
"Kansha! Aisyah!" teriak Alan begitu terkejut.
Lelaki itu nampak syok tatkala mendengar suara teriakan minta tolong Aisyah dari dalam kamar dan makin terkejut manakala dia melihat Kansha tengah mendorong Aisyah di depan jendela.
"Apa yang kamu lakukan?!" sentak Alan. Kansha langsung melepaskan tangan Aisyah.
"Aku tidak--bukan aku." ucap Kansha terbata-bata.
Alan tak menanggapinya. Dia buru-buru menghampiri Aisyah yang terduduk lemas. Air mata tiba-tiba mengalir di pipi Aisyah.
"Mas Alan.." isaknya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan khawatir melihat raut Aisyah yang nampak syok.
Astaga, drama akan segera dimulai, rutuk Kansha dalam hati. Dia sudah pulih dari keterkejutannya.
Aisyah masih menangis hingga Alan makin khawatir padanya. Dia lalu membawa Aisyah kembali duduk di sofa dan setelah itu menatap Kansha dengan kecewa.
"Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan? Kamu hampir membunuhnya!"
Kansha menganga tak percaya mendengarnya, "Apa, membunuhnya? Untuk apa aku membunuhnya?!" seru Kansha tak terima.
"Tadi jelas-jelas kamu hampir mendorongnya jatuh, ada alasan apa lagi selain kamu ingin membunuhnya?!"
Kansha menghembuskan nafas kasar, "Aku tidak membunuhnya. Jelas-jelas dia.."Kansha menghentikan ucapannya. "Sudahlah, tidak ada gunanya aku menjelaskan, kamu tidak akan mengerti." putusnya.
Kansha lalu mengambil tasnya dan hendak pergi tapi Alan mencekal tangannya.
"Mau kemana kamu? Minta maaf padanya sekarang." tegasnya dengan nada dingin.
Kansha berbalik dan menyentak tangan Alan dengan kasar, "Aku tidak punya hak untuk meminta maaf dan tidak akan pernah melakukannya." ucapnya dingin.
Alan menyentak bahu Kansha dengan keras membuat Kansha meringis sakit, "Awshh, sakit."
"Minta maaf atau kulaporkan perbuatanmu saat ini juga." desisnya.
Kansha menghentikan ringisannya, dia memejamkan matanya menahan laju air matanya. Rasanya sakit tidak dipercaya oleh Alan. Tapi sebisa mungkin dia harus menahannya. Dirinya tidak salah sama sekali.
"Lakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi yang jelas, aku tidak salah sama sekali." Usai mengatakan itu, Kansha menyentakan tangan Alan yang bertengger di bahunya. Kemudian pergi tanpa sepatah kata lagi.
Dan kepergian Kansha, menerbitkan senyum licik Aisyah. Rencananya berhasil.
***
Kansha berjalan cepat, ingin segera pergi darisini. Dia sedari tadi terus mengusap air matanya yang terus lolos berjatuhan. Sebisa mungkin dia menahan isakannya. Hatinya pilu menyadari bahwa Alan tak mempercayainya sama sekali. Dan wanita itu, dia adalah ular. Bagaimana bisa dia memutar balikkan fakta hanya dengan satu kata saja? Kansha sungguh kesal. Wanita licik itu pasti tengah bergembira saat ini.
Kansha terus menunduk tak menatap ke depan. Dia tengah berusaha menyembunyikan linangan air matanya hingga bahunya tak sengaja menabrak seseorang.
bruk
"Maafkan saya." ucap Kansha masih menunduk. Wanita di depannya itu mengangguk. Setelah itu Kansha kembali melanjutkan langkahnya.
Sedangkan wanita yang ditabrak Kansha hanya terdiam. Dia kemudian berbalik menatap kepergian Kansha. Sebuah senyum terpatri di wajahnya yang licik.
"Permainan baru saja dimulai."
Usai mengatakan itu, dia pergi dengan langkah ringan.
***
Kansha tengah berada di kafe Bu Sari. Dia asik melamun sembari menatap pemandangan di luar jendela. Tak lama, Bu Sari datang membawa segelas jus.
"Kamu murung sekali. Ada masalah?" tanya Bu Sari menyadarkan Kansha pada kenyataan. Dia menaruh jus itu di meja.
"Minum dulu." katanya. Kansha langsung meneguknya habis.
"Ada masalah?" tanya Bu Sari begitu Kansha sudah meletakkan gelasnya.
__ADS_1
Kansha sebisa mungkin tersenyum. Dia tak mau Bu Sari tahu, dan lagipula ini hanya masalah sepele. Tidak perlu diambil pusing, benar kan?
"Aku hanya kelelahan saja." jawab Kansha pelan.
Bu Sari menghembuskan nafas pelan, dia tahu Kansha tengah berbohong padanya. Tapi dia menghargai Kansha bila tak ingin mengatakannya pada dirinya. Dia yakin, putri angkatnya ini bisa mengatasinya sendiri.
"Kalau begitu makan dulu ya. Katamu kamu tidak sarapan?"
"Aku tidak sarapan karena Bi Inah tengah pulang kampung. Papa mama juga sedang dalam perjalanan bisnis." jelas Kansha.
"Tahu begitu seharusnya kamu menginap disini atau paling tidak kasih tahu ibu, biar ibu masakkan sarapan untuk kamu."
Kansha menggeleng pelan, "Aku tidak mau merepotkan." katanya tersenyum.
"Merepotkan apa sih. Kamu itu anak ibu, masa dibilang merepotkan." tukas Bu Sari.
Kansha tersenyum haru. Tak lama getar ponselnya menyala. Kansha pun langsung memeriksanya.
Kak Ruben
Aku sudah menjemput Nana dan kami akan tiba di Jakarta dalam lima jam lagi.
Kansha mendesah lega. Syukurlah semuanya berjalan lancar bagi Nana. Meski dia masih kesal pada sahabatnya itu. Bisa-bisanya dia menipunya. Kalau Nana datang, Kansha berjanji akan mengomelinya sampai puas.
***
"Aisyah." ucap Aura begitu masuk ke kamar inap Aisyah.
Aisyah yang tengah membaca buku langsung berbinar melihat kedatangan sepupunya itu. Mereka bercipika-cipiki.
"Alan sudah pulang?" tanya Aura celingak-celinguk.
Aisyah mengangguk, "Mas Alan baru saja pergi lima menit lalu. Tapi mbak, kenapa mbak tidak mau bertemu mas Alan?" tanya Aisyah penasaran. Pasalnya Aura terlihat menghindari Alan. Dia pasti datang disaat Alan tidak datang.
"Tidak kenapa-kenapa." tukas Aura. "Eh tadi mbak melihat Kansha dalam perjalanan kesini, dia tampak menangis." lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
Aura bertepuk tangan gembira, "Good job Aisyah! Tapi apa yang kamu lakukan?"
"Aku memancingnya datang dan melabraknya karena aku tahu Mas Alan pasti akan datang. Lalu begitu Mas Alan datang, aku langsung memutar balikkan kejadian. Aku membalikkan seolah-olah Mbak Kansha menyakitiku." tutur Aisyah.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"
"Mas Alan marah dan bertengkar hebat dengan Mbak Kansha. Mas Alan berfikir Mbak Kansha ingin membunuhku dengan mendorongku jatuh dari jendela. Padahal aku yang melakukannya lebih dulu." kata Aisyah agak tertawa kecil.
Aura tersenyum bangga. Rencananya menghancurkan Kansha kini mulai berjalan lancar. Menyenangkan juga memiliki seorang avatar yang gila karena cinta seperti Aisyah. Maka Aura pun tak perlu mengeluarkan tenaga lebih.
"Bagus. Kamu memang kadang-kadang harus tegas seperti itu. Kansha itu kalau tidak dikerasi, maka dia akan selamanya kegatelan pada Alan. Kerja bagus, Aisyah. Mbak bangga sama kamu."puji Aura.
"Tapi aku juga merasa bersalah. Aku sudah memfitnah Mbak Kansha." celetuk Aisyah pelan.
Aura menghembuskan nafas pelan, dia memegang kedua bahu Aisyah yang tertunduk lemah, "Aisyah, jangan lemah. Kamu tidak memfitnahnya. Kamu hanya bermaksud memberi Kansha pelajaran dan peringatan. Kalau kamu ingin mempertahankan Alan, maka kamu harus berani. Jangan jadi lemah."
Aisyah mengangguk. Benar, dia tidak boleh lemah. Ini mungkin memang tindakan buruk, tapi Aisyah melakukannya tanpa ada maksud lain, dirinya hanya ingin mempertahankan apa yang dia miliki.
"Tapi, bagaimana dengan soal penyakitmu, apa Alan percaya?" tanya Aura tiba-tiba.
Aisyah terdiam, lalu mengangguk, "Mas Alan tak mungkin seperhatian ini padaku sekarang." jawabnya tenang.
***
Malam menjelang menyelimuti langit Jakarta. Kansha sedang berada di apartement Nana. Dia sudah memberitahu Ruben bahwa dirinya tak akan menjemput mereka berdua melainkan akan menunggu saja di rumah Nana.
Ting tong
Tak lama, bel apartement berbunyi. Kansha yang tengah membuat sup, lekas mematikan kompor dan menuju pintu.
Begitu pintu dibuka, kurir datang membawa pesanan kuenya. Kansha pun menerimanya dan mengucap terima kasih.
__ADS_1
Kansha menaruh kotak kue itu di pantry. Dia membukanya dan kue keju bertuliskan Happy Birthday langsung menyambutnya.
Hari ini adalah ulang tahun Nana.
Kansha kemudian menutup kotak kue itu dan menaruhnya di lemari es. Setelah itu dia kembali menyiapkan makanan.
Pukul 7 malam, semuanya sudah beres. Kansha yang tengah menunggu Nana dan Ruben asik menonton tv. Lima menit kemudian, pintu terdengar dibuka. Kansha langsung mematikan televisi.
Rupanya Nana dan Ruben yang baru saja sampai. Kansha langsung beraut datar begitu Nana tepat dihadapannya.
"Kansha, kamu disini?" pekik Nana terkejut. Astaga, dia belum siap bertemu sahabatnya itu maksudnya dia belum siap bertemu pukulan menyakitkan Kansha.
"Kenapa? Tidak suka aku disini?" tanya Kansha dingin.
Nana menggeleng kuat-kuat, dia langsung duduk berlutut di hadapan Kansha yang tengah menyilangkan kakinya.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu." ucap Nana bersungguh-sungguh.
"Aku sudah tidak percaya lagi. Aku sudah terlanjur kecewa." balas Kansha datar.
Nana memeluk kaki Kansha, "Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud melakukannya. Aku khilaf." ucapnya memelas.
"Katakan, kenapa kamu lakukan itu?" tanya Kansha.
"Aku tidak memiliki pilihan lain. Aku sangat kacau saat itu. Aku merasa sendirian." jawab Nana.
Kansha lekas berdiri membuat Nana tersentak kaget.
"Sendirian? Sendirian kamu bilang?!" sentak Kansha marah. "Lalu apa arti aku sebenarnya? Atau kamu benar-benar tidak menganggapku ada!"
Nana ikut bangkit, dia menggeleng keras-keras. "Bukan begitu. Saat itu aku tengah kacau, fikiranku semrawut hingga aku tidak bisa berfikir jernih. Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu tidak berarti. Aku justru merasa aku sangat berdosa padamu hingga aku takut bila kamu mengetahui hal ini."
"Na, kamu fikir persahabatan kita hanya sejengkal itu? Aku dan kamu sudah saling mengenal bertahun-tahun. Kita bersahabat di tengah hidup kita yang sama-sama hancur. Kita saling menguatkan saat itu. Dan kufikir, persahabatan yang dijalin di masa tragis akan bertahan lama. Aku fikir, kita tak perlu menyembunyikan apapun lagi. Kehancuranmu adalah kehancuranku juga, Na! Tapi kenapa kamu tidak mau membaginya padaku sedikit saja?!"
Nana terisak pelan, kepalanya menunduk dalam. Dia amat menyesal. Kansha benar, persahabatan mereka sudah sangat dalam. Mereka saling mengenal disaat kondisi hidup mereka sama-sama hancur. Dan persabatan mereka tumbuh begitu saja. Seharusnya Nana tak ragu. Seharusnya dia tak punya fikiran sepicik itu.
"Maafkan aku. " isaknya penuh penyesalan.
Kansha menghela nafas pelan, dia benar-benar kehilangan kendalinya. Bagaimanapun juga dia tak seharusnya meledak seperti itu didepan Nana. Seharusnya dia bisa lebih menjaga emosinya.
"Kamu mau kumaafkan?" Nana mengangguk kuat-kuat meski masih menangis.
"Kamu tahu, apa perjanjiannya bila ingin diterima maaf?" tanya Kansha lagi
Nana menghentikan isakannya, "Tonjokan pipi." jawabnya lirih.
"Kamu mau kumaafkan kan?" Nana mengangguk pelan.
Nana buru-buru berkata cepat,"Tapi jangan keras-keras ya. Aku kan sedang.."
"Berani sekali kamu meminta negoisasi padaku?!"
Nana mengerut, dia lalu mengangguk pasrah. "Aku tarik perkataanku."
"Siap?" tanya Kansha. Dia sudah ancang-ancang mengayunkan kepalan tangannya.
"Aku benar-benar mengutuk mulutku yang mau-maunya menawarkan perjanjian seperti ini." rutuk Nana.
"Meski aku tidak belajar beladiri denganmu, tapi tonjokanku masih mematikan." tukas Kansha dengan semangat menyala.
Nana memejamkan matanya. Dia sudah pasrah.
"Satu..dua..ti," Kansha mengayunkan kepalan tangannya dan
Bug
Nana seketika menjerit.
__ADS_1