hanya ingin mengungkapkan semuanya.


“Lalu hubunganku dan orang tua angkatku membaik. Aku berusaha berfikir bahwa merekalah orang tua kandungku. Hingga aku mengetahui kenyataan bahwa, aku menemukan ayah kandungku sebenarnya. Tapi ma, suami mama sangat jahat padaku. Dia berusaha menghapusku dari hidupnya. Dia menganggapku tidak pernah ada! Ini lebih menyedihkan dari saat aku dibenci oleh orang tua angkatku. Karena apa? Karena dia adalah ayah kandungku sendiri."


"Sekarang aku bertanya padamu, pernahkah kau menganggapku ada? Pernahkah mama merindukanku? Pernahkah mama..mencintaiku sebagai putriku?” Kansha bertanya pada gundukan makam yang didalamnya terdapat jenazah mamanya.


“Aku berharap kau mengatakan iya. Selama ini, hidupku sebagai Kansha pernah tak diinginkan. Mereka membenciku dan menganggapku hanyalah orang tak berguna. Aku tak peduli dengan perkataan orang lain, Tapi aku ingin mendengarnya sekali darimu, apakah aku berharga bagimu?”


Tidak ada jawaban apapun. Semuanya terlalu hening. Kansha bahkan tak merasakan adanya hembusan angin sedikitpun.


“Jadi apa jawabannya? Aku tahu aku gila berbicara di depan makam, tapi mama bisa mendengarnya dari surga kan? Tolong jawab pertanyaanku lewat apapun juga.” pinta Kansha amat putus asa.


Kansha kembali terduduk lunglai, “Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa berfikir jernih. Kenyataan bahwa aku sama sekali tidak dicintai oleh orang tua kandungku membuatku nyaris gila. Aku tidak ingin berbuat tidak masuk akal, jadi katakan padaku, sekali saja. Katakan bahwa kalian mencintaiku.” Isak Kansha merasa frustasi.


“Aku ingin sekali saja merasa dicintai. Aku ingin sekali saja, ada yang mengatakan bahwa hidupku berharga. Sekali saja, aku mohon.” Mohon Kansha amat.


Kansha tak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis sejadi-jadinya di samping makam mamanya.


“Kalau abi lebih memilih menyelamatkan Azzahra, maka kamu dan nyawa umi akan melayang. Abi tidak ingin kehilangan dua nyawa sekaligus hanya untuk menyelamatkan satu nyawa!”


Kansha tiba-tiba teringat perkataan Zakariya. Dia seketika mengangkat wajahnya. Emosi tiba-tiba dia rasakan. Bukan kesedihan lagi, melainkan kekecewaan dan kemarahan yang membumbung.


“Tidak, aku tidak perlu jawabanmu. Aku sudah tahu apa jawabannya.” Kansha melirik makam ibunya, “Kalian tidak mencintaiku sama sekali. Kalau kalian mencintaiku, seharusnya kalian menyelamatkanku bukannya berusaha menghilangkanku dari muka kalian. Aku tidak berharga bukan? Maka kalian juga tidak ada harganya di hatiku.” Tandas Kansha penuh emosi.


Bagai mengerti oleh perkataan Kansha, semilir angin berhembus menerbangkan anak rambut wanita itu.


Kansha lalu mengambil buket bunga tadi dan menaruhnya di atas pusara ibunya. Dia menatap kembali pada nama ibunya di papan nisan. Kali ini menatap kosong.


Kansha lalu mengambil ponselnya. Sambil menghapus air matanya, dia menelfon seseorang.


“Halo sayang.” Sapa Grace di seberang telfon dengan antusias.


Sambil menatap pusara ibunya, dia berkata, “Ma, bolehkah aku menganggap kalian sebagai orang tua kandungku?” tanya Kansha menggigit bibir bawahnya dengan keras karena tangisannya kembali tidak terkendali.


“Kamu akan selalu menjadi putri kami sayang. Meski kamu bukan darah daging mama, tapi mama sangat mencintai kamu seperti putri kandung mama sendiri.” Balas Grace.


Kansha sudah tak kuat menahan bendungan air matanya lagi, dia lalu menutup sambungan telfonnya begitu saja dan kembali menangis sejadi-jadinya.


“Terima kasih.” Desisnya penuh terima kasih pada mamanya yang berada jauh disana.


Setidaknya Kansha masih memiliki orang yang mencintainya.

__ADS_1


"Mama sudah dengar kan? Aku punya mama lain yang jauh lebih mencintaiku." pungkas Kansha menatap makam ibunya tanpa makna lagi.


__ADS_2