My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 117.


__ADS_3

Ini Hari Minggu.


Hari Minggu adalah hari yang biasa saja selain karena ini termasuk hari libur tapi tidak ada keistimewaan lain. Tapi hari ini, acara makan malam keluarga Williams dan Keluarga Alan akan dilangsungkan. Dan tentunya ini jadi hal yang paling mendebarkan bagi Kansha dan Alan.


Sejak pagi, Kansha sudah kelimpungan. Itu karena mamanya melakukan semua perawatan untuknya. Dimulai dari spa, menipedi hingga maskeran. Padahal ini hanya sebuah acara makan malam bersama, tapi bagi seorang Grace Williams ini adalah acara penting hingga dia ingin putrinya bersiap dengan baik.


Malam tiba, sesuai waktu yang dijanjikan, keluarga Alan tiba lebih dulu. Mereka tiba di sebuah restoran bintang lima milik Williams yang berada di jantung Kota Jakarta. Sedangkan para Williams belum sampai karena rupanya mereka didera kemacetan.


Sepuluh menit kemudian, keluarga Williams sampai. Begitu tiba, Andrian langsung meminta maaf atas keterlambatan mereka yang menyebabkan acara jadi tertunda. Meski begitu Ayah, bunda, Alfin dan Alan memakluminya. Mereka tetap menyambut hangat calon besan mereka itu.


“Jadi, maksud dan tujuan acara makan malam ini diadakan adalah untuk membahas mengenai keinginan antara Alan dan Kansha yang berencana menikah. Sejujurnya saya terkejut begitu Alan menyampaikan maksudnya tiba-tiba terlebih lagi Alan mengatakan bahwa dia sudah melamar Kansha sebelumnya dan mendadak meminta restu dari kami.” Ujar Zulkifli, nama ayah Alan memulai pembicaraan.


“Kami juga mendengar demikian. Tapi apakah kalian sudah memberikan restu?” tanya Andrian.


Ayah mengangguk, “Kami sudah memberikan restu pada mereka berdua selaku kedua orang tua Alan.”


“Tapi apakah kalian tahu bahwa Kansha berbeda keyakinan dengan Alan? Apakah itu tidak menjadi masalah?” tanya Andrian lagi.


Mendengar pertanyaan Andrian, Ayah dan Bunda langsung berpandangan begitupun Alan dan Kansha. Mereka seketika menjadi tegang.


“Kalau boleh saya jujur, saya agak kurang setuju mengenai keputusan Alan ingin menikahi Kansha. Bukannya Kansha tidak baik hanya saja keyakinannya yang membuat saya bimbang. Tapi Alan dan Kansha sudah menunjukkan tekad mereka masing-masing dan saya rasa saya sebagai orang tua tidak boleh mengekang keinginan putra saya sendiri selagi itu baik. Dan berdasarkan kepribadian Kansha selama ini, Kansha adalah wanita yang baik dan sopan. Dan yang paling penting adalah dia memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan mereka.” Jelas Ayah.


“Saya juga merasa demikian. Begitu saya melihat Kansha pertama kalinya, saya tahu bahwa Kansha bukanlah perempuan yang jahat. Dia sangat baik, sopan, ramah dan cerdas. Terlepas dari keyakinan yang dia anut, saya yakin bahwa Kansha akan menjadi pasangan yang sempurna untuk Alan. Dan saya yakin mereka akan saling menghargai kondisi mereka.” Timpal bunda.


“Saya juga, om, tante. Begitu saya memutuskan untuk menikahi Kansha, saya siap dengan segala resikonya. Meskipun pernikahan beda agama masih menjadi hal yang tabu di kalangan masyarakat indonesia tapi tekad saya untuk menikahi Kansha tidak pudar. Saya hanya ingin menjadikan Kansha pilihan satu-satunya.”


Dan keharuan menyeruak di hati Kansha. Perkataan Ayah, Bunda dan Alan seakan meniup semua bebannya ke angkasa. Kansha merasa lega sekaligus bahagia. Dia diterima sepenuhnya di keluarga Alan.


Begitupun dengan Grace dan Andrian, mereka mengangguk lega karena permasalahan yang paling sensitif itu sudah terselesaikan dengan baik. Mereka juga tidak masalah dengan keyakinan apa yang dianut calon menantu mereka, asal Kansha bahagia dengan pilihannya, maka Grace dan Andrian sudah merasa cukup.


“Tapi pernikahan beda agama memang masih cukup kontroversial di Indonesia. Tidak banyak kantor catatan sipil yang bersedia mencatat pernikahan beda agama.” Celetuk Grace.


“Saya sudah memeriksa mengenai hal itu dan kantor dinas yang memberikan izin hanya di daerah seperti Yogyakarta, Salatiga, Surabaya dan Denpasar. Tapi ada beberapa gereja katolik yang bersedia menikahkan pasangan beda agama. Hanya saja itu mungkin sedikit terlalu rumit, belum lagi dengan komentar-komentar nyinyir masyarakat, jadi saya menyarankan pada Mas saya untuk melangsungkan pernikahan di luar negeri.” Ujar Alfin.


Semuanya terdiam, diam-diam Kansha menghela nafas. Tapi Andrian mengangguk-anggukan kepalanya.


“Saya setuju mengenai saran kamu. Memang biayanya akan menguras kantong tapi setidaknya ini akan membuat pernikahan kalian berjalan tanpa hambatan. Papa sudah mengeceknya, dan Singapura bisa jadi pilihan.” Kata Andrian.


“Singapura pa?” tanya Kansha. Andrian mengangguk.


“Untuk keuangannya, kami juga bisa membantu. Kalian tidak perlu cemas.” Imbuh Grace.


“Bagaimana pendapat Anda?” tanya Andrian pada Ayah.


Ayah mengangguk, “Saya setuju mengenai hal itu. Daripada repot-repot harus mengurusi di Indonesia lebih baik dilangsungkan di luar negeri saja. Insyaallah tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.”


“Bagaimana pendapat kalian soal itu, Kansha, Alan?”


Kansha dan Alan saling berpandangan kemudian Alan lebih dulu menjawab, “Alan menyerahkannya pada Kansha tentang keputusannya.”


Semua mata kini menuju Kansha, Kansha terdiam merasa terbebani. Lalu mulai berkata penuh kehati-hatian.


“Mungkin ini terdengar keras kepala, tapi Kansha sejurnya ingin menikah di Indonesia saja.”


“Tapi Kansha, prosesnya akan jauh lebih rumit dibanding pernikahan yang seagama.” Tukas Grace.

__ADS_1


“Belum lagi dengan pihak kelurahan dan KUA. Sedikit diantaranya yang melegalkan hal itu.” timpal Alfin.


“Tapi pasti ada yang mengizinkannya. Di Indonesia masih banyak juga kan yang menikah tapi beda agama.” Tukas Kansha.


“Itu masih sedikit dan jarang. Kalaupun mereka mengizinkannya, jangan lupa dengan komentar masyarakat. Masyarakat Indonesia masih senang bergosip berjamaah.” Ujar Alfin.


“Alan menghormati keputusan Kansha. Alan juga setuju dengan Kansha, kalau bisa kami menikah di Indonesia saja.” Sela Alan.


“Tapi mas, itu terlalu—“


“Mas dan Kansha sudah memutuskannya, jadi tolong hormatilah.” Potong Alan ketika Alfin hendak menyanggah.


“Yasudah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, maka kami hanya bisa menghormati dan mendukung. Kami akan berusaha semaksimal kami untuk membantu kalian.” Ujar Ayah menengahi.


“Iya, kalau ada apa-apa, jangan sungkan memberitahu ya. Kami akan membantu sebisanya.” Timpal bunda.


“Dan jangan lupakan kami, meski kami sibuk tapi kalian harus tetap memberitahukan semua perkembangannya ya. Jangan lupa minta tolong bila kalian menemui kesulitan.” Tambah Grace.


Kansha dan Alan tersenyum bahagia, “Terima kasih semuanya.” Ujar mereka berdua terharu.


Semuanya akan baik-baik saja bila orang-orang di sekitar kita saling mendukung. Jangan takut dan jangan cemas. Semuanya akan baik-baik saja. Dan asal niatnya baik, maka itu akan tercapai meskipun banyak rintangan yang menghadang.


***


Dua minggu telah berlalu setelah acara makan malam keluarga itu, Kansha dan Alan disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka. Mereka masih berusaha membujuk pihak kelurahan dan catatan sipil agar mau menerima pernikahan mereka. Tapi seperti yang dikatakan Alfin dan Andrian, tidak banyak pihak yang melegalkannya karena hal ini masihlah amat tabu di Indonesia. Tapi mereka tak patah arang, dia dan Alan terus berusaha.


Dan ditengah kesibukkan itu, sebuah kabar gembira datang dari Kansha.


Pemirsa, putri pasangan Williams, Kansha Andara Williams yang merupakan CEO ARC masuk ke dalam daftar 100 wanita berpengaruh di dunia dan menempati urutan ke tiga puluh menurut BBC. Diketahui bahwa Kansha menjadi perempuan termuda yang masuk dalam daftar tersebut. Belum lagi ARC mendapat prestasi membanggakan lainnya yaitu sudah masuk menjadi perusahaan blue chip dalam waktu singkat. Untuk mengapresiasi hal tersebut, hari ini kita sudah bersama Kansha Andara Williams untuk berbagi tentang pengalamannya tersebut.


“Halo, selamat pagi, mbak Kansha. Saya ucapkan selamat atas prestasi Anda yang sangat luar biasa.” Sapa pembawa acara itu.


Perempuan berblazer maroon itu tersenyum bahagia dan mengangguk anggun, “Ah terimakasih banyak. Itu semua bukan hanya semata-mata usaha saya, melainkan semua pegawai saya yang bekerja dengan giat juga turut mewujudkannya.” Balas Kansha merendah.


“Anda rendah hati sekali ya.” Komentar pembawa acara itu ramah. Mendengarnya Kansha merasa malu karena dipuji.


“Kemudian mbak Kansha, mbak bisa menceritakan bagaimana caranya mbak bisa sukses seperti itu. amApa faktor keberhasilannya menurut mbak?”


“Saya rasa kalian harus mencintai pekerjaan kalian terlebih dahulu. Jangan hanya dijadikan sebagai mata pencaharian tapi jadikan juga sebagai kecintaan kalian. Karena kalau kalian bisa mencintai pekerjaan kalian maka semuanya akan jadi leih mudah untuk Anda.” Balas Kansha.


“Saya dari dulu memang bercita-cita sebagai seorang reporter. Dan saya berhasil mewujudkan impian saya melalui ARC. Meski awalnya ARC hampir bangkrut tapi kami semua bahu membahu untuk mempertahankan ARC dan berkah dari perjuangan kami ARC bisa menjadi seperti sekarang.”


“Katanya Anda berhasil masuk kedalam daftar tersebut di usia paling muda dintara yang lainnya. Ini merupakan suatu kebanggaan karena secara tidak langsung, Anda sudah memecahkan rekor.” Ucap pembawa acara itu.


“Ah, saya juga mendengar seperti itu.” balas Kansha malu. “Tapi itu mungkin terlalu berlebihan karena saya tidak melakukan apapun yang menyebabkan saya harus mendapat penghargaan sebesar ini.” lanjut Kansha.


“Seperti yang Anda bilang bahwa ARC hampir saja diambang kebangkrutan dan begitu Anda mengambil alih kepemimpinan, ARC yang tadinya mengalami defisit besar-besaran dan kini malah memiliki pendapatan tertinggi diantara perusahan jurnalistik lainnya. Wah, ini luar biasa.” Pembawa acara itu bertepuk tangan takjub begitupun para penonton.


Kansha mengusap tengkuknya malu dipuji speerti itu, “Ini semua berkat kerja keras para pegawai ARC. Mereka yang tidak meninggalkan ARC disaat masa-masa sulit dan mereka tetap setia untuk mempertahankan ARC hingga sekarang. Saya menyadari bahwa cinta mereka tidak hanya pada pekerjaan mereka sebagai jurnalis tapi juga cinta mereka pada perusahaan.”


“Dan ini merupakan suatu fakta yang mengejutkan bahwa dulunya ARC itu diakuisisi oleh Williams Company hingga akhirnya menjadi bagian dari Williams tapi tepat tiga bulan lalu, Anda memisahkan diri kembali dari perusahan keluarga Anda, ini mengapa?”


“Saya memutuskan untuk berdiri sendiri kembali. Setelah ARC ini diakuisi oleh Williams Company ketika diambang kebangkrutan, saya sangat bersyukur dan berkat tangan terampil Williams Company, ARC bisa bertahan kembali. Kami juga bekerja keras agar menjadikan ARC lebih kokoh dari sebelumnya dan kami rasa kami sudah cukup mampu berdiri sendiri hingga akhirnya saya memutuskan untuk berpisah dengan Williams Company. Tanpa bantuan mereka ARC tidak akan ada hingga sekarang, jadi saya sangat bersyukur.”


“Berarti benar bahwa Anda adalah putri dari Williams?” Kansha mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


“Saya putri keduanya.”


“Tapi kemana Anda selama ini? karena beredar kabar bahwa Williams memiliki seorang putri lain tapi keberadaannya tidak diketahui, benarkah ini Anda?”


Kansha kembali mengangguk, “Saya memang tinggal terpisah dengan kedua orang tua saya sejak SMA dan baru kembali tinggal bersama beberapa waktu lalu.”


“Kenapa? Apa ada masalah sebelumnya?”


Kansha terdiam mendengarnya, dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Mbak Kansha?” tegur pembawa acara kala Kansha hanya terdiam.


Kansha terkesiap,untuk menutupi kegugupannya, dirinya tersenyum hangat. “Tidak ada, saya hanya ingin mandiri.” Balas Kansha berbohong.


“Ah begitu.”


Mereka terus berbincang dengan Kansha yang terus menjawab pertanyaan. Sejauh ini tidak ada masalah hingga tibalah mereka di sesi tanya jawab dengan penonton. Penonton yang setia menemani mereka di studio bisa mengajukan pertanyaan apapun seputar Kansha selama itu tidak berlebihan dan tidak menyinggung privasi.


“Silakan bagi yang ingin bertanya, boleh mengangkat tangannys.”


Usai pembawa acara mengatakan itu, beberapa tangan teracung dengan semangat. Para kru pun memilih dua penonton beruntung yang bisa mengajukan pertanyaan.


“Oke, kita sudah dapat dua orang. Bagi permirsa di rumah juga bisa mengajukan pertanyaan lewat instagram kami dan pertanyaan favorit akan ditanyakan langsung pada Mbak Kansha.”


“Langsung saja ke penanya pertama. Boleh namanya siapa dan apa pertanyaannya?”


Seorang perempuan muda berkemeja pink berdiri dengan antusias.


“Halo, Mbak Kansha. Nama saya Tyas Ayu, saya ingin bertanya, adakah motivasi yang bisa mbak berikan pada kaum perempuan agar bisa berprestasi seperti Anda? Terima kasih."


Kansha langsung mengambil microphonenya, “Semangat! Jangan pernah menyerah dan mengeluh. Jangan dengarkan omongan orang lain dan jangan menjadikan laki-laki sebagai standarnya. Sering kali alasan perempuan tidak bisa berkarya adalah hakikatnya yang selalu berada di bawah lelaki. Pasti semuanya pernah mendengar ‘untuk apa sih kuliah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya kalian berada di dapur?’ itu pasti hal yang sangat menjengkelkan seakan-akan bahwa impian perempuan itu tidak penting. Kita memang akan menjadi ibu rumah tangga pada akhirnya tapi apa salahnya bila kita mengejar impian kita? Mengejar apa yang kita sukai? Masih banyak kok, para wanita di luar sana yang tetap bisa berkarier meski sudah menikah.”


“Dan faktor lainnya adalah banyaknya ucapan meremehkan dari orang lain terhadap kemampuan kita. Jangan didengarkan! Anggap telinga kita tuli sesaat. Maju terus kedepan, jangan tengok kiri-kanan. Fokus dengan impian. Tidak peduli rintangan apapun, terjanglah dengan sekuat tenaga. Saya yakin, hasilnya akan baik. Ingat, tidak ada reaksi tanpa aksi. Semuanya punya jalur panjangnya sendiri.”


Prok prok


Suara gemuruh tepuk tangan membahana dari barisan penonton. Ucapan Kansha membakar semangat mereka. Kansha tersenyum berterimakasih.


“Baik, kita ke penanya kedua, silakan sebutkan nama dan pertanyaannya.”


Kali ini juga seorang perempuan muda yang berdiri. Dia memakai baju putih dengan topi serta tudung di kepalanya. Sekilas tidak ada yang aneh hingga perempuan itu menyebutkan namanya.


“Nama saya Aura.”


Begitu namanya disebut, perempuan itu membuka tudungnya yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Dan mata Kansha terbelalak kala sebuah senyum penuh kelicikan tampil di wajah paling familiar untuk Kansha.


...----------------...


Sebelumnya aku minta maaf karena Hari Kamis aku tidak up🙏 Hari ini sebagai gantinya, aku sengaja up dua bab, tapi hal yang gak diinginkan terjadi. Laptopku mati dua kali dan parahnya aku belum save😭


Dan aku harus mengulang semuanya dari awal. Bayangkan betapa frustasinya aku!


Dan waktunya makin sempit, aku cuma bisa ngasih dua bab pendek ini buat hari ini. Maafkan aku, karena kesalahan teknis dan kecerobohanku, aku tidak bisa menata kata dengan baik🙏


Tapi semoga tetap suka ya, dan jangan lupa like, koment dan votenya ya:)) Tolong terus cintai karya ini ya💙

__ADS_1


__ADS_2