My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 31. Gagal


__ADS_3

Elang tengah menongkong ria di balkon kamarnya. Dia lalu menatap takjub ketika melihat ke arah kolam renang yang sudah dihias sedemikan rupa.


“Wah.” Seru Elang takjub. “Alan, Alan! Kesini, Lan!” panggil Elang heboh.


Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi sontak menghampiri Elang.


“Ada apa?” tanya Alan sembari menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.


“Lihat itu!” tunjuk Elang. Alan pun seketika mengikuti arah telunjuk Elang. “Romantis kan.”


“Sedang apa mereka?”


“Lamaran.” Jawab Elang singkat.


“Lamaran? Di depan kolam renang?” seru Alan setengah tak percaya. Astaga, dia tidak bisa membayangkan ada lamaran seeksentrik itu. Seumur-umur, setahu Alan, yang namanya lamaran itu dilakukan di restoran mewah, di kapal pesiar, atau bahkan di rumah calon istrinya.


“Kamu tidak tahu saja, berapa tarif lamaran sekalinya disini. Ini tempat favorit para pasangan di hotel ini untuk lamaran.” Kata Elang. Alan menggeleng tak percaya kemudian terkekeh kecil.


“Sulit dipercaya.” Ujar Alan kemudian masuk kamar kembali.


***


Seusai pernyataan super panjang dari Ruben, Kansha hanya mampu membeku. Fikirannya tak bisa berfikir jernih dan dia tidak tahu harus melakukan apa. Ini—terlalu mendadak.


“Kansha.” Panggil Ruben lembut.


Kansha menggigit bibirnya pelan, kemudian mendongak menatap Ruben dengan gugup.


“Maukah ka—“


Drrt


Perkataan Ruben tersela oleh getar telfon dari ponsel milik Kansha. “Sebentar kak.” Sela Kansha. Dia mengambil ponselnya di belakang celana jeans miliknya. Nama Nana terpampang di layar.

__ADS_1


“Halo Na?” sapa Kansha.


“To-tolong Kan—sha.” Di seberang telfon, suara Nana terputus-putus. Mendengarnya, Kansha seketika khawatir.


“Na, ada apa Na?” seru Kansha khawatir.


Ruben yang melihat raut khawatir Kansha menjadi bingung. “Ada apa?” tanya Ruben.


“Aku—kam—buh, t-to—long.” Disana, suara Nana masih terputus-putus, nafas Nana yang memberat terdengar jelas di telinga Kansha.


“Aku kesana Na, bertahanlah oke.” Ujar Kansha, “Jangan matikan telfonnya, “ lanjut Kansha sembari berlari meninggalkan Ruben yang masih kebingungan.


“Kansha tunggu!” seru Ruben.


Kansha berlari cepat menuju kamarnya dengan Nana. Dengan tangan yang memegang ponsel. Kansha terus menempelkan ponsel ke telinganya. Namun suara Nana, makin lama- makin tak ada. nafasnya sudah terputus-putus. Kansha menitikkan air mata, dia terus memanggil-manggil nama Nana sembari terus berlari. Di belakangnya, Ruben juga ikut berlari mengejar Kansha.


Kansha sampai di kamarnya. Dia langsung membuka dengan kasar, dan langsung menjerit begitu dia melihat Nana tergeletak di lantai. Pecahan kaca ada dimana-mana. Dan sebotol anggur juga tergeletak dengan isi yang sudah kosong.


“NANA!” pekik Kansha, dia mendekati Nana. Nana sudah membuka matanya. Wajahnya sudah pucat, ada air mata yang mengering di pipinya yang tirus.


“Aku—minta—maaf.” Tiba-tiba Nana meminta maaf begitu matanya bersibobrok dengan Kansha.


“Jangan bicara! Jangan bicara.” Seru Kansha gemetar. “Kak, telfon ambulans cepat.”


Ruben segera menelfon ambulans. “Pak, teman saya sekarat. Tolong segera kesini.”


Waktu terasa aneh. Entah mengapa, ambulans tak kunjung datang sedangkan waktu terasa melambat. Namun Nana makin sekarat, nafasnya makin putus-putus. Wajahnya makin memucat. Tangannya dingin layaknya es.


“Kak, Nana memerlukan CPR atau kalau tidak nyawanya tak ada.” ujar Kansha. Dia segera memposisikan tangannya di depan dada Nana namun sebelum menyentuhnya, tangan Ruben menghalangi.


“Biar kakak saja.” Ujar Ruben. Dia pun langsung memompa dada Nana perlahan 100 bpm/detik.


Ruben terus menerus melakukan CPR, dan membisikan kata-kata penuh pengharapan. “Buka matamu, Na. Buka matamu.” Bisiknya. Tak terasa air mata mengalir di wajahnya.

__ADS_1


Kansha makin khawatir, dia kembali menelfon ambulans, “Bapak masih dimana sih?! Teman saya makin sekarat!” seru Kansha marah.


“Kami masih dijalan.” Kata suara di seberang telfon.


“Perlu berapa lama lagi?”


“Sekitar 5 menit, mengingat jaraknya lumayan jauh.”


“5 menit? Teman saya keburu meninggal kalau begitu!”


“Tolong sabar.”


“Saya meracuni teman saya, dan cepat kesini sebelum dia meninggal!” teriak Kansha.


Kansha mengacak rambutnya frustasi. Lalu tak lama sesuai yang dikatakan, 5 menit kemudian petugas ambulans datang. Nana langsung dimasukan ke dalam mobil. Ruben pun masuk mengikuti namun ketika Kansha hendak masuk, getar ponselnya menyala. Ada pesan masuk dari sekretarisnya.


^^^Seli^^^


Bu, tim jurnalis 3 lupa membawa flashdisk yang berisi liputan dengan bupati. Apakah ada di ibu? Kalau ada, boleh minta tolong agar hasilnya dikirimkan? Katanya, beritanya akan diproses malam ini.


“Sial.” Umpat Kansha.


“Ada apa, Kansha?” tanya Ruben yang berada di dalam mobil ambulans.


“Aku memiliki urusan mendadak, nanti aku menyusul. Jangan lupa kirimkan alamatnya.” Kata Kansha. Tanpa menunggu jawaban dari Ruben. Kansha segera berlari kembali ke dalam hotel.


***


Kansha keluar dari kamar hotel sembari memeriksa ponselnya. dia berjalan menunduk dan tak melihat jalan.


“Kenapa kak Ruben belum mengirim pesan.” Kata kansha sembari keluar kamar.


Bruk

__ADS_1


Namun, dirinya tanpa sengaja menabrak orang begitu keluar dari pintu. Kansha mendongak dan seketika terkejut.


“Alan?”


__ADS_2